A+ A A-

Review Buku : Getting China And India Right

  • Written by  Zhao Yun
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Sekali lagi Tiongkok dan India (Chindia) menjadi topik yang tidak ada habisnya untuk dibahas dalam satu buku pembahasan seperti buku yang ditulis oleh Anil Gupta dan Wang Haiyan ini.

Kedua negara adalah pasar besar , mega market untuk produk dan jasa apapun dan secara dramatis mereduksi struktur biaya . Kedua negara juga mempercepat sektor teknologi dan inovasi. . Mengingat pasar yang sedemikian besar , maka muncul pertanyaan bagaimana mendekati kedua raksasa Asia itu daripada mendekati yang satu dan menjauhi yang lain. Gupta dan Wang menyorot kemiripan dan perbedaan diantara Tiongkok dan India termasuk pertumbuhan perdagangan dan juga pertalian investasi diantara keduanya .

ARTIKEL TERKAIT :

{module [201]}

 

 

 

 

Tesis utama dari buku ini bahwa perusahaan-perusahaan yang masuk dalam 1000 perusahaan versi Fortune tidak mengantisipasi kebangkitan Tiongkok dan India . Di tahun 1987 , Mittal Steel hanya produser baja kecil yang beroperasi di Indonesia. Sekarang , Mittal adalah raksasa baja terbesar didunia dan lebih besar dari peringkat 2,3,4 digabungkan menjadi satu. Di tahun 1987 , Cemex hanya produser semen kelas menengah di Meksiko  dan sekarang menjadi tiga besar perusahaan penghasil material bangunan didunia.[p2]

 

DATA BUKU

Getting China And India Right
Strategies For Leveraging The World's
Fastest-Growing Economies For Global Advantage
Anil Gupta , Wang Haiyan
255 hal
Jossey-Bass
2009

 

Untuk memahami kebangkitan Chindia (Tiongkok dan India) ini perlu memahami fenomena ini sebagai renaisans. Victor Mallet dalam Financial Times di tahun 2008 menyebutkan tentang perdebatan apakah Asia akan kembali mendominasi ekonomi global seperti yang sudah dilakukan dua milenium sebelum Revolusi Industri di Inggris dan kebangkitan Amerika Serikat. Chindia sejak tahun 1000 sampai era Perang Candu , berkontribusi hampir setengah dari GDP Dunia. (Maddison , 2003). Menyikapi kebangkitan Chindia dan perubahan tatanan ekonomi dunia , perusahaan seperti Nokia harus memilih apakah cukup puas bisa beredar dari London hingga Manhattan atau sanggup beredar dari Xinjiang di Tiongkok yang terpencil sampai Uttar Pradesh di India. Singkatnya perusahaan besar dunia harus memilih diantara realitas global bahwa dua negara raksasa dengan mega-marketnya terlalu besar untuk diabaikan.

Dalam Business Week , Jack Welch mendevosikan seluruh kolum untuk memilih Tiongkok ATAU India. Gupta dan Wang menganjurkan agar mindset perusahaan besar dunia dirubah menjadi Tiongkok DAN India agar dapat meraih benefit dari keduanya. Sebagai negara dengan luas 9.6 juta km2 , Tiongkok ekuivalen dengan Amerika Serikat dalam luas , sedangkan India jauh lebih kecil dalam wilayah tapi hampir sebesar luas 27 negara Uni Eropa sebesar 4 juta km2. Baik India maupun Tiongkok memiliki populasi masing-masing 1.1 miliar dan 1.3 miliar penduduk , yang jelas jauh lebih besar dari Amerika Serikat (299 juta) dan Uni Eropa (493 juta). Ini hanya salah satu perbandingan besaran dalam buku ini dan selanjutnya Gupta dan Wang mengupas dari segi manufacturing (p41),  services dan infrastruktur (p42) , Foreign Direct Investment dan energi (p43) , lingkungan (p44) , institusi politik dan sosial budaya (p46)

Kedua negara ini pernah berperang dalam skala terbatas di tahun 1962 walau demikian pertumbuhan perdagangan antar kedua negara ini terus meningkat dari 2.9 miliar USD di tahun 2000 dengan persentasi pertumbuhan 47% menjadi 36 miliar USD di tahun 2007 dengan persentasi pertumbuhan sebesar 45%. Dengan demikian Tiongkok dan India terikat secara ekonomi dan investasi. Haier dan Lenovo hadir signifikan di India sementara perusahaan India seperti Bharat Forge , Suzlon dan Tata Consulting hadir di Tiongkok.

Pertempuran global antara Huawei melawan Cisco juga sebuah contoh menarik dari strategi pasar yang mengkombinasikan Tiongkok dan India. Huawei perlahan tapi pasti terus mengejar Cisco. Di tahun 2003 penghasilan Huawei sebesar 3.8 miliar USD dibandingkan CISCO sebesar 18.9 miliar USD. Di tahun 2007 Cisco melonjak sekitar 4.5 kali dengan pendapatan 16 miliar USD dibandingkan Cisco sebesar 34.9 miliar USD. Hampir tiga perempat pendapatan Huawei berasal dari luar Tiongkok dan berambisi untuk menjadi supplier utama di India

Ebay yang didirikan pada tahun 1995 menjadi contoh sukses di era internet . Meg Whitman yang didaulat menjadi CEO Ebay sejak 1998 telah membaca potensi Tiongkok untuk tumbuh menjadi negara dengan pengguna layanan internet terbesar didunia. Karenanya Ebay mulai manuver dengan membeli 1/3 saham EachNet , yang didirikan oleh Tan Haiyin dan Shao Yibo di tahun 1999 (keduanya jebolan Harvard) senilai 30 juta USD di tahun 2002. Setahun berikutnya Ebay memutuskan untuk mengakuisisi EachNet dengan pangsa pasar 85% di Tiongkok. Di tahun 2006 , mimpi Ebay musnah dengan kehadiran Tao Bao dan di akhir tahun Ebay menarik diri dari Tiongkok. Ebay adalah contoh kegagalan antisipasi terhadap pasar yang besar dari Tiongkok.

Sementara Apple dibawah komando Steve Jobs di tahun meluncurkan produk Ipod  yang menjadi produk andalan bagi Apple. Pihak Apple mengalihkan pekerjaan untuk mikroprosesor dari Ipod ke Portal Player ,sebuah perusahaan Sillicon Valley. Total Player kemudian mengerahkan insinyur-insinyurnya di Sillicon Valley dan Hyderabad (India) untuk pekerjaan merancang chip. Sementara chipnya sendiri di produksi di Taiwan dan perakitan akhir di lakukan di Tiongkok. Dari sini terlihat Apple sanggup memanfaatkan keunggulan kompetitif di India dan Tiongkok yaitu buruh murah yang berkualitas di kedua negara.

Disisi lain Chindia juga memunculkan kompetitor yang menantang perusahaan raksasa. CACC misalkan
sebuah BUMN Tiongkok yang didirikan pada tahun 2008 dan merupakan hasil dari merger beberapa BUMN lain--yang berusaha ikut dalam persaingan antara Boeing dan Airbus , dua raksasa dunia di industri penerbangan. Di India , Tata Motors muncul dengan mobil murah senilai 2500 USD , Tata Nano. Disisi lain Tata mengakuisisi Jaguar dan Land Rover , produsen mobil prestis dari Inggris. Dua fenomena ini memperlihatkan bahwa Chindia bersiap dalam industri seperti pesawat dan kendaraan yang membutuhkan teknologi tinggi dan modal besar.

Sampai disini , dimensi utama keunggulan kompetitif Chindia terlatak di biaya , talenta dan inovasi. Di tabel 4.1 dalam buku ini membandingkan biaya labor diantara AS , Tiongkok dan India , salah satunya blue collar worker di ketiga negara sebesar lebih 20 USD perjam di AS dibandingkan 1.5 - 2 USD/jam di Tiongkok dan India.  Dalam teknologi informasi , seorang software engineer di AS berpenghasilan 150 ribu USD / tahun dibandingkan 22 ribu / tahun di India. Untuk stok talenta , India dan Tiongkok terus meningkat lulusan pendidikan tinggi sementara AS relatif tetap (Tabel 4.2 , p103). Tetapi Chindia masih relatif terbelakang dalam hal paten dan trademark. (Tabel 4.3 , p105).

Buku ini ditulis oleh Anil K Gupta dan Wang Haiyan.
Gupta  adalah penulis , editor untuk sejumlah buku dan paper seperti :  The Quest for Global Dominance (Jossey - Bass, 2008),  Smart Globalization (Jossey - Bass, 2003), and  Global  Strategy  and  Organization (John  Wiley,  2003). Gupta juga seorang visiting professor di Stanford University, Dartmouth College , Bocconi Business School (Milan) , Helsinki University of Technology , IPMI - Jakarta. Wang Haiyan adalah co-author untuk The Quest for Global Dominance (Jossey - Bass, 2008). Opini wanita lulusan Shanghai dan Beijing ini turut menghiasi media-media internasional seperti China Daily , Economic Times , Wall Street Journal , Times of India dan CEO Magazine.

Zhao Yun , 29 Mei 2010


Budaya-Tionghoa.Net | Blog.Verteks.Asia


Last modified onSaturday, 22 December 2012 04:37
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/2042-review-buku--getting-china-and-india-right

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto