A+ A A-

Liem Sioe Liong (1916-2012) ; Dari Cengkeh Sampai BCA

  • Written by  HZW
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Liem Sioe Liong (1916-2012) ; Dari Cengkeh Sampai BCA

Budaya-Tionghoa.Net | Liem Sioe Liong, seorang Tionghua asal Fujian yang berimigrasi ke pulau Jawa sebelum Perang Dunia II. Liem Sioe Liong atau Lin Shaoliang merupakan seorang Hokchia yang dilahirkan di Fuqing , Fujian pada tahun 1916 , sebagai anak kedua dari keluarga petani. Setelah menerima pendidikan tradisional Tionghua , di usia enam belas tahun , Liem telah mulai berbisnis toko mie di kampong halamannya. Di masanya , perang antar warlord meletus di Tiongkok sehingga banyak Tionghua meninggalkan Tiongkok ke Asia Tenggara . Kakak tertua Liem , Liem Sioe Hie dan saudara iparnya , Zheng Xuesheng , merantau ke Indonesia untuk berbisnis. (Suryadinata , p139)

 

Di tahun 1938 (atau tahun 1936 menurut versi Leo Suryadinata)  , Liem tiba di kota Kudus , Jawa Tengah , dimana pamannya dan saudaranya telah lebih dulu tiba di sana.  Disinilah Liem memulai usaha kecil berbasis keluarga seperti peminjaman uang kecil-kecilan dan pedagang.[1] Di tahun 1950an , usaha kecil ini usahanya terus berkembang dan beragama termasuk memasok barang untuk militer lokal (divisi Diponegoro) di masa pasca-perang. Dimasa ini Liem bertemu dengan Soeharto via Soejono Humardani . Suharto inilah  yang kelak akan menjadi presiden kedua Republik Indonesia. (Shiraishi , p134). Menurut versi lain , Liem juga memasok senjata untuk tentara Republikan  , tapi Liem membantah tuduhan ini . (Suryadinata , op.cit , p140).

Di tahun 1952 , Liem meninggalkan Kudus dan pergi ke Jakarta dan memulai untuk mengembangkan usahanya , sementara kakaknya , Liem Sioe Hie , tetap berada di Kudus. Di Jakarta , Liem sukses membangun relasi dengan pengusaha Tionghua lain di Singapura dan Hong Kong. Relasi ini membantunya membangun bisnis ekspor-impor.

Liem mendirikan pabrik sabun dengan menggunakan koneksinya , dan menjadi pemasok sabun untuk militer. Di masa awalnya di Jakarta , Liem beralih ke bisnis tekstil (Muliatex di Kudus dan Tarumatex di Bandung) dan bisnis perbankan , PT Bank Windu Kencana dan Bank Central Asia yang kelak akan menjadi salah satu bank terbesar di Indonesia.

Dimasa Soeharto berkuasa (1966-1998) usaha Liem mulai berkembang pesat dimana ekonomi Indonesia bertumbuh dengan laju 6% pertahun. Liem mendapat momentum di masa pemerintahan yang baru dengan kebijakan yang dapat menopang ekonomi industrialisasi sejak dekade 70an. Di tahun 1968 , Liem dan Probosutedjo[2] , mendapat hak eksklusif  untuk mengimpor cengkeh. Impor cengkeh ini mendatangkan keuntungan bagi Liem (PT Mega) dan Probosutedjo (PT Mercu Buana).

Dimulai dengan bisnis semen , tepung , otomotif , perbankan dan tekstil dan dalam satu dekade kemudian menjadi grup domestic terbesar yang berhubungan dekat dengan Suharto. Di tahun 1971 , Liem mendirikan PT Bogasari di Jakarta , disusul Surabaya setahun berikutnya untuk supply kawasan Indonesia Timur. PT Bogasari Flour Mill kelak menjadi produsen tepung terbesar di Indonesia. Di tahun 1973 , Liem mendirikan Indocement yang menjadi perusahaan raksasa semen di Indonesia.

Sejak dekade 70an , Anthony Salim , menjadi pemimpin kedua setelah Liem Sioe Liong. Anthony terjun ke bisnis setelah menyelesaikan studi di Inggris. Visi anaknya ini adalah modernisasi bisnis keluarga dan mengurangi ketergantungan dari pemerintah.  Di tahun 1982 , Liem Sioe Liong membeli Shanghai Land (berdiri sejak 1888) dan dirubah menjadi First Pacific Holding.

Di tahun 90an , Anthony mulai mengambil alih kontrol dari Liem Sioe Liong kemudian melakukan reorganisasi kedalam divisi dan meningkatkan peran manajer professional. Beberapa perusahaan kemudian terdaftar di bursa saham di Indonesia dan negara-negara lain , termasuk Singapura , Hong Kong , Filipina , Belanda dan Amerika Serikat.

Sebelum krisis Asia , masa depan grup Salim terlihat cerah yang terdiri dari ratusan perusahaan di berbagai bidang dan di berbagai negara. Grup mengalami perkembangan pesat , diversifikasi dan internasionalisasi. Sejak Mei 1998 , masa depan grup Salim berubah drastis , selain dipengaruhi faktor politik kejatuhan Suharto dan juga krisis ekonomi itu sendiri .

Ketika kekerasan mengarah kepada minoritas Tionghua di Jakarta , rumah keluarga Liem ikut terkena dampaknya. Orang-orang berkerumun di jalan dan berdemo didepan Bank Central Asia (BCA) , salah satu bank terbesar di Indonesia. (Marleen Dieleman , op.cit , p31). Bersama bank-bank di Indonesia lainnya , berakhir dengan rekapitalisasi  oleh pemerintah RI yang baru. Banyak orang percaya bahwa ini adalah akhir dari grup Salim , tetapi grup tersebut membuktikan keuletan dimasa transisi , pergantian pemerintahan. Ketika itu , sang pangeran mahkota , Anthony Salim memandang dari kantornya di lantai 19 dan menyaksikan Jakarta terbakar. Pada jam 11:30 , Anthony mendengar kabar bahwa rumah keluarganya telah terbakar . Para perusuh merusak segalanya termasuk membuat sebuah kalimat penghinaan terhadap ayahnya. Anthony segera berangkat ke Singapura (New York Times , 1999)

Liem Sioe Liong mengundurkan diri dan anaknya , Anthony mengambil alih bisnis Grup Salim dan bersiap menghadapi krisis. Grup Salim mendadak menghadapi hutang 5 miliar USD kepada pemerintah baru dan pemerintah mendesak grup untuk berkerjasama . Secara mengejutkan , keluarga Salim mengalihkan perusahaan-perusahaannya ke pemerintah yang baru untuk membayar hutangnya , dan menjadi yang pertama di masa itu yang memperlihatkan tanggapan serius terhadap pemerintah baru. Sebagai dampaknya beberapa perusahaan mengalami nasionalisasi. Sementara beberapa perusahaan berharga seperti Indofood diselamatkan oleh suatu maneuver financial yang cerdas.

Di tahun 2001 , Grup Salim memulai investasi property di Tiongkok dan agrobisnis di Australia . Terlihat grup ini ingin kembali meraih kebesaran masa lampaunya dengan berfokus pada peluang bisnis di Asia Timur sembari melakukan divestasi di Eropa dan Amerika Serikat.

Liem Sioe Liong menyangkal bahwa ekspansi bisnisnya berkaitan dengan relasinya dengan Suharto sejak dekade 50an (Suryadinata , op.cit , p141). Seperti halnya pengusaha Tionghua , berbagai perusahaan Liem juga dimiliki oleh keluarganya dan juga partner-partner Tionghuanya. Dalam perusahaan Liem , manajer tingkat menengah proporsinya terdiri dari 50-50 baik Tionghua maupun non-Tionghua. Beberapa professional yang turut memperkuat Grup Salim adalah Eva Riyanti Hutapea yang sempat menjadi CEO Indofood sebelum pensiun di tahun 2003. Manuel Pangilinan asal Filipina yang menjadi CEO First Pacific. Profesional lainnya adalah Tan Kong King , Hartono Gunawan dan Angky Camaro (Indomobil) yang belakangan menyeberang ke Sampoerna

Keluarga Salim terdiri dari Liem Sioe Liong sendri sebagai pendiri , Anthony Salim sebagai suksesor , Anree Halim sebagai suksesor yang aktivitasnya berada dikawasan mainland dan Singapura dan Franciscus Welirang , menantu Liem , yang bertanggung jawab atas Bogasari pada khususnya .  Partner Liem lainnya adalah Ibrahim Risjad yang aktif di First Pacific , Indofood dan Indocement  . Kemudian Sudwikatmono , sepupu Soeharto yang aktif di Indomobil , Indocement , Indofood dan First Pacific dan pensiun. Kemudian , Sutanto Djuhar (Liem Oen Kian) , partner lama Liem dan bermarga sama dan punya minat di bisnis property disusul oleh anaknya , Tedy Djuhar.

Liem Sioe Liong telah tutup usia pada tanggal 10 Juni 2012 , pukul 15.50 waktu Singapura. Terlepas dari pro dan kontra , dari bukan siapa-siapa , di masa kejayaannya Liem yang tetap sederhana ini membawa Grup Salim yang terdiri dari 300 perusahaan dibawah payung keluarga Salim dan beberapa orang yang terpercaya. Jenis perusahan beragam dari perbankan , asuransi , makanan , semen , otomotif dan kimia. Di tahun 1996 , grup Salim punya asset 20 miliar USD dengan jumlah karyawan 200 ribu , sehingga pada saat itu grup Salim merupakan grup bisnis terbesar di Indonesia (Marleen Dieleman , p31) (New York Times , 1999)

REFERENSI :


Dieleman , Marleen., 2007 , “A Corporate Biography of the Salim Grup of Indonesia” , Amsterdam University Press

Lander, Mark., “Year of Living Dangerously For a Tycoon in Indonesia” , The New York Times , 16 Mei 1999

Suryadinata , Leo., “Prominent Indonesian Chinese : Biographical Sketches” ,

Takashi Shiraishi , 1994 , “Approaching Suharto’s Indonesia From the Margins” , Cornell University , Southeast Asia Progam

 


[1] Shiraishi p134 , Siregar dan Widya mengungkap bahwa usaha peminjaman uang yang dirintis Liem itu skala kecil tapi dapat dipercaya.

HZW , 11 Juni 2012

Budaya-Tionghoa.Net | Facebook Group Budaya Tionghoa

Last modified onMonday, 29 July 2013 18:43
Rate this item
(2 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/2075-liem-sioe-liong-1916-2012-dari-cengkeh-sampai-bca

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto