A+ A A-

Puisi Klasik Seputar Kisah Sin Tiauw Hiap Lu

  • Written by  Zhou Fuyuan
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net| Maklumlah kalau pembaca sangat terkesan dengan puisi "Sepasang Belibis"- nya Yuan Haowen.  Memang puisi inilah yang mengilhami Jin Yong menciptakan "tokoh" dan kisah tragedi sepasang rajawali di kisah Sin Tiauw Hiap Lu. Di situ dikisahkan sang rajawali yang ditinggal mati pasangannya ikut bunuh diri masuk jurang.

ARTIKEL TERKAIT :

{module [201]}

Sebenarnya dalam STHL ini banyak bertaburan puisi2 klasik dalam bentuk syair, terutama syair cinta, seolah mengukuhkan warna utama STHL yang memang merupakan Legenda Cinta, berlainan dengan Sia Tiauw Enghiong yang merupakan epos sejarah.

Ini dua buah syair yang mewarnai ikut mewarnai perjalanan Yoko dan
Siaoliongli dalam STHL.

Salam,

ZFy



- - - - - - - - - - - - - - -


CATATAN MIMPI

Su Shi (1036-1101; Song)

Sepuluh tahun antara hidup mati hampa meremang,

meski tiada mengingat, tak mudah melupakan.
Ribuan li pusara sunyi,
tiada tempat mencurahkan pilu.
Walau saling bersua pasti tak akan dikenali:
wajah dipenuhi debu, cambang seputih salju.
Semalam tiba-tiba bermimpi pulang ke rumah,
di samping jendela kecil, sedang berias wajah.
Saling menatap tanpa kata,
hanya ribuan baris air-mata.
Mudah diduga tempat meradang tahun ke tahun:
di malam bulan purnama, di bukit kecil pohon cemara.

 


- - - - - - - - - - - - - - -


ODE SEPASANG BELIBIS

Yuan Haowen (1190-1257; Yuan)

Semesta ku bertanya,

apakah gerangan cinta
yang terus menyuruh berjanji sehidup semati?
Sejoli kelana melintasi langit selatan bumi utara,
panas dingin berulang menerpa sayap yang renta.
Suka dalam cengkerama,
duka dalam perpisahan,
ternyata ada putra putri yang begitu kerasukan!
Lantas engkau pun mengadu,
ribuan kilo mega tiada bertepi,
ribuan bukit salju di petang hari,
kepada siapakah bayang tunggal menuju?
Jalanan Fen melintang,
tambur seruling tahun itu berubah hampa,
Bumi Chu senantiasa diratai kabut belantara.
Apa gunanya arwah Chu berusaha diundang,
hantu gunung pun ikut meratapi badai hujan.
Langit pun cemburu,
belum juga percaya,
bukankah kenari dan seriti telah menjadi tanah!
Seribu tahun sepanjang masa,
menanti para penyair yang resah,
yang mereguk tuntas bernyanyi lepas,
datang berkunjung ke tempat belibis dikubur..


ZHOU FUYUAN , 25534

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghua | Facebook Group Budaya Tionghua

Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/2085-puisi-klasik-seputar-kisah-sin-tiauw-hiap-lu

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto