A+ A A-

Ingin Keluarga Baik, Seringlah Lari Ke Gunung.

  • Written by  Ardian Cangianto (Terjemahan)
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Foto Ilustrasi : Parakan dilihat dari atas , by Ardian Cangianto

Budaya-Tionghoa.Net | Di rakyat Tiongkok ada pepatah, yang disebut ”Ingin keluarga baik, seringlah lari ke gunung”, artinya adalah jika keluarga ingin mendapatkan hidup yang bahagia dan tentram, harus sering ke kuburan untuk menghormati leluhur,mengingat dan mengenang pendahulu kita. Sebenarnya, adalah untuk mendorong jalan bakti, mengajarkan agar manusia tidak melupakan leluhurnya sendiri, minum air ingat sumbernya ( kacang jangan lupa pada kulit ),tulus dengan keluarga dan harmonis dengan orang lain, dan mengharumkan nama leluhur. Di Tiongkok di banyak daerah dan suku, memiliki tradisi penghormatan leluhur, terutama di daerah pedesaan, penghormatan leluhur adalah suatu tradisi penghormatan yang amat agung dan sacral.

ARTIKEL TERKAIT :

{module [201]}

Penghormatan leluhur pada jaman purba adalah hal yang amat penting, mulai dari raja hingga rakyat jelata tidak ada yang tidak melakukannya, “ Leluhur, Ritual penting negara”[1].Merupakan bagian dari 3 ritual besar, yaitu ritual Langit,ritual Bumi[2]. Fungsi penghormatan Langit adalah pada fungsi politik[3], penghormatan Bumi menekankan fungsi masyarakat, dan tujuan penghormatan leluhur adalah untuk menekankan norma etika,memliki fungsi mengembangkan dan untuk membangun keeratan dan mempersatukan keluarga,clan dan seluruh etnis. Penghormatan leluhur selain rasa mengenang dan membalas jasa pada para pendahulu, ada kalanya memiliki fungsi yang bertujuan memberikan keuntungan, seperti mohon kepada para leluhur agar usaha keluarga jaya, anak cucu sukses atau mengusir penyakit menolak bala dan lain-lain.

Jaman dahulu raja, adipati menghormati leluhur di kelenteng leluhur. Walau orang jaman dahulu mengumandangkan penguasa mendapat kekuasaan dari dewa, tapi mereka sadar bahwa yang terutama adalah kekuasaan memerintahnya didapat dengan mengandalkan para leluhur, karena itu raja2 jaman dahulu, adipati semuanyan membangun kelenteng leluhur dan menghormatinya dengan harapan mendapatkan perlindungan dari leluhur. Kelenteng leluhur raja disebut juga Tai Miao atau Kelenteng Agung, yang merupakan symbol negara, jika kelenteng leluhur dihancurkan, menjadi pertanda kehancuran negara. Seperti apa yang ditulis Jia Yi 賈誼 dalam“Wacana Kehancuran Qin” Guo Qin Lun 過秦論 mengatakan,”Seorang pria  memberontak dan menghancurkan 7 kuil”, itu maksudnya adalah kehancuran dinasti Qin. Pembangunan kelenteng leluhur dan jumlahnya memiliki aturan yang ketat, raja 7 kelenteng ( menghormati 7 generasi leluhur ),adipati 5 kelenteng, mentri 3 kelenteng, sarjana satu kelenteng. Banyak kegiatan penting yang terkait kenegaraan dilakukan di kelenteng, misalnya saat raja jaman dahulu naik tahta, harus menghormati leluhur di dalam kelenteng leluhur, bertemu dengan para abdinya,menerima stempel kerajaan, ini disebut ”Pertemuan di Kelenteng “廟見, sebagai perlambang telah resmi menerima kekuasaan memerintah negara. Jika negara ada urusan penting, juga harus ke kelenteng leluhur untuk melapor

Penghormatan leluhur berasal pemikiran dari roh yang tidak bisa mati yang menjadi hipotesisnya. Orang dahulu beranggapan bahwa roh adalah semangat pikiran dari manusia, roh dengan tubuh fisik adalah berpasangan, bisa meninggalkan tubuh fisik dan exist. Huai Nan Zi “Penjelasan Semangat Kesadaran” (精神訓[4] ) berkata : “Semangat/pikiran ( kesadaran ) pria (pria maksudnya manusia ), berasal dari langit ; sedangkan fisik, diberi dari bumi.” Setelah manusia meninggal,semangat/pikiran[5] meninggalkan tubuh badaniah dan kembali kepada langit dan bumi, oleh orang dahulu disebut gui ( arwah ), Kompilasi Penjelasan Kitab Klasik (jingjizuangu经籍纂诂)juga menyebutkan:”gui/arwah adalah kembalinya (keadaan )jinghun (jing: inti kehidupan dan hun adalah roh )[6] , “Dengan kata lain, Gui 鬼 adalah gui 歸“[7].Walau arwah kembali ke Langit dan Bumi, tapi ia masih memiliki fungsi daya guna bagi manusia yang hidup. Arwah sering datang ke alam manusia, melindungi anak cucunya. Jika anak cucunya tidak baik ( tidak berguna )atau ada masalah besar yang terjadi,arwah itu akan menampakkan diri dalam wujud badaniah[8] atau dengan melalui mimpi memberikan peringatan.Arwah juga perlu makanan dan pakaian untuk digunakan dan dinikmati,baju dan makanan ini diberikan oleh anak cucunya, ini yang disebut ritual penghormatan. Roh yang tidak mendapatkan ritual penghormatan akan menjadi arwah gentayangan, yang mengganggu manusia.Ingin arwah tenang, maka harus menjalankan ritual penghormatan. Ada sekelompok orang saat menghadapi kegiatan penting atau tertimpa bencana, seringkali mempersembahkan pakaian dan makanan untuk para leluhurnya,memohonkan agar arwah para leluhur memberikan rejeki atau mengusir bencana.Pada saat itu juga,mengenang para leluhur yang telah meninggal, terutama pada ayah ibu, kakek nenek yang telah meninggal, budi jasa mereka dalam membesarkan dan merawat (kita) tidak akan terlupakan, berbagai perhatian dan kasih sayang masih terbayang dalam mata, dan mereka tidak bisa mendapatkan balasan dari yang hidup, sehingga yang hidup tidak bisa menghilangkan rasa duka, sehingga manusia hanya bisa mengungkapkan perasaannya dengan mempersembahkan baju dan makanan kepada para arwah leluhur.

Cara ini diwrariskan turun temurun, penghormatan leluhur menjadi suatu kebiasaan. Setelah penghormatan leluhur menjadi kebiasaan, kemudian menjadi satu tindakan norma yang standar,menjadi batasan yang jelas bagi orang dahulu,tidak berziarah akan mendapatkan kritikan, dan dianggap tidak berbakti.Karena tradisi kebiasaan setiap daerah berbeda, ritual penghormatan leluhur juga memiliki perbedaan di masing2 daerah, tapi secara keseluruhan dari aturan baku tidak ada perbedaan yang hakiki. Kita lihat dari dari lokasi ritual penghormtan, ada yang ke pekuburan, ada yang di rumah abu, ada juga di yang di meja papan nama leluhur yang di taruh di ruangan tengah, mempersembahkan barang-barang persembahan, kemudian berdasarkan urutan senioritas keluarga menaruh dupa dan soja. Perbedaan itu disebut penghormatan di bing病, di mu 墓 (kuburan ), di qin 寢 ( ruang utama ). Kita bisa lihat juga dari waktu ritual penghormatan,pada umumnya saat Qingming, bulan 7 tanggal 15 imlek,dan di saat tahun baru Imlek.Juga ada saat tengah musim semi 春分,tengah musim gugur 秋分 ( system dwi mingguan kalender Tionghoa ), dan tanggal 1 bulan 10 imlek. Di luar itu, saat keluarga melakukan pernikahan, kenaikan kelas, kenaikan pangkat,menjadi pejabat,ada keperluan berpergian jauh juga saat hari almarhum meninggal juga harus melakukan upacara penghormatan. Barang persembahan pada umumnya ada ayam,ikan, daging, telur,arak, buah2an segar,kue2 cemilan dan lain2.Selain itu juga uang alam baka tidak boleh tidak ada. Pada saat Qingming, harus menambah tanah pada kuburan, ini yang disebut “Menambah Tanah”oleh masyarakat pedesaan, ada juga yang menaruh kertas yazhi di kuburan.

Yang terpenting di upacara penghormatan leluhur adalah ketulusan, ini seperti yang disebut “penghormatan seolah2 berada keberadaanya, penghormatan kepada dewata seolah2 dewata itu hadir keberadaannya”. Pada saat upacara penghormatan harus dengan segenap hati menghormati dan tulus, dengan begitu akan bisa “ketulusan menghasilkan kemujizatan”, mendapatkan perlindungan dari para leluhur. Karena itu semua orang yang hadir mengikuti upacara penghormatan leluhur, harus segenap hati tulus dan hormat, konsentrasi pada upacara itu. Pada jaman dahulu, orang harus berpuasa dan ritual mandi beberapa hari sebelum ritual penghormatan dilaksanakan. Jaman dahulu yang disebut berpuasa itu, bukan berarti vegetarian, pantang makan daging. Pada yang disebut “葷”di jaman dahulu bukan seperti pengertian jaman sekarang adalah makanan berjiwa, tapi yang dimaksud adalah bawang2an ( bawang putih, bawang bakung ), jahe dll sayuran yang memiliki bau2an yang menyengat, dengan tidak memakannya, memiliki makna agar pada saat upacara itu mulut tidak mengeluarkan bebauan yang tidak sedap, yang mengakibatkan sikap tidak hormat pada para leluhur.

Hingga hari ini,tradisi penghormatan leluhur masih ada di berbagai tempat. Dan walaupun masih membawa nuansa tahayul[9] dari masa lampau, tapi bagi yang masih hidup itu adalah suatu cara pencarian hubungan perasaan dengan yang meninggal yang melewati batasan dunia fana dan dunia baka, tidak boleh dihapus paksa oleh kekuasaan atau kekuatan. Kita harus mempromosikan suatu cara yang lebih sesuai peradaban[10] untuk mengekspresikan memory kenangan terhadap para pendahulu,dengan menempatkannya perasaan itu dalam hati, agar bisa mendapatkan ketenangan dan keseimbangan psikologis[11].

Diterjemahkan oleh Ardian Cangianto

Budaya-Tionghoa.Net Facebook Group Budaya Tionghoa

[1] Apa yang didapat hari ini adalah berkat dari jasa usaha leluhur, jadi penghormatan leluhur amat penting.kata zhong 重 ada 2 arti, satu penting, satunya dalam teks klasik bisa dikaitkan dengan ritual atau penghormatan. Lihat Guan Zi管子

[2] 社 berarti dewa bumi

[3] Pengukukuhan kekuasan raja itu dikukuhkan oleh Langit

[4][4] Jingshen bisa disamakan dengan spirit, bentuk tak nampak dari manusia yang hidup, batiniah.

[5] kesadaran

[6] Konsep2 kematian dan roh2 di Tiongkok mendapatkan banyak komentar2 dari para filsuf. Jadi perlu dirunut perjalanan sejarah filsafat Tiongkok agar paham.

[7] 歸  ini bisa berarti orang mati.

[8] Maksudnya fisiknya sama seperti saat ia hidup, karena kondisi “fisik” yang meninggal atau arwah adalah beda dengan fisik manusia hidup.

[9] Tahayul adalah istilah penghinaan terhadap system kepercayaan yang ada di suatu masyarakat, jika tahayul ditempelkan disini, maka semua agama adalah tahayul belaka.

[10] Setiap bangsa memiliki caranya sendiri untuk mengekspresikannya, jadi apa yang disebut peradaban itu relative sifatnya.

[11] Ritual penghormatan leluhur dengan berbagai pernik2nya juga merupakan ekspresi perasaan dan juga memiliki fungsi psikologis.

 

Last modified onSaturday, 04 August 2012 03:28
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/2133-ingin-keluarga-baik-seringlah-lari-ke-gunung

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto