A+ A A-

Tulisan Dubes Singapura Lee Khoon Choy tentang Zheng He

  • Written by  Kwa Tong Hay & Chendra Ling Ling
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Mantan Dubes Singapura Lee Khoon Choy dalam bukunya yang berjudul Indonesia Between Myth and Reality (Intisari No. 188 Maret 1979) menjelaskan bahwa menurut catatan-catatan di negeri Tiongkok jelas membuktikan bahwa Sam Po adalah seorang beragama Islam, demikian pula rekan-rekan dekat dan para penasehat dan sekretarisnya.

ARTIKEL TERKAIT :

{module [201]}

Ada kisah menarik dalam kunjungan Zheng He di Jawa. Menurut kisah itu, waktu Zheng He singgah di Jawa ia menganjurkan rakyat setempat agar tidak makan selama satu bulan pada masa tertentu, menurutnya cara itu baik untuk kesehatan jiwa dan raga, mereka berusaha mengikuti petunjuk Zheng He, namun hal itu sangat sukar dilakukan.

Pada suatu malam, seorang penduduk menjumpai Zheng He sedang makan secara diam-diam. “Anda ternyata mengingkari janji”, tegur orang itu. Zheng He menjawab dengan tenang,“Anda boleh saja makan di waktu malam setelah matahari terbenam,” Agaknya penduduk tidak paham tentang aturan-aturan berpuasa, sehingga menyalahkan tafsiran tindakan Zheng He yang diam-diam makan waktu tengah malam, sebagai tertangkap basah menipu orang.

Pada masa itu sebagian besar rakyat Indonesia masih beragama Hindu dan Buddha, meskipun dalam tahun 1297 sudah ada beberapa kerajaan Islam di Sumatera. Jelas rakyat belum paham tentang anjuran Zheng He berpuasa, mereka mengira harus berpuasa terus selama sebulan tanpa berbuka atau makan sahur.

K.C. Lee masih menyebutkan suatu dongeng di Jawa yang tidak disebutkan sumbernya. Dongeng itu mengenai tokoh Mbah Sedaker (?) Juragan Dampo Awang, menurut Lee adalah nama lain yang diberikan orang Jawa kepada Sam Po.

Menurut dongeng ini, pada suatu hari Sam Po sedang berkelana di Jawa, ia berpandangan mata dengan seorang putri cantik, anak raja Brawijaya dari Majapahit. Nama Putri itu Dewi Killisuci, putri Kediri.

Pesona oleh keelokannya Sam Po mempersuntingnya, tetapi ia menghadapi banyak saingan tangguh, yaitu raja-raja dan pangeran-pangeran. Dewi Killisuci tak menghiraukan yang lain-lain, ia menaruh minat kepada Dampo Awang.

Ia berjanji akan menerima pinangannya bila Dampo Awang bisa mengisi kukusannya dengan emas. Dampo Awang perintahkan anak buahnya mengambil emas dari atas kapal yang melepas sauh di pantai utara. Usahanya sia-sia belaka, karena karung berisi emas telah berlubang semuanya. Akibatnya emas itu bocor dan berngalir di lereng Gunung Mas Kemambang dan menjadi sebuah gunung emas.

Ketika Dampo Awang tahu bahwa ia tidak mampu mengisi kukusan sebab kebocoran karungnya itu, ia minta maaf kepada Dewi Killisuci sebab tidak dapat memenuhi permintaannya.

Dewi Killisuci tersenyum dan berkata bahwa pelamarnya telah cukup menunjukkan usaha dan kesunguhan hatinya. Mereka lalu menikah dan hidup bersama dalam gua Selomangleng di lereng gunung Mas Kemambang. Mereka berdua tak akan saling sentuh seperti manusia umumnya, tetapi bertapa bersama untuk kebahagiaan rohani dan kebijaksanaan tertinggi.

Kwa Tong Hay via Chendra Ling Ling

Budaya-Tionghoa.Net | Facebook Group Angkatan Muda Tridharma Jawa Tengah


Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/2199-tulisan-dubes-singapura-lee-khoon-choy-tentang-zheng-he

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto