A+ A A-

The House of Aisin Gioro [2] - Zaitian (Guangxu)

  • Written by 
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Masa pemerintahan Guangxu [1875-1908] atau Aisin Gioro Zaitian [1871-1908] adalah kaisar kesembilan dinasti Qing. Dia merupakan anak kedua dari pasangan Pangeran Yihuan atau disebut juga Pangeran Chun 醇親王dan Yehenara Wanzhen (adik termuda dari Empress Dowager Cixi)

ARTIKEL TERKAIT :

{module [201]}

 Seperti halnya Puyi sesudahnya, Zaitian juga diangkat menjadi kaisar pada usia balita , 4 tahun , menggantikan Aisin Gioro Zaichun atau masa pemerintahan Kaisar Qing Muzong atau Tongzhi wafat tanpa punya pewaris.

Aturan kekaisaran Qing adalah kaisar sesudahnya harus generasi sesudah dari generasi kaisar sebelumnya , dalam hal ini Zaitian (kelak menjadi kaisar Guangxu) sebenarnya segenerasi dengan Zaichun [1861-1875] dengan nama era Tongzhi [1856-1875].

Menurut aturan ini kandidat terkuat adalah Aisin Gioro Yixin atau Pangeran Gong [1833-1898]  yang diajukan oleh Empress Dowager Ci'an , tetapi Cixi mendominasi kekuasaan dan meloloskan keponakannya yang diadopsi menjadi anaknya, Zaitian , untuk menjadi kaisar.

Ketika Zaitian mulai  dewasa , Cixi tetap menanamkan pengaruhnya di pemerintahan walaupun dia secara teknis sudah pensiun di istana musim panasnya di dekat Beijing. Segala dokumen penting , masalah-masalah penting dan alokasi posisi kunci dipemerintahan tetap melalui persetujuan akhir dari Cixi.

Kaisar muda yang kekuasaannya digembosi Cixi  ini lebih terbuka terhadap ide-ide baru , permasalahan nasional dan internasional , yang berbeda dengan Cixi yang konservatif. Zaitian percaya bahwa dengan sistem monarki konstitutional seperti Jepang , maka Tiongkok dapat lebih kuat dibidang ekonomi dan politik.

Zaitian berhubungan dengan beberapa reformer seperti Tan Sintong , Kang Youwei , Liang Qichao etc dan mengeluarkan edict pada 11 Juni 1898 yang menandakan bergulirnya reformasi di Tiongkok , dikenal dengan Reformasi 100 Hari yang mencakup pemilihan pejabat pemerintah yang reform-minded , meninggalkan sistem ujian kuno bagi seleksi pejabat dan mengembangkan sistem pendidikan modern, perubahan besar-besaran dalam sistem administrasi dan mengenyahkan korupsi nasional , permisif terhadap ekspresi dan opini terbuka masyarakat , penghargaan untuk penemuan dan insentif untuk perkembangan perdagangan , agrikultur dan industri dan membangun kembali angkatan laut.  Diatas kertas point-point ini terlihat indah tetapi menimbulkan keengganan dari para gubernur untuk mengimplementasikannya

Reformasi berakhir . Pada 21 September 1898 , sebuah edict imperial mengumumkan ke publik bahwa untuk alasan kesehatan , kaisar telah meminta empress dowager untuk "membimbing"nya dalam masalah pemerintahan. Ini mengakhiri periode reformasi dibawah Aisin Gioro Zaitian (Guangxu) . Sebenarnya berlangsung 103 hari tetapi akhirnya reformasi ini dikenal sebagai Reformasi 100 Hari. Dikalangan kaum konservatif diantara para elite penguasa memandang reformasi ini terlalu radikal dan mengusulkan proses perubahan yang lebih moderat dan bertahap.

Empress Dowager Cixi yang merupakan penguasa de-facto menunjukkan kekuasaannya untuk menghentikan reformasi. Zaitian berada dalam tahanan rumah sampai sisa hidupnya walau secara resmi masih penguasa Tiongkok . Zaitian (Guangxu) menjadi kaisar boneka dibawah bayang-bayang Cixi.

Cixi yang memegang kendali kekuasaan mulai mengambil langkah-langkah termasuk mengeksekusi enam tokoh reformasi utama seperti Tan Sitong , Kang Guangren (kakak Kang Youwei) , Lin Xu , Yang Shenxiu , Yang Rui , Liu Guangdi.  Pentolan reformer lainnya , Kang Youwei diselamatkan oleh Inggris sebelum ke Hong Kong dan kemudian ke Jepang. Sementara itu Liang Qichao menyelamatkan diri melalui kedutaan Jepang sebelum berangkat ke Jepang.

Pada dasarnya Cixi tidak menentang seluruh reformasi yang sudah bergulir. Ketika Cixi memanggil seluruh senior dan juga Zaitian berada disana . Cixi mengatakan bahwa dirinya setuju dengan reformasi dengan catatan tradisi tidak putus dan menganggap Zaitian melangkah terlalu jauh. Beberapa sejarahwan memandang bahwa jika Zaitian tidak tergopoh-gopoh mengimplementasikan perubahan , satu persatu dalam satu waktu , membiarkan reaksi membara dan mendingin daripada membombardir seisi negri dengan reformasi mungkin sejarah Tiongkok akan berbeda.

Pada saat meletusnya gerakan Boxer , Qing yang diambang kekalahan mendorong Cixi bersama Zaitian mengungsi dari tekanan Barat+Jepang. Pasca Boxer , Cixi kembali kekuasaannya walau Tiongkok harus menderita kerusakan , kekacauan dan biaya ganti rugi perang yang besar terhadap delapan negara.

Zaitian tetap menjadi tahanan rumah dan menjadi kaisar yang hanya sebatas status tapi tanpa kekuasaan. Zaitian mungkin berharap melewatkan waktu sambil berharap Cixi meninggal agar dapat kembali ke kekuasaan. Nyatanya , Zaitian meninggal dunia pada 14 Desember 1908 pada usia yang relatif muda , 37 tahun. Dia meninggal sehari , 22 jam , sebelum wafatnya Empress Dowager Cixi meninggal diusia 74 tahun.

Berbagai teori muncul bahwa Zaitian mati diracun oleh Yuan Shikai , berdasarkan motif kecemasan Yuan bahwa dirinya akan dihabisi saat Zaitian kembali berkuasa. Teori lain mengatakan Zaitian diracuni oleh Kasim Li , China Daily pada tahun 2008 memberitakan penemuan terkini bahwa test forensik yang diambil dari jenazah Guangxu ditemukan kadar arsenik 2000 kali lipat dari orang biasa . Arsenik itu ditemukan pada rambut , pakaian dan bagian perut yang masih tersisa.

Penelitian ini melibatkan Institut Energi Atom Tiongkok , kepolisian Beijing dan CCTV yang merencanakan pembuatan film dokumenter mengenai kematian Zaitian atau kaisar Guangxu.  Aisin Gioro Zaitian dilanjutkan oleh keponakannya , Aisin Gioro Puyi , yang disebut-sebut sebagai "The Last Emperor"

Pembangunan makam Aisin Gioro Zaitian , kaisar Qing Dezong atau Guangzu yang belum selesai dilanjutkan oleh Republik yang baru sesuai perjanjian abdikasi Aisin Gioro Puyi.

Budaya-Tionghoa.Net |Facebook Group Budaya TionghoaFacebook Group Tionghoa Bersatu

REFERENSI
Beech, Hannah., (27 September 1999) ,"The Last Emperor's Humble Occupation", Times
Leung Pak Wah , (2002) , "Political Leader of Modern China : A Biographical Dictionary" , Greenwood Publishing Group
Lin Qi , (21 November 2008) , "The Poisoned Palace - Mystery of Last Emperor's Death" , China Daily

APPENDIX 1

Full Name : Aisin Gioro Zaitian
Klan : Aisin Gioro
Era Name : Guangxu
Posthumous Name : Emperor Tongtian Chongyun Dazhong Zhizheng Jingwen Weiwu Renxiao Ruizhi Duanjian Kuanqin Jing
Temple Name : (Qing) Dezong
Predecessor : Aisin Gioro Zaichun / Tongzhi / (Qing) Muzong
Successor : Aisin Gioro Puyi / Xuantong-Datong-Kangde / (Qing) Gongzong
Burial : Chong Ling Mausoleum , Western Qing Tombs
Father : Aisin Gioro Yixuan (Prince Chun)
Mother : Yenenara Wanzhen
Spouse : Empress Xiaodingjing (Empress Dowager Longyu) , Consort Jin , Consort Zhen
 
Last modified onSunday, 06 January 2013 08:20
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/2205-the-house-of-aisin-gioro-2-zaitian-guangxu

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto