A+ A A-

Notulensi Seminar : Alam Arwah Menurut Tradisi Tionghoa

  • Written by  Ratna Setyaningrum
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Berikut ini adalah notulensi seminar yang ditulis oleh Ratna Setyaningrum untuk seminar bertema " Alam Arwah Menurut Tradisi Tionghoa". Salah satu moderator kami Ardian Zhang menjadi pembicara tamu dalam seminar yang diselenggarakan Kelenteng Sinar Samudra , Semarang , Jawa Tengah pada tanggal 12 Agustus 2012. (Admin)

***

TEMA: ALAM ARWAH MENURUT TRADISI TIONGHOA

Pembicara       : Bp Ardian Zhang ( Ardian Cangianto )

Moderator      : Diah Chendra

Lokasi         : Kelenteng Sinar Samudera Jl. Gang Pinggir 105 Semarang

Tanggal       : 12 Agustus 2012

 

 

Sampai saat ini ada dua pertanyaan terbesar yang selalu “menghantui” pikiran manusia, pertanyaan tersebut adalah: “Kemanakah jika kita meninggal ?” dan “Apa yang terjadi saat meninggal ?”. pertanyaan – pertanyaan tersebut sampai saat inipun masih terus ditanyakan dan masih terus dicari jawabannya.

 

Dalam budaya Tionghoa, konsep kematian lebih dianggap sebagai “berpindah alam”,  sedangkan konsep Reinkarnasi sendiri berasal dari pandangan Yunani sebelum masa kekristenan bermula dan kemudian berkembang sampai menjadi konsep reinkarnasi yang kita kenal saat ini. Istilah reinkarnasi adalah lahir kembali menjadi daging, yang mana berbeda dengan konsep tumimbal lahir atau rebirth dalam Buddhisme

 

Dalam budaya Tionghoa dikenal beberapa konsep kematian, antara lain:

1. 未知生焉知死 weizhisheng yuanzhi si

Tidak tahu hidup bagaimana tahu mati ?

2. 死生有命

Hidup dan mati sesuai dgn takdir. Semua makhluk pasti mati ( Li Ji)

3. 不悅生不惡死 ( 莊子 )

Tidak menikmati hidup tidak membenci kematian

4. 有道者不死不生

Yg memiliki dao tidak mati dan hidup

5. 死生存亡一體

Kematian dan kehidupan ada dalam 1 tubuh

6. 死生自然之道

Mati dan hidup adalah jalannya alam

 众生必死,死必归士,此之谓鬼。——《礼记·祭义》

7. 生死乃氣之聚散

Hidup dan mati adalah qi yg berkumpul dan buyar

8. 如何知生死

Bagaimana mengetahui kehidupan dan kematian

9. 死生主於陽

Mati dan hidup berpusat di YANG

10. 生為行而死為歸

Hidup adalah perjalanan kematian adalah kembali

11.魂归天魄跪地

Hun kembali kelangit Po kembali ke bumi

 

Kesebelas pandangan di atas lebih mengarah kepada filsafat. Pada saat aliran-aliran filsafat secara perlahan-lahan meninggalkan Wushu 巫術 dan kepercayaan yang ada 宗教, Taoisme sebagai agama menyerap komponen-komponen yang ditinggalkan perlahan-lahan oleh aliran filsafat.  Pandangan-pandangan  alam kematian dari wushu zongjiao 巫術宗教 tetap melekat hingga hari ini.

 

Dalam budaya Tionghoa dikenal berbagai macam cara penguburan, yaitu:

  1. Huozang 火葬 ( kremasi )
  2. Shuizang 水葬 ( ditenggelamkan, biasa dilakukan oleh kaum miskin )
  3. Tuzang ( dikubur dalam tanah ); ada dua macam yaitu: houzang 厚葬 ( secara “wah” )“ dan qianzang 淺葬 ( ala kadarnya )
  4. Muzang 木葬 ( dikubur seperti biasa, kemudian di atas kuburannya ditanami pohon)
  5. Tou zang ( diletakkan begitu saja )

 

Menurut pandangan Tionghoa Gui Shen 鬼神 adalah:

  1. Leluhur ( sebelum 3 tahun biasa disembahyangi dengan 2 batang Hio, sesudah 3 tahun dengan 3 batang Hio )非其鬼 而祭 諂也. Pada jaman dahulu banyak orang yang menyembah mereka yang bukan leluhurnya, karena menurut pandangan saat itu leluhur dapat menjaga keturunannya dan apabila tidak disembah, maka leluhur akan marah. Sehingga saat itu banyak orang secara diam-diam menyembah yang bukan leluhurnya ( misalnya menyembah leluhur orang yang menjadi pejabat pemerintahan ), ini sama saja menjilat. Menyembah yang bukan leluhurnya ini  bisa disebabkan karena leluhurnya tidak membawa kejayaan pada keluarganya sehingga dilihat leluhur org lain yg membawa kejayaan dan menyembahnya.
    1. Walau meninggal tapi masih memiliki keterkaitan dengan yang masih hidup
    2. Jaman dahulu rakyat jelata hanya menyembah leluhur sendiri. 

 

SEJARAH

 

Pra DINASTI QIN

Pada masa ini saat ritual penguburan ala Huo Zhang biasanya dalam kubur disertakan bekal: misalnya meja, kursi, alat makan, dan sebagainya. Juga dikenal adanya korban berupa hewan dan manusia yang dikorbankan ( bisa dilihat dari peninggalan berupa Prajurit Terracota  yang ada di Xi An ). Ritual ini masih berlaku sampai saat ini dalam bentuk Kocoa. Prajurit teracota dibuat atas usulan Li Shi pada Qin Shihuang agar tidak membawa mati prajuritnya ke alam baka sebagai pasukan di alam lain, solusinya adalah membuat prajurit dari tanah liat sebagai pasukan di alam baka.

 

DINASTI ZHANG - DINASTI ZHOU

 

Pada periode initidak ada penjelasan mendetail tentang alam langit danalam bawah tanah. Umumnya semua arwah ke gunung Kunlun 昆侖 - yang berada di Barat laut ( xi Bei ), dimana arah Barat ( xi ) yang merupakan arah tenggelamnya matahari dilambangkan sebagai alam kematian, dan utara ( bei) merupakan alam air yang dilambangkan dengan dingin dan gelap-, yang merupakan surga maupun neraka untuk para roh ( 離騷 ), yang nantinya disebut sebagai gunung Taishan 泰山 pada periode sesudahnya. ( note :杜斗城. 敦煌本佛说十王经校录研究. 兰州: 甘肃教育出版社, 1989: 154. ) Posisi 西北.  Pada masa ini dikenal juga adanya alam kematian yang lain, misalnya Huang Quan 黃泉 , Tiān xuán dì huáng天玄地黃 ( Yijing 易經 )

 

ZHANGUO

Periode peperangan antar negara . Gunung Taishan 泰山 kembali menjadi tempat para roh 鬼神. Gunung ini ada di posisi sebelah timur, arah timur merupakan arah terbitnya matahari, ini melambangkan bahwa setiap ada kematian ada kelahiran.

 

Beberapa bahan yang dapat digunakan untuk mengkaji lebih lanjut tentang alam kematian antara lain:

  1. Chu Ci 楚辭
  2. 山海經 (Shānhǎi jīng )
  3. 尚書  ( Shàngshū )
  4. Liji 禮記 dan masih banyak lagi seperti Lie Zi, Zhuang Zi dan lainnya
  5. Dalam Shanhai Jing disebut幽都 atau kota arwah, bisa mengacu kepada gunung ( contoh Taishan dan Kunlun, bisa mengacu pada daratan, misalnya dalam Shanhai jing disebut gunung度朔山,tempat para roh bersemayam dan di jaga oleh Shenlu Yulu 神荼郁垒

 

Penguasa alam kematian adalah Hou Tu 后土 dan dengan adipatinya Tǔ bó 土伯, yang pada perkembangannya diserap oleh Daoism sebagai salah satu dari 4 pembantu utama San Qing dengan gelar Chéng tiān xiàofǎ hòu dé guāngdà hòu tǔ huáng di zhī  ( 承天效法厚德光大后土皇地祗 )

 

KONSEP SAN GUAN

 

Konsep sanguan sudah dikenal sejak jaman Pra Qin dan meluas jaman Qin. Merupakan suatu bentuk kepercayaan berdasarkan sistem yin-yang 5 unsur  serta konsep kematian dan kehidupan yang dijewantahkan ke dalam bentuk personal. Konsep ini kemudian diadopsi oleh Zhang Daoling sebagai suatu sistem pertobatan.

Konsep SanGuan ini berisi:

  1. Tian guan memberi rejeki 天官賜福
  2. Di guan penghapus dosa 地官赦罪
  3. Sui guan penghapus bencana 水官解厄
  4. Bumi mengandung air, penggunaan air di bumi, karena itu urutan setelah bumi adalah air.

 

Menurut Taoisme, Sanguan adalah kaisar Yao, Sun dan Yu 堯舜禹, yang merupakan anak dari Yuanshi Tianzun 元始天尊. Di Guan melakukan patroli di bulan 7 tanggal 15 dan menerima laporan dari semua dewa, menolong para setan gentayangan, menghapuskan kesalahan orang dengan beberapa syarat ( dikembalikan harkatnya). Mareka yang perlu dipulihkan harkatnya dalm ritual Fuli adalah mereka yang mati muda, mati dibunuh, dan yang mati diluar ( di luar rumah ). Saat ajaran Buddhist masuk dan berkembang, ritual Fuli diadakan pada saat yang bersamaan, yaitu pada bulan 7 yang jatuh pada musim panas ( banyak terjadi bencana kekeringan dan kelaparan ), yang merupakan waktu yang baik untuk melakukan kebajikan baik untuk mereka yang tampak maupun tidak tampak. Konsep San Guan ini kemudian berkembang diTaoisme.

 

Pada masa selanjutnya konsep alam kematian berubah, beberapa diantaranya adalah:

  1. Hunpo 魂魄 , hun kembali ke langit, po masuk ke bumi ( fisik dan psikis )
  2. Qi yang berkumpul dan buyar ( kembali ke asali ) Zhuang Zi
  3. Ketika meninggal hun ke Liangfu Shan 梁父山 dan po ke Hao Shan 蒿山 yang terletak di Taishan

 

DINASTI HAN DAN SESUDAHNYA

 

Pada masa ini ditandai dengan adanya beberapa hal, yaitu: berdirinya agama Tao secara insitusional, masuknya agama Buddha, Ruisme mulai established, masuknya agama-agama non Tiongkok, dan meleburnya aliran filsafat Tiongkok ke dalam dua wadah besar ( Dao dan Ru ).

 

Salah satu peninggalan jaman tersebut adalah lukisan sutra dari Ma Wang Dui.  Lukisan tersebut berupa bendera pemanggil roh yang isinya tentang konsep surga dan alam kematian menurut 楚辭. Nvwa di surga ( pencipta manusia ), burung emas ( matahari ) di langit. Gambaran bulan dan orang yang sedang terbang ke bulan ( bisa Chang E 嫦娥 atau roh yang meninggal ). Menggambarkan alam surga yang damai , alam manusia yang riuh pikuk dan kekuatan dari alam bawah ( 地府 / 水府 ) yang isinya adalah binatang air. Menggambarkan konsep San Cai 三才. Orang yang meninggal wajib disembahyangi agar bisa mendapat ketentraman, jika tidak disembahyangi maka upacara pemanggilan Hun dilakukan, ini didasari keyakinan bahwa alam manusia ( kehidupan ) dan kematian tidak dapat dipisahkan, sehingga apabila alam kematian tentram maka alam manusia juga akan tentram.

 

Kepercayaan akan gunung Taishan sebagai alam kematian sudah menjadi mapan dan kepercayaan bahwa mereka yang berpindah alam itu adalah seperti berpindah dimensi, penguasanya disebut Taishan Wang 泰山王 atau Dixia Fujun 地下府君. Penguasa naik pangkat menjadi Dongyue Shangdi 東嶽上帝 dan diserap oleh Daoisme sebagai penguasa alam kematian, konsepnya mirip kerajaan dengan departemen ( 72 departemen ) dan juga pasukan-pasukan pemukul  ( Wudao ).

 

Di dalam Daoisme dikenal dasar – dasar konsep apa itu kematian:

  1. Qi dimana2, tiada yang lahir tanpa qi
  2. Tubuh melemah semangat ( roh ) membuyar ( meninggalkan tubuh ) , qi habis kehidupan berakhir.

 

Apa itu keabadian? Menurut konsep Ru, abadi karena dikenang atas jasanya ( perilaku yang baik ) 立言 立德 立功. Sedangkan menurut konsep Dao,  abadi dengan raga (dengan alkimia)

 

DINASTI TANG

Pada masa ini, Buddhisme sudah menguat dan konsep tumimbal lahir berkembang pesat. Neraka 那洛迦 atau diyu 地獄 menjadi konsep yang dikaitkan dengan Taishan sebagai wujud ciri khas Buddhism Mahayana Tiongkok, dan Daoisme mengangkat Fengdu Dadi 酆都大帝 sebagai pemimpin alam kematian  dan neraka-nerakanya serta para raja neraka.

 

DINASTI SONG

Perpindahan dari Taishan ke Luofeng shan 羅峰山. ( 陶弘景 pada masa dinasti utara selatan menggagas gunung Luofeng sebagai kota setan dan pandangan Beliau baru berkembang luas pada masa dinasti Song )

 

Beberapa buku yang memberikan pengaruh luas

  1. 玉曆寶鈔 (Yù lì bǎo chāo ) lahir pada masa dinasti Song Utara tahun pemerintahan Taiping ( 1021-1031 ). Buku ini ditulis dengan menggunakan metode pemanggilan dewa
  2. Buku lainnya 佛說地藏菩薩發心因緣十王經 (Fú shuō dì cáng púsà fā xīn yīnyuán shí wángjīngfú shuō dì cáng púsà fā xīn yīnyuán shí wáng jīng ) yang tidak jelas asal-usulnya tapi diperkirakan lahir pada masa dinasti Song. Isinya mirip dengan Yuli Baochao tapi mengandung unsur Taoisme terutama masalah hun po 魂魄. Yuli Baochao sendiri juga selain bernafaskan Buddhisme juga bernafaskan Taoisme, dengan menyebut Fengdu Dadi dan Yuhuang Shangdi pada bab-bab awal
  3. Kisah dalam Yijian Jiazhi 夷堅甲志 yang lahir pada jaman Song Utara mengisahkan Yu yilang 俞一郎 yang bertemu dengan 10 raja neraka

 

Dalam konsep alam kematian Tionghoa, dikenal adanya Raja Neraka. Raja neraka Buddhisme berasal juga dari Brahmanisme tapi hanya 1 tokohnya yaitu raja Yama atau yang dikenal dengan sebutan Yanluo wang 閻羅王 ( 閻摩 王 ). 10 Raja neraka adalah: Qín guǎng wáng 秦广王, chu jiāng wáng 楚江王, sòng dìwáng 宋帝王, wǔguān wáng 五官王, yánluó wáng 阎罗王, biàn chéng wáng 卞城王, tàishān wáng 泰山王, dūshì wáng 都市王, píngděng wáng 平等王,serta  zhuǎn lún wáng 转轮王.. 10 raja neraka lahir pada masa Tang akhir dan merupakan produk Taoisme yang mengadopsi raja Yama. (Shàng qīng líng bǎo dàfǎ-上清靈寶大法 ) (Yuánshǐ tiānzūn shuō fēngdū mièzuì jīng yuánshǐ tiānzūn shuō fēngdū mièzuì jīng - 元始天尊說酆都滅罪經元始天尊說酆都滅罪經 ). Taoism mengatakan bahwa 10 raja neraka adalah manifestasi dari 10 Zhenjun 真君dan Buddhisme mengatakan 10 raja neraka adalah manifestasi dari para Buddha dan Bodhisatva.

 

Konsep adanya Raja Neraka sendiri mengandung adanya suatu pengharapan. Konsep raja neraka meluas dan diterima rakyat secara luas juga digunakan oleh para pejabat sebagai alat kontrol sosial, ini terbukti dengan adanya kepercayaan dalam masyarakat umum bahwa pejabat yang baik dan jujur pada masa hidupnya akan menjadi hakim neraka, misalnya : Judge Bao, Han qinhu 韓擒虎 , Fan Zhongyan 范仲淹 , Kou Zhun寇準 yang kesemuanya adalah pejabat jujur masa dinasti Song ( kecuali Han qinhu pada masa dinastu Sui ). Ini juga bentuk suatu pengharapan rakyat terhadap keadilan baik pada masa hidup maupun alam nanti, yaitu walaupun bisa lolos dari hukuman dunia, jangan berharap bisa lolos dari hukuman alam lain.

 

APA YANG TERJADI SAAT SESEORANG MENINGGAL ?

Saat seseorang meninggal , maka pertama kali dia akan bertemu dengan Si Hitam dan Si Putih/ Hei wuchang dan Bai Wuchang 黑無常白無常. Wuchang adalah istilah dalam Ruism, Daoism dan Buddhisme Tiongkok yang memiliki makna Anicca, Tiada Yang bersifat Tetap/Perubahan. Hei Wuchang sendiri melambangkan tidak memiliki perasaan kasihan, yang bersalah akan disikat, sedangkan Bai Wuchang melambangkan mereka yang berani akan mendapatkan rejeki. Heibai ( hitam dan putih ) adalah konsep Yin Yang

 

Heibai wuchang kemudian akan membawa arwah menghadap Tudi Gong untuk urusan administrasi alam arwah, untuk kemudian pergi menghadap Chenghuang Ye ( Dewa Kota ) untuk proses surat jalan/ Lù yǐn 路引 ( Daoisme dan Buddhisme ).

 

Secara singkatnya, proses yang harus dijalani seseorang dari meninggal sampai dilahirkan kembali sebagai berikut: Manusia  meninggal, kemudian rohnya ditangkap oleh HeiBai Wuchang dan dibawa menghadap Tudi Gong dan  Cheng Huang. Arwah tersebut kemudian kembali ke kampung halaman ( rumah ) menengok sanak keluarganya untuk yangterakhir kalinya sebelum memasuki 地府 ( alam bawah ). Arwah tersebut kemudian harus melewati Guimen guan 鬼門關( Gerbang Hantu ), melewati jembatan Naihe, kemudian melalui Panggung Melongok Kampung Halaman 望鄉臺, dan berjalan melewati Huangquan lu ( jalan Huang Quan ) yang dipenuhi dengan bunga Bi An 彼岸花. Sesudah itu arwah tersebut akan memasuki 10 Aula Raja Neraka satu demi satu. Setelah melewati aula yang ke sepuluh, maka arwah tersebut harus mampir ke  Pendopo nenek Meng, dan minum ramuan ajaibnya ( supaya melupakan kehidupan sebelumnya), dan akhirnya arwah itu akan dilahirkan kembali.

 

Pertanyaan berikutnya yang sering ditanyakan adalah berapa lama waktu yang diperlukan seseorang untuk dilahirkan kembali?  Menurut konsep di dalam budaya Tionghoa seseorang dilahirkan kembali setelah: melalui proses 9 aula raja neraka, masuk ke aula 10 yaitu Raja Roda Tumimbal Lahir 轉輪王, kemudian melewati Meng Po dan menyebrang melalui salah satu dari 4 jembatan yaitu jembatan emas, perak kumala, kayu dan naihe. Pada umumnya adalah 3 tahun baru tumimbal lahir.

 

Dalam konsep kematian menurut budaya Tionghoa dikenal adanya penyelamatan dari alam neraka. Yang paling terkenal adalah dalam sosok Ksitigarbha Bodhisatva 地藏王菩薩 dan Taiyi Jiuku Tianzun 太乙救苦天尊. Selain itu bisa juga melalui upacara- upacara, yang paling sederhana adalah dengan membakar Gin Coa dan Wang Shen. Ada pula cara yang lain yaitu dengan cara memasuk kolam darah untuk menyelamatkan arwah yang terperangkap di sana. Selain itu ada pula upacara yang lain yang bertujuan menjaga hubungan tali asih supaya tidak terputus walaupun sudah berbeda alam, hal ini dilakukan untuk melihat kondisi almarhum dan menyelamatkannya apabila yang masih hidup memang memiliki kemampuan. Intinya adalah keselamatan ada di berbagai alam, tidak hanya di alam manusia saja. Bahkan yang masuk neraka masih bisa diselamatkan.

 

Pada saat ini, apakah semua konsep purba itu lenyap? Jawabnya “TIDAK”.  Hal ini terbukti sampai saat ini masih terdapat kebiasaan mengirimkan barang untuk yang sudah meninggal, menyelamatkan arwah yang terlantar, dan menolong arwah leluhur. Kebiasaan mengirimkan barang-barang kebutuhan hidup ini didasarkan atas kepercayaan bahwa orang meninggal hanyalah berpindah alam, sebagaimana kebiasaan orang yang akan pindah, maka disediakan barang – barang seperti yang dibutuhkan orang yang masih hidup, misalnya rumah dan perabotannya dalam bentuk kocoa.

 

Pada saat sembahyang, sering ditemukan beberapa benda perlengkapan sembahyang. Benda – benda ini dipilih bukan tanpa alasan, semuanya memiliki makna tersendiri, benda – benda tersebut antara lain:

1. Hio yang berwarna hijau dan merah.Warna hijau dipilih karena warna hijau identik dengan arah timur yang bermakna tumbuh, ini mengandung satu pengharapan supaya mereka yang mati sebelum waktunya dapat tumbuh kembali, sedangkan penggunaan hio merah bermakna mereka yang telah puas bergerak dinamis menikmati hidupnya.

2. Kertas emas dan perak ( Kim coa dan Gin coa )

Kim/ emas melambangkan Yang dan Gin/ perak melambangkan Yin. Posisi emas dan perak beada di tengah, yang melambangkan tanah. Saat membakar  Kim Coa dan Gin Coa, sebenarnya mengandung suatu pengharapan semoga dilimpahi berkah dan melahirkan kejayaan. Pada bagian emas Kim Coa , terdapat gambar 3 dewa. Ini bermakna pengharapan akan rejeki, keturunan, dan umur yang panjang.

3. Gunung emas dan gunung perak

Merupakan perlambang batas alam hidup dan mati. Keduanya harus dibakar untuk simbolisasi mereka yang telah melewati batas kedua alam tersebut.

4. Kertas Wang shen ( Wang shen qian )

Pada kertas ini ada bentuk bulatan yang berisi mantra Amitaba yang dikelilingi bentuk kotak sebagai simbolisasi dari bumi. Ini bermakna melepas keterkaitan dengan bumi untuk mencapai Yin Yang yang sempurna.

 

Semua ritual yang dilakukan dalam upacara – upacara ini memiliki makna sebagai:

  1. Bahasa simbolis antara yang hidup dan yang mati
  2. Sikap bakti dan menghormati leluhur
  3. Perenungan, supaya kita siap dalam mempersiapkan kematian yang tidak menakutkan
  4. Hakikat bahwa tidak ada yang abadi

 

Adakah jalan pintas untuk lepas dari alam kematian?

  1. pagi mendengarkan Dao, sore mati tidak menyesal
  2. meletakkan golok pembunuh, seketika menjadi Buddha
  3. mengetahui hati dan kondisi diri
  4. Enlightmen kuncinya

 

Dalam hidup ada 3 hal yang terpenting, yaitu: kelahiran, pernikahan , dan kematian. Semua hal tersebut harus dilakukan dengan baik dan sesuai dengan etika dan norma yang berlaku.

 

Pada masyarakat Tionghoa saat ini sering ditemukan pendangan pro dan kontra terhadap kocoa, kaum yang kontra menganggap kocoa sebagai sumber polusi, pemborosan, tradisi yang kuno, dan tidak sesuai ajaran agama. Sedangkan pada pihak yang lain melihat kocoa sebagai seni/ fine art. Pernyataan – pernyataan dalam nada miring tentang kocoa ini seringkali membuat orang Tionghoa merasa malu. Mengapa harus merasa inferior dan malu, kepercayaan yang ada dalam budaya Tionghoa adalah alam kematian sama dengan alam orang hidup, sehingga sah-sah saja apabila kita mengirimkan kebutuhan orang hidup untuk mereka yang sudah mati, karena ini juga sebagai simbol bakti kepada leluhur.

 

Konsep Hun dan Po juga dapat menjelaskan adanya fenomena-fenomena penampakan “ hantu” yang sering ditemukan. Dilihat dari sifatnya saja, kita bisa bedakan apakah fenomena itu berasal dari Hun atau Po. Hun biasanya bersifat aktif dan dapat mengganggu secara fisik, misalnya Poltergeist. Untuk menghilangkannya diperlukan upacara dan doa-doa tertentu. Sedangkan Po bersifat residu.

 

Po sendiri merupakan manifestasi dari ovum dan sperma, Po mengandung komponen emosi. Saat tumbuh, Po akan ikut berkembang termasuk dari makanan, itulah sebabnya ada penganut aliran Daoisme yang hidup sebagai vegetarian, karena emosi hewan yang akan dipotong akan meresap dalam dagingnya pada saat dimakan, emosi dari hewan tersebut akan mencemari tubuh manusia yang memakannya. Pembahasan mengenai Po ini sendiri baru dilihat dari salah satu sisi yang mana konsep Po itu sendiri sangatlah luas.

 

Pada keadaan tertentu ( misalnya: meninggal sebelum waktunya, mati muda, atau masih terikat secara emosi ), ketika seseorang meninggal Po nya tidak terurai dan menyebabkan fenomena “ penampakan” yang terkadang tanpa sengaja kita temui. Untuk menghilangkan fenomena yang seperti ini bisa kita tanggulangi dengan menggunakan unsur yang bersifat Yang (misalnya lampu UV atau kapur) untuk membuyarkan unsur Yin yang tertinggal.

 

Kematian terjadi saat Po keluar satu per satu dar tubuh dan diikuti Hun yang keluar satu persatu dari tubuh. Ada kepercayaan yang berkata “ Orang mati bagaikan tidur”, karena saat seseorang tidur Po bekerja untuk menghilangkan emosi negatif dari orang tersebut. Pada beberapa kasus ditemukan adanya orang yang hidup lagi/ mati suri. Untuk mengetahui apakah seseorang benar-benar meninggal atau hanya tidur, biasanya dilakukan ritual pemanggilan roh “Zhao Hun”, cara yang paling mudah adalah dengan memutar baju orang tersebut 3 kali sambil memanggil nama orang trsebut, apabila yang dipanggil tidak menjawab, biasanya orang tersebut memang sudah meninggal, kemudian jasadnya disemayamkan selama beberapa hari, baru kemudian dimakamkan. Cara lainnya adalah meletakkan kapas di hidung, memegang nadi untuk merasakan denyut nadinya.

 

TAMBAHAN :

 

Dalam legenda dan sejarah Tiongkok tercatat bbrp orang yang mati hidup kembali, antara lain adalah Ge Xuan, Zhang Shanfeng, Wang Chongyang. Cerita2 misalnya Li Nezha, Li Tieguai, dan yang tertulis dalam Xi Youji. Dus artinya bahwa fenomena manusia meninggal kemudian bangkit kembali itu merupakan fenomena yang wajar dalam perjalanan budaya Tionghoa.

 

Penulis: Ratna Setyaningrum

Budaya-Tionghoa.Net | Facebook Group Budaya Tionghoa | Facebook Group Angkatan Muda Tridharma Jawa Tengah

 

Rate this item
(17 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/2272-notulensi-seminar--alam-arwah-menurut-tradisi-tionghoa

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto