A+ A A-

Liem Khing Hoo (1905-1945)

  • Written by  Tjamboek Berdoeri 28 (Alih Bahasa : Admin 1)
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Liem Khing Hoo dilahirkan di Wlingi , Blitar , pada 25 Juli 1905 jam 10 pagi dan meninggal dunia pada usia 40 tahun di tahun 1945.  Liem punya pengetahuan dalam bahasa Tionghoa dan bahasa Jawa sehingga menjadi salah satu dari sedikit pengarang Tionghoa yang mengerti kesusastraaan Jawa secara mendalam , yang dipengaruhi oleh ayahnya yang gemar akan literatur Jawa.

 

ARTIKEL TERKAIT :

{module [201]}

 

 Kepandaian dalam bahasa Kawi ditunjukkan oleh Liem dalam salinan "Maha Bharata" dari kropak yang ia temuka di Bali. Dengan nama samaran "Romano" , ia menciptakan banyak sekali karangan-karangan yang indah mengenai penghidupan bangsa Indonesia seperti "Kembang Widjaja Koesoema" , "Meledak'nya Goenoeng Keloed" , "Gowok" dan lain-lain.

Ketika Liem tinggal di Jember , dia menjadi salah satu pendiri Shiong Tih Hui disana. Pada masa itu mulai diterbitkan majalah Liberty dibawah pimpinan Ong Ping Lok yang kemudian mengundurkan diri dan digantikan oleh Liem dan dicetak di Niro Thay Siang Soerabaia. Majalah Liberty mengalami pasang surut dalam usahanya sehingga pada tahun 1933 dioper lagi kepada Kwee Sing Tjhiang , pemilik Paragon Press Malang.

Liem tetap menjadi pemimpin redaksi yang dibantu oleh pengarang-pengaran terkenal seperti Njoo Cheong Sing , Liem Thian Yoe , So Chuan Hong , Yoe Bing Hian , Tan Boen Soan dan di kemudian hari mendapat tambahan tenaga baru dari penulis-penulis muda seperti Tan Kee Goan , Liem Gwan Ging , Gan Kang Sing dan lainnya.

[Foto Ilustrasi : Liem Khing Hoo , jakarta.go.id]

Pada akhir tahun 1941 , Liberty berhenti terbit karena keadaan genting seiring masuknya Jepang ke pulau Jawa. Liberty kelak terbit lagi pada bulan Februari 1946 dari suatu kongsi dan tetap dicetak oleh Paragon Press.

Sebagai penulis , Liem Khing Hoo dapat mengembangkan angan-angannya yang sosialistik seperti dalam cerita "Masyarakat dan "Manusia". Sebagai penyalin dari bahasa Tionghoa , ia telah menyalin "Sam Kok" dan "Tong Tjioe Liat Kok" yang belakangan tidak tamat karena kedatangan Jepang ke Indonesia.

Liem sering naik kuda untuk mendaki gunung Bromo sembari melayangkan pikirannya . Dia punya kehidupan dan hati yang begitu sunyi sehingga sampai meninggal dunia ia tidak sempat berkeluarga.

Dari hawa panas seperti kota Surabaya , Liem mencari tempat dingin seperti Tosari untuk kesehatannya yang terganggu dan ditempat itulah Liem mendapat apa yang sering diidam-idamkan oleh kaum sastrawan. Jika hendak mengetahui dunia luar , Liem tinggal menyalakan radionya.

Dimasa pendudukan Jepang , Liem ditangkap oleh Kenpei Dai Nippon. Menjelang tahun baru Imlek ditahun 1945 , Kenpei Jepang meniru Gestapo Jerman dengan menangkap banyak orang dari segala golongan , yang mungkin berkaitan dengan kekalahan Jepang di front Pasifik.

Liem ditangkap pada tanggal 2 Februari 1945 di Nongkojajar dan digiring ke Kenpei Jepang di Probolinggo. Menurut keterangan Soema Tien Tjiang dari Tosari yang juga tersangkut dan sama-sama disekap dalam satu sel di Probolinggo , penyebab Liem di tangkap dan sekaligus mengakhiri hidupnya adalah sebagai berikut :

Pada masa Belanda kalah perang melawan Jepang pada bulan Maret 1942 , ada banyak serdadu Belanda berikut para opsir-nya yang melarikan diri dengan membawa segala macam alat perang ke area pedalaman. Banyak alat-alat perang modern yang tertimbun di Tosari  ,tempat dimana Liem tinggal. Liem mengetahui bahwa diberbagai tempat telah terjadi perampokan dan untuk menghindarkan Tosari dari bahaya maka Liem bersama sejumlah kecil penduduk bersatu padu untuk menghadapi segala kemungkinan.

Senjata yang ditinggalkan Belanda telah digunakan penduduk Tosari untuk menjaga ketentraman desa yang sejuk yang menghangat karena peralihan kekuasaan. Tosari menjadi aman dan tentram jika dibandingkan daerah lain seperti Tuban , Sidoarjo dan yang lainnya. Setelah Jepang masuk Tosari maka semua alat perang yang tadinya dipergunakan untuk mencegah kegaduhan , telah diserahkan semuanya kepada Jepang.

Dari tahun ketahun tidak terjadi apa-apa , malah Liem sempat diminta bantuan oleh Kaigun Jepang untuk membeli berbagai macam sayuran dari penduduk setempat.  Diam-diam ada orang yang melaporkan kepada Kenpei bahwa Liem telah mengatur gerakan untuk menjatuhkan Jepang di pulau Jawa. Pelapor itu menyebutkan bahwa senjata yang dulu dipergunakan untuk keselamatan penduduk hanya sebagian saja yang diserahkan dan sisanya masih terpendam.

Kenpei lalu membuat penyelidikan dan si pelapor bisa membuktikan bahwa Liem masih menyimpan alat perang didalam tanah. Si pelapor memang sudah mengatur fitnahan tersebut dan pihak Kenpei mempercayai laporan dan menangkap Liem . Karena Liem memang tidak menyimpan senjata dan juga tidak ada gerakan rahasia yang dikelolanya maka dia tidak bisa memberikan keterangan yang diinginkan oleh Kenpei. Belakangan si pelaporpun tertangkap tetapi Liem tetap dianggap bersalah.

Liem kemudian mengalami berbagai siksaaan dan akhirnya meninggal pada tanggal 4 April 1945. Liem dikubur di Majangan dekat pantai Probolinggo dan setahun kemudian dipindahkan ke tanah pekuburan Wonoasih ,  Probolinggo oleh pihak keluarganya.

diadaptasi dari versi :
http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/26741
blog.budaya-tionghoa.net/tionghoa/liem-khing-romano-hoo/

 

 

 

 

Last modified onThursday, 13 September 2012 06:05
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/2274-liem-khing-hoo-1905-1945

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto