A+ A A-

Notulensi Seminar : Mengenai Pilar-Pilar Budaya Tionghoa

  • Written by  Tjioe Ay Lie
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

NOTULEN SEMINAR MENGENAL PILAR-PILAR BUDAYA TIONGHOA

Pembicara  : Bp Ardian Cangianto (Bogor)
Moderator  : Sdri Tjioe Ay Lie (Parakan)
Lokasi        : Hok Tek Tong (TITD Dharma Nugraha Parakan) Jl. Letnan Suwaji no 6 Parakan
Tanggal     : 1 Juli 2012

Banyak tradisi dalam Budaya Tionghoa yang ditafsirkan secara berbeda-beda oleh orang Tionghoa sendiri, yang sering menyebabkan pertentangan diantara Tionghoa sendiri. Disini Bp Ardian mengambil contoh pemakaian tebu pada saat sembahyang kepada Thian, tergantung kalo orang Hokian dan Minnan memakai tebu kalo orang Khek tidak ada kewajiban.

 

ARTIKEL TERKAIT :

{module [201]}

  Kita perlu menelaah lebih lanjut mengapa bisa terjadi perbedaan ini, asal mulanya dikarenakan legenda bahwa orang Minnan menggunakan tebu terkait bencana peperangan. Karena itulah orang minnan mengganggap tebu sebagai simbol dalam upacara sedangkan orang Khek tidak menggunakannya

Seharusnya yang disadari adalah pilar-pilar  apa yg membuat tradisi itu lahir. Contoh sembahyang dewa dapur, tgl 23 malam, yg dianggap menyogok dewa dapur, dengan memberikan yang manis2 kepada sang dewa. Hal seperti ini yang kemudian berkembang dalam masyarakat. Dan menjadikan stigma negatif image Tionghoa sebagai orang yang suka menyogok. Dan tragisnya mayoritas orang klenteng mengiyakan sehingga pihak luar menertawakan tradisi kita.

Menurut orang Tionghoa budaya yang diambil dari kata Wenhua 文化 adalah   memanusiakan manusia atau humanistic education. Sedang menurut Koentjaraningrat budaya adalah keseluruhan system gagasan, tindakan,dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan manusia yang menjadikan diri manusia dengan belajar.  

Budaya terdiri dari 2 komponen penting, yaitu:

  1. Material
  2. Non Material

Budaya Tionghoa memiliki unsur-unsur dari kedua komponen tersebut , dimana komponen  material terdapat pada lukisan, tata cara busana, ukiran, kaligrafi, arsitektur, makanan dan seni musik. Sedang komponen non materialnya berupa cara, bagaimana kita tiam hio, cara pay yang benar (sisi spiritual), system social, pengetahuan, sastra dan bahasa.

Ada 3 aliran yang utama yaitu Taoisme, Konfucianis dan Budhisme yang mengisi sisi spiritual masyarakat Tionghoa. Nilai inilah yang dibawa ke tempat mereka merantau. Mereka membawa semangat, pikiran, budaya, pandangan hidupnya, yang sebetulnya tidak hanya untuk orang Tionghoa. Paling mudah dilihat dari makanan, yang telah teradopsi ke masyarakat lokal, seperti bakmi jawa.  Jadi budaya Tionghoa tidak hanya untuk orang Tionghoa saja, sejak  jaman dahulu budaya Tionghoa telah menyebar ke korea, jepang, Vietnam.

Bisa dikatakan kita bisa membagi budaya Tionghoa ke dalam 3 jenis sifat:

  1. Norma
  2. Ide

Dituangkan dalam bentuk simbol.Di budaya Tionghoa juga mengenal causalia,  Contoh sederhananya penataan teh dan arak pada altar, bukan berarti para dewa menginginkan arak dan teh, untuk mabuk, tapi makna teh dan arak melambangkan yin dan yang. Begitu juga samseng merupakan contoh 3 anasir alam. Ide-ide itulah dimasukkan kedalam perilaku. Klenteng sarat dengan simbol pendidikan dan pengajaran kemanusiaan.

  1. Materi

3 etika hubungan dalam masyarakat Tionghoa: Etika Hubungan Sosial 礼制 , Etika Ritual  礼仪,

ETIKA HUBUNGAN SOSIAL  礼制

LIMA ETIKA DALAM HUBUNGAN MASYARAKAT

Ada 5 etika hubungan dalam masyarakat

Suami Istri
Suami dan istri ( 夫 婦 fu fu) Kenapa suami istri berada pada urutan pertama? Karena dengan adanya 1 yin dan 1 yang melahirkan suatu keluarga baru. Karena itulah suami-istri ditempatkan pada urutan pertama. Karena itu bagi orang yg telah menikah ada istilah memisahkan dapur, karena dianggap sudah mapan membentuk suatu kelompok baru.

Orang tua dan anak

( 父 子 fu zi ) Membicarakan mengenai laku bakti

Atasan dan bawahan

( 君 臣 jun chen) Membicarakan mengenai keadilan

Saudara kandung

(  兄 弟 xiong di ) Membicarakan mengenai sayang

Pertemanan

(  朋 友 peng you ) Membicarakan mengenai percaya

Etika-etika inilah yang pada saat ini mulai tidak jelas digunakan, anak banyak yang kurang ajar terhadap orang tua, begitupun sebaliknya orang tua menindas terhadap anak, karena menipisnya rasa tenggang rasa diantara keduanya. Karena itulah  pergunakan Di Zi Gui dan San Zi Jing dalam pendidikan anak-anak. Dalam  Di Zi Gui terkandung nilai-nilai luhur yang mengajarkan bagaimana seharusnya seorang anak berlaku dalam keluarga.

Didalam klenteng kelima etika hubungan ini juga berlaku, sebagai contoh bagaimana seharusnya yang senior serta yunior berlaku saling menghormati.  Pada saat sembahyang Tang Cee, dimana sang anak kwie dan memakaikan kaos kaki pada kaki kedua orang tuanya, itu akan membuat hati orang tua yang keras luluh. Sebaliknya orang tua juga tidak seharusnya memaksakan kehendaknya kepada anak, karena setelah usia 21 tahun, seorang anak dianggap dewasa dan berhak menentukan pilihannya, namun kebebasan ini tentunya disertai dengan tanggung jawab.

Disampaikan contoh lain mengenai tanggung jawab anak , pada saat akan kuliah seorang anak telah menetapkan pilihan untuk kuliah pada jurusan kedokteran, namun setahun kemudian pindah pada jurusan ekonomi, dan setahun berikutnya minta pindah lagi kejurusan lain, ini menunjukkan sikap pu hao seorang anak. Hal semacam ini tentunya sama dengan menyia-nyiakan kerja keras orang tuanya.

ETIKA RITUAL  礼仪

Prinsipnya adalah penghormatan dan saling menghargai

Pada jaman dahulu ada 5 macam etika ritual:

  1. Ritual militer
  2. Ritual penyambutan tamu
  3. Ritual kenegaraan atau kekeluargaan
  4. Ritual yang bersifat membahagiakan. Contohnya: kelahiran anak
  5. Ritual perkabungan / kematian . Contoh  urutan dan system saat berkabung: Mengenakan ban hitam atau daixiao, di kanan adalah ibu dan dikiri adalah ayah. Baju berkabung warna putih adalah anak, warna biru tua adalah cucu, kuning adalah cicit dan merah adalah buyut.

 

  1. 3.      五礼礼嘉礼吉礼凶礼
  2. 4.      礼貌

Tindakan yang nyata dalam menghargai orang atau sopan santun.   Sima Guang 司马光 mengatakan bahwa dalam bersopan santun semua diperlakukan sama, sopan santun tidak membedakan kaya-miskin, pintar-bodoh.

PENGHORMATAN

Semua ritual dan tradisi bertujuan untuk menghormati.

6 hal yang harus dihormati dan dihargai:

  1. Langit 天
  2. Bumi 地
  3. Pemimpin negara/ negara 君/國 . Komponen Negara terdiri dari:  Wei (dinding) 》》 囗 , Ge (tombak)  戈, Kou (mulut) 》》 kou 口. Jadi artinya, masing-masing orang dengan memegang tombak melindungi wilayah perbatasannya. Dari arti ini sudah terlihat jelas, bahwa dimanapun orang Tionghoa berada, ia wajib membela   tempat dimana ia tinggal.
  4. Kerabat 亲
  5. Guru 师
  6. Sahabat 友 

TIGA PILAR BUDAYA TIONGHOA


Tiga pilar budaya Tionghoa adalah penghormatan leluhur , sistem kekerabatan dan makanan.

Penghormatan Leluhur

Leluhur orang Tionghoa adalah   Fu Xi , Shen Nong,Huang Di. Penghormatan leluhur sangat penting karena menunjukkan pandangan filsafat dan mitologi orang Tionghoa. Fu Xi sebagai penemu pat kwa, cara berternak. She Nong sebagai penemu pengobatan, pertanian. Dimana proses peradaban bangsa Tionghoa dimulai pada Huan Ti, disaat pakaian mulai digunakan.

Kita harus menghormat kepada leluhur karena penghormatan leluhur mengandung sistem control social masyarakat, karena segala perbuatan kita baik atau buruk,secara tidak langsung akan membawa dan berdampak kepada nama keluarga dan leluhur. Jadi dengan berperilaku baik jg termasuk penghormatan leluhur dan jg pentingnya menghargai jasa para leluhur.

Sistem Kekerabatan

Sistem kekerabatan juga berkaitan dengan klenteng.   Untuk memanggil para suci kita menggunakan kata mak co dan kong co, karena mereka adalah leluhur kita. Pada jaman dahulu kelenteng merupakan tempat berkumpul dan perekat antar keluarga.

Dalam budaya Tionghoa ada 9 generasi dalam keluarga:

  高 祖父/母 gāo zǔ fù/mǔ, ayah/ibu kakek buyut.

  曾 祖父/母 zēng zǔ fù/mǔ, kakek/nenek buyut.

  祖 父/母 zǔ fù/mǔ, kakek/nenek.

  父母 fù mǔ, orang tua.

  身 shēn, diri sendiri.

  而 子 ér zǐ, anak.

  孫 sūn, cucu.

  曾 孫 zēng sūn, buyut.

  玄 孫 xuán sūn, cicit.

System Kekeluargaan ini dimaksudkan untuk menciptakan sebuah system control social dalam masyarakat untuk menata etika sopan santun juga agar tercipta strata dalam masyarakat yang jelas. Agar yang muda hormat kepada yang tua, dan yang lebih tua menyanyangi dan menghargai  kepada yang lebih muda. 

Makanan

Konsep makanan terkait dengan pendapat Guan Zhong yang membicarakan bahwa yg terutama dari raja adalah rakyat, dan rakyat mengutamakan kesejahteraan ekonomi (kebutuhan makan tercukupi).

Tercukupinya kebutuhan dasar manusia akan makanan akan membuat orang mampu memikirkan kebutuhan yang lainnya. Selain itu makanan juga merupakan salah satu bentuk cara orang Tionghoa untuk mengekspresikan dirinya, makanan juga dianggap sebagai bentuk penghormatan kepada orang lain. Ambil contoh pada saat lamaran , imlek ataupun sebagainya, makanan selalu digunakan dalam peristiwa-peristiwa tersebut.  Makanan  sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari upacara dan tradisi Tionghoa

TIGA MAKNA BUDAYA TIONGHOA
 
Kebersamaan  公

Orang Tionghoa mengutamakan kepentingan bersama, bukan diri sendiri atau egoistis, mengutamakan gotong royong. Sembahyang ce it, cap go di klenteng juga merupakan perwujudan dari kebersamaan. Semua tradisi atau ritual yang ada di klenteng sebenarnya  untuk mendidik agar kita memiliki rasa kebersamaan.

Setia dan berbakti  忠孝

Setia kepada Negara dan berbakti kepada orang tua dan leluhur dengan cara yang benar.

Harmoni   中庸/ 和合

Harmoni dengan lingkungan sekitar dan alam. Saat menata altar juga bicara mengenai alam, berderma makanan kepada orang miskin juga bicara soal harmoni dengan sekitar.

Secara singkat keseluruhan  pilar dan makna budaya Tionghoa berbicara mengenai etika, kesusilaan, tata krama dalam membina hubungan baik secara vertikal maupun horisontal demi membangun hubungan yang berkemanusiaan 仁 dan keselarasan dengan alam semesta 天人感应  dan yang paling terutama adalah saling menghargai dan menghormati dengan sesamanya.

Dan mengapa kita harus menjaga warisan budaya nenek moyang? Karena manusia yang berbudaya adalah manusia yang bisa menjaga warisan budaya.

TANYA JAWAB

Sesi Tanya jawab:

1. Apa maksud pembakaran kocoa dan penggunaan semangka  bagi orang meninggal? (pertanyaan Bp Christian)

Jawab: konsep kepercayaan tionghoa bukan tumimbal lahir, surga dan neraka, namun berpindah alam, sehingga kita sediakan kebutuhan bagi orang yang meninggal, contohnya rumah, mobil, uang emas atau perak, namun dilakukan dalam batas kewajaran.  Sistem kepercayaan ini diturunkan ribuan tahun lalu, mengenai kebenarannya terkait dengan system believe. Dan cara ini merupakan salah satu cara kita untuk menghargai mereka yang telah meninggal. Mengenai semangka dimulai pada masa dimasa dinasti Yien, dengan maksud menanamkan bibit  dalam surga sukkhavati.

 2. Pada saat sembahyang chit gwee, makanan yang sudah disajikan bila tidak boleh dimakan oleh umat sendiri, ditakutkan bila tidak ada yang memakan?  (pertanyaan Bp Liang Hin)

Jawab: ada satu altar khusus untuk mereka yang kelaparan, inilah yang jangan diambil dan dimakan, karena ditujukan utk fakir miskin dan roh –roh gentanyangan. Karena kita masih mampu dan masih banyak orang lain tidak mampu yang membutuhkan sehingga sebaiknya dibagikan kepada mereka.

Penulis: Tjioe Ay Lie

Budaya-Tionghoa.Net | Facebook Group Budaya Tionghoa | Facebook Group Angkatan Muda Tridharma Jawa Tengah

Last modified onSunday, 03 February 2013 06:37
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/2287-notulensi-seminar--mengenai-pilar-pilar-budaya-tionghoa

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto