A+ A A-

Resensi Buku : Gulag - Alexandr Solzhenytsin

  • Written by  Dada
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Rusia ataupun Soviet melahirkan beberapa sastrawan besar seperti Chekov , Dostoevsky , Gogol , Tolstoy , Pushkin dan diera modern Rusia masih punya Alexandr Solzhenytsin (1918-2008) yang meraih Nobel Sastra di tahun 1970. Solzhenitsyn memang berharap menjadi sastrawan sedari muda , tapi perjalanan hidupnya beralih kebidang matematika. Ditengah kecamuk perang dunia II , Sanya terpanggil untuk membela negaranya berkaitan dengan serbuan Jerman (operasi Barbarosa) dan menjadi komandan di garis depan.  Kebencian terhadap Stalin mulai tumbuh yang dinilai sebagai penyebab luluh lantaknya negri itu menghadapi serbuan Jerman. Dalam sebuah surat korespodensi yang ternyata di sensor oleh agen-agen Kremlin, menghantarkan Sanya ke pengadilan yang memvonisnya bersalah dengan tuduhan penghianatan dan penghinaan terhadap pemimpin tertinggi Stalin.

 

ARTIKEL TERKAIT :

{module [201]}

 

Gulag
Aleksandr I Solzhenytsin
Bahasa Indonesia
644 Halaman
Penerbit Bentang Pustaka

Gulag adalah akronim dari Glavnoye Upravleniye Lagere, Pusat Administrasi Kamp Kerja Korektif. Solzhenitsyn boleh dibilang orang pertama yang memperkenalkan dan memakai istilah ini dalam bukunya yang kini menjadi klasik , Kepulauan Gulag , atau dalam versi terjemahan dalam bahasa Indonesia yang saya baca berjudul "Gulag" saja . Bersampul minimalis dengan warna dominan merah dan hitam yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka setebal 664 halaman. Buku ini mengharumkan nama Solzhenytsin dan sebaliknya Solzhenytsin "mempopulerkan" Gulag dalam satu metafora "Kepulauan Gulag".

Dalam alam pikiran Solzhenytsin , Gulag merupakan gugus kepulauan dengan mengumpamakan daratan luas Soviet sebagai lautan dan titik-titik kecil tempat lokasi kamp berada adalah pulau-pulau yang bertebaran . Kepulauan ini terbentang luas di negara dengan luas wilayah terbesar didunia.[1] [Gambar 1]. Dalam bukunya ini Solzhenytsin menuturkan pengalamannya dipenjara ditambah kesaksian rekan-rekan senasib dalam tahanan dengan gaya yang satir dan terkadang sarkastik. Karyanya ini membuat dunia terkejut karena mengira bahwa kekejaman dalam kamp yang tidak terbayangkan sudah berakhir dengan kekalahan Jerman dan terkuaknya kekejaman kamp konsentrasi NAZI yang sudah termashur dan diangkat dalam berbagai karya dari buku , memoir maupun film-film yang relevan. Ternyata kekejaman ini masih berlanjut di Uni Soviet yang menjadi negara pemenang utama Perang Dunia bersama Amerika Serikat.

KEKEJAMAN

Bagian paling menarik dan paling muram dari buku ini adalah deskripsi kekejaman yang berlangsung di “Kepulauan Gulag” dengan kombinasi deraan fisik dan psikologi . Tahanan bisa mengalami cobaan yang ringan seperti usaha persuasif dari para agen untuk membuat tahanan mengaku kesalahan yang bukan kesalahannya dan terjerat oleh pasal-pasal hukuman yang berlaku. 

Deraan Psikologis

Ketika tahanan tertidur dalam kegelapan malam introgasi dadakan bisa dilakukan di malam hari untuk menghancurkan jiwa-jiwa yang masih didera rasa kantuk.  Tahanan yang sudah menderita disiang hari akan hancur oleh kelelahan karena kurang tidur dan kehilangan common sense dan menjadi rapuh.

Kata-Kata Kotor  memang tidak melukai tubuh tetapi sangat ampuh untuk menghancurkan tahanan dari kaum rohaniwan maupun rohaniwati . Agen-agen wanita dikerahkan untuk menggoda para rohaniwan dengan mengobral daya pikat seksualnya seperti kasus di Butyrki 1944 . Menurut Solzhenytsin , di Uni Soviet pada masa itu , hukuman terhadap biarawati jauh lebih berat jika dibandingkan hukuman terhadap pelacur.

Tahanan lain dihadapkan pada permainan kontra-psikologis seperti gelas dingin yang mendadak disiram air panas. Agen yang sudah dipersiapkan bisa mendera tahanan dengan dengan memainkan kelembutan dan kekasaran silih berganti. Dalam suatu kasus , interrogator akan mendadak sangat bersahabat dan menjanjikan apapun dan mendadak bisa menjadi sangat kasar.  Tahanan yang tidak kuasa menahan cobaan ini akan hancur keteguhannya seperti gelas pecah. 

Metode yang mudah untuk menjatuhkan wanita adalah dengan merendahkan martabatnya. Seorang tahanan wanita dalam suatu kasus dimasukkan kedalam ruang berbentuk kotak kecil setelah sebelumnya ditelanjangi. Kemudian dua agen pria ditugaskan untuk mengintip dari lubang yang disediakan dan dengan sengaja pula membicarakan bagian-bagian tubuhnya sambil tertawa.  Sebagaimana dialami seorang tahanan bernama Aleksandra yang diminta untuk telanjang oleh penjaga wanita untuk menjalani pemeriksaan medis kemudian digiring ke satu kotak . Penjaga pria kemudian mengintip dari lubang.

Agen yang cerdas bisa memanfaatkan kasih sayang keluarga yang universal.  Dalam suatu kasus , orang Tartar terkenal tahan terhadap siksaan terhadap dirinya maupun istrinya. Namun begitu ancaman siksaan diarahkan terhadap putrinya , orang Tartar akan jatuh seketika. Sang interrogator yang mengetahui tipikal tersebut akan mengatakan kepada tahanan Tartar bahwa anak gadisnya akan ditahan dan dikunci bersama pria-pria pengidap sipilis. Dan hebatnya kata ancaman ini keluar dari mulut agen wanita.

Intimidasi dan dusta menjadi sesuatu yang kerap. Di tahun 1924 , jika tahanan tidak mengaku maka akan dikirim ke kepulauan Solovetsky”. Di tahun 1944 , tahanan yang tidak mengaku akan dipindahkan ke “neraka” yang lebih parah. Setiap kamp berbeda dari yang level mudah sampai yang keras. Varian lainnya adalah intimidasi untuk memindahkan ke Sukhanovka atau Lefortovo. Selain intimidasi , Solzhenytsin menyebutkan soal dusta dengan kontingensi yang sama dengan mahluk adi-alami seperti  Iblis saat sedang berdusta . Setiap tahanan dilarang berdusta sementara interogerator dapat berdusta apapun yang dia mau dengan kekebalan hukum.

Seseorang berinisial F.I.V yang berasal dari  Krasnogorsk – Moskow di-interogasi . Selama proses interogasi , sanga interrogator wanita telanjang didepannya sepanjang waktu proses seakan tidak ada apapun yang terjadi. Interogator “seksi” ini berjalan dalam ruang dan datang mendekat dalam terror psikologis. Interogasi seperti ini mungkin “memuaskan” sebagian tahanan dengan “tontonan gratis” tetapi ada kalkulasi berdarah dingin untuk membuat tertuduh menjadi kacau-balau dan tujuan sang interrogator tercapai . Interogator wanita ini tentunya aman dengan pistol dan tombol alarm yang siap digunakan .

[Gambar 1 : Kepulauan Gulag , Titik-titik kamp yang seperti kepulauan ditengah daratan Soviet yang luas seperti samudra , @Antonu , Public Domain]

Deraan Fisik

Deraan fisik yang mungkin dialami tahanan adalah berlutut tanpa ditopang tumit antara 12-48 jam. Tahanan juga bisa dipaksa untuk tidak tidur dalam ruang tertentu yang penuh dengan kutu yang biasanya berlangsung selama lima hari. Si terhukum akan kedinginan karena kehabisan darah dan lidah membengkak karena kehausan.

Atau , tahanan dibuat telanjang dalam ceruk sedemikian rupa hingga tahanan tidak bisa berdiri dan tidak bisa mengubah posisi tangan maupun kepala lalu eksekusi konyol tapi sangat menyiksa dijalankan dengan menggunakan air dingi yang menetes di batok kepalanya dan satu hari saja sudah cukup membuat tahanan pingsan.

Tahanan bisa dibuat kelaparan atau mengalami pemukulan sepert yang dialami seorang Komandan Brigade Braven , dengan dipukuli selama 21 hari berturut-turut , dan hingga 30 tahun kemudian dia bersaksi bahwa tulangnya masih terasa sakit .

Disediakan pula mesin khusus pencabut kuku yang tentunya sangat menyakitkan. Tahanan pria yang naas bisa ditendang alat kemaluannya oleh seorang agen seperti tendangan penalty dalam sepakbola.

Ketika agen pemerintah sedang bosan , menggelitik tahanan adalah bentuk siksaan yang cukup menghibur. Tetapi dikesempatan lain para agen bisa mendadak berteriak sekencang mungkin persis di dekat telinga tahanan dan adakalanya tahanan akan menderita ketulian total seumur hidupnya.  Ruang dan waktu juga dimanfaatkan untuk menghimpit tahanan dalam derita.

Dibangun pula kotak penyiksaan yang dibangun sedemikian rupa agar tahanan hanya bisa berdiri untuk sehari lamanya dalam kondisi ruang yang gelap gulita.  Cara lain adalah membangun lubang galian sedalam tiga meter , diameter dua meter. Selama beberapa hari tahanan akan terus berdiam dilubang itu mulai dari makan hingga buang air. Tahanan akan tersiksa oleh sengatan matahari dan dinginnya .

Sebuah puntung rokok yang menyala bisa mendarat kekulit tersangka . Sorot cahaya bisa diarahkan kemata.Di kasus lain tahanan bisa disuruh duduk selama berhari-hari. Sederhana saja tetapi bisa kita bayangkan saat kita duduk dikursi tinggi tanpa sandaran seperti yang dialami Yelena Strutinskaya yang duduk disebuah kursi tinggi di koridor selama enam hari.

Membuat tahanan kelaparan dan kurang tidur adalah metode universal lain yang lazim. Kelaparan dan kurang tidur membuat manusia dalam kondisi di alam bebas bisa kehilangan akal sehat apalagi dalam penjara. Dua hal ini dipraktekkan dalam varian teknik yang berbeda. Jika dinilai tidak jujur dalam memberikan keterangan tahanan tidak diijinkan tidur. Ada penjaga yang akan menendang setiap tahanan yang mulai menutup mata

Sebagai suatu “seni ” penyiksaan terkadang sesama agen saling bertukar ilmu atau pengalaman . Tidak terbayangkan penganiayaan yang dialami wanita. Semakin cantik maka akan semakin diincar . Karena penderitaan yang begitu dashyat , banyak wanita yang sengaja membuat dirinya hamil , entah dengan petugas atau dengan sesama tahanan,  hanya demi menghirup sedikit kebebesan di rumah sakit khusus, dan konsekuensinya adalah melahirkan anak yang cacat karena kekurangan gizi.

 

MAKNA PENDERITAAN

Solzhenytsin seperti “beruntung ” dapat memasuki neraka yang tersembunyi dalam sebuah negara . Seperti sebuah kepulauan yang dapat menelan siapa saja, kapan saja , dimana saja tanpa pandang bulu , baik anak kecil yang hanya mencuri segenggam gandum , biarawati yang terhormat , mantan perwira militer , para pejuang bangsa , gadis – gadis belia . Sebuah neraka dengan penangkapan , interogasi , penyiksaaan yang sistematis , dari derajat yang paling halus hingga yang paling kasar. Solzhenytsin “beruntung” mendapat kesempatan berharga melukiskan semua pemandangan neraka dunia yang mengerikan tersebut  kedalam sebuah karya sastra yang mengantarkannya sebagai penulis yang paling berpengaruh di abad 20.[2] Solzhenytsin menjadikan neraka Gulag ini sebagai sebuah kanvas , tempatnya menaruh kata – kata satiris , sekaligus renungan – renungan dan pencerahan , sebuah pencapaian spriritual yang dapat memahami makna suatu penderitaan , betapapun bengisnya , sebagai anugrah yang tersembunyi ….

Dari sudut pandang moral , kekuasaan dapat di manfaatkan untuk mencapai tingkatan kemakmuran dan kekejian yang tiada batas. Akan tetapi ditengah kegelapan yang pekat , akan selalu ada api – api spiritual yang tetap menyala , yang mencoba untuk bertahan , seraya menularkan kehangatan terhadap sesama. Bahwa apapun yang buruk menimpa kita semua , jika di telusuri dan di renungkan terus ke masa lampau , dengan sisir yang halus , maka kita akan menemukan bahwa apa yang kita alami itu memang sudah sepantasnya kita terima. Gulag adalah sebuah karya yang bagus  tempat kita untuk merenungkan apa itu makna kehidupan dibalik penderitaan , kisah kisah satir yang mengundang tawa nan muram dan sejarah Sovyet selama puluhan tahun .

Catatan Kaki


[1] Uni Soviet sebelum dis-integrasi memiliki luas kawasan 22.400.000 km2. Luas Uni Soviet ini hanya bisa dikalahkan oleh Kanada , Republik Rakyat Tiongkok dan Amerika Serikat dijadikan satu.
[2] Solzhenytsin mendapat dukungan dari Kruschev pada awalnya yang memberikan restu untuk penerbitan salah satu karyanya "One Day in the Life of Ivan Denisovich" sebagai bagian dari kampanye Kruschev untuk mengenyahkan pengaruh Stalin. Tetapi dimasa sesudah Kruschev , Soviet kembali dipimpin oleh garis keras yang berusaha membungkam Solzhenytsin. Peristiwa ini membuat Solzhenytsin menjadi salah "selebritis" paling fenomenal dimasa Perang Dingin . Henry Kissinger sampai memperingatkan presiden  Gerald Ford untuk tidak bertemu dengan Solzhenytsin setelah diusir dari Soviet karena dinilai akan semakin memanaskan perseteruan antara Soviet dan Amerika Serikat.

Last modified onFriday, 23 November 2012 03:12
Rate this item
(1 Vote)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/2309-resensi-buku--gulag-alexandr-solzhenytsin

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto