A+ A A-

Kemana Gerangan Kumis Dan Jenggot Di Kalangan Tionghoa ?

  • Written by  Akhmad Bukhari Saleh , Didi Kwartanada , Zhou Fuyuan , Xuan Tong
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Ada satu pertanyaan yang cukup menggelitik. Jika kita membaca berbagai buku ke-tionghoa-an seperti misalkan dalam cerita silat sampai film-film yang diputar di chanel Mandarin seperti Celestial hingga DVD akan ada kalimat “ mengurut kumisnya” atau “mengelus jenggotnya” . Dalam film Mandarin dari yang klasik sampai kontemporer akan selalu ada yang terlihat pria berkumis dan berjenggot baik yang tumbuh sporadis maupun panjang menjurai. Di kelenteng pun kita akan melihat figur-figur patung yang divisualisasikan sebagai pria berkumis dan berjenggot.

 

ARTIKEL TERKAIT :

{module [201]}


Dimasa sekarang ada hal yang baru tersadari ketika jenggot dan kumis itu menjadi barang langka dikalangan Tionghoa baik di Tiongkok , Hong Kong , Taiwan maupun Singapura. Begitu juga jika kita mengunjungi pecinan diseluruh dunia hingga kawasan Glodok. Apakah ini merupakan bagian dari falsafah baru ataupun siklus fashion yang datang semusim dan berlalu ?

Salah satu dugaan , jenggot adalah tradisi Tionghoa seperti yang sering ditampilkan dalam figur2 klasik dari pemikir sampai kaisar , namun kumis terpilin rapih agaknya fenomena modern dari Barat seperti kaisar Wilhem II yang kumisnya malang melintang. Kemudian kaum pembaharu Jepang pasca restorasi Meiji mengambil alihnya atas nama modernitas.

Jika kita melihat tokoh Meiji mereka kebanyakan pakai kumis yang di trimming. Pengaruh Restorasi Meiji itu meluas di Asia termasuk Tiongkok yang sedang masa suram dan mulai melirik restorasi Meiji sebagai salau opsi model yang bisa dijadikan pembelajaran , begitu juga dengan Indonesia.

Oleh karena itu “kaoem moeda bangsa Tjina” banyak belajar dari Meiji , maka untuk melengkapi kemodernannya dalam berbusana Barat , kaum pembaharu peranakan di Jawa pun memakai kumis yang rapih. Namun kumis ini tidak eksklusif di kalangan peranakan tetapi dikalangan priayi terpelajar juga ikut merawat kumisnya.  

Jika kita melihat salah satu foto RA Kartini kita bisa melihat suaminya yang terlihat merawat kumisnya. Dalam buku Ben Anderson , “Imaged Communities” juga terlihat betapa bupati Blora juga berkumis.

Waktu salah satu member forum, bertemu dengan seorang professor dari Amerika Serikat dan menunjukkan foto “kaoem moeda” peranakan yang berkumis , sang professor itu langsung mengatakan bahwa itu menunjukkan pengaruh Meiji.  Jika memperhatikan kumis bergaya Errol Flynn memang betul menunjukkan pengaruh Meiji dengan kumis panjang mengulur sedagu.

Tetapi jiga kita perhatikan lagi setengah abad terakhir terlihat perubahan gaya lagi dikalangan Tionghoa dimana kumis terlihat menghilang , apalagi jenggot. Sebelumnya dimasa Republik awal di Tiongkok atau tepatnya ketika komunis melakukan Long March , masih terlihat ada yang memakai kumis termasuk Mao , kalau tidak salah mengingatnya.

Tetapi kemenangan tahun 1949 semua kumis turut sirna , berbeda dengan paman Ho alias Ho Chi Minh yang masih berkumis dan berjenggot. Tetapi jika ini memang pengaruh Mao , ternyata Taiwan yang merupakan markas seteru GCD juga terlihat berubah.

Dalam Budaya Tionghoa dimasa lampau , Tionghoa tidak saja memelihara jenggot tetapi juga memang memanjangkan rambutnya. Dalam budaya populer bisa terlihat para pria dengan rambut panjangnya ketika konde dicabut.

Ada dua faktor penyebabnya , yaitu rambut adalah pemberian orang tua dan tidak selayaknya main potong. Faktor lainnya adalah mereka percaya dengan sering menyisir rambut maka kesehatan akan terjaga baik, terutama syaraf disekitar kepala.

Cara ini masih tersisa dalam beberapa aliran Qigong yaitu gerakan menyisir kepala. Mungkin kita pernah mendengar cerita Lo Cia yang mengembalikan pemberian orang-tuanya termasuk rambut yang dikembalikan Lo Cia kepada Li Jing.

Mungkin pertanyaan soal kumis ini bisa merusak imajinasi seseorang yang sedang asyik membayangkan sedang membaca puisi Man Jiang Hong , mendengar alunan musik kecapi sembari mengelus jenggot nan panjang seperti para cendekiawan jaman dulu. Penyair Li Bai pernah berpuisi : “rambut putih tiga ribu inci , duka pengasingan bersaing memanjang”.

Tetapi pakah perubahan gaya ini faktor “Gillette” yang berhasil menciptakan pisau silet yang ampuh untuk mengenyahkan kumis? Maklumlah jaman dahulu belum ada pisau silet yang mumpuni walaupun secara teknologi sudah dimungkinkan sejak era neolitikum. Dan untuk mencukur jenggot dan kumis jauh lebih sulit dibandingkan dengan memotong rambut.

Dalam sejarah, orang jaman dahulu, tidak perduli dari bangsa apapun, rata-rata digambarkan berjenggot.  Dan utamanya di Tiongkok, yang klimis adalah kaum thaikam atau kasim . Kaum ini dipandang rendah dan sering dianggap biang kisruh kerajaan. Tentunya tidak semua digambarkan berjenggot. Zhao Zilong digambarkan klimis dan ganteng. Rasanya hanya  Budaya Tionghoalah yang mengkaitkan memelihara rambut dan jenggot dengan sikap bakti terhadap orang tua.


Kontributor : Akhmad Bukhari Saleh , Didi Kwartanada , Zhou Fuyuan , Xuan Tong

 Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghua

 

Last modified onThursday, 13 September 2012 05:50
Rate this item
(1 Vote)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/2318-kemana-gerangan-kumis-dan-jenggot-di-kalangan-tionghoa-

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto