A+ A A-

Dari Luomen Ke Tianshui, Dan Sebuah Rumah Empat Persegi

  • Written by  Harry Alim
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Maksud hati mengunjungi LuoMen ShiKu, tetapi apa daya hujan yang mengguyur deras beberapa hari sebelumnya menggerus jalanan kesana. Sehingga apa boleh buat perjalanan kesana terpaksa harus dibatalkan. Sungguh sayang tahunya setelah berada di Luomen, sehingga percuma saja sudah bangun jam 5 pagi, bercapai lelah pergi ke stasiun, menaiki kereta pagi dan tiba di LuoMen jam 8 pagi. Tetapi benarkah ini perjalanan yang mengecewakan?

ARTIKEL TERKAIT :

{module [201]}

 Tapi sungguh waktu sopir taksi memberitahu, sukar untuk percaya. Rasanya kalau tidak melihat sendiri tidak bisa puas. Tentu saja kesanapun tidak membuat jalan tiba2 jadi baik lagi. Walau cukup sering juga mengharap begitu, melihat keajaiban. Puas sudah melihat jalan aspal yang memang tergerus hingga tinggal kurang dari separo. Sudah jelas mobil tidak bisa lewat.

Hanya ada satu cara kalau ingin tetap pergi kesana, naik sepeda motor. Waktu terpikir apa yang ditulis Lonely planet bahwa letak LuoMenShiKu memang harus melalui sungai. Mungkin banjir bandang kecil ini sebuah peringatan saja untuk selalu berhati hati, atau tidak dan hanya kebetulan saja? Tetapi ya sudahlah, batal juga ok, lain waktu saja datang lagi ke LuoMen.

LuoMen hanya sebuah kota kecil saja, hanya ada satu perempatan. Dan semua kegiatan, keramaian dan toko2 adanya di sekitar perempatan itu saja. Inilah perempatan yang bangunannya berupa deretan ruko, dengan dua tiga
lantai. Apa yang bisa dilihat? Heran juga si penulis travel guide bisa sampai disini, sehingga sekarang ada seorang lagi yang terpancing. Entah sudah berapa orang yang terpancing.

Di bulan Agustus ini agaknya memang sedang panen buah peach dan pear. Banyak sekali orang yang menjual buah itu di perempatan ini. Masih pagi, perempatan ini jadi seperti pasar dadakan saja. Dagangan di gelar di para para, dari buah, telor atau sayur yang lain. Toko2 menjajakan kelontong dan barang lainnya, layaknya satu perempatan di kota kecil di Jawa saja.

Lihat ke kiri kanan, menoleh sekali saja, habis sudah yang bisa dilihat. Tentu saja tidak memilih kembali ke TianShui seperti rencana semula, yaitu dengan kereta yang hanya ada nanti siang jam 13.30. Akhirnya menemukan diri sendiri sedang duduk di dalam bis menunggu berangkat jam 9.30. .

Bus ini seukuran kopaja saja, dari penumpang yang tadinya hanya berapa gelintir, akhirnya bus menjadi hampir penuh pada waktu berangkat ke TianShui. Penumpang yang paling terakhir naik, seorang perempuan muda dengan anaknya yang masih balita. Akhirnya ada juga yang duduk disamping, dan sekaligus terasa jadi sangat sesak.

Agaknya si anak segera merasakan, bahwa yang ini benar-benar lebih orang asing, melebihi yang disekitarnya baik yang didepan, maupun di belakang atau di samping di seberang kursi. Selama perjalanan anak ini jadi sering menoleh. Cukup lumayan untuk main mata mengusir bosan. Tetapi ternyata banyak yang bisa dilihat.

Cepat bis meninggalkan perempatan, memasuki satu wilayah pinggir kota. Jalanan lurus menuju ke timur. Rumah2 di desa dengan arsitektur yang kurang lebih hampir sama. Rumah itu dengan dinding tembok tinggi yang memagari tanah dan bentuknya kotak persegi. Dan ruangan dengan atap setengah pelana menempel dinding utara dan dinding selatan atau dinding barat dan dinding timur. Yang ada ruangannya apakah dinding utara selatan ataukah dinding timur dan barat, tergantung kemana jurusan jalan besarnya berada.

Untuk jalan yang terbentang dari timur ke barat, maka rumah yang sebelah utara pintu gerbang nya ada di dinding selatan dan ruangannya menempel dinding barat dan timur. Sedang yang di selatan jalan pintu gerbangnya ada di dinding utara. Dan ada halaman dalam antara dua ruangan yang menempel dinding. Tidak ada jendela diletakkan di dinding yang memagari rumah itu.

Justru semua jendela dan pintu ruangan menghadap ke halaman dalam. Jika pintu gerbang ke rumah di tutup, maka jadilah rumah yang benar2 dengan empat dinding penuh yang memagari ke empat penjuru tinggi2.

Agaknya rumah dengan model demikian mungkin terasa lebih hangat untuk menghadapi musim dingin dan angin yang meniup kencang. Dan sepertinya bentuk rumah demikian cukup banyak di daerah Gansu timur ini, ini terlihat
dengan jelas dari jendela kereta api tadi pagi.

Mungkin tantangan alam yang demikian membuat manusia menjawab dengan model rumah demikian. Ini sungguh lain dengan model rumah di PingYao misalnya. Tetapi bagaimana tata ruang di dalamnya? Dimana ruang tidur? Adakah ruang tamu? Dan dimana dapurnya? Akhirnya besok akan terjawab juga pertanyaan ini.

Udara membawa aroma daun bawang yang sangat kental. Walau cukup sering lihat persawahan daun bawang di pegunungan di Jawa, rasanya baru sekali ini seumur hidup masuk ke satu daerah dan beraroma seperri ini. Mungkin karena banyaknya, karena sejauh mata memandang terlihat daun bawang yang tumbuh subur dan besar2 di sawah.

Entah sampai kemana mereka harus menjual daun bawang sebanyak ini. Memang di banyak tempat setiap kali melihat orang berjualan makanan, terutama yang di pinggir jalan atau yang dapurnya kelihatan, daun bawang selalu tersedia dan selalu ada dalam jumlah cukup banyak. Agaknya semua jenis masakan harus ada daun bawangnya, barulah terasa enak barangkali.

Daun bawang yang ditanam agak rapat, dan tumbuh demikian besar dan subur, membuat sawah kelihatan begitu menghijau, bahkan memberi pemandangan yang sedikit lain dengan sawah yang tertanam padi. Waktu tertiup angin daunnya yang lebih tebal membawakan tarian yang berbeda. Sedang jauh di belakang bukit bukit membiru bagaikan penonton abadi memagari lingkaran pertunjukan penari2 ini.

Kira-kira seperempat jalan kemudian, habis sudah tanah datar, dan perjalanan mulai mendaki ke bukit dan jalan berkelok kelok menyusuri puncak puncak bukit. Dan bus mulai terengah engah, sementara banyak penumpang yang tak peduli, lebih banyak yang terkantuk2.

Mungkin mereka petani yang sudah cukup lelah. Satu penumpang naik, satu penumpang turun. Siapa lagi yang peduli dengan pemandangan yang sudah tiap hari mereka lihar? Kecuali pelancong dan pelamun saja? Penumpang perempuan muda dengan anak laki2 balitanya yang duduk di sebelah turun turun di satu tikungan.

Nah sekarang ada tempat buat taruh tas berisi tustel dan segaka gadget berat yang lain ini. Memandang keluar, melihat mereka menghilang di tikungan. Entah kemana mereka akan pergi di perbukitan seperti ini? Adakah desa di bawah sana?

Inilah bukit yang terbentuk dari tanah loess, tanah yang berwarna kuning. Tanah yang tersiram salju di musim dingin. Tanah yang mudah menjadi gembur, dan agaknya mampu menyimpan air lebih lama. Tanah yang subur. Tanah yang mudah kena erosi. Tanah yang katanya terbentuk dari debu gurun selama beribu tahun bahkan beratus ribu tahun. Kemudian erosi oleh airlah yang mengukir bukit bukit ini, membentuk perbukitan sehingga seperti ini. Lumpur yang dibentuk oleh erosi tanah inilah yang memberi warna kuning ke sungai Hongho.

Tapi inilah bukit yang subur, di lerengnya di tanam buah pear, peach dan apple. Entah bagaimana cara mereka panen dan membawa hasil panenan di perbukitan seperti ini? Dari jalan ini sampai ke bawah bukit sana jelas lebih 100 meter, bisa jadi 200 meter beda tingginya. Bahkan mungkin ada yang lebih lagi, jika melihat ada perbukitan yang lebih tinggi lagi disana. Begitu banyak buah pear di tanam di perbukitan ini. Jangan jangan dari daerah ini juga buah pear yang dijual di supermarket di Jakarta.

Bus tiba2 berhenti, ada kemacetan. Entah apa yang membuat macet. Satu truk tiba di sebelah belakang. Menambah panjang antrian. Gerimis turun. Turun sejenak memnuhi panggilan alam. Melihat jalanan yang tak terlalu lebar dan berkelok di pebukitan. Melihat panjang kendaraan antrian di depan, sungguh panjang tak terlihat ujung depannya. Mendengarkan selintas sopir bicara dengan sesamanya menduga duga sebab kemacetan. Tetapi semua antri dengan tenang saja, seolah waktu tersedia banyak sekali di daerah ini. Tidak ada yang menyerobot. Ah jadi ada kesempatan melihat ke pemandangan jauh di bawah sana, atau ke perbukitan di seberang sana.

Memandang ke perbukitan di seberang sana, ke tanah datar di bawah sana. Sungai mengalir di lembah sana. Segera pikiran melayang.layang. Inikah negara komunis itu? Memandang ke bus, siapakah yang masih memakai jaket biru, jaket mao lagi? Benarkah mereka perduli dengan ideologi? Bukankah mereka hanya rakyat biasa saja. Yang di musim panas seperti ini mengharapkan panenan berhasil dan bisa mengumpulkan uang untuk membeli ini dan itu. Merekalah yang setiap kali perayaan musim semi datang, jauh di batinnya bersyukur bisa melewati musim dingin dan mengharapkan agar musim panas tahun ini alam akan memberi berkah lagi dan panenan yang lebih baik dari tahun lalu, sehingga bisa membelikan ini dan itu.

Entah dimana ini? Rasanya belum setengah perjalanan. jam berapa nanti tiba di TianShui? Memandang ke perbukitan, ke alam yang subur. Burung tampak terbang dilangit. Apakah itu elang? Adakah yang diincarnya di bawah sana. Entah sejak kapan gerimis sudah berhenti. Alam yang indah. Bukankah sama indahnya dengan di Jawa juga? Bus masih mengantri. Semua antri dengan sabar. Mungkin juga para pemimpinnya mau antri.

Inilah negara yang pemimpin nya sudah berhasil membawa keluar dari satu masa ke masa lainnya tanpa melalui revolusi. Tanpa banyak yang harus menjadi korban. Mungkin disana Deng Xiaoping akan diingat. Bukankah ideologi hanya ada di pemimpin saja. Bukankah itu hanya alat untuk memanipulasi rakyat saja? Berapa banyakkah rakyat yang terprovokasi karena mendengarkan ucapan pemimpinnya. Mereka yang lebih terpelajar yang bisa berdiskusi memperbantahkan konsep ini dan itu. Hanya yang terpelajar yang peduli dengan bedanya ini dan itu dan mencari kebenaran kata per kata.

Rakyat mungkin hanya berdoa semoga panen buah pear saya baik tahun ini dan harganya tidak jatuh. Mungkin mereka hanya berpikir semoga tahun ini bisa membelikan tv dari hasil panenan untuk keluarga. Selama rakyat tidak lapar, tentu tidak akan mudah terprovokasi. Bukankah memang hanya orang di atas saja yang berebut kekuasaan, menjual konsep, menjual ideologi, memanipulasi rakyat dan membeli suara rakyat?

Dan segala cara adalah sah untuk mendapatkan kekuasaan. Dan kalau terjadi rusuh, bukankah yang menjadi korban juga selalu rakyat? Dan yang di atas selalu bisa mengelak dan tak perlu di usut jika jatuh korban? Suara klakson bis berbunyi, memanggil.

Seorang teman yang kemudian mendengarkan cerita perjalanan ini, bertanya sebetulnya apa yang kamu mau lihat di LuoMen ShiKu? Ikuti tulisan selanjutnya, ikuti cara mereka panen di daerah perbukitan seperti ini. Ikuti kunjungan ke rumah empat persegi.


salam,
Harry Alim , 27849

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghua

Last modified onThursday, 13 September 2012 05:46
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/2325-dari-luomen-ke-tianshui-dan-sebuah-rumah-empat-persegi

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto