A+ A A-

Henk Ngantung (1921-1991) : Seorang Gubernur Dan Seorang Seniman

  • Written by  Memento Mori
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Jakarta
Diriku rawa
Panas membatu

Di putih dinding
Semua punya arti ,
manusia dan malaria
(Sitor Situmorang , 1989) 


Budaya-Tionghoa.Net | Jakarta sebagai suatu caput [1]tentunya merupakan kota paling penting di Indonesia . Jakarta menjadi episentrum ekonomi , kultural dan politik . Secara skala , Jakarta juga menjadi salah satu kota terbesar didunia dengan ironi permasalahan yang tidak kalah besarnya .  Apa yang paling mengesankan dari Jakarta ? Tentu saja kita bisa melihat “Hutan Beton” yang berlomba mencakar langit yang hidup berdampingan dengan pemukiman kumuh. Sedari ayam berkokok dipagi hari kita bisa melihat jutaan kendaraan warga membanjiri jalanan untuk merajut kemacetan. Para pengemudi yang tak rela usianya dihabiskan dijalanan berjuang keras untuk mengalahkan rival terdekat untuk setiap meter yang begitu berharga ,  juga siap berjibaku menaiki trotoar , menembus jalan tikus , menjajal jalur busway , kalau perlu menerobos rambu peringatan kereta api yang akan melintas. Itulah wajah Jakarta modern.

 

ARTIKEL TERKAIT :

{module [201]}

 

 Apa yang terjadi di ibukota menjadi pusat perhatian masyarakat internasional. Demikian juga dengan Jakarta sebagai salah satu ibukota terbesar dan terpadat didunia. dengan para pemimpin daerah khusus yang juga akan menjadi sorotan baik secara historis maupun politik karena kekhususannya . Bahkan di era pemilihan kepala daerah , pemilihan gubernur seperti sekarang ini dimana proses pemilihan menghiasi berita-berita nasional dengan segala pernak-perniknya.

Status Jakarta sebagai kotapraja dimasa Belanda berubah menjadi daerah khusus ibukota melalui dekrit presiden pada 14 Januari 1960. Daerah khusus ini termasuk kategori wilayah yang dipimpin oleh seorang gubernur. Pada bulan Juli 1965 bahkan posisi gubernur Jakarta pernah dipromosikan ex officio setingkat mentri.  Dari tahun 1960 sampai era Suharto 1966 , DKI Jakarta dipimpin oleh Dr. Soemarno Sastroatmodjo , terkecuali untuk masa yang singkat dimana Henk Ngantung (1921-1991) sebagai deputi menggantikannya. Siapakah Henk Ngantung ?

HENK NGANTUNG : SEORANG GUBERNUR DAN SEORANG SENIMAN

Henk Ngantung adalah seorang pelukis terkenal yang punya spesialisasi di dekorasi urban. Dia dilahirkan di Bogor pada tanggal 1 Maret 1921 dan salah satu orang tuanya berasal dari Tomohon , Minahasa. Henk menyelesaikan pendidikan dasar di sekolah Belanda tetapi tidak melanjutkan sekolahnya karena orang tuanya bukan dari kalangan berada. Henk belajar melukis secara otodidak dan berkembang menjadi pelukis terkemuka dijamannya.

Henk Ngantung menjadi gubernur terakhir yang mengabdi pada Sukarno. Dia terpilih  bukan karena seorang prajurit maupun politikus untuk menjadi pemimpin DKI . Dia terpilih karena kapasitasnya sebagai seniman dan cita rasa Sukarno yang tinggi terhadap seni dan visi urban Sukarno yang hendak menjadikan Jakarta sebagai kota budaya. Henk punya pengalaman sebagai deputi gubernur Sumarno sebelumnya. (Christo Silver , p96) Posisi Henk Ngantung merupakan tanda kepedulian Sukarno terhadap perancangan kata sebagai ibukota yang vital bagi negara seperti yang dikatakan oleh Bousquet bahwa jika Batavia (Jakarta) tidak menunjukkan imaji dirinya melalui sejarah dan fungsinya , apalagi yang hendak ditampilkan ?

Jakarta sebagaimana halnya ibukota diseluruh dunia , punya peran simbolik dan pemaknaan dalam dirinya , termasuk juga menjadi sebuah kota seni sebagaimana kapasitas yang dimiliki oleh Henk Ngantung.  Henk pernah berusaha mencegah perintah Sukarno untuk merubuhkan Tugu Proklamasi . Henk menawarkan Sukarno untuk membuatnya menjadi Museum Sukarno. Sukarno menjawab dengan marah . “Are you too among those people who would like to exhibit my boxer-shorts?” (Karya Jaya : 1977 : 185; Nas ,p41 ; Mrazek , p17)

Tugu Nasional dibangun untuk menjadi fitur khusus dari Jakarta setelah sebuah blueprint dari Henk Ngantung yang waktu itu menjadi deputi gubernur (Karya Jaya , 1977 : p263) . Sukarno telah memutuskan bahwa tugu yang berada di jalan Pegangsaan Timur bukanlah Tugu Nasional melainkan Tugu Linggajati (Tugu Proklamasi) dan harus dihancurkan. (Suluh Indonesia , 28 Oktober 1960 )

Rancangan Tugu Nasional melalui proses sayembara yang melibatkan 222 arsitek , seniman dan insinyur . Ide membangun Monumen Nasional sudah muncul sejak awal kemerdekaan. Komite khusus dibentuk pada bulan September 1954.  54 proyek dikirim ke komite khusus. Juri yang dipimpin Sukarno , meminta tiga perancang  , Fritz Silaban , Nur Alamsjah , dan Kwee Hin Goan[2] untuk memasukan rancangan baru.  Pada tanggal 20 April 1956 , Silaban menjadi pemenang kedua sedangkan Nur Alamsjah dan Kwee berbagi di posisi ketiga.[3] Sukarno kemudian merombak komite khusus dan dibulan Mei 1960 , kontes kedua berlangsung kembali. Sukarno dan Henk Ngantung sebagai salah satu juri dari sembilan juri. Hasil dari kontes kedua ini lebih buruk dari tahun 1956, Tidak ada yang menjadi pemenang pertama dan kedua walaupun 136 proposal diajukan.

Henk Ngantung adalah seorang seniman realis (sosialis) menurut Rosihan Anwar . Dimasa pendudukan Jepang , Henk Ngantung bersama seniman lain seperti Soedjojono , Soedjana Kerton , Affandi adalah seniman  yang karyanya punya watak demokrasi dan mengangkat penderitaan , kesengsaraan dan kemiskinan rakyat . (Joeldar Ajoeb , 1993 ; Budi Susanto , p321 )

Di masa Jepang ini , mata Sukarno yang sangat apresiatif [4]terhadap lukisan ini tertuju pada sebuah lukisan yang diadakan oleh Keimin Bunka Sidosho. Bung Karno menatap sebuah lukisan yang menggambarkan orang-orang yang sedang latihan memanah yang merupakan karya Henk Ngantung.  Bung Karno mengomentari karya Henk sebagai lukisan yang bagus dan sebuah simbol bangsa Indonesia yang terus dan terus bergerak maju. “Paulatim longius itur!” kata Bung Karno . Seusai pameran , Bung Karno diam-diam mengunjungi studio Henk Ngantung dan hendak membeli salah satu lukisan Henk.  Henk sempat menolak dengan mengatakan lukisan tersebut belum rampung dan perlu seorang model untuk menyelesaikannya. Presiden pertama Indonesia ini memang memiliki cita rasa seni dan menyanggupi untuk menjadi modelnya. Tidak berapa Henk menyelesaikan lukisannya dan Bung Karno segera memamerkan koleksi terbaru kebanggaannya kepada rekan-rekannya (Agus Darmawan , p59)

Pada masa perjuangan , Henk Ngantung bersama dengan pelukis seangkatannya tampil dengan jati diri dan gaya pengucapan yang khas dengan seni lukis yang dominant pada waktu itu yang bergaya realisme kerakyatan Selain sebagai pelukis , Henk Ngantung juga merancang berbagai hal dari logo sampai patung. Patung Selamat Datang karyanya bisa kita lihat di jantung kota Jakarta .

Menjelang Asian Games 1962 , Indonesia meluncurkan 24 perangko yang dipublikasi dari Maret sampai Agustus 1962 . Perangko ini mencakup fitur-fitur utama Jakarta seperti Hotel Indonesia rancangan arsitek Denmark , Arne Sorensen , sebuah hotel multi lantai pertama di Indonesia.  Fitur lainnya adalah karya Henk Ngantung , Patung Selamat Datang dengan nilai perangko 20 rupiah , karya Henk ini menjadi fitur perangko termahal diantara seri perangko lainnya. Menunjukkan patung , seorang pria dan wanita yang menawarkan bunga . Rancangan Henk ini menjadi pusat perhatian di tengah arus lalu lintas yang menghubungkan kawasan Thamrin dan Hotel Indonesia.  Henk dalam rancangannya bermaksud agar rakyat Indonesia menyambut masa depan mereka (Karya Jaya 1977 , p193) .

Karya lainnya Henk adalah Tugu Irian Barat dimasa konflik Indonesia dengan Belanda berkaitan dengan isu Papua Barat. Tugu Irian Barat menunjukkan seorang pria yang memutuskan rantainya , berukuran setinggi 36 meter . Dalam karya ini Henk berkerja bersama Edhi Sunarso dan Silaban sebagai arsitek.

Patung karya Henk dan Edhi Sunarso ini tidak saja memberikan ritme terhadap perspektif kota , atau mengindikasi hubungan antar jalan , tapi mempercepat pemulihan territorial. Patung ini menjulang tinggi di kawasan Banteng , figure tahanan memutuskan rantai di tubuhnya dan mengeksplorasi area sekitar dan siap tinggal landas.

Patung Irian Barat ini merupakan monument vertical yang kongruen dengan metafora Sukarno bahwa Indonesia menaiki angkasa , konsep dirgantara , dan untuk menaklukan angkasa . Patung ini juga berdekatan dengan markas AU . Design patung ini tidak direproduksi di perangko karena membutuhkan waktu lama untuk penyelesaiannya dan baru tuntas di bulan Oktober 1965 , nyaris bersamaan dengan kemelut politik pasca G30SPKI.

 Henk Ngantung berakhir tragis saat Suharto naik kekuasaan dan disingkirkan dari posisinya , sementara Hendra  yang merupakan pelukis segenerasinya dipenjara , aliran realis dibubarkan (Dennys Lombard , p188) . Henk kena stigma sebagai anggota PKI karena pernah menjadi anggota LEKRA. Henk jatuh dari posisinya dalam keadaan sulit dan harus menjual rumahnya di pusat kota untuk pindah ke kawasan pinggiran.

Di masa Sukarno , Henk menikah dengan Evie Misesa , wanita asal Manado yang jauh lebih muda dari dirinya  dan dikaruniai empat anak . Pernikahan ini tetap bertahan sampai Henk menutup usia di tahun 1991. Kehidupan pasangan ini menjadi sulit dimasa Orde Baru dan seolah dilupakan jasa-jasanya.

Henk adalah salah satu pelukis terbaik yang dimiliki oleh Indonesia . Deena Burton menyebutkan Henk Ngantung bersama Lee Manfong dan Basuki Abdullah merupakan tiga seniman Jakarta yang paling berpengaruh di dekade 50an. Henk telah membantu mewujudkan permintaan Sukarno untuk memperindah Jakarta dimasanya (Silver , ibid p96)

MEMENTO MORI

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghua | Facebook Group Budaya Tionghoa | Facebook Group Tionghoa Bersatu

REFERENSI :

Burton Deena ., (2009) ,  “Sitting at the Feet of Gurus “ The Life and Dance Ethnography of Claire Holt” , Xilibris Corporation

Darmawan , Agus T (2004) , “Bukit-bukit perhatian : Dari Seniman Politik , Lukisan Palsu sampai Kosmologi” . Gramedia

Lombard Dennys , (1996)  , “Nusa Jawa : Batas-batas pembaratan” , Gramedia Pustaka Utama  

Mrazek , Rudolf , (2010) “A Certain Age : Colonial Jakarta through the Memories of Its Intellectuals” ,. Duke University Press

Nas , P., (1993) ,  “Urban Symbolism” , BRILL
 

Silver , Christo , () , “Planning the Megacity : Jakarta in the Twentieth Century”

Susanto A.B , (2003) , “Politik dan Postkolonialitas di Indonesia “ , Kanisius



[1] Caput secara literal adalah kepala atau top

[2] Kwe Hin Goan masih berstatus mahasiswa ITB dan dibantu oleh para rekan-rekan almamaternya

[3] Tidak ada yang menjadi pemenang pertama.

[4]

Last modified onThursday, 13 September 2012 05:43
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/2331-henk-ngantung-1921-1991--seorang-gubernur-dan-seorang-seniman

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto