A+ A A-

[Q-A] Sastra Dalam Pendidikan Di Tiongkok

  • Written by  Zhou Fuyuan
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Tanya : Pada kelas berapa murid sekolah di China diajarkan atau dianjurkan untuk membaca 4 buku besar San Guo Yan Yi, Shui Hu Zhuan, Xi You Ji, dan Hong Lou Meng? (Maksudnya novelnya, bukan misalnya ringkasan ceritanya)

Jawab : Setahu saya, novel-nbvel klasik tak secara khusus diajarkan di sekolah, paling mungkin satu dua petikan episode atau puisi, yang dipakai sebagai bahan bacaan pelajaran bahasa.

Artikel Terkait:

{module [201]}

 Tanya : Seberapa jauh murid sekolah tersebut diharapkan mengerti mengenai 4 buku tersebut? Apa sampai harus mempelajari plot, gaya bahasa, atau menghapalkan beberapa puisinya misalnya? Ada ujiannya?

Jawab : Dibanding pendidikan di Indonesia, pendidikan dasar di Tiongkok sangat mementingkan bidang sastra. tapi semua ini bukanlah diajarkan khusus dalam mata pelajaran sastra, tapi diselipkan, Dalam mata pelajaran bahasa biasa, mereka tak diajarkan grammar, tetapi langsung disuruh membaca bahan-bahan bacaan yang umumnya karya sastra terkenal. Para gurunya pun sangat fasih bercerita, sehingga mudah memikat sang murid, menarik minat mereka ke bidang sastra. Cara ini sangat efektif, lain dengan pendidikan sastra di Indonesia, dimana kita disuruh menghafal nama-nama angkatan, nama-nama pengarang dan nama-nama buku tapi tak pernah bersentuhan dengan karya sastra itu sendiri.

Meski tak diajarkan atau disuruh membaca, pada umumnya kaum terpelajar di sana sangat akrab dengan karya-karya novel klasik,  karena selain dalam bentuk novel, kisah-kisah ini juga hadir dalam bentuk komik, bentuk kartun, bentuk teater, bentuk film, bentuk musik dll.

[ Foto ilustrasi by Admin : A scene from Dream of the Red Chamber (also known as The Story of the Stone). Public domain artwork by Xu Baozhuan (1810-1873).]

Tanya : Mungkin kurang tepat membandingkan novel klasik dengan novel modern, tapi apa ada novel China yang ditulis pada zaman modern (1900 ke atas?) yang lebih bagus daripada ke-empat atau ke-enam novel klasik tersebut? Kalau ada misalnya novel apa? Lu Xun? Apa keunggulannya? Kalau tidak ada yang lebih bagus, kenapa orang tidak bisa membuat novel-novel yang lebih bagus daripada novel-novel klasik tersebut?

Jawab :  Tentang sastra kontemporer. tentu saja telah banyak lahir novel-novel berbobot, yang tak kalah dibandingkan novel klasik. jika anda menguasai bhs mandrin, bisa memeriksa majalah Asia week terbitan Hongkong beberapa tahun lalu, yang membuat daftar penilaian 100 novel modern terpenting. Tingkat kwalitas novel klasik sebagian besar telah berhasil dilampaui oleh novel modern, tapi semua pengamat sastra mengakui, tak ada yang berhasil menyamai tingkat pencapaian novel klasik "Impian di Loteng Merah"/Hong Lou Meng karya penulis besar Cao Xueqin dari dinasti Qing. Tentang Lu Xun, mungkin perlu lembar khusus untuk membahas,

Salam, ZFy

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghua

Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/2345-q-a-sastra-dalam-pendidikan-di-tiongkok

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto