A+ A A-

Renungan Dalam Rangka Menyambut Tahun Baru Tionghoa

  • Written by  Yu Yongde
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Di kalangan masyarakat Tionghoa, dewa rejeki / Cai Shen Ye adalah sosok yang amat sangat penting. Apalagi dalam rangka tahun baru Tionghoa. Kepercayaan akan dewa dapur naik ke langit untuk memberikan laporan tahunan bahkan banyak yang sudah bercampur aduk menjadi naiknya semua dewa-dewi termasuk dewa rejeki. Beberapa kalangan malah menyamakan dewa dapur dengan dewa rejeki. Tentu saja, selama kepercayaan itu berpulang ke diri masing-masing.

 

Artikel Terkait :

{module [201]}

Kalau dewa rejekinya naik ke langit tentu saja dia juga akan balik ke rumah. Biasanya pada malam tahun baru ada ritual menyambut kembalinya dewa rejeki masuk ke dalam rumah. Semua anggota keluarga diharapkan hadir (begadang) untuk melakukan ritual penyambutan. Ada yang percaya bahwa kalau tidak disambut, maka rejeki sekeluarga akan ludes tahun ini. Ibaratnya pejabat resmi kalau tidak disambut dengan wah yah ngambek.

Di ritual penyambutan dewa rejeki ini sebenarnya ada hal penting yang sudah banyak dilupakan atau malah tidak pernah diketahui orang. Sebenarnya kalau ditelaah lebih lanjut, di tengah malam itu ada satu proses perenungan atas apa saja yang telah dilakukan selama setahun ini. Baik atau burukkah diri kita setahun ini ?

Renungan ini dilanjutkan dengan penyesalan dan janji pertobatan untuk menjadi manusia yang lebih baik di tahun yang baru. Jadi kalau mau diambil jalan tengahnya dalam bahasa sederhana, kita berjanji kepada dewa rejeki dengan jaminan rejeki selama setahun. Boleh dikatakan bahwa perenungan, penyesalan dan janji pertobatan inilah yang telah hilang.

Daripada anda sekeluarga menghabiskan malam tahun baru Tionghoa secara mewah dan meriah, lebih baik menghabiskan malam tahun baru dengan makan bersama sekeluarga dan melakukan perenungan, penyesalan dan janji pertobatan. Tentu saja agar rejeki anda lebih baik di tahun yang baru. Bagi yang alergi terhadap dewa-dewi, abaikan saja ritual sembahyangannya atau gantikan dewa-dewi itu dengan apa yang anda yakini.

Di hari-hari pertama tahun baru Tionghoa juga ada sebuah budaya yang dikenal dengan nama “membeli dewa rejeki”. Tentu saja budaya ini juga banyak yang telah luntur makna luhurnya dan cenderung menjadi benar-benar seperti menyogok sang dewa.

Sebenarnya yang dimaksudkan dengan membeli dewa rejeki adalah seperti berikut. Dalam minggu awal tahun baru Tionghoa biasanya ada anak-anak kecil ataupun orang dewasa yang berasal dari kalangan kurang mampu memberikan ucapan selamat tahun baru kepada mereka yang lebih mampu.

Yang menerima ucapan selamat lalu memberikan angpao sukarela kepada mereka sebacai balasan ucapan selamat itu. Yang menerima angpao kemudian menuliskan pujian atas kemurahan hati si penderma di atas secarik kertas merah kecil. Kertas merah ini kemudian ditempelkan di pintu depan rumah sang penderma.

Di jaman dulu lebih heboh lagi, para penerima angpao tersebut ada yang malah melakukan promosi gratis dengan menyebarluaskan kemurahan hati sang penderma melalui omongan mulut ke mulut, berteriak keras-keras di tengah jalan atau bahkan menyanyi dan berpuisi seadanya.

Inilah sebenarnya yang dimaksudkan dengan “membeli dewa rejeki” itu. Jadi dewa rejeki itu adalah kalangan tidak mampu. Bukannya dewa rejeki dalam bentuk gambar dan patung yang notabene benda mati.

Selamat tahun baru Tionghoa, Gong Xi Fa DE.

Hormat saya,
Yongde

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing List Budaya Tionghua

 

Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/2408-renungan-dalam-rangka-menyambut-tahun-baru-tionghoa

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto