Logo
Print this page

Hak Hak Alam

Photo Credit : transitionconsciousness.wordpress.com

Budaya-Tionghoa.Net | Pandangan dunia modern dewasa ini dipengaruhi oleh filsafat Materialisme Descartes dan pemikir-pemikir Materialisme seperti Newton, Bacon. Dan pengertian terhadap alam adalah mekanik dan menurut Bacon tujuan ilmu pengetahuan adalah untuk eksploitasi alam yang kemudian diperparah oleh Kapitalisme yang menganggap alam adalah untuk dieksploitasi demi kapital sehingga melahirkan kerusakan alam secara luas dan parah. Alam bukanlah sesuatu yang agung tapi lebih dari seonggok barang yang mekanik dan manusia yang berkuasa atas alam itu. Karena itu pada tahun 1970an lahir Ekologi sebagai jawaban atas kerusakan alam ini dan banyak aliran Ekologi seperti Antroposentrisme, Biosentrisme dan lain-lain.

 

Artikel Terkait:

{module [201]}

 Konsep alam sebagai benda itu merupakan pandangan barat yang berbeda dengan timur, di mana dalam konsep timur seperti dalam Taoisme, semua adalah bagian dari Tao sehingga memiliki jejaring yang berkesinambungan dan berkesambungan, alam harus dihargai, disetarakan dan anjuran hidup alamiah selaras dengan alam, seperti halnya Spinoza tentang alam dan semua yang ada itu tercipta dari alam dan alam itu sendiri adalah bagian dari kita semua dan kita semua adalah bagian dari alam, ini memiliki kemiripan dengan Daode Jing yang merupakan dasar dari Taoisme, ini serupa dengan pengertian Ekosentrisme dimana manusia dengan segala sesuatu, baik yang bersifat biosfer dan abiosfer itu setara. Seandainya alam dapat berbicara, tentunya cara berbicara berbeda dengan manusia. Alam berbicara melalui dampak kerusakan yang dibuat manusia atau dengan berubahnya siklus alam yang menjadi tidak karuan, alam tidak perlu berbicara dengan bahasa manusia, karena itulah alam. Bukan dengan membahas percakapan dalam bentuk bahasa seperti apa yang dilakukan manusia, alam sendiri berbicara dengan bahasa alam itu sendiri, seperti dalam Zen, “Rasakan angin sepoi yang berbicara”. Amat sulit bagi manusia yang berpikiran rasional untuk menerima alam itu bercakap-cakap karena hal itu sulit dibuktikan dengan logika tapi bisa dilakukan melalui intuisi, karena itulah yang membedakan antara konsep timur dan barat saat memandang alam.

Kita tidak pernah mau menyatukan diri dengan alam, memisahkan alam sebagai “the outsider” dari manusia yang berbeda dan berhak berkuasa atas alam seperti dalam pandangan Antroposentrisme yang beranggapan bahwa manusia sebagai pusat dan tujuan tindakan ekologis yang terpengaruh oleh Antropologi Kristiani, Aristoteles dan filsafat modern yang beranggapan bahwa manusia sebagai the free and rational being. Dalam hal ini, mungkin seorang penganut Politeisme jauh lebih menghargai alam karena mereka bisa dengan sujud menghargai sebatang pohon sedangkan menurut kaum rasional itu adalah hal yang absurd karena pohon tidaklah lebih tinggi bahkan lebih rendah dibanding manusia. Saat orang mentertawakan Zhuang Zi yang mengatakan sekelompok ikan berenang dan bahagia, orang itu berargumen bahwa Zhuang Zi bukan ikan sehingga tidak tahu apakah ikan senang atau tidak. Pandangan itu secara logika adalah benar, tapi jika menyadari bahwa manusia memiliki hubungan jejaring tersembunyi dengan segala sesuatu yang ada, maka Zhuang Zi bisa merasakan ikan itu bahagia karena ikan itu adalah bagian dari alam, saat mengatakan itu bisa dikatakan Zhuang Zi sedang bersatu dengan alam. Sama seperti halnya manusia memilah-milah system syaraf yang kompleks antara manusia dengan kecoa, sehingga beranggapan bahwa manusia jauh lebih tinggi dari kecoa karena manusia bisa berpikir, ini adalah pandangan Antropsentrisme yang beranggapan bahwa manusia memiliki kuasa terhadap apapun yang ada disekitarnya karena manusia lebih unggul padahal rasa keunggulan memberikan bencana bagi alam dan manusia sebagai bagian dari alam itu sendiri akan merasakan dampaknya.

 

 Pandangan Antroposentrisme di atas secara pasti ditinggalkan dan lahirlah pandangan bahwa segala sesuatu yang hidup itu bernilai bagi dirinya sendiri sehingga pantas mendapatkan perhatian dan kepedulian moral atau yang disebut Biosentrisme. Pandangan ini akan menisbikan segala sesuatu yang tidak hidup atau abiotik. Apakah hidup itu berarti gerak ? Jika ya, maka semua benda ini bergerak dalam skala atom. Seandainya tubuh manusia diurai juga tidak lain adalah molekul-molekul yang tidak dapat hidup sendiri dan komponen pembentuk manusia itu adalah air dan protein. Apakah air dan protein itu abiotik atau biotik ? Bisa dibagi-bagi menurut kaedah apa itu hidup tapi yang jelas protein bukan manusia dan air juga bukan manusia. Demikian pula alam di mana manusia hanya bagian dari alam itu sendiri. Jadi tidak ada yang setara maupun tidak setara antara biotic dan abiotik.

 

Mengenal diri sendiri dan mengetahui hakikat alam itu adalah pandangan mistiskus timur dan ini juga mirip dengan Deep Ecology yang mengedepankan nilai religious dan filsafat, dengan pandangan “biospherical egalitarianism”, yaitu pengakuan bahwa semua organism dan mahluk hidup adalah anggota yang sama stautusnya dari suatu keseluruhan yang terkait sehingga memiliki martabat yang sama.  Tujuannya mengubah pola pikir manusia terhadap alam itu dan masing-masing memiliki nilai intristik.  Jika mengkaji pemikiran Arne Naess yang mengatakan bahwa Deep Ecology ini adalah “Sebuah worldview yang menyangkut intuisi dasar mengenai relasi manusia dan alam ciptaan non-human”, saat membaca kata alam ciptaan berarti ada sesuatu yang mencipta dan ada jarak antara pencipta dan ciptaan itu, sehingga seandainya manusia bisa menciptakan mahluk hidup dengan cloning misalnya, apakah nantinya jarak itu terbentuk lagi ? Dalam pengertian timur, penyatuan diri dengan alam itu bukan berarti bersatunya dengan pencipta, tapi bersatunya antara semua yang ada dan meleburkan diri ke dalam alam itu sendiri. Worldview sulit diubah selama masyarakat dunia ini terkungkung dalam jebakan kapitalisme dan juga kebutuhan manusia yang semakin meningkat seiring dengan berkembangnya populasi manusia yang tentunya memerlukan sumber daya yang lebih luas lagi. “Berhenti sebelum kenyang”, “Kebahagiaan adalah mengetahui arti cukup” adalah konsep pandangan Taoisme yang menyatakan bahwa segala sesuatu di dunia ini cukup bagi semuanya asal disertai dengan pengertian bahwa segala sesuatu yang berlebihan adalah tidak baik, tapi kapitalisme memerlukan konsumerisme sebagai penggeraknya. Manusia kadang mengambil berlebihan dan untuk bisa menyatukan diri dengan alam seperti yang diuraikan di atas adalah melalui pengenalan diri dan sebelum pengenalan diri itu dimulai langkah paling dasar adalah menyadari apa yang diperbuat dan apakah cukup atau lebih. Jadi sebelum mengenal diri, alangkah baiknya belajar mengontrol diri dan hidup hemat seperti yang dilakukan oleh mereka yang bertujuan menyelamatkan bumi seperti : daur ulang, hemat energy, hemat air, penghijauan dan lain-lain.

Dalam banyak kepercayaan Timur, bumi adalah bunda dan setara dengan langit sebagai ayah, bumi memiliki status terhormat dan dihargai. Misalnya saja yang terkenal di Beijing adalah Temple of Heaven yang sebenarnya memiliki pasangan yang sama pentingnya yaitu Temple of Earth, dimana itulah “Tuhan” yang berpasangan, dalam pengertian lain adalah : “Yin ( feminism ) yang berdiri sendiri tidak dapat tumbuh, Yang ( maskulin ) sendiri tidak dapat menghasilkan( melahirkan )”. Tapi dalam prakteknya, sering kita dengar bumi diperkosa, dijarah dan kaum perempuan ditindas. Penindasan terhadap kaum perempuan ini melahirkan feminism dan bertujuan mencapai kesetaraan, demikian juga dengan ekosentrisme yang bertujuan mencapai kesetaraan. Ekofeminisme lebih mengkaji masalah : 1.dominasi pria, 2.imperialism, , colonialism, post kolonialism yang merusak alam, 3.menghargai alam, 4. penindasan perempuan, 4. mitos bunda, 5. Peranan perempuan dalam menjaga alam. Seperti halnya perempuan yang sering diasosiasikan dengan alam seperti contoh di atas bahwa bumi adalah bunda, bunga perlambang kecantikan perempuan dan lain-lain. Alam itu difeminimkan sehingga bisa diperkosa oleh kaum laki karena laki yang mendominasi sehingga mensahkan tindakannya untuk memperkosa alam terutama oleh kaum kulit putih melalui kolonialisme dan imperialism. Dengan melihat filsafat Yin Yang dimana diutamakan keharmonisan dan setaraan, memang selayaknya demikianlah kita memperlakukan alam. Tapi ada satu pertanyaan besar, seandainya matrialkal yang berkuasa dan mendominasi, bisakah kaum laki yang menjadi korban penindasan.

Tercemarnya lingkungan di sekitar kita karena dampak era modern dari perkembangan ekonomi dan ekologi yang tidak sejalan, semakin pesatnya industry untuk memenuhi kebutuhan konsumerisme manusia melahirkan enviromentalisme yang bertujuan mencegah rusaknya lingkungan karena ulah manusia, misalnya : pencemaran limbah pabrik, radiasi nuklir yang bocor, buang sampah sembarangan, penggunaan plastic yang merusak lingkungan, pembabatan hutan. Kasarnya limbah atau sampah dari industry. Sebenarnya dalam masyarakat tradisionil yang namanya sampah itu tetap ada tapi pengolahan sampahnya itu dibagi seperti ruang sacred dan profane, dimana yang kotor disisihkan dan ditata hingga tidak kelihatan juga diperlakukan dengan baik dan sacral seperti yang dilakukan oleh suku Dayak saat membuka lahan hutan. Hal ini tidak ada dalam masyarakat modern terutama dalam dunia industry yang melahirkan sampah. Walau ada upaya CSR ( company social responbility ) tapi tidak lebih tidak kurang dari sekedar upaya kosmetik untuk menjaga image mereka. Alam perlu nafas, dalam kepercayaan Tionghoa dikenal dengan cara “tidak membongkar tanah pada saat siklus Taisui datang” itu sebenarnya juga upaya memberi alam nafas. Tapi dalam pergumulan manusia mengejar kenikmatan itu, nafas itu tidak diberi ruang bahkan cenderung ditutup kesempatan itu, sekarang ini pengejar kenikmatan semakin banyak dan industry serta capitalist ini selalu berlomba memberikan kenikmatan dengan mengorbankan alam dan manusia itu.

Permasalahan ekologi tidak luput dari permasalahan sosial, yaitu manusia sebagai pelaku utama dalam kerusakan lingkungan ini dan manusia tidak luput dari kegiatan ekonomi yang menghidupi dirinya. Sosial ekologi menekankan pentingnya keharmonisan manusia dengan alam berdasarkan asas melihat dari sudut manusia sebagai mahluk sosial yang memiliki hirarki dan kecenderungan mendominasi atau kehendak berkuasa yang mana diterapkan juga pada alam itu. Tujuannya adalah mengharmonisasi alam dengan manusia sebagai mahluk sosial.

Setelah melihat uraian sekilas, maka timbul pertanyaan apakah alam itu memilik hak ? Hak untuk apa ? Hak untuk dihargai sebagaimana alam itu layaknya sebagai bagian dari diri kita, bukan di luar diri. Karena itu untuk bisa memahami itu diperlukan suatu keinginan untuk tidak mendominasi dan berharmonisasi seperti apa yang dikumandangkan dalam banyak filsafat terutama filsafat timur yang tidak mengenal dikotomi baik buruk, berkuasa dikuasai, tapi mereka lebih menekankan asas keseimbangan antara manusia sebagai subyek dan obyek, penyatuan diri melalui cara meditasi ala timur lebih kepada menghilangnya dikotomi subyek dan obyek, meleburkan diri pada nafas Alam. Apakah alam itu ? Apakah sikap alamiah itu ? Seperti dalam pernyataan Taoisme “Selaras dengan Alam”. Menghargai hakekat alam dan kita adalah bagian dari alam itu terlepas apakah biotic atau abiotic yang ada disekitar kita, semuanya adalah bagian dari alam itu, tidak untuk dieksploitasi habis-habisan. Keluhuran manusia bisa dilihat dari cara mereka menghargai alam, tradisional yang sering ditertawakan oleh orang yang merasa rasional dan modern ternyata memiliki kearifan dalam menghargai alam, seperti kaum Polytheist yang dicemooh sebagai penyembah berhala, kearifan luhur dibalik itu adalah menghargai alam, walau itu batu yang disembah. Fritjof Capra yang menuliskan “The Tao of Physic” sebenarnya mencoba menggali nilai-nilai timur yang tersisihkan dengan menghargai alam dan manusia adalah bagian dari alam, seperti juga Spinoza dengan Pan entheism atau hakekat Tao dalam Taoisme. Sayangnya Capra belum diakui sebagai filsuf oleh sebagian orang karena pandangannya amat berbeda, seperti halnya Spinoza pada jamannya yang dikucilkan karena konsep Pan antheisme yang berbeda dengan pandangan umum. Mungkin juga pandangan bahwa manusia bukan bagian dari Alam itu mendapat tentangan karena konsep antara pencipta dan ciptaan yang masih melekat kuat karena dipandang seolah-olah menisbikan peranan Tuhan, padahal dengan peleburan diri itu tidak ada penisbian atau mereduksi kata Tuhan itu. Pandangan bahwa manusia diciptakan dan untuk menguasai dan member nama itu adalah hak berkuasa atas segala yang ada di alam itu sendiri, sehingga hak-hak alam itu tersisihkan dan dengan begitu pula sebenarnya menyisihkan Tuhan itu sendiri. Ekosentrisme itu adalah terobosan pandangan Barat dalam menilai dan menghargai alam setara dengan manusia, Deep ekologi sendiri tentang nilai intristik mengingatkan saya pada Zhuang Zi saat mengatakan tidak ada benda yang tidak memiliki makna dan guna dalam alam. Kita tidak menyadari atau tidak mau menyadari kegunaannya. Hak-hak alam itu bagaikan hak-hak manusia yang harus dihargai dan dijaga demi kelangsungan manusia itu sendiri karena manusia bukanlah penguasa alam, tapi alamlah tempat manusia dan segala yang ada di alam baik biotic maupun abiotik bernaung bersama-sama menempuh waktu.

Ekosentrisme bisa jadi adalah jawaban terhadap permasalahan-permasalahan lingkungan yang menjadi salah satu issue utama pada jaman sekarang ini. Nilai lebih penting daripada fakta, nilai kesetaraan itu jauh lebih unggul daripada fakta yang beranggapan bahwa manusia berkuasa dan terunggul dari segala yang ada di bumi bahkan di alam semesta ini. Pandangan Tionghoa天人感應 ( penyatuan dan kesetaraan manusia dengan Langit 天人合一 atau alam dan manusia bersatu ) adalah suatu pandangan yang berbicara bahwa manusia dengan alam itu setara dan seimbang, tapi saat manusia tidak bisa melaksanakan kebajikannya sebagai manusia yang bagian dari alam, maka jangan kaget jika alam berubah. Jadi sebenarnya Deep Ecology dan Ecosentrisme itu bukanlah hal yang baru di dunia filsafat Timur.

oleh : Ardian Cangianto

 


Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghua | Facebook Group Budaya Tionghoa | Facebook Group Tionghoa Bersatu

Last modified onMonday, 22 October 2012 02:27
Rate this item
(0 votes)
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/2434-hak-hak-alam?tmpl=component&print=1
Budaya Tionghoa Copyright © 2003 - 2013 .