A+ A A-

Judi Dalam Budaya & Sejarah Tionghoa

  • Written by  Yu Yongde & Ardian Cangianto
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net| Menanggapi persoalan "Bagaimana Judi Dalam Budaya Tionghoa?"  Misalnya, menarik untuk mengetahui apakah dalam kutipan-kutipan ajaran Kongcu kepada murid-muridnya, bagaimana ajaran Kongcu tentang judi? Juga dalam Tao Te Cing, apakah ada ajaran khusus Laocu tentang judi

ARTIKEL TERKAIT :

{module [201]}

 

Di dalam Daodejing tidak ada persoalan judi. Di Rujia juga setahu saya juga tidak ada soal judi. Walaupun ada legenda yang mengatakan Majiang / Mahjong diciptakan oleh Kongzi sendiri. Menurut saya sih itu cuma legenda. Karena Majiang itu merupakan perubahan dari Ma Diao Pai yang populer di jaman Ming.

Sebenarnya judi termasuk dalam 5 budaya "negatif" yaitu: chi (lit:makan , kont: foya-foya) , he (lit : minum , kont : mabuk-mabukan) , piao (melacur) , du (judi) dan yan (merokok dan candu). Sebenarnya yang dinamakan lima budaya negatif dibudaya manapun juga ada. Hanya saja ada yang melarang dengan aturan agama dan ada yang melarangnya dengan aturan kenegaraan. 

Nah Tiongkok itu unik, dimana bangsa-bangsa lain membawa nama agama untuk melarang lima racun maka di Tiongkok memakai aturan kenegaraan. Yang belajar Ru dan Dao semestinya tahu bahwa lima racun itu menghambat untuk menjadi xian maupun junzi. Jadi lima racun itu ekses dari budaya , bukan budayanya sendiri.


Sepanjang sejarah Tiongkok, kerajaan selalu berupaya menegakkan peraturan anti perjudian. Tentu saja dengan hasil yang boleh dibilang tidak ada. Karena pejabat pemerintahan sendiri seringkali berjudi (catatan Han ada yang menyebutkan pejabat yang dihukum karena perjudian).

 

Perjudian bahkan sangat populer di kalangan masyarat tidak mampu. Mayoritas rakyat Tiongkok sepanjang sejarah adalah orang miskin yang harus bekerja keras untuk hidup. Judi adalah pelarian yang paling tersedia karena hiburan lain menghabiskan uang tanpa ada peluang uang itu bisa kembali atau menghasilkan uang lagi.

Komersialisasi judi sendiri dimulai pada masa Tang. Sedangkan bentuk-bentuk permainan yang beragam mulai dikembangkan semasa Song dan mencapai puncaknya di masa Ming.

 

Orang-orang kaya di Jiangnan (Kanglam) banyak yang menginvestasikan hartanya dalam bentuk rumah judi. Di masa Qing, Guangdong dan Fujian adalah dua provinsi yang paling menonjol perjudiannya. Dan dari sana pula orang Tionghoa Indonesia mayoritas berasal.

Mengenai judi pada pesta perkawinan benteng, David Kwa pernah mengatakan bahwa sebenarnya tujuan dari judi itu adalah membantu pihak yang mengadakan pesta. Jadi hasil dari perjudian itu disumbangkan ke keluarga yang berpesta. Kalau sekarang menjadi bertujuan lain, sepertinya itu adalah degradasi kultural.

 

Orang yang lagi melangsungkan pernikahan dan perkabungan biasanya kegiatan bisa seharian penuh bahkan sampai dua hari dan apalagi perkabungan yang bisa lebih dari dua hari ? Nah apa yang dicari orang-orang yang hendak menjaga. Hiburan apa yang paling cocok ? Bermain kelereng ? Yah main judi tentunya. Jaman dahulu kalau berkabung itu tidak ditaruh dirumah duka tapi dirumah sendiri dan juga pernikahan juga dilangsungkan dirumah sendiri. Jadi musti mencari sukarelawan untuk mau ikut menjaga rumah.

 

Itu alasannya!! Bukan untuk mengumpulkan duit pot-potan. Banyak yang keluarga kaya kalau mengadakan pernikahan atau juga berkabung ada acara judinya.  Judi ala Tionghoa itu unik , banyak yang harus mengerahkan pikiran seperti mahjong yang lebih berpikir . Unsur hokie tentunya ada tapi bukan yang terutama. Yang terpenting adalah bagaimana membangun kartu yang kita dapatkan.

 

Dalam permainan "capsa" yang bisa dibilang perubahan besar dari permainan poker. Permainan poker kental unsur perjudiannya sedangkan dalam permainan "capsa" para pemainnya harus berpikir menyusun kartu dan membaca kartu lawan. Poker bisa bermain gertak sedangkan capsa bagaimana untuk menggertak ? Perhatikan pula domino yang asalnya dari Tiongkok , dimana kartu yang dibuang tetap harus dihitung. Derivat permainan ini yang disebut kiu-kiu atau ceme yah jelas merupakan perjudian.  

Di daratan Tiongkok sendiri setelah masa republik pusat perjudian bergeser ke Shanghai. Setelah gongchandang berkuasa, perjudian skala besar direpresi. Namun di masa sekarang dengar-dengar karena sudah mulai berduit banyak yang ke Macao atau ke luar negeri untuk berjudi. Juga banyak yang menemukan judi bentuk lain: bursa saham dan undian.

 

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghoa

Last modified onSaturday, 17 November 2012 06:57
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/2517-judi-dalam-budaya--sejarah-tionghoa

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto