A+ A A-

Perkembangan Buddhisme Di Tibet Dan Tiongkok

  • Written by  Yu Yongde
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net |  Keadaan "Theokrasi" di Tibet hampir pernah terjadi di Tiongkok jaman dinasti Tang. Saya rangkum dahulu sekilas sejarahnya. Buddhisme utara masuk ke Tiongkok mulai jaman dinasti Han. Namun karena mengusung konsep "asing", Buddhisme di jaman Han tidak begitu berkembang.

Artikel Terkait:

{module [201]}

Masyarakat jaman itu malah ada yang menyamakan Buddhisme dengan "Taoisme asing", karena dalam proses pendakwahannya, para ulama Buddhis meminjam terminologi Taoisme untuk menjelaskan konsep Buddhisme yang aslinya dari bahasa Kushan, Gandhara dan Sanserkerta. Buddhisme selatan yang memakai bahasa Magadhi selatan (berkembang menjadi Sinhala) juga pernah masuk di jaman Han, namun kandas karena tidak melakukan adopsi budaya lokal.

Pada masa akhir dinasti Han, terjadi kekacauan dan peperangan tiada henti. Berdasarkan data statistik kepajakan, jumlah rumah tangga pembayar pajak merosot dari sekitar 12 juta rumah tangga (perkiraan populasi sekitar 60 juta jiwa) menjadi sekitar 3-4 juta rumah tangga (perkiraan populasi sekitar 16 juta) di jaman awal Jin, setelah keluarga Sima
mengakhiri era San Guo.

Setelah masa perdamaian awal dinasti Jin yang relatif singkat terjadi lagi perpecahan yang dikenal dengan nama masa dinasti-dinasti utara dan 16 negara-negara selatan. Di masa ini, peperangan kembali terjadi silih berganti. Semua ini membawa penderitaan bagi rakyat jelata.

Di masa-masa kekacauan ini, banyak yang kemudian tidak menemukan jawaban dalam Konfusianisme awal dan Taoisme awal. Karena kedua ajaran tersebut tidak mengusung konsep "keselamatan". Mereka-mereka kemudian
berpaling ke Buddhisme karena dua faktor yaitu adanya faktor janji keselamatan dan faktor kehidupan yang berikutnya (tumimbal lahir).

Di jaman Jin yang menjadi terkenal itu Maitreya bukan Amitabha karena Maitreya mengusung konsep yg mirip dengan tianzi tapi lepas dari sistem kerajaan. Maitreya menjadi populer karena bisa dianggap juru selamat saat manusia hidup dan memberikan suatu tatanan masyrakat yg adil dan makmur.

Walau ini konsep Maitreya beda dengan konsep Buddhism, tapi inilah yang diperkenalkan kepada  masyarakat Tiongkok pada masa lalu. Konsep atau pandangan ini akhirnya melekat dibanyak masyarakat sehingga jika terjadi suatu kekacauan maka ada sekelompok masyarakat mengusung Maitreya sebagai juru selamat, contoh jaman Yuan, jaman Qing.

Faktor keselamatan dalam Buddhisme ini kemudian melahirkan konsep baru yaitu Guan Shi Yin / Kwan Im yaitu "dia yang mendengarkan rintihan dunia". Di mana konsep Avalokhitesvara India bermutasi menjadi Guan Yin yang sangat berbeda. Semua ini merefleksikan "rintihan" rakyat jelata Tiongkok di masa-masa itu.

Puncak kejayaan Buddhisme kemudian terjadi di jaman Sui dan Tang. Perdamaian yang dibawa dinasti Sui dan Tang kemudian menyebabkan Buddhisme semakin diadopsi rakyat. Penguasa di masa itu pada umumnya juga mendukung Buddhisme. Selain Buddhisme, penguasa Tang juga mendukung berkembangnya agama-agama lain seperti Islam, Nestorian, Zoroaster, Mani. Akan tetapi di antara sekian banyak agama itu, Buddhisme menempati tempat istimewa.

Tempat-tempat ibadah Buddhisme diberikan status bebas pajak. Para Bhiksu Buddhis juga tidak bekerja dan menggantungkan penghidupannya dari sumbangan dan pengelolaan tanah. Sistem yang berlaku di masa itu
mirip dengan yang berlaku di Tibet dulunya. Biara memiliki tanah, buruh tani mengelolanya dan hasilnya mayoritas diperuntukan untuk biara serta bebas pajak. Kondisi ini lambat laun menggerogoti perekonomian dinasti Tang.

Kaisar Tang Wuzong kemudian melakukan persekusi terhadap agama-agama "asing" dengan alasan ekonomi. Tempat-tempat ibadah Buddhisme ditutup, harta bendanya disita untuk negara. Bhiksu dan Bhiksuni dipaksa kembali ke kehidupan awam dan bekerja serta dikenai pajak. Memang selain Buddhisme, agama "asing" lainnya juga dipersekusi. Namun karena Buddhisme adalah yang terbesar, maka dampaknya juga terbesar.

Setelah masa persekusi Tang Wuzong ini, yang tersisa dari Buddhisme Tiongkok tinggal aliran Chan. (Gambar 1) Yaitu aliran yang mengharuskan Bhiksu-Bhiksuni nya untuk bekerja mengelola pertanian dan tidak menggantungkan hidupnya ke orang lain. Mungkin Tang Wuzong kurang memiliki alasan legal yang valid untuk memberantas aliran Chan.

 

 Photo : Nanhua Temple - Guangdong ,
Tempat Hui Neng , Patriarch Buddhisme Chan dulu hidup dan mengajar , by Cenkx
, Public Domain


Efek positif dari persekusi adalah bahwa kehidupan agama di Tiongkok sejak itu selalu tidak pernah melebihi kekuasaan negara. Dapat dibayangkan bagaimana kalau bibit Theokrasi di jaman Tang itu tumbuh besar. Ceritanya akan sangat lain sekali.

Mengenai kecenderungan rakyat Tibet untuk masuk biara, ada catatan sampingan di masa dinasti Qing. Penguasa di masa awal Qing lah yang mendorong mereka untuk masuk biara.

Kalau tidak salah sampai pernah ada aturan bahwa setiap anak lelaki harus masuk biara sejak umur sekian sampai sekian. Nah setelah batas umur dewasa dicapai, barulah si anak ini boleh menentukan apakah seterusnya akan menjadi ulama atau kembali ke kehidupan awam.

Alasan penguasa Qing mengusung peraturan ini adalah dalam rangka mengendalikan populasi Tibet. Mereka sadar
bahwa orang Tibet adalah orang pegunungan yang bertubuh kuat dan dalam sejarah pernah berkali-kali menyerbu ke pedalaman Tiongkok.

Di masa pemberontakan An Lushan, pasukan Tibet malah pernah menyerbu sampai ke Chang An (sekarang Xi An), ibukota kekaisaran Tang di jaman itu.

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghua | Facebook Group Budaya Tionghoa

Last modified onFriday, 23 November 2012 18:10
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/2538-perkembangan-buddhisme-di-tibet-dan-tiongkok

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto