A+ A A-

Cai Ci 齋姐 Pendoa Khas Etnis Hakka (1)

  • Written by  Ardian Cangianto
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Photo Ilustrasi : Album Caici , by Ardian Cangianto

Budaya-Tionghoa.Net| Manusia dalam hidupnya ada tiga hal penting dalam budaya Tionghoa dan juga budaya-budaya lainnya, yaitu : lahir, nikah dan meninggal. Kesemuanya dilakukan dengan khidmat dan dengan berbagai cara. Begitu pula kematian yang merupakan peristiwa penting bagi manusia karena dianggap berpindah kealam yang lain dan peristiwa itu harus dilakukan dengan khidmat. Jika kita melihat rumah duka di Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, seringkali ada sekelompok perempuan yang berbaju hitam sedang melakukan ritual kepada yang meninggal.

ARTIKEL TERKAIT :

{module [201]}

 Dan yang unik adalah ritual seperti itu lahir dan berkembang di etnis Hakka dan menyebar pada etnis lainnya yang meminta upacara ritual seperti itu. Ritual itu dipengaruhi oleh Buddhisme, Taoisme dan juga Ruisme . Di Indonesia sendiri upacara ini sampai sekarang masih bisa disaksikan walau dapat dikatakan tidak lagi sesering dahulu .Upacara ini sebenarnya sudah berumur ratusan tahun yang memiliki unsur seni music, seni tari, atraksi dan teater yang dikemas menjadi satu yang memiliki nuansa Buddhisme dan Taoisme dalam upacaranya yang lahir di Mei xian 梅縣 dan berkembang hingga beberapa wilayah yang ditinggali oleh orang Hakka.

 

Kematian adalah peristiwa penting bagi manusia karena dianggap berpindah ke alam lain.

Etnis Hakka

Etnis Hakka berasal dari dataran tengah atau yang sering disebut Zhongyuan 中原 dan beremigrasi hingga wilayah Guangdong 廣東 dan Fujian atau yang disebut Yue 粵 dan Min 閩 secara bertahap mulai dari jaman Han hingga abad ke 18.

Perpindahan secara bergelombang itu membuat suatu hal yang menarik, dimana etnis Hakka lebih menjaga warisan budaya Han dan Tang serta Ming. Hal ini bisa dilihat pada baju yang dikenakan para Caici yang merupakan baju khas dinasti Ming. Etnis Hakka itu menjunjung tinggi sastra dan pendidikan serta tidak lupa  juga menghargai beladiri sebagai warisan budaya mereka.

Salah satu yang unik adalah etnis Hakka tidak mengenal “mengikat kaki” ( 纏足 foot binding ) dan selain itu adalah upacara pernikahan, kematian, ulangtahun, kelahiran dan upacara sembahyang kepada para leluhur itu masih memiliki keterkaitan dengan tradisi pada jaman Han dan Tang.

Berbagai tekanan yang dialami oleh etnis Hakka membuat mereka semakin solid dan kukuh mempertahankan budayanya sebagai identitas diri. Primordialisme orang Hakka amat kuat dan pada umumnya sesame Hakka akan saling membantu, jika tidak mau membantu dan tidak perduli terhadap orang Hakka yang kesulitan, biasanya akan dikucilkan oleh komunitas besar. Dan dalam hal moralitas, etnis Hakka mengacu pada ajaran Ruism sebagai pedoman mereka, seperti  : bakti, integritas, kesetiaan, keadilan, etika, memegang janji ( kepercayaan ), kebajikan kemanusiaan, kebijaksanaan.

Seiring dengan bencana alam, peperangan serta permasalahan ekonomi yang menimpa Tiongkok terutama pada abad ke 16 hingga 19 membuat banyak orang Hakka yang merantau meninggalkan daratan Tiongkok,  menyebar ke berbagai belahan dunia dan salah satu tujuan mereka adalah Nusantara. Awalnya mereka masuk melalui Kalimantan dan kemdudian ada yang masuk ke pulau Sumatra dan Jawa.

Kepercayaan Masyarakat Hakka

Masyarakat Hakka pada umumnya menganut agama yang bisa disebut Sanjiao ( Ru Dao dan Shi/Buddhisme )dalam artian tidak terikat pada salah satu agama tapi menghargai ke tiga agama itu dan menjunjung asas toleransi dan agama itu bukanlah hal yang mengikat mereka menjadi fanatic atau cenderung berat sebelah dalam memandang ajaran dari ketiga agama itu.

Buddhisme dalam catatan resmi dinasti Han, masuk pada dinasti Han walau diperkirakan bisa lebih tua dari pada yang tercatat. Buddhism kemudian berkembang di Tiongkok dan mengalami Sinifikasi ( 漢化 ) sehingga Buddhisme yang berkembang di Tiongkok sangat kental dengan nuansa budaya dan filsafat Tiongkok serta kepercayaan yang berkembang di Tiongkok dan merupakan kepercayaan asli Tiongkok, yaitu Ru dan Dao.

Menurut catatan sejarah Buddhism masuk ke Meixian pada masa dinasti Utara Selatan, tahun pemerintahan ketiga kaisar Liang Puzong 梁普通. Buddhisme Mahayana Tiongkok yang sudah mengalami sinifikasi itu saat berkembang di Meixian juga mendapat pengaruh budaya Hakka setempat sehingga bisa disebut agama Buddha Hakka ( 客家佛教 ) yang memiliki nuansa yang berbeda dengan Buddhisme Mahayana Tiongkok pada umumnya. Seringkali disebut Xianghua Fojiao 香花佛教 yang memiliki arti agama Buddha Dupa dan Kembang. Kata xianghua 香花 ini mengacu pada persembahan dupa dan bunga yang diberikan kepada para Suciwan dalam agama Buddha untuk menunjukkan ketulusan umat. Kata xianghua ini akhirnya melekat pada masyarakat Hakka terutama yang melakukan ritual dan ritual Buddhisme Hakka ini sering disebut xianghuafoshi.

Peranan Xianghua Fojiao dalam Masyarakat Hakka

Xianghua Fojiao merupakan fenomena unik dalam perkembangan Buddhisme Tiongkok, dimana ada yang disebut bhiksu Xianghua 香花和尚 ( siongfa bosong ) yang mana cara berpakaian, hidup selibat, tidak memelihara rambut  tidak jauh berbeda dengan system kepanditaan pada umumnya yang berlaku di Buddhisme Tiongkok, . Yang membedakannya secara menyolok adalah tidak adanya tanda menerima sila di kepala seperti yang dilakukan oleh para bhiksu pada umumnya.

Bhiksu xianghua seringkali dipandang beda dengan bhiksu Mahayana Tiongkok pada umumnya, walau mereka hidup selibat, melaksanakan kegiatan ritual, tapi banyak dari mereka tidak mendapat pendidikan agama Buddha secara lengkap hanya berdasarkan mengikuti apa yang telah ada terutama tradisinya, banyak dari mereka tidak berinteraksi dengan lembaga Buddha Mahayana Tiongkok sehingga dapat dikatakan bahwa Xianghua Fojiao itu merupakan Buddhism Mahayana yang termasuk agama Buddha rakyat. Seperti halnya Taoism juga ada yang disebut Taoisme rakyat yang tidak memiliki interaksi langsung dengan lembaga atau institusi Taoism yang ada.

Berdasarkan hal itu terkadang bosong atau heshang ( bhiksu ) etnis Hakka sering dilihat berbeda dengan bhiksu Mahayana Tiongkok pada umumnya dan seringkali dianggap bukan bhiksu dalam arti sesungguhnya. Walau para bhiksu Xianghua ini menggunakan marga Shi 釋 sebagai pertanda sebagai bhiksu pewaris ajaran Buddha Gautama. Untuk membahas Xianghua Fojiao, akan coba dituangkan dalam tulisan lain.

Dengan masuknya budaya dan tradisi masyarakat Hakka membuat ritual Buddhism Mahayana Tiongkok menjadi menarik karena kisah tokoh  Buddhisme, filsafat Buddhisme, melafalkan nama Buddha, nasehat budi pekerti, penggunaan alat-alat sembahyang dan untuk membaca kitab ( 法器) serta kitab Buddhisme dipentaskan dalam satu panggung dengan melalui nyanyian, tarian yang indah itu menjadi suatu ritual Buddhisme. Sehingga dapat dikatakan bahwa ritual ala Xianghua Buddhisme itu mengandung nilai seni yang amat indah dan menarik untuk diikuti dan diresapi makna yang disampaikan kepada orang yang mengikuti ritual itu.  Karena banyaknya orang yang tidak mengerti makna mendalam dalam ritual yang dilakukan sehingga sering kali dianggap adalah tahayul, karena apa yang dipentaskan adalah membuat suatu pentas teaterikal yang mengandung unsur-unsur pengajaran.

Nyanyian gunung ( 山歌 ) Hakka mengandung makna bakti yang luas dan mendalam, bisa dilihat dari nyanyian ini :

 大伯阿叔来烧香,扫净厅下摆厅堂,请倒和尚吹 鼓手,七七修斋做道场。铙钹一响拜佛神,孝子伤心泪不停,先人上路多保重,阳间子孙拜亡灵 (Thai pak a shuk loi sau hiong,so chiang thang ha pai thong shong, chiang to fo shong choi ku shiu, chit chit siu cai co tho chong, nyiaopat jit hiong pai fut shin, hau ci shong sim lui put thin, sian nyin shong lu to po chung,jong kian ci sun pai mong lin. nb: naobo铙钹 dalam bahasa hakka disebut: chang 钲 )(para paman datang bersembahyang, menyapu bersih aula menata aula, mengundang bhiksu memainkan alat music, 7 x 7 hari melakukan upacara. Simbal berdenting menghormati para dewata, anak berbakti amat sedih air mata mengalir tiada henti, leluhur yang sedang menempuh perjalanan harap hati-hati ( harap hati-hati ini bisa berarti selamat jalan, bukan berarti akan mengalami musibah ), anak keturunan di dunia ini akan selalu menghormati para arwah leluhur yang telah pergi. )

Sehingga dengan dasar itulah maka salah satu ritual bagi yang meninggal memegang peranan penting pula untuk mengantar mereka yang meninggal secara layak dan ini membuat ritual itu amat indah dan bermakna terutama bagi mereka yang mau mencoba menghayatinya. Salah satu pelaku ritual itu selain bhiksu xianghua adalah kaum perempuan yang sering disebut caima 齋嫲 atau caici 齋姐. 

Seringkali bhiksu Xianghua ini melakukan upacara ritual didampingin oleh caici tapi juga seringkali dilakukan oleh caici tanpa melibatkan bhiksu seperti yang kita sering lihat di rumah duka yang ada di Indonesia.

Lembaga Caici bisa terbentuk salah satu faktornya karena dipengaruhi Xianghua Fojiao yang seperti diutarakan diatas lebih mendekati Buddhisme rakyat yang mendapat pengaruh tradisi Hakka. Dan ritual caici menjadi amat menarik karena penuh dengan aksi teaterikal dan nyanyian yang amat merdu.

Posisi Perempuan Etnis Hakka

(bersambung )

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghua | Facebook Group Budaya Tionghoa

Last modified onFriday, 30 November 2012 06:18
Rate this item
(2 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/2553-cai-ci-%E9%BD%8B%E5%A7%90-pendoa-khas-etnis-hakka-1

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto