A+ A A-

Review Film : What The Bleep Do We Know

  • Written by  Ardian Cangianto
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net| Film “What Bleep Do We Know” sarat dengan nilai-nilai filsafat yang selalu dipertanyakan terus menerus, seperti apakah bentuk alam ini ? Dimana dalam film tersebut dikatakan bahwa alam semesta itu dibentuk oleh ilusi, seperti holographic projection. Dimana sebelumnya filsafat barat terutama Materialisme dan Empirisime mengutamakan bahwa alam ini nyata adanya.

ARTIKEL TERKAIT :

{module [201]}

 Berbeda dengan filsafat Buddhisme yang mengatakan bahwa segala sesuatu yang dilihat itu adalah ilusi dan merupakan proyeksi pikiran. Yang menarik adalah konsep pembuat rumah dalam Buddhisme yang dipatahkan dalam pengertian lain adalah Mara atau nafsu yang membelenggu sehingga terikat pada ilusi. Dengan kata lain, dalam film itu mengatakan bahwa alam semesta terbentuk oleh pikiran dan sejalan dengan Buddhisme.

 

 

Film yang sarat dengan nilai-nilai filsafat yang selalu dipertanyakan terus menerus

Salah satu contoh yang bisa menggambarkan itu adalah “Matrix” dimana sebenarnya apa yang kita tinggali dan kita hidup adalah suatu ilusi belaka, walau sebelumnya ada film-film serupa seperti “Thirteenth Floor”.

Pernyataan bahwa semua adalah bentuk ilusi atau karena proyeksi pikiran memang menghebohkan,karena logika sederhana bisa digunakan. “Tendanglah batu, maka kau akan merasa sakit” artinya batu itu bukanlah sebuah ilusi tapi kenyataan. Hanya saja rasa sakit itu bergerak karena adanya syaraf yang memberi tahu otak, bagi seorang yang sudah terlatih pikirannya maka rasa sakit itu tidak relevan. Seperti tertulis dalam “Prajna Paramita Hryadaya Sutra” bahwa pikiran itu memegang peranan penting dalam manusia termasuk ketakutan, ketergantungan. Dengan membebaskan pikiran itulah maka lingkaaran tumimbal lahir itu terlepas, sehingga dapat dikatakan bahwa nirvana dalam Buddhisme adalah kondisi tiada ilusi.

Ruang kosong itu tidak kosong, seperti istilah sunyata, kong, xu dalam term Taoism maupun Buddhism. Ini dapat dianalogikan dengan angka nol. Berapa nilai dari nol itu ? Ya tidak ada, tapi apakah nol itu bebas nilai ? Jelas ada nilainya, yaitu nol itu sendiri. Artinya nol bukan tidak memiliki nilai, ini yang membuat konsep angka nol yang terkait dengan filsafat Timur yang dengan jelas mengatakan bahwa “Kosong itu isi, isi itu kosong”. Jika pemaknaan itu diperluas dengan mengacu pada “Prajna Paramita Hryada Sutra” maka yang disebut form atau bentuk itu adalah formless dan yang formless itu juga adalah form.

Ketika membicaraka nafsu dan kerja hormone serta syaraf, ini mengingatkan saya akan teori tentang “po” dalam Taoisme dimana dikatakan bahwa “po” adalah komponen emosi sekaligus komponen organ tubuh yang saling terkait.

Yang menarik adalah kisah Amanda dalam melihat kehidupan itu, seperti digambarkan orang yang mendapat pencerahan atau tersadar. Seperti kata Buddha yang berarti orang yang sadar atau terbangun, bukan orang sakti mandraguna seperti yang sering dibayangkan oleh banyak orang. Seperti manusia super Nietszche yang memiliki makna seperti itu.

Materi itu tidak padat dan electron bergerak diantara ruang itu menekankan pentingnya “antara” sehingga bisa ada “isi” di “antara” itu seperti ujar Zhuang Zi dan juga konsep alam semesta Xuan Ye atau “kehampaan gelap” dimana ruang itu diperlukan agar ada isi dan isi itu harus memiliki ruang dengan ruang yang diisi.
Tubuh kita itu sebenarnya adalah makrokosmos kecil dan sel-sel itu adalah mikrokosmos yang membentuk makrokosmos. Masalahnya apakah sel-sel itu memiliki kesadaran ? Ini pertanyaan menarik dan dicoba dijawab oleh Wei Huachun seorang perempuan pendiri aliran Shang Qing Taoism yang mengatakan bahwa dalam tubuh kita ini ada berpuluh laksa “dewa” atau yang bisa berarti adalah kesadaran.

Waktu bergerak ke depan dan bergerak ke belakang ? Apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan “keabadian” ? Bergerak mundur ke belakang, mundurkan sel-sel tubuh anda sehingga anda bisa kembali ke titik asali, ini konsep Taoisme tentang “kembali menjadi bocah melawan penuaan”. Waktu artinya bisa bergerak linier ke depan dan juga bisa saja bergerak siklis, tidak adanya ikatan waktu artinya terlepas dari ruang yang mengikat diri dan apakah bisa mengembalikan posisi sel tubuh juga ? Ini menarik sekali dan saya beranggapan bahwa dalam fisika quantum memang dimungkinkan manusia bergerak ke belakang arus waktu dan itu artinya adalah fisik kita berubah atau tidak ? Apakah sel-sel tubuh mengalami peremajaan ? Atau masih terikat pada waktu saat kita bergerak mundur ? Jika ya artinya ada “bola” yang melingkupi tubuh kita sebagai “ruang” agar “tubuh” tidak terpengaruh saat bergerak mundur ke belakang. Ini yang tidak dibahas di film itu, seolah-olah tubuh bergerak mundur melawan arus waktu, walau digambarkan seperti menembusi tirai waktu dalam film itu.

Akhir kata film “What Bleep Do We Know” itu bagaikan bunyi bip dalam kesadaran saya sehingga bisa mendapatkan pengetahuan tambahan, hanya sayangnya apakah pemikiran itu bisa diterima oleh masyarakat umum ? Apalagi jika masih terikat pada materialism dan empirism. Sehingga apa yang dikatakan bahwa “percaya tentang sesuatu dan apa itu yang nyata adalah penyebab langsung dari seseorang dan menjadi realitas seseorang”.

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghua | Facebook Group Budaya Tionghoa

Last modified onSaturday, 01 December 2012 05:41
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/2554-review-film--what-the-bleep-do-we-know

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto