A+ A A-

Pembagian Ruang Dalam Arsitektur Tradisional Tionghoa

  • Written by  David Kwa
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

 

Photo Ilustrasi : Maria de Fatima , by Ardian Cangianto

Budaya-Tionghoa.Net| Sejauh pemahaman saya, bangunan Tionghoa yang ada di Indonesia kan dalam gaya arsitektur Banlam/Minnan (Hokkian Selatan). Nah biasanya bangunan yang besar seperti gedung bekas kediaman Majoor der Chineezen Khouw Kim An 許金安(Candra Naya), gedung gereja Santa Maria de Fatima (Gambar 1) etc-- terbagi dalam bangunan utama (toachu 大厝 / zhengfang 正房) yang di tengah, bangunan samping (houchu 護厝 / xiangfang 廂房) di kiri dan kanan yang menghadap bangunan utama. Serta bangunan belakang (aupang/houfang 後房) yang selalu dibuat lebih tinggi dari depan. Antara bangunan depan dan belakang dipisahkan oleh halaman / courtyard (tengwan / tingyuan 庭院).

 

ARTIKEL TERKAIT :

{module [201]}

 Bangunan berskala kecil tentu lebih sederhana pembagiannya. Tidak ada bangunan samping dan belakang. Namun layoutnya tetap sama: pintu utama rumah selalu terletak di tengah, diapit dua buah jendela di kiri kanannya.

Ruang pertama yang kita masuki adalah ruang utama (thnia / ting 廳) yang tidak tembus pandang (blosnong) ke pintu belakang, karena dihalangi partisi kayu (tngcah 堂閘 / zhangzi 障子) yang punya pintu di kiri-kanannya.

Menyender ke partisi kayu itu biasanya terletak altar utama rumah tersebut, bisa altar Dewa-Dewi, atau altar leluhur (kongpo 公婆). Courtyardnya pun kecil saja, yaitu yang disebut chimcne 深井/ tianjing 天井. Fungsinya, tempat hawa udara dan air hujan, sekaligus sinar matahari, masuk. Di kiri-kanan thnia/ting 廳 terletak kamar-kamar (pangkeng / fangjian 房間).

Chimcne 深井/tianjing 天井 terutama sangat penting pada rumah tradisional yang disebut Rumah Petak, sebagai satu-satunya sumber hawa udara, air hujan dan sinar matahari masuk, karena letaknya yang saling berdempetan.

Layout seperti ini ternyata masih saya lihat pada rumah-rumah tradisional Tionghoa di pedalaman Tangerang, meski secara materi dan bentuk sudah sangat lokal: bahan kayu nangka―bukan jati―serta atap genting daun seperti biasa.

Di bagian depan selalu ada sebuah paseban / pendopo, yang merupakan bangunan bertiang, namun tak berdinding. Saya jadi bertanya, paseban/pendopo itu ada dalam arsitektur Tionghoa tradisional (dalam hal ini Banlam/Minnan) atau tidak?

Sebab saya melihat struktur seperti itu di beberapa bangunan gedung/kelenteng. Kira-kira begitulah yang bisa saya uraikan tentang arsitektur tradisional di kita.

David Kwa

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghua | Facebook Group Budaya Tionghoa

Rate this item
(1 Vote)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/2568-pembagian-ruang-dalam-arsitektur-tradisional-tionghoa

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto