A+ A A-

Review Film : The Assasins

  • Written by  Bentara
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net| Roman Samkok (Sanguo Yanyi) walaupun agak berbeda dengan versi sejarah (Sanguo Zhi) -- tetaplah sebuah kisah epik yang kolosal , kompleks dengan tingkat kesulitan tinggi untuk memfabrikasi ratusan tokoh penting dimasa transisi menjelang akhir dinasti Han. Tak ada lagi perang di Tiongkok yang mampu menyeret sebagian besar nyawa rakyatnya dalam pertarungan kuasa. Momen sejarah yang diromantisir menghadirkan sisi tragis , heroik , seni perang , penghianatan , perang besar, wanita cantik dan kolosal sehingga tidak terlupakan dan terus diadaptasi tak terbatas ke layar lebar.

 

ARTIKEL TERKAIT :

{module [201]}

 The Assasins merupakan adaptasi terkini dari literatur klasik tentang Cao Cao. Sebelumnya film "The Lost Bladesman" juga memfokuskan hubungan Cao Cao (Jiang Wen) dengan Guan Yu (Donnie Yen) . Sebelumnya lagi  Zhang Fengyi memerankan Cao Cao dalam Red Cliff (2008,2009). Sebelumnya lagi Damian Lau juga memerankan Cao Cao dalam "Three Kingdoms : Resurrection of The Dragon" yang berfokus pada figur Zhao Yun (Zhao Zilong).

 Kali ini bintang terkemuka Chou Yun-fat menjajal peran Cao Cao di masa puncak kekuasannya. Setiap orang mencurigai hasrat Cao Cao terhadap tahta sehingga berbagai rencana pembunuhan terhadapnya dilancarkan. Prolognya dimulai ketika tahun 198 Cao Cao mengalahkan Lv Bu yang terkait juga dengan figur legenda Diao Chan yang diperankan sesaat oleh Liu Yifei.  Di tahun  216 Cao Cao mendesak Kaisar Xian (Alec Su)  untuk memberikan gelar Raja Wei  kepadanya. Cao Cao juga mendirikan sebuah teras Bronze Sparrow Platform 铜雀台 Tong Que Tai yang menjadi judul versi Tionghoa dari film ini sekaligus display kekuasaan bagi Cao Cao.

Film ini melangkah mundur ke sebuah kamp khusus anak korban penculikan yang dilatih untuk jadi pembunuh Cao Cao di masa depan. Pelatihannya tergolong tidak manusiawi untuk anak yang masih belia. Di antara anak-anak belia ini terdapat Ling Ju (Liu Yifei) yang sangat cantik dengan "cinta monyet"-nya , Mu Shun ( Hiroshi Tamaki). Setelah dewasa pasangan pembunuh ini berada dalam lingkaran kehidupan Cao Cao ( Chou Yun-fat). Mu Shun harus menyerahkan kejantanannya untuk menjadi kasim sementara Ling Ju berusaha melayani Cao Cao untuk mendapatkan kepercayaannya.

Perkembangan karakter Ling Ju menjadi sisi menarik dari film ini bagaimana dia mulai merasakan sesuatu yang hampa dalam dirinya , tujuan hidupnya apakah untuk membunuh ? membunuh Cao Cao ? Dan untuk apa membunuhnya ? Secara teoritis Ling Ju adalah seorang pembunuh cantik , seorang predator ,  tetapi dalam atmosfir kuasa Cao Cao yang pekat terlihat Ling Ju lebih mirip mangsa cantik yang tidak berdaya dan malah terseret untuk bersimpati pada Cao Cao sebagai calon korbannya.  Disini hubungan segitiga yang unik terjadi antara Cao Cao di puncak kuasanya , Ling Ju  yang sedemikian cantik dan dipadankan (berperan ganda)dengan Diao Chan dan Mu Shun yang telah menjadi pria yang bukan pria , seorang kasim.

Sisi menarik lainnya adalah atmosfir politik antara Cao Cao dan anaknya Cao Pi (Qiu Xin-zhi) yang ambisius dengan Kaisar Xian (Alec Su) yang lemah . Alec Su tampil sesuai dengan gambaran kaisar terakhir dinasti Xian  yang tidak kompeten dan tidak berdaya dihadapan Cao Cao. Ini mengingatkan saya akan karya Bernado Bertolucci , The Last Emperor (1987) tentang betapa tidak berdayanya Aisin Gioro Puyi (John Lone)  ,sebagai kaisar terakhir dinasti Qing yang terombang-ambing dimasa  Republik.

Dalam film ini Chou Yun-fat tampil prima seperti biasanya sempat berkata kepada para reporter bahwa setiap saat dirinya melihat karakternya di film tersebut , dia merasa ketakutan karena setiap saat para pembunuh bisa datang untuk membunuhnya. Crystal Liu tampil cantik seperti lukisan (seperti biasanya) yang tetap menjadi magnet utama yang memikat para penonton pria , sebagaimana Chou Yun-fat sebagai Cao Cao. Dan keunggulan lain dari film ini adalah kualitas sinematografinya . Sudah cukup baik untuk ukuran sutradara pendatang baru seperti Zhao Linshan.

The Assasins bukan film yang cocok untuk penggemar film perang kolosal. Film ini lebih ke drama percintaan dan drama politik daripada perang kolosal seperti Red Cliff dan juga bukan film laga seperti The Lost Bladesman. 

Pemeran : Chou Yun-fat , Crystal Liu Yifei , Hiroshi Tamaki , Alec Su , Qiu Xinshi   | Sutradara : Zhao Linshan | Sinematografi  : Zhao Xiaoding  | Bahasa : Mandarin | Rilis : 25 Oktober 2012 (Tiongkok)

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghua | Facebook Group Budaya Tionghoa

Last modified onMonday, 10 December 2012 04:02
Rate this item
(1 Vote)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/2572-review-film--the-assasins

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto