A+ A A-

Hu Shi 胡適 ( 1891-1962 ) Featured

  • Written by  Ardian Changianto
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Jika bicara filsafat Tiongkok pada masa kini, maka nama Feng Youlan disebut sebagai seorang tokoh filsafat Tiongkok yang memperkenalkan filsafat Tiongkok pada dunia barat dengan buku yang berjudul “ Sejarah Filsafat Tiongkok” dan menjadi salah satu buku wajib bagi mereka yang mempelajari filsafat Tiongkok.  Alasan saya memilih Hu Shi dalam tulisan ini adalah karena Hu Shi lah yang memulai penulisan outline sejarah filsafat Tiongkok pada abad 20 dan kemudian diikuti oleh Feng Youlan. Selain itu Hu Shi adalah sastrawan, sejarahwan dan menjadi salah satu tokoh penting gerakan pembaharuan budaya Tiongkok [1], menjadi tokoh controversial dan mendapat kritik dari berbagai pihak, salah satunya adalah Feng Youlan. 

Artikel Terkait :

{module [201]}

 Keberpihakan Hu Shi pada kaum nasionalis walau akhirnya bentrok dengan Chiang Kaisek[2], dan kritik keras terhadap komunisme di tahun 1949 yang menyatakan bahwa komunisme itu tidak akan memberikan kebebasan menyebabkan namanya dicoba dihilangkan dalam sejarah filsafat dan sastra Tiongkok di Tiongkok daratan. Namanya kembali menggema ketika Tiongkok daratan sudah mulai terbuka,  di tahun 1986 Ji Xianlin[3] menulis mengenai Hu Shi dan pentingnya peranan Hu Shi terutama dalam sastra Tiongkok. Sejak itu pemikiran Hu Shi digali kembali termasuk karya tulisnya yang begitu banyak.

“容忍比自由更重要”

 “Sabar dan bisa menampung ( toleran ) lebih penting daripada kebebasan” Hu Shi

Sejarah Singkat


Beliau lahir pada tanggal 17 bulan Desember tahun 1891 di Shanghai. Masa kecilnya di isi dengan sishu 私塾, home schooling dengan mengundang guru mengajar ala Tiongkok pada masa itu yang mempelajari Ruism sebagai mata pelajaran utama. Di tahun 1905 sekolah di Cheng Zhong 澄衷 yang dipimpin oleh Cai Yuanpei 蔡元培  ( 1868-1940 ) seorang revolusionist Tiongkok dan memberikan pengaruh pada dirinya dan selain Cai, tokoh gerakan lainnya adalah Liang Qichao 梁啟超 ( 1873-1929 ). Di tahun 1910, Hu mendapat beasiswa “Boxer” untuk belajar di Cornell University, Amerika dan bidang yang dipelajari adalah pertanian, dan berganti jurusan sastra.Di tahun 1915 melanjutkan studi di Colombia University jurusan filsafat dan John Dewey sebagai pengajar memberikan pengaruh besar terutama pragmatism, eksistensialisme dan liberalism yang akan mempengaruhi pandangan Hu Shi. Tahun 1917 setelah mengambil gelar doctor dengan disertasi "The Development of the Logical Method in Ancient China"[4], ia kembali ke Tiongkok dan menjadi dosen pengajar filsafat di Beijing University. Tahun 1927 ia mendapat gelar professor dari Colombia University , di tahun 1938 menjabat duta besar Republik Tiongkok untuk Amerika, tahun 1939 dinominasikan sebagai calon pemenang Nobel dalam bidang sastra. Tahun 1943 menjadi penasehat kehormatan untuk Oriental di Library Congress, tahun 1944 memberikan lecture di Harvard University, tahun 1946 ia menjabat sebagai rector Beijing University dan pernyataan mengenai Mao Zedong yang dikatakannya tidak akan bisa lulus ujian masuk Beijing university itu konon yang menyebabkan namanya ditenggelamkan dalam khasanah tokoh Tiongkok di Republik Rakyat Tiongkok. 1950 menjabat kepala perpustakaan untuk “East Asian Library and the Gest Collection” di Princeton University. Tahun 1957 menjabat kepala di Academi Sinica Republik Tiongkok.

 

Tiongkok dan Filsafat Barat

 

Setelah perang candu pertama ( 1836-1840 ) , membuka mata barat bahwa dinasti Qing ternyata keropos dan korup, tidak lagi sedigdaya pada masa abad 15 dan 16. Akibatnya terjadi serangkaian agresi negara barat termasuk Jepang ke Tiongkok untuk mendapatkan konsesi dan hak-hak istimewa seperti yang didapat Inggris.  Pada akhir abad 19 itu posisi dinasti Qing semakin terpuruk dan semakin menyuburkan gerakan revolusi ( geming pai革命派 )dan gerakan pembaharuan ( weixin pai 維新派 ).

 

Sistem pengajaran dan pemerintahan yang berbasis Ruism menjadi dipertanyakan dan dipersalahkan karena mengakibatkan keruntuhan dinasti Qing dan keterpurukan Tiongkok. Disaat itulah banyak orang Tiongkok yang menuntut ilmu ke luar negri dan salah satu yang dipelajari adalah filsafat. Bersentuhannya Tiongkok dengan filsafat barat membuat suatu wawasan baru dan juga akhirnya membuat banyak orang yang menggali filsafat Tiongkok lebih mendalam dan kadang disandingkan dengan filsafat barat. Sebut saja tokohnya seperti Fu Peirong, Ren Jiyu, Feng Youlan dan masih banyak lainnya.  Pertama kali yang mengenalkan adalah Yan Fu 嚴復 (1853-1921) yang menterjemahkan karya  Huxley “ Evolution and Ethics.”[5]  Dan akibatnya meluasnya minat pada filsafat barat yang salah satunya mempengaruhi Hu Shi.

 

Karya dan Pengaruh Hu Shi

 

Peranan Hu Shi adalah menggiatkan penggunaan bahasa baihua 白話terutama dalam bahasa tulisan yang memudahkan masyarakat banyak untuk menikmati tulisan dengan mudah dan dalam filsafat Tiongkok modern adalah memperkenalkan filsafat pragmatism dan instrumentalisme[6] yang menjadi pilar bagi Hu Shi dalam mengembangkan dan memberikan kritik bagi filsafat Tiongkok dan akhirnya mengundang kritik keras dari Feng Youlan serta beberapa tokoh Tiongkok. Karya Hu Shi yang terkenal antara lain adalah  中國哲學史大網”Zhongguo zhexueshi  dawang ( Outline of History Chinese Philosophy ) yang merupakan satu karya besar dan mengundang banyak kritik pula tapi kelebihannya adalah menggunakan sistematika barat dalam membuat outline itu[7]. Selain itu adalah 中國禪宗史zhongguo chanzhong shi ( Sejarah Zen Buddhism Tiongkok ), paper “The Scientific Spirit and Method in Chinese Philosophy”, “中國章回[8]小說考”zhongguo zhanghuo xiaoshuo kaozheng ( Penelitian Bab dan Chapter Cerita Tiongkok ),dan banyak tulisan Hu Shi yang dikumpulkan menjadi satu.

 

Mengenai Ruism atau yang disebut Confuciusm, banyak kalangan barat yang beranggapan bahwa Ruism atau Confuciusm dibentuk oleh Confucius, yang mana ini tidaklah benar, Hu Shi dalam “Outline of History Chinese Philosopy” menyatakan bahwa ajaran Kong Zi ini disalah artikan oleh generasi selanjutnya, yang mana sebenarnya Kong Zi menekankan pentingnya pengembangan karakter dalam diri dan bukan keluar yang mana yang dimaksud keluar adalah karena takut nama baik rusak, mendapat hukuman.[9] Dan kritik Hu Shi ini membuka wawasan baru tentang ajaran Ru selain tokoh-tokoh pembaharu seperti Kang Youwei pada masa itu.

 

Yang benar-benar memberikan pengaruh adalah liberalism,pragmatism serta instrumentalism yang disebarkan oleh Hu Shi, sebut saja gerakan pembaharuan budaya 4 mei yang dipengaruhi oleh pragmatism. Juga penekanan penting terhadap liberalism memberikan juga pengaruh luas dimana masa itu adalah masa kekacauan dan Hu Shi tetap konsisten dengan liberalism sehingga saat Chiang Kaisek mencalonkan jadi presiden ke tiga kalinya di Taiwan, Hu Shi berbalik badan menentang Chiang.Hu Shi sendiri bukan orang yang bernostalgia pada kejayaan masa lampau tapi ia menekankan pentingnya perubahan. Yang menarik adalah Hu Shi tidak menelan bulat-bulat liberalism ala barat tapi juga menggabungkan dengan kebijakan timur yang tidak mengagungkan kebebasan yang kebablasan. Hu Shi menekankan rongren容忍 yang sering diartikan toleransi, yang mana menurut saya rongren 容忍 tidak semata-mata bicara toleransi tapi juga kesabaran dan kehendak menerima yang lain dan itu lebih penting daripada kebebasan, bahkan Hu Shi menyatakan bahwa kebebasan tiada arti tanpa adanya rongren.

 

Instrumentalism memberikan pengaruh pada Hu Shi dalam memandang sejarah filsafat Tiongkok dengan memulai dari Lao Zi dan meragukan Fu Xi sebagai peletak dasar filsafat Tiongkok. Chan Wing Tat dengan jelas mengatakan bahwa Hu Shi memulainya dengan “meragukan yang purba” He started the movement of "doubting antiquities”[10] dan memberikan suatu terobosan baru, “In this way he started the "doubt antiquities" movement that eventually penetrated the whole new culture of modern China[11]”. Dalam bidang  sejarah filsafat Tiongkok, Hu Shi memang memberikan suatu terobosan baru yang berbeda dari yang sebelumnya, seperti meragukan Fu Xi dan juga tokoh lainnya pra Lao Zi dan Kong Zi, walau sekarang ini bangkit kembali pemikiran yang menggali filsafat masa pra Lao Zi dan Kong Zi. Pemutusan mata rantai filsafat Tiongkok itu lebih dipengaruhi oleh metode filsafat barat yang memilah-milah. Dan Hu Shi sendiri adalah seorang atheist yang tidak mau terjebak pada mitos dan melakukan demitologisasi dalam hal ini adalah peranan Fu Xi sebagai peletak filsafat Tiongkok. Saya beranggapan bahwa Hu Shi membuang peranan Fu Xi karena dianggap tidak memiliki pengaruh dan lebih mengarah mitos sehingga tidak memiliki daya guna dalam perkembangan filsafat Tiongkok. Memang perlu diakui karena adanya Fu Xi ini sehingga ada orang yang salah kaprah, misalnya dalam konteks pergerakan lima unsur, dimana dalam lima unsur itu salah satu unsurnya adalah logam dan seringkali orang beranggapan bahwa lima unsur ini adalah hasil pemikiran Fu Xi.

 

Hu Shi sebagai salah seorang pendukung berat penggunaan bahasa mandarin praktis baihua wen白話文 atau disebut juga putong hua[12] 普通話sebagai pengganti bahasa wenyanwen 文言文[13]. Dan dukungan itu lebih disebabkan pragmatism dan mudah digunakan serta dimengerti oleh masyarakat awam yang tidak mengecap pendidikan klasik. Dengan menggalakkan penggunaan putonghua itu memudahkan masyarakat luas untuk bisa belajar dan mendapat pendidikan yang lebih cepat dan mudah tanpa perlu harus mempelajari bahasa klasik yang rumit bagi banyak orang sehingga memajukan pendidikan di Tiongkok.

 

Bicara masalah kebebasan yang lebih luas,mungkin Hu Shi lebih mengarah kepada kebebasan mengkritik dan bicara yang disampaikan dengan cara elegan atau terkadang menyakitkan, Hu Shi mengatakan bahwa “Tuhan saja dapat kita kritik, apalagi Chiang Kaisek maupun Sun Yatsen”. Saat itu memang di Taiwan adalah haram untuk mengkritik dua nama itu.

 

Hu Shi dan Metode Ilmiah Tiongkok

 

Saat banyak orang barat meragukan apakah Tiongkok memiliki metode ilmiah, Hu Shi dalam papernya di jurnal  Philosophy East and West, Vol. 9, No. 1/2, yang berjudul “TheScientific Spirit and Method in Chinese Philosophy” mengatakan bahwa Tiongkok memiliki metode ilmiah dengan mengusung nama Wang Chong 王充 ( 27- 100 CE ) yang terkenal dengan 論衡 lun heng ( Esai Kritisme ). Wang Chong terkenal dengan sikapnya yang kritis terutama saat mengkaitkan dengan roh atau juga kepercayaan bahwa bencana alam, perubahan cuaca, gerhana matahari dan sebagainya itu dikaitkan dengan Mahluk Adikodrati dan terkait dengan kebijakan pemerintahan sebagaimana yang dipercayai oleh kaum Ruis pada dinasti Han. Wang Chong mengatakan bahwa gerhana matari dan bulan adalah suatu siklus alam yang tidak terkait dengan kebijakan pemerintah. Selain Wang Chong, juga adalah Neo Confuciusme yang disebut oleh Hu Shi sebagai salah satu penggagas metode ilmiah dengan slogannya “ Memperluas pengetahuan manusia hingga puncak dengan meneliti  sebab atau hukum[14] ( )”, dengan menjunjung asas li atau hukum ini sehingga dalam sejarah filsafat Tiongkok, Neo Confuciusme sering disebut li xue 理學 atau mahzab rumus ). Dalam paper tersebut, Hu Shi hanya menyebut satu tokoh yang dianggap sebagai tokoh utama mahzab tersebut yaitu Zhu Xi 朱熹 ( 1130-1200 C.E ) . Dan oleh Hu Shi, Zhu Xi ini bisa dianggap cukup untuk mewakili pemikir mahzab Li yang memiliki banyak tokoh pemikirnya seperti Cheng Ying 程穎 (1035-1082 ), Sima Guang ( 1019-1086 ) dan tokoh lainnya.

 

Beberapa pemikiran Hu Shi

 

Mengenai isme atau doktrin, Hu Shi beranggapan bahwa "主义的危险,就是能使人心满意足,自以为寻着治病的根本方法,从此用不着费心力去研究这个那个具体问题的解决法了" ( bahaya isme/doktrin, bisa membuat manusia puas, merasa sudah mendapatkan cara mengobati akar penyakit, sejak itu tidak perlu bersusah payah meneliti cara penyelesaian  permasalahan secara menyeluruh ).

 

Dan opini umum itu dianggap sebagai tahayul, "世间有一种最流行的迷信,叫做'服从多数的迷信'。人都以为多数人的公论总是不错的。" ( di dunia ini ada satu tahayul yang popular, disebut “tahayul terhadap yang banyak. Manusia beranggapan bahwa apa yang menjadi opini umum adalah tidak salah.”

 

Hu Shi beranggapan bahwa pandangan orang barat mengenai orang Tionghoa tidak memiliki agama adalah tidak benar, ia mengkritik hal itu dan memberikan suatu penjabaran tentang apa yang disebut agama menurut orang Tionghoa. Bagi Hu Shi, apa yang disebut agama adalah menurut konteks pemikiran barat bahwa agama itu harus memiliki Tuhan, sedangkan menurut Hu Shi, Ruisme adalah agama yang tidak berkehendak perlunya Tuhan dan tidak bersifat misionaris[15].

 

Dalam tulisannya Rujiao de shiming 儒教的使命 ( Misi agama Confucius ), menurut Hu Shi apa yang disebut agama memiliki 3 misi utama terutama agama modern, yang pertama adalah mengenal diri sendiri, ke dua bisa memajukan diri dan mengubah diri, ke tiga adalah nilai-nilai kebajikan yang diperluas.[16]  Dan ini merupakan pengertian agama, dimana agama itu yang mementingkan budi pekerti dan kebajikan bukan sekedar ritual atau dogma yang bertujuan memajukan diri manusia dan artinya tidak harus selalu memiliki Tuhan sebagai suatu pilar penyangga, karena dengan begitu lebih bisa leluasa bergerak tanpa batasan apa yang kita sebut agama pada umumnya dengan demikian konteks agama menurut Hu Shi lebih bisa membawa kebaikan bagi semuanya, tidak seperti sekarang ini yang terkotak-kotakkan oleh agama yang dogmatis. Dan menurut saya pandanga Hu Shi terhadap apa yang disebut agama itu memiliki konsep seperti apa yang menjadi dasar kepercayaan orang Tionghoa, dimana dalam Dao dejing dikatakan bahwa Tiandao wuqing changyu shanren 天道無情常與善人( Jalan Langit tidak berperasaan hanya dekat pada orang yang berbajikan ), dan maknanya bisa diperluas bahwa hukum alam itu tidak memilah, hanya orang yang mengerti hukum alam itu bisa hidup selaras. Atau jika menilik dari Yi Jing 易經,  tianxingjian junzi yu ziqiang buxi 天行健君子與自強不息 ( Langit selalu berkarya seorang junzi selalu memperbaiki diri tiada henti ). Dengan menilik di atas, maka tidak diherankan jika Hu Shi itu berpandangan bahwa agama orang Tionghoa dalam hal ini adalah Ruism tidak harus selalu memegang patokan pada Tuhan seperti agama orang barat pada umumnya yang memiliki kemelekatan pada Tuhan sehingga itulah yang menjadi patokan apa yang disebut agama.

 

Kritik Terhadap Hu Shi

 

Feng Youlan dalam jurnal “Riset Filsafat” edisi pertama tahun 1955 dengan judul “Filsafat dan Politik” mengkritisi “The Outline of Chinese Philosophy” karya Hu Shi yang dianggap tidak memahami bahasa klasik secara mendalam dan dianggap terlalu mentah mengartikan karya Kong Zi. Sebagai contoh adalah komentar Hu Shi tentang kata 學 xue ( belajar ) yang dikatakan bahwa Kong Zi tidak mengerti arti kata xue sehingga menghasilkan sampah kaum pelajar, yang dihasilkan adalah pengetahuan membaca ( dushu de xuewen 讀書[17]的學問 ). Feng membela Kong Zi dengan mengatakan bahwa Hu Shi tidak adil dan tidak mau melihat bahwa Kong Zi dalam Lun Yu 論語 ( Analect ) tidak hanya menekankan membaca saja, disini saya setuju dengan Feng Youlan, karena dalam Lun Yu ada ujar Kong Zi, Wengu er zhixin keyi wei shi yi 溫故而知新可以為師矣 yang berarti “mempelajari yang lama dan bisa mendapatkan pengetahuan yang baru dapatlah menjadi ( disebut )guru”. Guru atau shi 師ini juga bisa diartikan sebagai orang yang memiliki pengetahuan dan keahlian yang mendalam.

 

Selain itu karya Hu Shi tentang sejarah Zen juga mendapat kritik dari bhiksu Yinshun 印順大師 yang pada abad 20 adalah seorang cendikiawan dan filsuf Buddhism di Taiwan. Dimana dalam tulisan Hu Shi, menyatakan bahwa pendiri Zen Buddhism adalah Shen Hui, bukan Hui Neng dan dalam sejarahnya Shen Hui adalah murid dari Hui Neng. Walau demikian karya Hu Shi terhadap sejarah Zen Buddhism adalah suatu sumbangan yang besar.

 

Kesimpulan

 

Hu Shi sepanjang hidupnya walau memberikan pengaruh luar biasa pada perkembangan Tiongkok modern tapi bentrokannya terhadap tokoh-tokoh pemimpin Tiongkok juga membuat dirinya menjadi tersingkir dalam sejarah Tiongkok modern, tapi beberapa sahabatnya selalu berusaha mengangkat namanya, sebut saja Li Ao di Taiwan dan Ji Xianglin di Tiongkok daratan, sehingga namanya tidak tenggelam dalam catatan sejarah. Pengaruh besarnya terhadap pemikiran Tiongkok modern tidak lepas dari pengaruh guru orang baratnya yaitu John Dewey.

 

Karyanya yang terkait dengan filsafat Tiongkok, sastra dan sejarah Tiongkok menjadi bahan penelitian banyak orang, salah satunya adalah prof.Oei Lee Tjiek dari Indonesia dan menjadi guru besar di Fordham University.

 

Pandanganya terhadap agama modern itu sebenarnya tidak lebih dari penggalian nilai filsafat Tiongkok dan menaruhnya pada konsep agama yang tidak berdogma dan lebih mengarah pada nilai-nilai kebajikan sebagai dasar dari agama itu sendiri dan tidak tergantung pada sesuatu Adi Kodrati dengan demikian agama tidak lagi menjadi salah satu penyebab perpecahan dan peperangan seperti yang terjadi dalam peradaban manusia.

 

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing List Budaya Tionghua

 

Daftar Pustaka :

Hu Shi,”中國哲學史大網”,1997, Shanghai: Shanghai Guji Publisher 上海古籍出版

Oei Lee Tjiek, “ Hu Shih’s Philosopy of Men as Influenced John Dewey’s Instrumentalism”, Fordham University, 1974

Chen Wing Tsit, “Hu Shih and Chinese Philosopy”, Philosophy East and West, Vol. 6, No. 1 (Apr., 1956), pp. 3-12

 Daftar Pustaka :

[1] Yang dimaksud adalah gerakan pembaharuan budaya adalah yang mencanangkan perubahan tradisi serta ajaran Ruism yang kemudian berujung pada demo 4 mei 1919.

[2] Presiden Republik Tiongkok yang kalah dalam perang saudara dan melarikan diri ke Taiwan.

[3] Ji Xianlin 季羨林 ( 1911-2009 ) adalah seorang filsuf, sejarahwan, menguasai bahasa Sansekerta, Pali, Thokaroi, Inggris, bahasa mandarin klasik, menguasai Buddhisme dan Hinduism, guoxue ( yang dimaksud ini adalah ilmu pengetahuan Tiongkok kuno dan tradisi, mencakup pengobatan, filsafat, seni, mitos dan lain-lain. Bisa disebut Sinology ) dan professor seumur hidup di Beijing University.

[4] Yang dimaksud adalah aliran filsafat Ming 名家

[5] Chen Wing Tsit, “Hu Shih and Chinese Philosopy”, Philosophy East and West, Vol. 6, No. 1 (Apr., 1956), pp. 3-12.

 http://www.jstor.org/stable/1396767 . Di akses pada tanggal 22-11-2012 jam 24:05

[6] Lih.disertasi Oei Lee Tjiek, “ Hu Shih’s Philosopy of Men as Influenced John Dewey’s Instrumentalism”, Fordham University, 1974

[7] http://baike.baidu.com/view/2010.htm, diakses : 26-11-2012 jam 18:53

[8] 章回 adalah system penulisan cerita dalam sastra Tiongkok

[9] Lih. Hu Shi,”中國哲學史大網”, hal.86,1997, Shanghai: Shanghai Guji Publisher 上海古籍出版

[10] Chen Wing Tsit, “Hu Shih and Chinese Philosopy”, Philosophy East and West, Vol. 6, No. 1 (Apr., 1956), hal.6

[11] Loc.cit

[12] Bahasa percakapan yang praktis dan lebih mudah dimengerti oleh masyarakat pada umumnya.

[13] Secara umum disebut bahasa literati yang penuh makna dan sistematikanya sudah ribuan tahun.

[14] Hukum atau rumus 理

[15]http://hk.plm.org.cn/e_book/xz-11541.pdf  diakses pada tanggal 11-12-2012 jam 18:03

[16]  http://hk.plm.org.cn/e_book/xz-11541.pdf  diakses pada tanggal 11-12-2012 jam 18:24

[17] Dushu 讀書 bisa diartikan membaca dengan bersuara atau dalam hati dan juga bisa diartikan belajar.

 PHOTO CREDIT : Patung Hu Shi , Taiwan , courtesy :  Winertai

 

Last modified onFriday, 14 December 2012 16:10
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/2577-hu-shi-%EF%BF%BD%EF%BF%BD%EF%BF%BD%EF%BF%BD%EF%BF%BD%EF%BF%BD--1891-1962

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto