A+ A A-

Ratus Teratai Menyebar Memenuhi Dunia 百蓮布滿天 (1)

  • Written by  Ardian Cangianto
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net| Akhir dinasti Yuan, pemerintah Yuan sudah melemah, korupsi merajalela, kekacauan dimana2, peperangan melanda hampir di seluruh dataran Zhongyuan.  Seperti pengulangan sejarah, pada masa kacau bajingan bermunculan mencuri kesempatan yang ada, bandit dan pejabat sudah tidak ada perbedaannya di mata rakyat jelata yang tertindas dan selalu menjadi korban terdepan saat kekacauan terjadi.

 

Artikel Terkait :

{module [201]}

 Seperti siang dan malam yang berdampingan, dalam masa kacau juga lahir para ksatria yang berjuang melawan ketidak adilan dan mengobarkan semangat gerakan menuntut keadilan 起義. Diantara para pejuang melawan kekejaman dinasti Yuan, salah satunya adalah Han Shantong 韓山童dengan laskar Destar Merah紅巾軍. Ia mengakui sebagai keturunan ke delapan dari kaisar Song Huizong 宋徽宗, meneriakkan slogan “Raja Terang telah lahir ke dunia” dan menyatakan dirinya adalah “Raja Terang” yang membahana ke seluruh Zhongyuan membuat ia menuai dukungan. Pada tahun pemerintahan Shunzheng ke 11順正 ( 1351 ) Han Shantong tertangkap saat mengobarkan gerakan perlawanan dan dibunuh. Matinya Han Shantong sungguh mencurigakan dan sulit dipercaya karena Han Shantong adalah anggota Bailian Jiao ( Serikat Teratai Putih ) yang memiliki kedudukan tinggi dan kakeknya menjadi ketua Bailian jiao sudah pasti berilmu tinggi bahkan menguasai jiu jie shengong 九節神功 yang menjadi salah satu ilmu andalan Bailian jiao. Desas desus di dunia persilatan pada masa pemerintahan Shun Zheng ke 3 ( 1343 ) ada sekte baru yang bernama Serikat Teratai Merah ( Hong Lian Jiao ) tapi serikat itu penuh misteri, jari tangan menuding serikat Teratai Merah memiliki peranan dalam menangkap Han Shantong hanya karena ada emblem Teratai Merah yang tertinggal di tempat Han Shantong ditangkap. Tewasnya Han Shantong tidak mengecilkan gerakan perlawanan, anakny Han Liner melanjutkan perlawanan terhadap dinasti Yuan.

Perlawanan terhadap dinasti Yuan juga terpecah-pecah menjadi beberapa gerakan perlawanan tapi yang terkuat tetap yang berada dibawah Han Liner denga gelar “Raja Terang Cilik”. Dunia persilatan menjadi bergejolak dan banyak yang mendukung Han Liner lainnya ada yang mendukung dinasti Yuan, sebagian lagi menonton menyaksikan pertarungan besar ini sambil berharap bisa mencuri kesempatan. Ada yang memang sudah “membasuh tangannya di baskom emas” dan menarik diri dari hiruk pikuk dunia persilatan, ada yang tidak perduli dengan gejolak dunia.

Sedangkan sekte Teratai Merah yang dituding bertindak di belakang layar terhadap penangkapan Han Shantong semakin santer namanya. Tirai mulai tersingkap perlahan-lahan, sekte itu mendukung dinasti Yuan dengan departemen-departemen 72 Disha 地煞 36 tianjiang 天將, Lima Tong 五通, 4 Xiang 四象, yang menjadi kekuatan sekte itu. Salah satu yang terkejam adalah departemen 72 Iblis Bumi 七十二地煞 . Sekte Teratai Merah beberapa tahun belakangan sering menyerbu menaklukkan sekte dan perguruan yang lemah.

 

Chapter 1 Kitab Taixuan

 

Gunung Wutai adalah salah satu dari empat gunung suci Buddhisme Tiongkok, di antara banyak kelenteng di Wutai, salah satunya vihara Qingliang  di lembah Qingliang yang dikelilingi oleh pemandandangan yang indah. Lv Mingzhen 呂明震 sedang menapaki jalan menuju vihara Qingliang, pohon rimbun bagaikan payung memayungi dirinya. Tiba-tiba telinganya mendengar jeritan gadis yang menjerit dikejauhan dibalik rimbunnya pepohonan,”Jangan, jangan, ku mohon jangan”. Hati Lv Mingzhen tercekat dan langsung berlari menuju jeritan itu berasal.

Ia melihat suatu pemandangan yang tidak senonoh, darah mudanya naik ke ubun-ubun melihat seorang gadis cilik yang bajunya robek dicabik oleh seorang pria yang berumur 40an. Gadis itu meronta2 melawan pria itu yang menindihi dirinya, tamparan bertubi2 mendarat di pipi gadis itu. Gadis itu memohon dalam hatinya kepada Wenshu pusa, “Pusa tolonglah aku pusa”, airmata mengalir, ia sudah ternodai, rusak sudah kesuciannya, keluarga dan penduduk desa pasti akan mengutuknya.

 

“Bajingan, hentikan” teriak Lv Mingzhen sambil mengeluarkan tendangan ke arah pria itu. Pria itu merasakan adanya serangan mengarah punggungnya. Ia berkelit menghindari tendangan Lv Mingzhen, mukanya pucat pasi tapi dengan sorot mata yang tajam menatap Lv Mingzhen, “Jika ingin hidup, jangan ikut campur kegembiraanku” ancamnya dengan nada membentak. Lv Mingzhen tidak perduli dengan ancaman itu, “Di siang bolong ini kau berani melakukan kekejian, aku Lv Mingzhen tidak akan tinggal diam melihat kekejian kamu.” Pria itu menyeringai sinis,”Kau tidak tahu aku siapa ? Mau cari mati kau ?” sambil berbicara pria itu menggerakkan tangannya menyalurkan qi ke ujung jarinya kemudian mengibaskan jarinya ke arah Lv Mingzhen. Lv tercekat melihat adanya qi yang tersalur dari tangan orang itu menuju dirinya dengan sangat tajam, ia kemudian melompat menghindari kibasan qi dari jari pria tersebut. Pria itu kaget, bocah muda ini bisa dengan mudah menghindari serangannya, ia menduga-duga bocah muda ini dari partai mana. Pria itu kemudian membuka mulutnya,”Kau dari aliran mana ? Kau tahu sedang berhadapan dengan siapa ?”. Lv Mingzhen dengan gagah berkata,” Aku dari sekte Shenxiao 神霄派, guruku adalah Mo Yueding Mo zhenren 莫月鼎莫真人. Kau bajingan tengik siapa namamu?”. Pria itu menatap dengan tajam dan dengan suara yang dingin,” Bocah tengik, dengar baik2 aku adalah pimpinan 72 disha dari Honglian jiao.” Ia melanjutkan lagi dengan nada yang mengancam,”Namaku Lei Hao 雷浩, julukanku adalah “Utusan Pencabut Sukma” ( Gouhun shizhi 勾魂使者) ingat baik2 sebelum kau mati.” Setelah itu dia melancarkan tendangan mengarah selangkangan Lv Mingzhen, tangan kanannya mengarah leher dan tangan kirinya mengarah mata. Sungguh suatu serangan keji dan bertujuan menghabisi lawan dalam sekali serangan. Lv Mingzhen terkejut melihat serangan yang telengas itu, ia kemudian melompat ke samping untuk menghindar, sambil mengumpulkan qi, jarinya mengepal, mulutnya membaca mantra. Tangan kirinya menulis tulisan lei 雷 di udara setelah itu membuka jarinya yang mengepal ke arah lawan. Lei Hao walau tidak pernah berhadapan dengan orang dari sekte Shenxiao, tapi ia sudah banyak makan asam garam dan sedikit banyak pernah mendengar dan tahu beberapa jenis ilmu,termasuk pukulan lima petir yang menggunakan kekuatan mistis  dewa yang digabung dengan energy diri, tapi yang ia ketahui tidak mudah menguasai ilmu seperti itu. Ia tidak menyangka anak semuda itu sudah menguasai pukulan lima petir. Hawa serangan dari telapak tangan Lv Mingzhen begitu kuatnya dan membuat tubuhnya merasa kesemutan walau serangan itu belum sepenuhnya mencapai dirinya, ia kemudian mengalirkan qi untuk melindungi diri dari serangan Lv Mingzhen dan meloncat mundur ke belakang. Qi yang dilancarkan itu seolah mengejar dirinya, Lei kemudian menyilangkan tangannya dan qi yang digunakan untuk melindungi diri, ia pusatkan di kedua tangannya dan menerima serangan itu. Lei Hao memandang remeh anak muda di depannya itu, ia berpikir dengan menahan serangan dengan pengerahan qi secara optimal, ia tidak mungkin kalah dengan bocah muda yang bau kencur itu. Duarrrrrrrr suara ledakan terdengar saat serangan Lv Mingzhen mengenai tangannya, Lei terdorong ke belakang dan dadanya terasa hendak meledak, tangannya kesemutan. Ia tidak menyangka bisa dikalahkan oleh anak muda itu, harga dirinya sebagai ketua 72 disha terluka, untung tidak ada bawahannya yang menyaksikan dirinya bisa terluka.

 

Ia lupa bahwa ilmunya bisa meningkat pesat dengan cara yang sesat, Lei Hao lupa sekali lagi lupa bahwa ilmu yang dilatih walau mengandalkan kekuatan diri tidak seperti Lv Mingzhen, tapi ia melatih ilmu yang amat riskan jika salah latihan. Ia belajar ilmu Gou Hun dafa 勾魂大法 yang setiap serangannya selalu mematikan dan bisa melumpuhkan manusia dengan merusak 魂 dan yang terkena pukulannya bisa menjadi rusak system syarafnya bahkan bisa kehilangan ingatan. Ilmu itu perlu dilatih dengan benar dan jika salah latihan maka bisa membuat meridian pemanas tubuhnya menjadi kacau sehingga energy positif tubuh terlalu besar dan secara perlahan akan merusak energy negative tubuhnya. Lei Hao ternyata sering memperkosa gadis perawan itu untuk diambil energy negative korban dengan tujuan menguatkan energy negative dan menstabilkan energy positif tubuhnya. Jika dalam waktu satu bulan ia tidak menyedot energy negative gadis muda, energy tubuhnya menjadi kacau dan ia menjadi lemas tidak bertenaga. Mukanya yang pucat sudah menunjukkan energy positive yang terlalu berlebihan merusak energy negativenya mengakibatkan po tubuhnya menjadi tidak terkontrol dan menjurus ke arah sesat dan menjadi kejam. Dengan cara itu Lei Hao menjaga kestabilan qinya dan juga sekaligus qinya meningkat pesat.

Lei Hao merasa apes bertemu dengan orang yang menguasai ilmu pukulan lima petir itu, tapi tidak ada ilmu yang terunggul jika ilmu itu dirusak oleh emosi apalagi ilmu mistis yang dilatih dengan menggunakan kekuatan dewa. Pukulan lima petir selain untuk menghancurkan kekuatan setan yang jahat juga bisa  untuk menghancurkan energy yang sesat karena po 魄manusia yang sudah tidak terkontrol karena itulah Lei Hao bisa terluka oleh serangan Lv Mingzhen. Lei Hao teringat bahwa ilmu wu lei zhang itu harus dilakukan dengan pikiran yang tenang dan jernih, tidak boleh ada emosi amarah yang mempengaruhi orang yang melancarkan telapak petir. Ia kemudian menuju semak belukar dan menyeret seorang anak perempuan yang masih kecil, jauh lebih muda dibandingkan anak perempuan yang tadi ia perkosa, anak itu kelihatan dalam kondisi ditotok. Ia kemudian mengangkat anak itu sebagai tameng. Lv Mingzhen terkejut dan ia kemudian membatalkan serangan susulan yang tadinya ingin dilancarkan. Melihat Lv membatalkan serangan, akal licik Lei Hao muncul dan ia menyeringai ke arah Lv, ke dua tangannya memegang kaki anak itu dan ia dengan dingin merobek tubuh anak itu dan melemparkan tubuh anak yang terobek itu ke arah Lv Mingzhen. Lv loncat menghindar tapi percikan darah dari tubuh anak itu mengenai muka Lv Mingzhen. Amarah Lv meledak keluar dan ia tidak bisa mengontrol amarahnya itu, dengan cepat ia mengerahkan petir tubuhnya dan mengundang kekuatan lima petir ( tian lei, di lei, shui lei, she lei, huo lei ) dengan menuliskan di udara fu lima petir, tangannya membentuk mudra dengan tujuan membunuh Lei Hao dan saat ia mengerahkan semuanya, tiba2 tubuhnya mental jauh ke belakang dan terjatuh di tanah, semua tubuhnya terasa kejang, rasa sakit menyelimuti tubuhnya. Lei Hao tertawa terbahak-bahak melihat Lv Mingzhen terkapar, omongan ketuanya tidak salah, Lei tahu cara mengatasi telapak lima petir dari ketuanya dan ternyata benar. Hatinya semakin kagum pada ketuanya yang bisa tahu kelemahan dari banyak aliran bela diri termasuk ilmu mistis. Ia kemudian melangkah dengan santai mendekati tubuh Lv  yang berjarak 20an meter itu. Lv Mingzhen dalam kondisi tidak berdaya, kesakitan menyelimuti tubuhnya, ia baru teringat ujar gurunya Yueding saat mengajarkan telapak lima petir pada dirinya.”Lv, kau harus ingat petir adalah sumber kehidupan, tidak untuk membunuh, hanya bertujuan purifikasi, jika dilancarkan pada manusia tidak akan membunuh hanya melumpuhkan dan menghancurkan energy yang menjadi buruk karena pengaruh pikiran manusia. Saat mengerahkan petir tubuh dan mengundang kekuatan petir, pikiran harus tenang dan tidak boleh ada pikiran yang melenceng.” Lv Mingzhen merasa menyesal telah melanggar perkataan gurunya karena emosi yang meluap dan niatan membunuh. “Jika kau langgar maka kau akan menjadi tidak berdaya dan perlu waktu untuk menetralisir energy petir yang menghantam balik tubuhmu itu.” Lv Mingzhen sudah pasrah menunggu kematian ketika ia melihat Lei Hao mendekatinya. 

 

 

Dibalik rerimbunan semak-semak, ada sepasang mata yang mengawasi kejadian itu. Sepasang mata itu beranjak kemudian terdiam karena mendengar derap langkah kaki beberapa orang, kupingnya difokuskan pada derap langkah kaki itu. Terhitung ada 8 orang yang berlarian menuju tempat perkelahian itu. Para bhiksu itu datang karena suara ledakan dari perkelahian itu terdengar sampai menara tambur dan genta vihara Qingliang. Menara tambur dan genta itu selain pengingat waktu, penanda kegiatan juga menjadi pos penjaga dan selalu ada bhiksu penjaga di setiap menara. Mata yang terdiam itu mengawasi kembali lokasi Lv Mingzhen tergeletak tidak berdaya. Tidak lama kemudian terlihat 8 bhiksu sambil membawa toya mengelilingi Lei Hao. “Emituofo, tuan yang baik, di sini adalah tempat suci Buddha, jangan melakukan kejahatan” ujar seorang bhiksu yang menjadi kepala dari 8 bhiksu itu. Salah seorang bhiksu mendekati gadis yang sudah hampir tidak berpakaian, darah mengalir dari selangkangan gadis itu, bhiksu itu kemudian melepas jubahnya dan memberikan jubahnya pada gadis itu. Gadis itu mengenakan jubah tersebut sambil berlari mendekati rombongan bhiksu itu. Pancaran sinar matanya penuh ketakutan dan kepedihan, terlihat air mata menetes dan tidak sanggup berbicara karena ketakutan melanda dirinya.

 

Lei Hao melihat 8 bhiksu itu dan mulai menyiapkan dirinya menghadapi pertarungan berikutnya, tangannya yang kesemutan dan dadanya yang sesak sudah hilang. “Serikat Teratai Merah tidak takut terhadap kalian keledai botak yang tidak berguna dan menjadi sampah masyarakat” suara Lei Hao menggelegar, ia pikir dengan menyebut serikatnya bisa menakuti para bhiksu itu. “Emituofo, tuan yang baik, kami bhiksu vihara Qingliang tidak memiliki perkara dengan serikat anda, mengapa anda melakukan kejahatan di sekitar tempat kami ini?” ujar bhiksu pemimpin sambil matanya menyapu sekeliling dan ia kaget melihat ada mayat gadis cilik yang robek terbelah dua. Dadanya merasa sesak dan ia menarik nafas untuk menenangkan diri.”Tuankah yang membunuh dengan kejam gadis itu ?” tanyanya lagi. Lei Hao sudah kepalang dan ia berpikir menggunakan cara menggertak saja semoga bisa membuat para bhiksu itu keder dan mundur. “Ya saya yang membunuhnya, saya pimpinan 72 disha tidak takut pada kalian, lebih baik kalian pergi sebelum saya bantai semuanya”, gertaknya. “Tuan yang baik, pinsheng ( bhiksu miskin ) Shi Kongneng 釋空能 tidak akan pergi sebelum tuan mempertanggungjawabkan perbuatan tuan ini pada fangzhang ( pimpinan vihara )” kata bhiksu itu. Bhiksu itu melanjutkan,” Mau 72 disha atau iblis darimanapun, saya tidak takut.” Lei Hao semakin emosi melihat bhiksu itu tidak takut dan kelihatannya menantang dirinya, ia kemudian berpikir hantam sekali pimpinannya biar semua mundur. Ia diam2 mengumpulkan qi dan mengeluarkan jurusnya menyerang Kongneng. Kongneng melihat serangan itu, ia menangkisnya dengan toya. Kongneng bukan bhiksu kelas rendah, ia salah seorang bhiksu pesilat pengawal vihara dan menguasai jurus toya Wulang Bagua yang diwariskan oleh Yang Wulang, anak dari jendral Yang Ye dinasti Song. Sebelum Yang Wulang datang ke vihara Qingliang, jurus toya andalan vihara Qingliang adalah jurus toya Bagua, Yang Wulang menggabungkannya dengan jurus tombak keluarga Yang. Jurus toya itu sudah tentu bukan jurus toya yang sembarangan, gabungan dari ilmu toya Bagua dan ilmu tombak keluarga Yang karya Yang Wulang menggentarkan dunia persilatan, tidak ada yang berani memandang rendah ilmu toya itu. Tapi Shi Kongneng walau menguasai jurus toya yang hebat, ia kalah qi dari Lei Hao. Saat toya menyambut serangan qi dari pukulan Lei Hao, toyanya bergetar dan terdorong. Lei Hao melihat celah itu kemudian tangannya membentuk jari dan mengarah titik tiantu 天突 di bawah lehernya, Kongneng mau tidak mau memaksakan diri menarik toyanya menjaga lehernya itu, ia tidak mungkin mundur karena jarak serangan sudah dekat. Brakkkkkkkk toyanya patah dan jari Lei Hao mengenai titik itu, Kongneng terhuyung ke belakang, ia tidak bisa bernafas karena titik tiantu sudah terkunci oleh qi Lei Hao. “Shi xiong” teriakan dari 7 orang itu menghampiri Kongneng. Lei Hao melihat itu ia melancarkan pukulan beruntun kepada 7 bhiksu itu dan semua terkapar tidak berdaya. Lv Mingzhen melihat kejadian itu, ia mencoba menggerakkan badan tapi apa daya ia tidak bisa bergerak, rasa sakit masih menyelimuti tubuhnya, ia bisa menahan sakit tubuh tapi sakit hatinya karena tidak bisa bergerak jauh lebih menyakiti dirinya. “Mati aku” pikir Lv Mingzhen, sementara gadis itu makin ketakutan melihat 9 orang yang sudah terluka dan ia pilu melihat adiknya terkoyak.

 

Lei Hao memang jagoan ulung dan pantas menjadi ketua dari 72 disha, ia membuktikan kemampuannya sekali lagi dengan mengalahkan Shi Kongneng yang bhiksu pesilat unggul dari Qingliangsi dengan sekali gebrak. Lei Hao berpikir panjang juga, ia hendak kabur sebelum para jagoan dari Qingliangsi mendatanginya. Seorang Lei Hao sejago apapun tidak mungkin bisa menghadapi ratusan jagoan dari Qingliangsi, itu namanya mencari mati. Tapi ia tidak berani kabur, ia datang ke Qingliangsi dengan satu tujuan yang diperintahkan ketuanya. Ia menghampiri Shi Kongneng dan menetralisir qi yang mengunci titik tiantu itu, “Hahh hahaaaaaaaaaaaaa” Shi Kongneng menarik nafas, ia tahu anggota Honglian jiao terkenal kejam tidak mungkin mau membebaskan totokan itu, hatinya berpikir apakah siksaan yang akan ditimpakan pada dirinya ? Atau hendak mempermalukan dirinya ? Menguliti hidup2 ?

Lei Hao seolah bisa membaca pikiran Kongneng, tersenyum yang terlihat dipaksakan. “Shifu, saya tidak mau menyiksa shifu, saya hanya ingin bertanya setelah anda jawab baru saya lepaskan semua orang disini”. Kongneng diam membisu karena perkataan Lei Hao itu sungguh tidak sesuai dengan apa yang ia dengar selama ini mengenai Honglian jiao. “Apakah vihara Qingliang ini menerima tamu dan tamu itu membawa kitab Taixuan untuk fangzhang anda ?” tanya Lei Hao. Shi Kongneng menggelengkan kepala, Lei Hao dari bertanya lembut menjadi meledak amarahnya, ia kemudian menyeret gadis itu dan menarik jubah yang menutupi gadis itu.”Kamu keledai gundul yang tidak tahu mati, jawab atau kuperkosa gadis ini di depan kalian ?” teriak Lei Hao, “Atau kupaksa kalian untuk mencicipi tubuh molek ini, biar kamu semua melanggar vinaya dan bersalah seumur hidup” ancam Lei Hao. Kongneng yang memang tidak tahu jawaban untuk Lei Hao menjawab,”zui guo ( dosa ) , tuan jangan menyiksa gadis itu, berbelas kasihlah dan sesungguhnya saya tidak tahu dan memang tidak ada orang yang membawa kitab Taixuan ke vihara kami.”

 

Gadis itu menggigil ketakutan, ia sudah merasakan kekejaman Lei Hao yang memperkosanya dengan sadis, luka-luka lebam ditubuhnya masih terasa dan perih di selangkangan melekat, rasa takutnya meluap2, hatinya sudah remu redam akibat perlakuan Lei Hao. Kini ia hanya bisa memohon kepada Wenshu pusa yang selalu ia sembahyangi setiap hari di rumahnya memohon agar ia bisa selamat. Lei Hao ternyata tidak mendatangi dirinya tapi ia melangkah mendekati seorang bhiksu yang terkapar, kakinya menendang kepala bhiksu itu prakkkkkkkkkk kepala bhiksu itu pecah. Mata yang mengawasi kejadian itu terlihat memancar hawa amarah melihat kekejaman Lei Hao, mata itu tidak bergerak saat gadis cilik dirobek, Lv Mingzhen terkapar tidak berdaya, seolah2 mata itu adalah mata yang tidak perduli kekejaman didepannya, tapi sekarang hawa amarah terpancar dan menusuk tajam. Lei Hao sejak awal tidak menyadari adanya mata yang mengawasi itu tersadar ada seseorang yang mengawasi dan mungkin sejak lama sudah ada mengawasi dirinya. Tak terasa keringat dingin menetes di pelipisnya, keringat dingin keluar karena ia takut mata itu adalah mata dari salah satu anggota Honglian jiao dan ia tidak melaksanakan perintah ketuanya malah bersenang2. “Tenang Lei Hao tenang”, kata2 itu terbesit dalam benaknya, “Belum tentu utusan dari ketua” pikirnya lagi. Ia pun membalikkan tubuhnya dan berteriak,”Siapa disitu ? Kalau jantan keluar tampilkan wajahmu!!!!” teriak Lei Hao. Mata itu sudah tahu kehadirannya diketahui akhirnya meloncat keluar, wajah tampan dan berkharisma, dari wajahnya diperkirakan umurnya 30an tahun itu kemudian menghampiri Lv Mingzhen dan menotok titik dachui dibelakang leher dan kemudian menotok titik sanyinjiao di kaki Lv Mingzhen , totokan itu mengurangi rasa nyeri Lv Mingzhen dan ia sudah mulai bisa menggerakkan jari tangannya. Lei Hao merasa terhina, pria itu seolah2 tidak mendengar kata2nya, rasa sombong memang menjadi salah satu sifat Lei Hao selain kejamnya itu. Ia melancarkan serangan ke punggung pria itu,sebelum serangan sampai , pria itu berbalik dengan cepat kemudian melancarkan serangan. Lei Hao terkejut karena cepatnya refleks pria itu dan lebih terkejut lagi ia mengenali jurus yang dilancarkan, jurus “Hou Yi memanah 9 matahari” yang serangannya diarahkan pada titik2 berbahaya ( yintang, tiantu, 2ruzhong, tanzhong, renzhong, guanyuan,  2 burong )secara serentak dengan mengeluarkan qi dari jari pedang dan serangan kiri kanan atas tengah bawah itu dilancarkan dengan kecepatan tinggi. Lei Hao tahu jurus ini amat berbahaya dan ia pernah menjadi korbannya, cara terbaik adalah menghindari dengan menjatuhkan diri ketanah sambil berguling2, dirinya juga berharap serangan susulan tidak dilancarkan. Harapannya terkabul, pria itu tidak melancarkan serangan ke dua. Lei Hao berdiri dan dengan amat rendah hati ia bertanya,” Ksatria siapakah nama engkau ?”. Pria itu tidak menjawab pertanyaan Lei Hao, ia menghampiri gadis itu dan memberikan qi di titik mingmen gadis itu, gadis itu merasa ada pancaran hawa sejuk mengaliri sekujur tubuhnya, rasa sakitnya berkurang banyak tapi pilu dihati tidak bisa hilang oleh qi yang disalurkan.

 

Lei Hao yang biasanya sombong dan memandang rendah lawan, kali ini ia tidak berani gegabah. Ia tahu orang itu memiliki ilmu jauh di atas dirinya, bahkan tidak kalah dengan ketuanya. Rasa bingung melanda dirinya, jika orang itu anggota serikat Teratai Merah tidak mungkin mengobati orang lain. “Apakah orang itu anggota baru Teratai Merah dan tidak tahu wajahku ?” Lei Hao bertanya dalam hati. Hanya ada satu cara pikir Lei Hao, gunakan kode rahasia. “Bunga teratai berwarna-warni memenuhi dunia” sambil berkata demikian Lei Hao menyorongkan telapak tangan kanannya menekuk jari telunjuk dan jempolnya. Pria itu berbalik dan sorot matanya yang tajam membuat Lei Hao tidak berani memandang mata pria itu, pria itu membentak Lei Hao,” Kau masih berani bertingkah ? Tidak takut aku serang dengan jurus Kuafu mengejar matahari 誇父追日? “. Lei Hao merasa sukmanya lepas dari raganya, ia tahu itu adalah salah satu jurus andalan ketuanya, ia merendah karena jurus “Hou Yi memahan 9 matahari” juga salah satu jurus ketuanya. Dulu  ia ditaklukkan oleh ketua serikat Teratai Merah oleh jurus “Houyi memanah Sembilan matahari” dan terjatuh dalam satu serangan. Hatinya bergidik mengingat kekalahannya dan membayangi dirinya hingga detik ini, serangan yang ia terima saat bergebrak dengan ketuanya. Ia jadi bingung siapa pria itu, kawan atau lawan ? Mau apa ke vihara Qingliang ?    “Sudah aku ampuni nyawa anjingmu, bukannya lekas enyah ?” teriakan berhawa amarah itu menggelegar membuat Lei Hao terkejut. “Kau lebih baik enyah sebelum aku berubah pikiran” teriak pria itu sambil menggerakan tangan dan kakinya. Lei Hao melihat gerakan itu, ia langsung melejit melarikan diri, gerakan itu adalah gerakan pembuka jurus “Kuafu Mengejar matahari”, ia melihat ketuanya menggunakan jurus ini saat menangkap Han Shantong.

Pria itu tidak mengejar Lei Hao, ia lebih mengutamakan menolong yang terluka. Saat mereka saling menolong juga mereka saling berkenalan. Pria itu bernama  Xu Zhengliang徐正亮, berasal dari gunung Wuyi 武夷山 di daerah minnan 閩南 yang jaraknya ribuan li dengan gunung Wutai di Shanxi山西. Xu Zhengliang orang yang tidak banyak bicara dan saat Shi Kongneng bertanya alirannya, dijawab oleh Xu Zhengliang ,”Tidak memiliki aliran dan perguruan.” Gadis yang menjadi korban kekejian Lei Hao bernama Wang Chunxiang 王春香, umurnya 15 tahun, ayahnya adalah petani di kaki gunung Wutai. Lv mingzhen umurnya 20 tahun, diperintahkan oleh gurunya turun gunung untuk berkelana di duniapersilatan dan tugas pertama adalah ke vihara Qingliang untuk menyerahkan kitab Taixuan kepada fangzhang Shi Yuantong 釋圓通. Akhirnya mereka tahu yang disasar oleh Lei Hao sebenarnya Lv Mingzhen. SEdangkan Xu Zhengliang ke gunung Wutai untuk bertemu dengan Shi Xuezhen 學真sesepuh vihara Qingliang yang sudah mengurung diri 閉關, tapi hanya itu yang ia katakan.

 

Setelah 7 bhiksu itu pulih, mereka menggali kuburan untuk adik Wang Chunxiang dan membacakan sutra agar arwahnya bisa tenang dan terlahir di alam sukkhavati. Wang Chunxiang menangis di kuburan adiknya. Dari mulutnya tergambarkan betapa dirinya merasa ternoda dan hendak bunuh diri dengan berlari menabrakkan diri ke pohon untuk menghapus noda itu. Lv Mingzhen sigap menangkap Wang dan Kongneng menyarankan untuk ke vihara Qingliang. Wang Chunxiang meronta terus sehingga Xu Zhengliang menotok tubuhnya. Mereka semua berbondong2 menuju vihara Qingliang  termasuk Wang Chunxiang  yang dibopong oleh Lv Mingzhen dan beberapa bhiksu menggotong bhiksu yang tewas di tangan Lei Hao.

Vihara Qingliang adalah salah satu vihara tua, didirikan di masa pemerintahan kaisar Xiaowendi 孝文帝 dinasti Wei utara (  400an masehi ) menjadikannya sebagai vihara tertua di gunung Wutai bangunannya amat indah dan memiliki aura sakral.

 

Lv sejak bayi diasuh oleh Mo Yueding, tidak pernah keluar melihat dunia, perjalanannya kali ini membuatnya senang dan bahagia. Sambil menunggu Yuantong fangzhang yang mengobati Wang Chunxiang, ia berkeliling menikmati kemegahan dan keindahan vihara Qingliang yang memukau dirinya, dibanding dengan tempatnya tinggal sungguh berbeda. Tempat ia tinggal tidaklah mewah seperti vihara itu. Xu Zhengliang duduk di ruang tamu sambil menunggu ijin fangzhang untuk bisa menemui sesepuh yang sudah menutup diri, ia tidak banyak bicara membuat Shi Kongneng yang menemaninya juga turut membisu.

Jika Lv Mingzhen menikmati seni arsitektur vihara, Xu Zhengliang diam membisu, Wang Chunxiang menangis terus menerus saat diobati oleh Yuantong fangzhang. Wang Chunxiang bingung akan masa depannya,  Yuantong fangzhang menghibur Wang, Yuantong juga menyadari perkosaan itu menghancurkan masa depan gadis itu tapi itu sudah terjadi. Tidaklah mudah menghibur korban perkosaan, semakin dihibur hati Wang Chunxiang semakin hancur. “Karma buruk apa yang ku perbuat sehingga mengalami perkosaan?” pikiran ini melintas terus menerus, “Bagaimana aku nantinya ?” “Adakah pria yang menerima diriku yang telah ternoda ini ?”. Walau Wang Chunxiang berumur 15 tahun, tapi ia tahu aib itu akan melekat pada dirinya seumur hidup. Apalagi umur gadis menikah mayoritas umur 15 tahun hingga 21 tahun, yang selalu ditekankan oleh masyarakat adalah kesucian. Tidak perduli kesucian itu direnggut dengan cara kasar maupun halus. Gadis yang sudah tidak suci itu dianggap gadis yang tercemar tidak bisa menjaga harga dirinya. Menampung Wang Chunxiang di vihara Qingliang juga tidak mungkin karena vihara Qingliang isinya para bhiksu tidak ada bhiksuni. Yuantong fangzhang memutuskan untuk meminta ketua vihara Qifo 七佛寺 juga di gunung Wutai agar mau menerima dan merawat Wang Chunxiang, tapi sementara belum mendapatkan persetujuan, Wang Chunxiang tinggal sementara di vihara Qingliang.

 

Setelah selesai mengobati Wang chunxiang, bhiksu Yuantong meminta satu samanera memanggil Lv Mingzhen yang sedang keluyuran di luar untuk menemuinya di ruang tamu. Bhiksu Yuantong kemudian berjalan menuju ruang tamu,  Xu Zhengliang melihat fangzhang datang, ia langsung berdiri memberikan anjali yang kemudian dibalas oleh Yuantong. Saat itu juga Lv Mingzhen masuk ruangan dan duduk bersama2. Shi Kongneng menceritakan apa yang telah terjadi pada Yuantong, walau Yuantong sudah mengetahui kronologisnya, tapi Kongneng tetap berkewajiban menceritakan apa yang telah terjadi. “Emituofo, apa tujuan ketua Teratai Merah dengan kitab Taixuan ? ” hela Yuantong. Lv Mingzhen teringat tugasnya ke vihara Qingliang adalah menyerahkan kitab Taixuan ke ketua vihara Qingliang. “Dashi, saya murid penutup dari Mo Yueding zhenren Mo shifu ditugaskan menyerahkan kitab Taixuan pada dashi” ujar Lei sambil merogoh kantung lengan bajunya. “Tuan,  bagaimana sesepuh Mo ? Sehat ?” tanya Yuantong. “Beliah amat sehat dashi” jawab Lv Miingzhen smbil menyerahkan buku Taixuan kepada Yuantong yang menerimanya sambil menghela nafas, ”Kitab ini sudah memakan korban, entah bencana apa yang akan terjadi nantinya.” Lv Mingzhen  dan Kongneng tidak tahu apa itu kitab Taixuan, tiba2 Xu Zhengliang bangkit berdiri,” Maaf jika saya lancang, kitab Taixuan adalah mahakarya dari sesepuh Taoist Yang Xiong. Isinya membahas perubahan alam dan kitab yang mebahas masalah alam.” “Benar”jawab Yuantong yang kemudian melanjutkan,” Kitab ini bukanlah kitab rahasia dan siapapun bisa dengan mudah mendapatkannya terutama yang mempelajari ilmu Yi易學.”

 

Lv Mingzhen mendengar itu, ia teringat pesan gurunya agar Yuantong membaca dengan teliti isinya karena kitab Taixuan yang dimiliki gurunya bukan seperti kitab Taixuan pada umumnya dan perlu disimpan dengan hati2. Dan itu disampaikan tidak boleh di depan umum, ia kemudian menghampiri Yuantong dan meminta ijin untuk membisikinya. Yuantong setuju, saat mendengar bisikan Lv Mingzhen, ia berpikir Mo Yueding adalah seorang yang dihormati, tidak mungkin memberikan kitab yang umum pada dirinya, iapun akan membacanya nanti setelah semua urusan yang terjadi hari itu telah diselesaikan. Yuantong mengangguk menandakan setuju akan perkataan Mo Yueding yang disampaikan melalui Lv Mingzhen. Tinggal satu urusan lagi, Xu Zhengliang ingin bertemu dengan Xue Zhen, kakek guru Yuan Tong itu sendiri yang sudah menutup diri.

Yuantong beranjali pada Xu Zhengliang,”Tuan, Kongneng tadi menuturkan bahwa tuan Xu ingin bertemu dengan sesepuh kami yang sudah menutup diri.” Xu membalas anjali,” Benar fangzhang, saya hanya ingin memberikan sebuah ukiran giok pada beliau.” Yuantong berpikir,tidak ada salahnya memberikan giok pada sesepuhnya, apalagi dalam penglihatannya, Xu Zhengliang bukanlah orang jahat.”Baik tuan”jawab Yuantong,”Apa tuan ingin memberinya langsung atau melalui saya ?” tanya Yuantong.”Fangzhang boleh memberikannya,”jawab Xu Zhengliang sambil melepaskan giok yang melingkar di lehernya. Yuantong menerima giok itu dan mengamati secara seksama, giok itu adalah giok berupa Maitreya yang dibelah. “Tuan Xu, giok ini akan kuberikan pada beliau besok” janji Yuantong

Karena hari sudah menjelang senja, Yuantong meminta mereka menginap. Kemudian memanggil Kongxin, murid tertua yang menjadi ketua bhiksu pesilat. “Kongxin, tadi sekte Teratai Merah mengirim ketua departemennya untuk mengawasi vihara kita dan menyebut2 kitab Taixuan”. “Fangzhang, saya mengerti dan tahu apa yang harus saya lakukan” jawab Kongxin singkat. Kongxin memperkuat penjagaan di menara Genta dan Tambur juga meningkatkan ronda sekeliling vihara dan memperluas perimeter patroli hingga keluar wilayah vihara Qingliang.

Ardian Cangianto

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghua | Facebook Group Budaya Tionghoa |

 

Last modified onWednesday, 30 January 2013 09:48
Rate this item
(2 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/2606-ratus-teratai-menyebar-memenuhi-dunia-%E7%99%BE%E8%93%AE%E5%B8%83%E6%BB%BF%E5%A4%A9-1

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto