A+ A A-

Resensi Buku : Thunder Out Of China

  • Written by  HZW
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Theodore Harold White 白修德 seorang Yahudi , pemenang pulitzer dan jurnalis Times di masa perang terutama dimasa Sino-Japanese War II di Tiongkok. Karyanya bersama Annalee Jacoby  yang berjudul "Thunder Out of China" ini dapat memberikan gambaran mengenai situasi Tiongkok pada masa itu dan juga teater perang lainnya seperti di Burma.

 

ARTIKEL TERKAIT :

{module [201]}

 
Thunder Out Of China

Theodore White
Annalee Jacoby
1946

 

Drama menyerahnya Jepang di kapal USS Missouri adalah anti-klimaks dimana White juga hadir sebagai salah satu saksi . Bagi White epilog perang besar ini ditutup oleh seremoni primitif  untuk sebuah perdamaian sementara dimana perang dalam wujud baru akan datang menjelang seperti Perang Dingin.

Di Asia ada lebih dari satu miliar manusia yang lelah oleh carut marut peperangan , oleh kemiskinan , oleh belenggu imperialisme . Di India , manusia hidup dibawah usia harapan hidup 27 tahun. Di Tiongkok setengah rakyatnya mati sebelum mencapai usia 30an. Disekujur benua Asia dipenuhi kelaparan dan kekerasan.

Di Shanghai mengumpulkan bangkai p-ara buruh di pintu gerbang pabrik menjadi sebuah rutinitas . Mereka merupakan korban dari pemukulan , cambukan , penyiksaan dan penghinaan oleh kekuasaan.

Banyak yang mempercayai keberhasilan Jepang adalah buah dari restorasi dan transisi yang sukses mengantarkan Jepang ke dunia modern dan sekaligus mengantarkan Tiongkok sebagai pasien peradaban sebagai "Si Sakit Dari Timur". White berpandangan bahwa Restorasi di Jepang sendiri gagal dalam rentang lima belas tahun setelah kedatangan Komodor Perry ke Teluk Tokyo.

Energi dibalik struktur Kekaisaran Jepang adalah masyarakat yang tidak bisa memecahkan permasalahan mereka sendiri selain dengan sikap agresif menentang seluruh dunia. Agresi yang melahirkan kiamat disana-sini . Dengan mengalahkan Jepang , White berpandangan bahwa peperangan belum berakhir. Kekuatan revolusi yang sama dan salah arah seperti di Jepang masih beroperasi di wilayah Asia lainnya.

Selain Jendral Joseph Stillwel , tidak ada satupun komandan di kubu Sekutu yang memahami permasalahan fundamental dalam peperangan di Timur Jauh. Stilwel tidak punya ideologi tetapi mengerti perdamaian tergantung dari bagaimana masyarakat dapat terbebas dari belenggu feodalisme.

Bagi White , bukunya ini merupakan sejarah parsial dalam Sino-Japanese War II dan hanya bangsa Tionghoa sendiri yang dapat menulis sejarah sesungguhnya. White menyorot tragedi kepemimpinan Chiang Kai-shek yang salah memahami perang sebagaimana Jepang dan Sekutu. 

Chiang punya segalanya baik dukungan negara-negara Sekutu , dukungan rakyat pada awalnya. Chiang tidak hanya gagal untuk menang melawan Jepang tetapi juga gagal mempertahankan kekuasaannya. Musuh bebuyutannya , kaum Komunis tumbuh dari sebuah pasukan yang hanya berjumlah 85 ribu menjadi satu juta pasukan , dari membawahi 1.5 juta kaum tani menjadi 90 juta kaum tani.  Kubu Komunis tidak menggunakan sihir sedikitpun . Mereka memahami apa yang dibutuhkan rakyat .

Bencana Kelaparan Henan

Dari sekian banyak isue yang dibahas dalam buku ini , bencana kelaparan di Henan (Chapter 11) menjadi isue yang paling menarik sekaligus muram dan memilukan. Di bulan Februari 1943 , Ta Kung Pao , sebuah suratkabar independen di Chungking mempublikasi penderitaan rakyat Henan dalam bencana kelaparan paling menyedihkan dalam sejarah Tiongkok . Pemerintah Chiang malah menekan Ta Kung Pao. Sebuah aksi yang dianggap barbar dalam sudut pandang jurnalis asing.

White dengan berani memutuskan untuk ke Henan untuk melihat bencana kelaparan dengan mata dan kepalanya sendiri walau menghadapi resiko besar di daerah konflik dan bencana. Dalam perjalanan , Theodore White mulai melihat pemandangan yang tidak sedap dipandang. 

Kaum tani berkerumun di stasiun kereta api menunggu keberangkatan yang akan mengantarkan mereka ke daerah Barat dan tentunya ...bahan makanan. Iklim begitu dingin membeku . Kaum tani datang dengan tenaga yang tersisa , dengan kaki , dengan gerobak . Bau datang menyengat hidung dari saliva yang mengering , air kencing , tinja. Bayi-bayi dibungkus oleh selendang yang kotor.  Para wanita tua tampil mengenaskan dengan kaki terikat , tersandung dan jatuh tanpa ada yang mempedulikan. Pria muda berjalan lebih cepat dengan memanggul harta benda yang tersisa. Yang lainnya seperti pejalan mimpi dalam mata hampir terpejam .

Theodore White akhirnya bertemu dengan pastur Thomas Megan di Loyang yang memberikan makanan hangat bagi White. Tujuan White berikutnya adalah kota Chengchow dengan tiga hari perjalanan dengan truk dan kuda bergantian. White melihat dimasa kelaparan dashyat ini masih ada restaurant yang buka dan bisa menyediakan makanan bagi siapapun yang memiliki uang.

White menyantap makanan disebuah restoran tanpa nafsu karena disekitar mereka begitu banyak orang kelaparan. Ketika berjalan di kota , White diikuti seorang anak yang meratap meminta belas kasihan. White biasa menatap anak kecil Tionghoa yang sehat di kota besar dengan kulit dan rambut hitam yang mengkilat dan mata yang menyala . Kali ini dia melihat anak-anak kecil Tionghoa yang mengkerut seperti burung gagak. Malnutrisi membuat mereka mengering , kelaparan membentuk perut mereka . Suara riang khas anak kecil berubah menjadi suara putus asa meminta siapapun yang punya sedikit belas kasihan untuk memberikan makanan.

Di jalan juga begitu banyak bangkai yang tergeletak begitu saja. Seorang gadis cantik berusia sekitar 17 tahun tergeletak tak bernyawa dengan mata mendelik penasaran . Anjing-anjing menggali untuk bangkai manusia. Rintik-rintik debu yang berterbangan tergantikan oleh salju yang jatuh.

Terlepas dari peperangan antara Jepang dan Tiongkok tampak jelas penguasa kota Chengchow adalah sang Maut dimana kelaparan begitu akut disana. Sebelum perang kota ini punya 120 ribu jiwa dan sekarang tinggal 40 ribu jiwa. Kota ini juga sudah mencicipi bombardir Jepang

Pihak pemerintah merasa bahwa hujan akan datang dan memberikan makanan yang cukup bagi rakyat . Nyatanya hujan tetap tidak kunjung datang di musim semi dan musim berikutnya rakyat sudah krisis persediaan makanan.  Ini hanyalah salah satu gambaran neraka hidup yang diliput oleh White. Gambaran lain bisa didapat dalam film terbaru Feng Xiaogang yang berjudul "Back To 1942"(2012)


***

Secara keseluruhan White dan Jacoby dengan Thunder Out of China merupakan buah liputan sebagai jurnalis Times semasa Sino-Japanese War II (1937-1945) dan mencakup  garis besar babakan terpenting dalam perjalanan sejarah Tiongkok . Dimulai dari kebangkitan Kuomintang ,  kegigihan komunis yang melakukan Long March sampai ke Yan'an , pandangan-pandangan Joseph Stilwell , pertempuran antara Komunis-Nasionalis dan Jepang . Bagaimana transisi dari pemerintahan Kuomintang yang semula memiliki segalanya , sampai diambil alih oleh Komunis pasca Perang Dunia II. Buku ini bisa memberikan perspektif lain dari White dan Jacoby sebagai orang asing dari kemungkinan bias yang muncul dari kedua belah pihak , Nasionalis versus Komunis.

White menyorot korupsi dan konservatisme dalam tubuh pemerintahan KMT dan juga tidak kompetennya Amerika Serikat yang memunculkan perang baru setelah Perang Dunia II usai , yaitu  Perang Saudara (1945-1949) . Karya White & Jacobi ini juga menjadi alternatif lain dari karya Edgar Snow yang lebih populer

HZW

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghua | Facebook Group Budaya Tionghoa

 

Last modified onMonday, 21 January 2013 19:55
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/2641-resensi-buku--thunder-out-of-china

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto