A+ A A-

Masalah Tabu Menikah Antara Pria Konghu dan Wanita Hakka

  • Written by  Yu Yongde
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Seorang rekan forum Budaya Tionghoa bertanya kepada saya dan bertanya pada saya apa cerita ini benar?

Kenapa  bahwa pria KONGHU dan wanita KHEK tidak boleh menikah . Kalau menikah maka akan terjadi malapetaka atau tidak punya keturunan kalau ada pun usaha tidak lancar karena konon ada kutukan menurut yang didengarnya. Begitu juga mengenai antara orang Hokkian dan Teochew...Member Budaya Tionghoa

 Untuk masalah Hakka - Khonghu, sebenarnya dilatari oleh perselisihan di masa lalu yang di masa sekarang masih bisa diamati. Salah satunya yah larangan menikah antara perempuan Hakka dengan lelaki Khonghu.

 

Pertanyaan

Mengapa spesifik perempuan Hakka dengan lelaki Khonghu ? .

Hal ini berhubungan dengan sistem kekeluargaan Tionghoa yang menganut garis keturunan ayah. Jadi perempuan Hakka dilarang menikah dengan lelaki Khonghu adalah supaya si perempuan tidak menjadi keluarga Khonghu. Lain ceritanya kalau perempuan Khonghu yang diambil menjadi menantu, walaupun banyak yang sentimen juga dengan menantu Khonghu, isitlah hakka "Khonghu pho" (perempuan Khonghu) hampir senantiasa selalu berhubungan dengan hal-hal negatif seperti licik, manipulatif dan sebagainya.

Latar belakang masalah ini dimulai pada masa awal dinasti Qing (Manzhu). Ketika itu para loyalis Ming di bawah pimping Zheng Cenggong (Portugis: Koxinga) menguasai pesisir tenggara (Fujian, Guangdong) dan merebut Taiwan dari tangan Belanda. Di Taiwan, Zheng mempersiapkan pasukan untuk merebut kembali Tiongkok dari tangan bangsa Man.

Sebagai antisipasi, kaisar Qing Shengzu (nianhao: Kangxi, penanggalan umum tahun 1662 - 1723) memindahkan penduduk pesisir Fujian dan Guangdong ke pedalaman sejauh 50 li dari pantai atau setara circa 30 gongli (kilometer) dimasa sekarang. Banyak penduduk lokal yang ketika itu menjadi korban pemindahan paksa ini.


Setelah perlawanan Zheng berhasil diatasi, penduduk kemudian diperbolehkan kembali ke kediaman mereka yang semula di pesisir. Namun karena banyaknya korban yang terjadi dalam pemindahan paksa ini, jumlah penduduk yang diperlukan untuk mengelola daerah pesisir menjadi berkurang banyak.

Untuk itu pemerintahan Qing kemudian memindahkan penduduk dari daerah lain, mayoritas Hakka/Kejia yang secara literal berarti keluarga "tamu", ke Fujian dan Guangdong. Pertemuan antara penduduk lokal (pinyin: Bendi, Hakka: Punti) dan imigran (Hakka) ini kemudian menanamkan bibit konflik.

Masa pemerintahan kaisar Qing Wenzhong (nianhao: Xianfeng, penanggalan umum tahun 1850 - 1861) pemberontakan Taiping meletus. Banyak orang Hakka (pemimpinnya Hong Xiuquan adalah seorang Hakka) yang ikut dalam pemberontakan ini. Pemberontakan ini bermula dari provinsi Guangxi dan kemudian menyebar di seluruh Tiongkok Selatan.

Tahun umum 1854, sebuah gerakan serikat rahasia (san he hui / triad) di Guangdong mengambil kesempatan ketika pasukan pemerintahan sibuk berperang dengan pasukan Taiping dan memberontak.

Mereka terutama menyerang daerah Foshan dan Heyuan. Kali ini, Hakka yang berada di delta sungai mutiara (zhujiang) berpihak ke pemerintah dan turut serta memadamkan pemberontakan. Pasukan triad pemberontak ini terdiri dari orang lokal (Punti) yaitu mereka yang dikenal dengan nama orang Khonghu / Guangfu.

Dalam rangka memadamkan pemberontakan, pasukan pemerintah (yang didukung Hakka) banyak menyerbu hingga ke desa-desa orang Khonghu. Hal ini kemudian menyulut konflik baru.

Sebagai pembalasan, orang-orang Khonghu kemudian menyerang pemukiman orang Hakka dan meletuslah perang Hakka - Punti. Orang Hakka yang sejak semula sudah terdesak ke wilayah perbukitan semakin terdesak karena konflik ini. Secara jumlah, orang Punti jauh mengungguli orang Hakka. Perang ini terutama bergolak di delta sungai mutiara di daerah yang sekarang disebut prefektur Jiangmen provinsi Guangdong.

Mereka yang kalah dalam perang ini kemudian dijual ke benua Amerika sebagai kuli kasar . Yang perempuan dijual ke Macau sebagai pelacur. Dalam perang ini orang Hakka di Jiangmen kalah besar dan kemudian direlokasi pemerintahan Qing ke provinsi Guangxi untuk meredam konflik.

Inilah yang kemudian menyebabkan sentimen Hakka terhadap Punti. Dan jika diperhatikan  arsitektur Hakka sejak lama beberapa arsitekturnya bersifat defensif untuk menghadapi kemungkinan konflik dengan penduduk lokal seperti bangunan Tulou dibawah ini.  



Hokkian vs Teochew

Untuk masalah Hokkian - Teochew setahu saya tidak ada masalah karena sebenarnya Teochew juga tergolong ke orang Minnan yaitu yang dikenal dengan nama orang Hokkian. Mengenai masalah hari ke-9 bulan pertama penanggalan Tionghoa, secara singkat begini ceritanya.

Ini cerita mengenai ketika bangsa Manzhu menaklukkan daerah selatan. DuoDuo, seorang pangeran Manzhu yang dikenal sebagai pembantai (seperti pembantaian Yangzhou) menyerbu ke daerah Fujian. Penduduk setempat kemudian melarikan diri dan bersembunyi di perkebunan tebu.

Sampai dengan hari ke-9 setelah tahun baru baru mereka kembali ke rumah. Karena itu keturunan mereka kemudian setiap hari ke 9 bulan pertama selalu mengadakan upacara sembahyangan dengan sepasang batang tebu sebagai wujud ucapan terima kasih kepada tebu.

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghua

 

[Foto Ilustrasi : [By Admin] Courtesy Gisling唐戈 ,English: Zhenchenglou, a rotunda tulou in Yongding county, Fujian. , 2007 ]

 

 

 

 


 

 

 

 

Last modified onWednesday, 24 July 2013 16:40
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/2679-masalah-tabu-menikah-antara-pria-konghu-dan-wanita-hakka

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto