A+ A A-

Congge dan Rembang tahun 1961.

  • Written by  Harry Alim
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net |  Ini adalah pemandangan dari tahun 1961, yang diambil dari ingatan penulis dan kenangan beberapa saudara. Tahun depan adalah tahun 2011, apakah pemandangan ini akan kembali muncul lagi ?


Pada tahun 1961, Rembang kota yang terletak di pesisir ujung timur pantai utara Jawa Tengah, menggelar satu upacara penting bagi kebanyakan orang Tionghua waktu itu. Khususnya bagi warga Tionghua yang keturunan dari mereka yang lahir atau dibesarkan di Rembang.

Artikel Terkait:

{module [201]}

Rembang seperti juga Lasem dan Tuban di Jawa Timur, agaknya telah sejak jaman dulu merupakan kota kota dimana banyak pendatang dari Tiongkok datang ke pulau Jawa. Sudah ratusan tahun yang lalu, bahkan seperti Tuban yang paling tidak sudah sejak jaman Majapahit, atau bahkan bukan tidak mungkin jauh sebelum itu. Tentu saja mendahului kota Jakarta ataupun Semarang, yang bahkan pada waktu itu belum ada. Ini karena pusat kekuasaan politik memang berada dekat dengan kota kota ini dan inilah kota pelabuhan di waktu itu.

Bukan hal aneh jika banyak keluarga Tionghua yang tersebar di Jawa Tengah, Jawa Timur ataupun bagian lain Indonesia yang bisa menatik garis keturunannya ataumempunyai leluhur atau paling tidak mempunyai salah satu pihak yang berasal dari Rembang, dan biasanya mereka pun mengidentifikasikan diri sebagai orang Rembang.


Dan agaknya cukup banyak orang Tionghua yang berada di Jawa Timur dan Jawa Tengah berasal dari propinsi Hokkian (FuJian) di Tiongkok, terutama dari daerah CiangCiu (ZhangZhou), Xiamen (Emeng atau Emui) dan QuanZhou. Bukan tidak mungkin banyak orangtua yang pernah cerita ke anaknya kalau si kakek dulu beberapa tahun sekali berlayar ke Tiongkok ke Emeng atau Emui, tetapi si anak tidak bisa tahu dimana beradanya kota ini di peta Tiongkok. Karena peta Tiongkok sekarang menyebut Emeng atau Emui dengan XiaMen.


Memang ada juga yang berasal dari Tiociu (ChaoZhou), ataupun Konghu (Guangzhou) ataupun dari HokCia maupun HingHua (PuTian), Hakka atau daerah lainnya, tetapi di Jawa Tengah dan Jawa Timur khususnya mereka pada waktu itu lebih sedikit.


Kebanyakan orang Tionghua dari Rembang ini, seperti pada umumnya orang Tionghua pada waktu itu pergi ke kelenteng untuk kegiatan spiritualnya. Ada beberapa kelenteng di bilangan Jawa Tengah dan Jawa Timur yang seakan menduduki tingkat yang lebih tinggi, yaitu kelenteng Rembang, kelenteng Tuban dan kelenteng Welahan.


Apakah mereka beragama KhongHuCu atau Tao atau Budha ? Penulis tidak ingin terlibat dalam debat tentang definisi yang mengkungkung, dan membatasi. Yang jelas memang kebanyakan Tionghua di jawa Tengah dan Jawa Timur menganggap penting tiga unsur tersebut, yang kebanyakan diwakili oleh Dewi Kwan Im,

ThianSiang Seng Bo dan KhongHuCu. Tentu saja perlu studi lebih mendalam tentang claim ini dan claim itu. Makco ThianSiangSengBo dan kongco HianThian SiangTe adalah yang sering dipuja di kelenteng dan biasanya selalu ada ruangan untuk makco Kwan Im dan atau Kwan Kong. Atau juga ada kelenteng yang makco Kwan Im yang dipuja di ruang utama. Jarang sekali ada ruang untuk KhongHuCu, tetapi KhongHuCu inilah yang agaknya tidak terlalu salah kalau dikatakan yang paling sering disebut oleh kebanyakan orangtua pada umumnya di dalam menjelaskan ke anak tentang segala sesuatu yang berkait dengan ritual orang Tionghua dan ke tionghua an itu sendiri.

Bagi seorang anak yang dilahirkan di keluarga Tionghua di Jawa Tengah dan Jawa Timur pada waktu itu sungguh bukan tidak mungkin dia mengenal tentang ke Tionghua an berasal dari serangkaian ritual, dimulai dari paypay ke orangtua pada waktu SinCia. Bisa jadi paypay justru gerakan pertama yang diperkenalkan ke anak yang baru mulai bisa mengendalikan gerakan tangan nya. Bisa jadi si anak kemudian diajari untuk menjawab owe pah atau owe mah jika dipanggil. Bisa jadi si anak melihat orang tua nya selalu tiamhio tiap malam, dan sembahyang setiap ce-it dan cap-go ke leluhurnya.


Bisa jadi ritual berikutnya yang dipelajari si anak adalah sembahyang ke abu leluhur, dan kemudian pada waktu CengBeng mengunjungi kuburan, makan Bakcang pada waktu PehCun, kemudian sembahyang Rebutan di bulan jitgwe, makan TiongCiuPia di Pekgwe dan sembahyang ronde di Tangcek.


Ritual ini akan berulang setiap tahun. Pada waktu ada ritual bisa jadi seorang kakek atau nenek, seorang paman atau bibi, seorang ayah atau ibu, atau seorang kakak baik laki laki ataupun perempuan bercerita ke mereka yang lebih muda tentang ini dan itu, tentang riwayat seorang tokoh, atau tentang pernak pernik ritual. Bisa jadi itu tcerita tentang SieDjienKwie atau KwanKong atau KhongHuCu atau KiangTjuGe. Bisa jadi itu tentang asal usul TiongTjioePia. Bisa jadi itu tentang bagaimana paypay yang benar. Sedikit demi sedikit semua itu diceritakan

dan diteruskan ke generasi yang lebih muda.

Itu adalah ritual yang berkaitan dengan hari hari besar, ritual ini dilakukan oleh semua atau kebanyakan keluarga Tionghua pada waktu itu. Diluar itu juga ada keluarga keluarga yang melakukan sembahyang CeIt dan CapGo khusus untuk memperingati orangtua atau leluhur misalnya, atau banyak juga yang seperti seorang ibu atau seorang ayah yang Tiamhio setiap malam kepada Thian untuk minta perlindungan buat keluarganya.


Disamping ritual yang diadakan di rumah dan di kuburan, yang terutama diadakan untuk memberi penghormatan kepada leluhur, setelah dipandang cukup umur seorang anak akan mulai diajak pergi ke kelenteng. Biasanya akan mulai di ajak pergi ke kelenteng yang ada dikotanya masing masing, kalau di Madiun ya kelenteng yang ada di Madiun, kalau di Bojonegoro ya ke kelenteng yang ada di Bojonegoro.


Kegiatan pergi ke kelenteng biasanya diadakan beberapa kali dalam setahun, tetapi paling tidak pada waktu sembahyang rebutan, atau pada waktu SinCia dan pada waktu shejit (ulang tahun) kelenteng itu. Atau mungkin saja pada waktu ada kepentingan khusus. Berapa kali satu keluarga pergi ke kelenteng dalam setahun dengan begitu jadi sangat bervariasi dari satu keluarga ke keluarga lainnya. Tidak ada ketentuan yang mengikat.


Sebagai tambahan bagi seorang keluarga Tionghua yang misalnya tinggal di Solo pada waktu itu, dan berasal atau keturunan dari mereka yang lahir di Rembang atau biasa menyebut diri mereka orang Rembang, mungkin dalam rentang beberapa tahun satu waktu muncul keinginan untuk pergi ke kelenteng yang ada di kota Rembang. Kembali ke kota asal. Mungkin saja itu dilakukan sembarang tahun atau bisa juga pada waktu kelenteng Rembang melakukan perayan khususnya.


Khususnya kelenteng kota Rembang mempunyai kegiatan istimewa yang diadakan setiap 10 tahun sekali. Beberapa orang Tionghua yang kebetulan keturunan orang Rembang mungkin pernah mengalami atau mendengar cerita dari orangtuanya tentang keramaian kota Rembang pada waktu kegiatan ini diadakan.


Bisa saja seorang ibu bercerita ke anaknya seperti ini, saya masih ingat pada waktu umur 5 tahun melihat keramaian di kota Rembang di tahun 1921, dan pada waktu umur 15 tahun apa saja yang dia lakukan di tahun 1931. Cerita berlanjutpada waktu sang ibu berumur 25 tahun dan sudah menggandeng beberapa anaknya yang

umur sekian tahun pada tahun 1941. Begitu juga cerita pada waktu umur 35 tahun di tahun 1951 dan 45 tahun di tahun 1961. Kegiatan itu menjadi patokan penanda waktu riwayat hidupnya. Untuk mengenang kembali perjalanan hidupnya.

Di Rembang ada 2 kelenteng, yang satu berada di pinggir laut yaitu kelenteng Tjioe Hwie Kiong dan satu lagi berada dekat dengan stasiun yaitu kelenteng Hok Tek Tjeng Sin. Setiap tahun , pada saat shejit kelenteng Tjioe Hwie Kiong maka diadakan satu acara untuk merayakan, dan khususnya setiap 10 tahun sekali, diadakan satu perayaan yang lebih besar. Kegiatan ini entah dimulai dari tahun berapa, tetapi paling tidak sejak dari tahun 1921, ini berdasarkan dari cerita orang tua.


Kalau pada perayaan shejit yang biasa, maka perayaan diadakan hanya di ruang lingkup kelenteng itu saja, tetapi sebaliknya pada saat perayaan khusus yang diadakan 10 tahun sekali maka Kong Co di Hok Tek Tjeng Sin akan ditanya apakah mau berkunjung ke kelenteng Tjioe Hwie Kiong. Jika ya maka akan diadakan satu perayaan yang lebih besar untuk mengarak kong co berkunjung ke kelenteng Tjioe Hwie Kiong. Sehingga dengan demikian kegiatan perayaan jadi melibatkan dua kelenteng, satu kelenteng merayakan shejit dan kelenteng lain sebagai tamunya.


Acara itu ramai sekali, dan berlangsung beberapa hari, dengan puncak acara Kongco di arak. Inilah cerita yang mungkin pernah dituturkan oleh beberapa orangtua ke anaknya. Paling tidak perayaan itu pernah berlangsung dari tahun 1921 sd 1961. Dan ini satu cerita pemandangan perayaan itu di tahun 1961, di kelenteng Tjioe Hwi Kiong.


Beberapa keluarga orang Tionghua yang kebetulan berasal dari Rembang akan berusaha paling tidak datang sehari untuk menengok tanah leluhurnya. Ya paling tidak pada waktu puncak acara, walaupun acara itu sudah dimulai beberapa hari sebelumnya. Dengan pagelaran wayang potehi setiap hari di pelataran kelenteng, beberapa kali pertunjukan berjalan di atas bara api, permainan silat dllsb. Pada waktu seperti itu kelenteng sibuk luar biasa.


Bukan hanya di kelenteng, pada tahun 1961 kegiatan ini boleh dikata melibatkan seluruh kota Rembang. Seluruh kota Rembang sibuk luar biasa. Beberapa keluarga yang berkunjung ke Rembang mungkin ada sebagian yang pergi ke taman dan pantai Kartini. Atau bisa juga membawa anak2nya ke pasar untuk membeli dumbeg, makanan khas dari Rembang atau belanja minuman sirup kawis, atau memborong mangut, atau

mencoba makan mimi. Bisa sajai si ibu atau si ayah akan bercerita ke si anak, disini dulu dia main ini makan itu, beli ini dsbnya. Pasar pasar jadi lebih ramai dari biasa. Restoran dan toko pun juga kebanjiran tamu dadakan.

Kembali ke kelenteng, si ayah bisa ikut membantu ini dan itu, sementara si ibu pergi ke dapur membantu mereka yang bekerja disana, sementara sebagian orangtua2 yang lain sedang berbicara dengan teman2nya di halaman dalam kelenteng, bernostalgia dan sudah tentu ada juga bicara bisnis. Rupanya sudah jadi rumus umum, kalau satu keluarga tidak bisa sumbang materi ya sumbang tenaga.. Anak anak dibiarkan bermain main sendiri saja di halaman. Anak yang lebih besar sudah berani bermain lebih jauh, bahkan bisa sampai lewat ke taman Kartini menyusuri pantai Kalau yang kecil ya berlarian di halaman luar kelenteng saja.


Di halaman luar kelenteng, juga banyak yang istimewa. Banyak pedagang dadakan berjualan. Sudah tentu banyak yang menyasar ke anak anak. Pemandangan anak yang merengek minta dibelikan mainan Barongsai kecil jadi biasa. Bukan hanya barongsai kecil, juga ada liangliong kecil. Belum lagi mainan mainan lain nya

untuk anak kecil. Juga ada mainan seperti tambur kecil yang berbunyi kalau diputar putar. Atau celengan celengan untuk menyimpan koin berbetuk binatang binatang seperti ayam atau katak yang terbuat dari terakota.

Kalau yang jual makanan, susah dihitung. Dari yang brondong jagung sampai gula kapas, dari es dawet sampai es cincau, atau makanan basah atau juga bolang baling. Tahu goreng sudah pasti ada. Belum lagi makanan seperti gulali atau gula merah yang dibentuk seperti tokoh wayang atau naga. Banyak anak, termasuk penulis, yang senang melihat itu sebagai mainan dan baru sadar bahwa itu makanan dan cepat2 memakannya setelah patah dan jatuh sebagian.


Kalau sudah lelah berlarian, dan jika mendengar suara gembreng gembreng tanda wayang potehi di mulai, bisa duduk menonton wayang potehi kalau pas jam pertunjukan, atau pergi ke dapur kelenteng, disana ada banyak makanan kue kue basah, Atau bisa melihat acara berjalan di atas bara api atau pertunujukan lainnya. Juga ada digelar wayang kulit di halaman luar, yang main di jam tertentu saja. Ya rasanya setiap orang mendapat bagian masing2 untuk bergembira di hari itu.


Dihari esoknya acara puncak dimulai. Sepanjang jalan dimana arak arakan akan lewat sudah banyak orang menanti di pinggir jalan. Beberapa rumah sejak pagi sudah menggantung angpau tinggi tinggi tidak hanya di pintu rumah di bagian atas, bahkan ada yang memasang tiang dan menggantung nya tinggi tinggi.


Dan itu dengarlah suara gembreng gembreng, arak2an pun tiba. Ada beberapa barongsai, yang seperti kilin kilin yang lucu mereka satu persatu bermain main menirukan gerakan gerakan seperti kilin2 yang lucu sambil berjalan ke depan mengambil angpau angpau yang dipajang di setiap rumah. Oh lihatlah bagaimana  cara mereka mengambil angpau yang dipasang di galah yang tinggi. Pemain depan di usung temannya yang belakang di atas pundak dan huup loncat ke atas menyambar angpau, sungguh tinggi ginkangnya. Penonton ber sorak sorak. Ada berapa barongsai tadi ? Aduh lupa menghitung. Suara gembreng gembreng menjauh.


Beberapa orang datang membuka jalan, ada yang berteriak teriak meminta penonton untuk rapi dan berdiri di pinggir jalan dan mundur, Suara tetabuhan datang, ya itu datang liangliong. Seekor naga yang meliak liuk mengejar bola mutiara pusaka.


Ada anak2 kecil yang suka dengan liang liong dan sudah sejak tadi selalu mengikuti naga naga ini dengan mudah menyelip nyelip didepan barisan penonton yang membentuk pagar di sepanjang jalan.


Kemudian muncul kendaraan berhias indah dengan music yang lebih merdu. Beberapa nona dan gadis remaja atau yang baru beranjak remaja berhias dengan pakaian indah dan mewah tampaknya. Ya inilah congge congge itu. Banyak juga mungkin anak yang sudah mendengar cerita tentang congge ini jauh hari sebelum menonton dengan mata kepala nya sendiri di hari itu. Barangkali sejumlah mimpi dan sejumlah imaji sudah terbentuk di dalam hati nya. Barangkali keramaian ini sudah lama diimpikan karena cerita cerita orangtua nya.


Congge congge itu manampilkan karakter karakter dari cerita cerita klasik, seperti Sie Djin Kwie, SamKok atau PatSian jalan2 ke Tanghai atau Hong Sin atau cerita yang lainnya. Anak2 yang tergila gila cerita SunGoKong sudah pasti berlarian mengikuti float itu, dan bersorak sorak atau sedikit jail ke SunGoKong. Entah berapa kali suara ceprat cepret kamera menangkap wajah mereka congge congge yang cantik. Entah berapa float yang sudah lewat, rasanya kok nggak habis habis. Memang jumlah float, jumlah barongsai tergantung berapa banyak perusahaan yang menyumbang berusaha meramaikan perayaan ini.


Terdengar dengar orang berteriak teriak membuka jalan, ya inilah acara puncak itu, joli joli yang membawa kongco akan lewat. Bagi penonton atau mereka yang sudah dewasa atau orang tua tibalah giliran mereka untuk bergantian membantu mengangkat joli. Joli berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain. Entah berapa joli yang berangkat dari kelenteng Hoktek CengSin, lewat dan diangkat. Semua keluarga Tionghua yang datang ke Rembang berusaha mengangkat joli paling tidak sekian meter sebelum kemudian mengalihkan ke tangan orang lain.


Banyak keluarga yang mampu sudah menyiapkan tustel untuk memotret anggota keluarganya sedang menggotong joli. Anak anak harus minggir dan sedikit lincah untuk melihat dan menyingkir di tengah kerumunan mereka yang mengangkat joli. Agaknya ada satu kepala rombongan dibantu beberapa orang selalu melihat

kerumunan yang menjaga supaya arak arakan berjalan lancar dan tidak ada kecelakaan.

Arak arak an selewat Joli joli Kongco kongco adalah keluarga keluarga Tionghua asal Rembang baik yang datang dari jauh dan mereka yang masih tinggal di kota Rembang, berbondong bondong dan beramai ramai, sambil bercakap cakap, dengan teman atau saudara, mereka berjalan menuju ke kelenteng Tjioe Hwie Kiong, disana acara akan dilanjutkan.


Pada tahun 90'an di Asakusa, Tokyo, Jepang, ini adalah kelenteng SenSoJi, ini adalah kelenteng dewi Koan Im juga, dan merekapun punya juga perayaan yang sama mengarak dewi KoanIm, setiap waktu tertentu. Sama ramainya.


Setiba di kelenteng, halaman dalam dan halaman luar kelenteng Tjioe Hwie Kiong begitu penuh. Kongco kongco yang baru datang sudah disandingkan di tempat berkunjungnya. Sungguh beruntung mereka yang masih kecil, bisa menyelip di antara orang orang dewasa.


Banyak keluarga yang kemudian antri untuk mulai memasang hio, bersembahyang dan berpamitan untuk pulang. Berterimakasih ke Thian, Kong co dan makco, yang telah memberi berkah, rejeki dan kesehatan sehingga bisa datang ke Rembang dengan anak2. Meminta perlindungan supaya perjalanan pulang ke rumah akan tiba dengan

selamat. Sambil memohon supaya anak anak tumbuh sehat dan mempunyai pikiran yang terang. Dan semoga memperoleh berkah, rejeki dan kesehatan agar bisa datang lagi berkunjung di masa yang akan dattang

Banyak anak anak yang juga berpamitan dengan misanan2 yang seumur baik yang datang dari kota lainnya atau mereka yang tinggal di kota Rembang. Sambil berjanji akan bermain bersama lagi dan pergi kemana lagi jika nanti kembali ke kota Rembang.


Dalam perjalanan pulang di atas mobil, menoleh ke Barongsai kecil yang ditaruh di tempat di atas jok belakang, di atas kepala dan tidak boleh dimainkan di atas mobil, supaya tidak sobek kertasnya, melihat kerang kerang yang dikumpulkan kakak, mendengarkan cerita cerita hebat bagaimana mengumpulkan kerang di pantai yang jauh dari kelenteng, sambil melihat keluar jendela memikirkan apa yang akan dilakukan jika tahun depan datang lagi ke kota Rembang.


Mungkin oleh beberapa teman masih banyak kenangan yang bisa digali kembali dari perayaan itu. Perayaan itu terakhir yang cukup besar diadakan pada tahun 1961.


Menyambut datangnya tahun 2011, akan kah diadakan perayaan yang besar lagi ?


Salam,

Harry Alim

***

Updated (David Kwa)

Menarik sekali penuturan Mpeh/Ncek tentang Gotong Toapekong Maktjo Thian Siang Sing Bo 天上聖母媽祖迎香 di Rembang. Suatu event yang hanya terjadi setiap 10 tahun sekali, yakni di tahun Masehi yang berakhiran 1: 1961, 1971, 1981, 1991, dan terakhir 2001. Owe dengar, tahun depan perayaan ini akan diadakan seputar hari shedjiet Makco pada tanggal 23 bulan tiga (shagwik djieshadjiet 陰曆三月廿三日) imlik, bertepatan dengan Senin, 25 April 2011, hanya tanggalnya yang pasti owe belum tahu.

Untuk itu owe ijinkanlah sekadar memberi masukan, bahwa yang Mpeh/Ncek maksudkan dengan congge, nama sebenarnya adalah cng-ge 妝藝 (di Zhangzhou/Ciangciu) atau cng-koh 妝閣 (di Xiamen/Emui). Meski doeloe pada zaman Belanda katanya tjunggee pernah populer di Buitenzorg (Bogor) dan juga Batavia (Jakarta), di
Indonesia kesenian yang menampilkan tokoh-tokoh hero dalam kisah-kisah klasik Tionghoa kuno yang cukup populer di Indonesia, macam Siek nDjien Kwie, Siek Ting San, Hwan Lee Hwa, Tik nJing, Pat Sian Kwee Hay, Kwan Iem, kwan Kong, Soen Go Gong, Tie Pat Kay, See Go Tjing, dll, di atas kendaraan hias (float) kini sudah sangat langka. Yang owe ketahui masih mengadakannya adalah Manado, Sulawesi Utara, dan Semarang, Jawa Tengah, pada saat Cap Go Meh. Yang di Manado―dikenal dengan nama PIKULAN―owe cuma pernah dikirimi gambarnya oleh seorang rekan melalui facebook, belum pernah menyaksikannya dengan mata kepala sendiri. Di Singapura, kesenian ini dikenal sebagai Chingay Festival. Mungkin Mpeh/Ncek pernah menyaksikannya?

Selain itu, kelenteng dengan dewata utamanya Makco Thian Siang Sing Bo yang terletak di Jl. Diponegoro, menghadap ke laut, adalah TJOE HWIE KIONG 慈惠宮, sementara kelenteng Kongco Hok Tik Tjing Sien 福德正神公祖 yang terletak di Kampung Baru namanya HOK TIK BIO 福德廟.


Selanjutnya Tarian Naga disebut LANGLIONG 弄龍 dan Tarian Singa LANGSAI 弄獅 atau SAMSI 蟾蜍.


Demikianlah sedikit tambahan dari owe.


Kiongchiu 拱手,
DK


 

Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/290-congge-dan-rembang-tahun-1961

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto