A+ A A-

Resensi Buku : Sacred Mathematics: Japanese Temple Geometry

  • Written by  Huang Dada
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Geometry  is  like  representational painting, concerned with concrete objects that have unique properties and  exist in the real world. Fashionable artists despise representational painting, and fashionable mathematicians despise geometry (Freeman Dyson)

Budaya-Tionghoa.Net | Geometri memiliki keindahan seperti sebuah lukisan dengan objek yang konkrit dan properti yang unik , eksis dalam dunia nyata. Deret geometri tak ubahnya seperti lukisan diatas canvas , memiliki keindahan yang bisa terwujud dalam apa saja sebagaimana deret fibonaci bisa mengada dalam gulungan ombak , spiral galaksi , kuil parthenon . Bagaimana suatu pohon bambu yang patah membentuk segitiga mengilhami masyarakat kuno tentang suatu segitiga Phytagorean. Bagaimana masyarakat medieval terinspirasi dengan membuat sisi poligonal lebih banyak lagi agar bisa mendapatkan konstanta phi paling ideal

ARTIKEL TERKAIT :

{module [201]}


Judul :
Sacred Mathematics:
Japanese Temple Geometry
Penulis :
Fukugawa Hidetoshi , Tony Rothman
Penerbit :
Princeton University Press
Cetakan : 2008
Tebal : 392 hal

Setelah reunifikasi,  Jepang memulai masa damai yang panjang dibawah masa Tokugawa.  Jika kehadiran pengaruh politik Tiongkok sangat besar , tetapi tidak untuk Tokugawa. Maka kehadiran pengaruh kultural Tiongkok mengada dimanapun di Jepang. Dari berbagai bidang seperti , etika , hukum , ideologi , religi, literatur , seni dan lainnya, di masa Tokugawa sangat berhutang besar pada model Tiongkok. Karya klasik Tiongkok menjadi bacaan wajib kaum elite di Jepang. Masyarakat Edo di masa Tokugawa juga menerima trend kontemporer Tiongkok yang dibawa masuk dari Tiongkok.[Zachman,  2009]

Salah satu pengaruh besar Tiongkok di Jepang adalah bidang matematika (Chapter II) dalam buku ini.Dalam pembukaan , penulis buku mengkutip Zhou bi suan jing.

I have heard that the Grand Prefect  is Versed in the art of numbers, so let  me ask you: In times of old  Fu- Hsi
measured the heavens and regulated  the calendar. But there are no steps  by which one may ascend the heavens, and the earth is not measurable  with a  foot- rule. I should like to ask,  what was the origin of these numbers?
—From the Zhou bi suan jing

Untuk memahami perkembangan matematika di Jepang tidak bisa mengabaikan pengaruh karya-karya klasik Tiongkok. (Chapter 2: The Chinese Foundation of Japanese Mathematics ). Beberapa diantaranya adalah:

  1. Zhou bi suan jing, (The Arithmetical Classic of the Gnomon and the Circular Path of Heaven)
  2. Jiu zhan Suanshu (Nine Chapters on the Mathematical Art)
  3. Zhu Shi Jie , Suan Xue Qimeng (1229)
  4. Cheng Dawei, Suafa Tong Zong(1592)

Karya klasik matematika Tiongkok yang pertama dikupas adalah Zhou bi suan jing, (The Arithmetical Classic of the Gnomon and the Circular Path of Heaven). Dalam dialog antara Zhou Kong dan Shang Kao mengenai diskusi mengenai segitiga 3-4-5 , dalam buku ini terkandung salah satu teorema seperti halnya teorema Phytagoras. Bagian dari Zhou bi ini diduga berasal dari abad 6 SM. Hampir sejaman dengan dengan masa dimana Phytagoras menemukan teorema ini.

Karya klasik lain adalah Jiu zhan Suanshu (Nine Chapters on the Mathematical Art). Karya klasik ini mengandung 9 bab dan 246 soal yang mencakup , surveying , engineering , taxation , deret aritmetika . Bab 8 menyebutkan penggunaan bilangan negatif. Bab terakhir , adalah Gou Gu , yang berisikan persoalan segitiga.

Haji Doun mempublikasi karya klasik Zhu Shi Jie , Suan Xue Qimeng (1229) ke dalam bahasa Jepang (1658). Salah satu pembahasannya adalah seputar  bilangan phi , π = 3. Liu Hsin mulai menggunakan nilai phi = 3.154 di awal Masehi. Zhu Shijie juga memberikan catatan kaki untuk Liu Hui yang di tahun 268 M menggunakan poligon 192 sisi untuk mendapatkan nilai phi = 3.14. Zhu Chongzhi (429-500) dan anaknya , Zu Geng meningkatkan ketelitian nilai phi menjadi 3.1415926 dan 3.1415927.

Cheng Dawei menjadi tokoh matematika yang paling berpengaruh di Tiongkok dan Jepang dengan karya klasiknya , Suafa Tong Zong(1592). Cheng (1533-1606)  adalah seorang pejabat lokal yang ingin mendalami masalah abacus . Problem 4-4 di bab 6  dalam bukunya, Cheng mengkaji segitiga klasik Tiongkok yang sudah ada beberapa tahus tahun sebelum masa Cheng. Karya Cheng ini juga mendahului  Blaise Pascal dengan segitiganya yang termashur  ,  Traité du triangle arithmétique (1653). Di tahun  Yuasa Ichirozaemon mempublikasi karya Cheng dalam bahasa Jepang (1676).

Karya-karya klasik ini mungkin setara dengan apa yang kita dapatkan di Sekolah Menengah Atas di Indonesia di masa sekarang ini. Tapi dengan mempertimbangkan konteks jaman pada saat itu adalah suatu pencapaian mutakhir dan bagian dari mata rantai perjalanan ide yang membentuk masa modern. Matematika menjadi relevan dari budaya , dimana masyarakat bertemu dengan permasalahan keseharian , dan bagian upaya masyarakat berbudaya untuk memperbaiki kehidupan mereka dengan menyiasati alam agar lebih ramah.

Buki ini sekali lagi menggambarkan bagaimana pengaruh Tiongkok menjadi semacam prolog. Kisah berikutnya bergulir dengan pencapaian Jepang untuk mengembangkan ilmu pengetahuan secara independen , bukan saja dari Tiongkok , tapi juga dari bangsa Barat. Berisi koleksi dari permasalahan Sangaku yang bervariasi dari aljabar yang sederhana sampai permasalahan yang kompleks yang membutuhkan pengetahuan matematika setara menengah atas (di masa sekarang). Keindahan matematika , sakralitas , dan alur sejarah menjadi daya tarik dari buku ini untuk dibaca bagi pecinta matematika dan sejarah.

Regard

Dada

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghua | Facebook Group Budaya Tionghoa


Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/308-resensi-buku--sacred-mathematics-japanese-temple-geometry

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto