A+ A A-

Tahu Pong Semarang

  • Written by  AK Bromokusumo
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Dengar tahu pong, yang mengerti pasti langsung ngeh ini “Semarang”, bagi yang pertama kali dengar kata ini, mikirnya: “apa ini?”

Tahu Pong adalah nama makanan, bisa dikatakan khas, dari Semarang. Sejak kapan, dan mulai kapan ada, tidak jelas lagi. Penelusuran yang saya lakukan, mencari literatur dan referensi, semua menemui jalan buntu. Hanya hasil “interview” jalanan sambil menyantap sang tahu pong, menemui jawaban bahwa tahu pong sudah luama sekali eksis di Semarang, sejak tahun 1930’an.

Kenapa disebut tahu pong?..........

Itu adalah kependekan dari kata tahu kopong. Dalam bahasa Jawa, kopong artinya kosong. Lha kok bisa tahu kosong? Inilah kenapa disebut tahu kopong.

 

Tahu Pong

Tahu yang tengahnya kosong. Tahu ini sebenarnya tahu biasa, seperti tahu-tahu yang lain yang kita kenal. Bedanya, mungkin karena proses pembuatan yang sedikit berbeda, tingkat kepadatan akhir yang berbeda menyebabkan kopong begitu. Sewaktu mentah bentuknya juga sama seperti tahu biasa, tapi setelah digoreng, bagian tengahnya menyusut dan menjadi kopong seperti itu.

Berlawanan dengan tahu pong, ada yang namanya Tahu Emplek. Tahu emplek adalah tahu yang padat dan kenyal, sehingga walaupun digoreng, tekstur ke-tahu-annya masih padat dan kenyal, tidak menjadi kopong seperti saudaranya. Tahu emplek ini, keliatan jelas di foto, luarnya matang coklat keemasan yang mantap, tapi dalamnya masih padat, kenyal sekaligus lembut di lidah.

 

Tahu Emplek

Malam itu hujan turun sejak sore, membuat jalanan di kota Semarang basah merata dan hawa jauh lebih sejuk daripada biasanya. Menelusuri jalan-jalan di kota Semarang dengan brompit, berjaket, berhelm, bersama teman lama, betul-betul membawa balik kenangan masa kecil sewaktu sering diajak Papa beli tahu pong di Depok untuk dibawa pulang dan dinikmati bersama keluarga. Mampir ke warung yang sama sejak 20 tahun yang lalu, saya mendapati orang yang sudah berbeda, tampilan warung yang sudah berbeda pula.

Tahu Pong Team

Tak menunggu terlalu lama, tahu komplit saya pesan, dan tak lupa jepret sana jepret sini. Ada tumpukan gimbal di dalam rak, ada juga bumbu petis yang legit nan gurih di situ. Sambil memperhatikan cara Tahu Pong Team menyiapkan sajian menggoda ini.

Gimbal

Akhirnya selesailah pesanan saya tersaji manis di depan mata, lengkap dengan acar lobak, dan cabe mantap terpisah. Inilah menu Tahu Komplit, ada telor, ada tahu pong, ada tahu emplek dan gimbal udang….

Gimbal Yummy

Duh, ternyata malam itu saya cukup beruntung….serombongan pengamen memasuki tenda

warung itu, di bawah gerimis yang masih turun, mereka mulai bernyanyi. Terkejut saya mendengar alunan suara merdu dan vokal yang mantap diiringi dengan musik lengkap. Perkusi, cello, biola dan gitar mengiringi lagu Stoney yang populer oleh Lobo, dan berturut-turut ada lagu Let It Be, dan beberapa lagu lain. Tak segan saya memberi Rp. 5000 untuk mereka, pengamen canggih bermodal layak, dengan alat musik yang tidak murah sama sekali, kualitas vokal yang luar biasa untuk ukuran pemusik jalanan. Special request saya Country Road dibawakan dengan apik sekali malam itu…..

Malam itu berlalu dengan kesan yang membekas dalam, 2 hal….tahu pong dan pemusik jalanan canggih…..

Terima kasih sudah membaca lagi. Selamat mencoba resepnya, dan selamat mampir di Depok kalau lewat atau mampir Semarang ya….

 

***

 

Update #1 http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/54688


Selain dari bahasa Jawa, ada kemungkinan “pong” dari nama Tahu Pong berasal dari “phong 胖” dalam dialek Banlam (Hokkian selatan), yakni dialek mayoritas kakek-moyang orang Tionghoa peranakan di Semarang khususnya. Salah satu makna phong 胖 adalah “melembung” at. “menggembung”; misalnya dalam kata “phongtua 胖大” membesar dan “phonghong 胖風” perut membesar (akibat masuk angin?). (David Kwa)

***

Update #2 http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/54700

Selain di Semarang, benernya di Kediri - produsen tahu yang mayan besar untuk Jawa Timur, juga ada dibuat tahu khusus yang kalau digoreng ya jadi buncit dan kopong juga. Tahu Sumedang yang asli (Bung Keng, Bung Seng, menyebut dua nama yang lumayan top) juga kalau baru digoreng akan jadi buncit dan kopong juga sih.

 

 

Tahu gejrot di Cirebon, sama kopongnya, walau gak pernah nemuin yang masih buncit ketika baru diangkat dari penggorengan, sebab umumnya tahu gejrot is a cold dish - dimakan ketika sudah dingin, disiram saus encer yang mirip-mirip dengan tahu pong ala Semarangan.Dinamai tahu 'gejrot' sebab konon itu adalah tiruan bunyi sound effect ketika simamang atau abang yang jual mengucurkan saus dari dalam botol, keluar suara jrot-jrot-jrot, jadi aksinya disebut nge-gejrot-in tahu dengan saus dalam botol tsb., jeh!

 

Sepertinya memang cuma wong Semarang yang menamai secara khusus tahu buncit dan kosong dalemnya itu dengan Tahu Pong. Sebab memang mereka biasanya makan tahu pong tsb. dalam keadaan masih buncit, melembung gendut sesaat setelah diangkat dari penggorengan yang berlimpah

minyaknya itu.

Eh, by the way, tahu gejrot itu bisa dibilang 'adik'nya Zou-doufu aka stinky tofu, sebab baunya memang ndak enak kalau anda menyentuh tahu dengan jari-jari tangan anda. Memang sih SUB - Standar Unit Bau-nya mungkin cuma sekitar 20%an saja dari Zou-doufu, tapi tetep saja itu termasuk golongan stinky tofu dong? Agak penasaran dikit nih, kenapa Zou-doufu aka tahu mambu ini gak ada yang jual di Indonesia ya? Atau barangkali ada yang tahu ada yang jual di Jakarta?

Salam makan enak dan sehat,
Ophoeng

***

 

 

 

 

-----------------------

Artikel Terkait

{module [26]}

-----------------------

Budaya-Tionghoa.Net |

Sumber :

  1. Tulisan ini merupakan sumbangan dari pemilik dan penulis web (http://baltyra.com/2009/03/28/tahu-pong-semarang/) terhadap mailing list kami
  2. http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/54677 (Bromokusumo)
  3. http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/54688 (David Kwa )
  4. http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/54700 (Ophoeng)
Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/310-tahu-pong-semarang

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto