A+ A A-

Mochi-mochi di Mari, Legit Kenyal Berisi.

  • Written by  Ophoeng
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net Hai, apakabar? Sudah makan? Nimbrung barang sebaris dua kalimat ya...Bener. Baca deskripsi-nya, mestinya kaloci gak beda ama mochi, apalagi setelah lihat fotonya di sini: http://themetheday.blogspot.com/ .

Itu blog satu orang mahasiswa asal Ponti, kayaknya, yang gemar makan enak dan suka pajang foto-nya. Kalau mau, di Jakarta dulu sih ada yang juwal mochi dadak racik di Gloria, Glodok, Pancoran, Kota, samping toko Yap Heng Lay - tapi entah masih dagang di situ atau pindah sejak Gloria terbakar(?) atau direnovasi.

Artikel Terkait :

{module [201]}

Jadi mereka sedia bahan mochi dari ketan (terutama) itu, baru dipulungin dengan center fill (isi) kacang tumbuk bergula, kemudian mochi bulat berisi itu digulirkan di atas hamparan wijen supaya permukaan luarnya bersalut wijen. Agak beda ama kaloci yang dibaluri kacang tumbuk pada bagian luar-nya plus wijen dan gula pasir, dengan bentuk tidak beraturan - dan kemungkinan besar tanpa center fill (lihat di gambarnya ajah sih). Mungkin itu cuma beda variasi-nya saja, tapi bahannya sih ya sarua keneh, sami mawon aka sama ajah.



Mochi khas Tionghua? Bisa jadi. Tapi, nampaknya yang tergila-gila sangat ama si lengket ini adalah orang Jepang. Mereka punya ritual khusus untuk membuat mochi dalam upacara tertentu. Diperagakan dari mulai menumbuk bahan sampai jadi mochi-nya. Orang Jepang sih memang 8080 (paling-paling), apa ajah dibuat ritual, semisal minum teh gitu. Bisa lihat lebih lengkap di sini:
http://en.wikipedia.org/wiki/Mochi

Saya pernah lihat di TV (lupa stasiunnya) ada satu toko di Jepang khusus jual anything but mochi - aneka center fill dimasukkan dalam mochi, sampai ada yang berisi daging cincang segala - jadi kayak bakpao gitu, dengan 'kulit' mochi.


Di Jakarta, di mal-mal kayaknya lagi 'musim' mochi dijual di konter. Kayaknya sih semacam waralaba dari Taiwan(?). Isinya macem-macem, ada pasta green tea, kacang merah (ogura) dan black sesame (wijen ireng), saya lupa apakah dibalut wijen di sekujur luar tubuhnya atau tidak, kayaknya sih tidak. Sepotong kecil sa-emplukan (one bite size) dibandrol antara 3-4 riben. Cukup mahal untuk
ukurannya, tapi ya cukup murah kalau dilihat cara bikinnya, dan kemasannya yang cantik menggugah selera, jeh!


Kalau yang tradisional Indonesia, buatan Sukabumi, Jabar, yang terkenal dan sudah 'berdiri' sejak puluhan tahun lalu (gak capek ya, berdiri terus gitu?) adalah yang Tjap Double Happiness (Xuang Xi). Biasanya dikemas dalam wadah kotak kecil dibuat dari anyaman bambu dengan label kertas HVS putih berlogo huruf Xuang Xi gede, warna merah. Mochi-nya dibalut tepung kanji, supaya gak saling
merekat satu sama lain. Pilihannya cuma kosong, warna merah, hijau atau putih, dengan aroma pandan atau vanila, atau isi kacang tumbuk + gula. Tekstur body si mochi-nya agak lembek, tergeletak dalam wadah dengan alas plastik transparan begitu saja. Ning, masih tetep jadi icon oleh-oleh khas Sukabumi tuh, euy!

Wong Semarang yang lebih kreatip, membuat mochi-nya dengan lebih manis tampilannya. Sebiji-sebiji dikasih lagi wadah mangkuk kertas berrimpel, sekujur badannya dilumuri wijen, isinya sama ajah kacang tumbuk + gula, tekstur bodynya lebih kenceng dan gak terlalu lengket. Gak perlu dibedak-in pupur kanji lagi, sebab gak saling bersentuhan satu sama lain sih. Dikemas dalam kotak karton
berlaminasi plastik, cantik, dominan warna dasar merah. Merek yang terkenal adalah Gemini dengan gambar sepasang anak bayi - zodiak gemini berlogo anak kembar, dengan hot print gold foil. Ini sudah jadi icon oleh-oleh khas Semarangan.

Kenapa di Ponti disebutnya 'kaloci'? Ini yang saya jadi kepingin tahu juga.Mungkin ada di antara anda yang bisa berbasa Tiociu, jadi bisa membeberkan rahasia di balik nama yang beda ini.


Sementara 'mochi' sendiri mestinya dari 'ma' 麻 dan 'chi' 糬, yang dalam lafal Jepang (kenapa di mari ngambilnya dari lafal Jepang ya?) si 麻 (ma) dibunyikannya jadi 'mo', yang artinya 'wijen'. Penekanan nama nampaknya pada 'isi'nya di sono yang kebanyakan pake wijen tumbuk instead of kacang suuk tumbuk yang lebih murah harganya dibanding wijen.



Begitulah saja kira-kiranya ya.


Salam makan enak dan sehat,

Ophoeng
http://ophoeng.multiply.com/


Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghua


Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/340-mochi-mochi-di-mari-legit-kenyal-berisi

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto