A+ A A-

Apresiasi Puisi Dufu "Tamu Datang"

  • Written by  Joe Petersen
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Photo Ilustrasi : Du Fu

Budaya-Tionghoa.Net |Kemaren hendak mencari sumber terjemahan puisi Dufu di web BT, hanya berhasil ketemu beberapa puisi Li Bai dan Dufu terjemahan dari Sobron Aidit & Fuyuan Zhou. Sayangnya tidak ketemu puisi yang saya cari.

Menurut Aidit, Dufu selalu berada di kalangan dan kedekatan rakyat jelata yang luas.


Puisi Dufu bisa_sangat panjang dan juga bisa tegas pendek. Sangat kaya dengan kosa kata yang ringkas, jelas, sederhana, dan merakyat. Umpamanya, salah satu favoriteku:

“Tamu Datang 客至”
舍南舍北皆春水,she nan she bei jie chun shui
但见群鸥日日来。dan qian qun ou ri ri lai
花径不曾缘客扫,hua jing bu zeng yuan ke sao
蓬门今始为君开。peng men jin shi wei jun kai
盘飧市远无兼味,pan sun shi yuan wu jian wei
樽酒家贫只旧醅。zun jiu jia pin zhi jiu pei
肯与邻翁相对饮,ken yu lin weng xiang dui yin
隔篱呼取尽余杯。ge li hu qu jing yu bei.

(Translated into Indonesian)
Dari pondok utara sampai ke selatan, air kali meluap-luap disepanjang musim semi,
Tampak kolompok burung camar berbondong terbang kemari setiap hari.
Pematang kecil penuh rontokan kembang jarang disapu demi tamu tiba,
Pintu jerami terbuka lebar pertama kali khusus menyambut anda.
Lauk sederhana saya hidangankan, berhubung pasarnya jauh,
Arak bekeruh saya tuangkan karena belum mampu bikin yang baru.
Sudikah anda minum didampingi oleh pak tua tetangga?
Melalui pagar saya ajak bersama sama menghabisi sisa arak dibelanga.
------------

Keberhasilan Dufu mengait perasaan para penggemar puisi yaitu menyampaikan pesan melalui lukisan nyata atau ceramah tentang sesuatu kejadian dgn kosa kata yang mengena.

Puisi diatas bukan saja hanya ditulis karena ada kedatangan tamu, dan juga Dufu sendiri mengambil peranan didalam lukisan tersebut sebagai aktor utama.

Dengan nada orang pertama, beliau menggambarkan suasana pondoknya yang sepi, sampai beliau menghidangkan makanan kepada tamunya dengan akrab. Mari kita bahas bait per bait.

1. Dari pondok utara sampai ke selatan, air kali meluap-luap disepanjang musim semi,

Pondok Du Fu berada dipinggir kali, Wan Creek namanya. Air meluap dari kali oleh hujan musim semi, banjir bergenang dimana-mana. Saya bayangkan keindahan alam disekitar pondok tersebut: hidup tenang and udara segar.

2. Tampak kolompok burung camar berbondong terbang kemari setiap hari.

Burung camar (gulls) yang sifatnya penuh curigaan terhadap manusia berdatangan berarti tempat itu sangat sepi dan aman.

Dari kedua bait ini kita sudah mulai mendapat gambaran alam disekitarnya. Selanjutnya tangan Dufu bertindak sebagai cameraman, dari tele-lens menjadi Zoom-lens. Perhatian kita ditarik kepintu gerbang yang seherhana.

3. Pematang kecil penuh rontokan kembang jarang disapu demi tamu tiba,

Pematang disekitar kebun penuh dengan dedaunan and guguran kembang. (artinya, jarang diinjak dan jarang disapu kecuali kali ini)

4. Pintu jerami terbuka lebar pertama kali khusus menyambut anda.

Pintu gerbang yg terbuat dari rumput jerami dibuka lebar pertama kali demi kedatang tamu ini.
Dari bait ke 3 dan ke 4, kita mulai merasa ada rasa kegirangan berhubungan dgn kedatangan tamu ini. Tanpa menyebut langsung, Dufu telah menyampaikan pesan bahwa tamu ini penting dan sekali gus menonjolkan bobot tamu ini—bupati Zhui. (biasanya pintu depan jarang dibuka lebar untuk tamu biasa.)

5. Lauk sederhana saya hidangankan, berhubung pasarnya jauh,

6. Arak bekeruh saya tuangkan karena belum mampu bikin yang baru.

Bait ke 5 & 6. Camera Dufu menelusuri ruangan didalam. Tanpa banyak kata yang detail, Dufu sudah melukiskan gambar hidup yg sangat sederhana. “Saya merasa tak enak (dihati) karena tidak mampu menyediakan hidangan mewah dan arak yang segar.” (karena miskin.)

Sebenarnya sampai disini cerita Dufu sudah mencapai titik klimax dengan thema “tamu”, dan kalau diterusi themanya akan pindah arti dari "kedatangan tamu" menjadi "entertaining tamu." (sebuah puisi yang bagus, selalu focus sama topik asalnya.) Disinilah Dufu menunjukkan kemampuan beliau, juga karene sifat beliau yang sederhana, dia sanggup menggambarkan penutupan dengan tambahan figure “pak tua tetangga.” Kita terasa sekali sifat keramah tamahan Dufu terhadap mereka tanpa memandang status pendidikan.

7. Sudikah anda minum didampingi oleh pak tua tetangga?

8. Melalui pagar saya ajak bersama sama menghabisi sisa arak dibelanga.

Bait 7 & 8. Pertanyaan yang sangat manusiawi dengan mengajak tetangga minum bersama. Kita bisa bayangkan mereka menghabisi sisa arak, ngobrol ngalor-ngidur sampai senja.


(Loosely translated into Indonesian by Joe Petersen.)

Joe Petersen / /10151358789127436/

http://web.budaya-tionghoa.net/seni-dan-hobby/chinese-literature/2757-apresiasi-puisi-dufu-tamu-datang

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghua  | Facebook Group Budaya Tionghoa

 

Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/3574-apresiasi-puisi-dufu-tamu-datang

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto