A+ A A-

Sanxian 三弦 (Shamisen)

  • Written by  Chendra Ling-ling & Joe Petersen
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Photo Credit : Geisha dengan shamisen , 1870 , public domain

Budaya-Tionghoa.Net |Sanxian 三弦adalah alat musik petik bersenar tiga, dengan leher yang panjang, dan memiliki kotak resonansi yang ditutup oleh kulit ular phyton di kedua sisinya. Salah satu keunikannya adalah leher alat musik tersebut yang merupakan papan jari untuk menekan chord (fret) pada sanxian berbentuk lurus, tidak seperti pipa.

Sanxian disebut juga xianzi, xian berarti senar dan zi berupa akhiran saja. Asal muasalnya dapat kita telusuri pada masa Qin Shihuang, setelah ia mempersatukan 6 negeri, dan memerintahkan pembangunan tembok besar, pekerjaan yang teramat berat dan melelahkan tersebut, membuat rakyat butuh hiburan setelah mereka selesai bekerja.

Rakyat mula-mula menciptakan alat permainan berupa genderang kecil dengan pegangan yang berbunyi jika digoyangkan, alat ini disebut xiantao. Kemudian mereka mengubah bentuk xiantao tersebut dan memasang senar sutera pada leher fretnya dan memainkannya dengan dipetik. Alat inilah leluhur sanxian yang kemudian berkembang pada masa dinasti Song dan Yuan.

Seorang musisi sanxian Zhang Yetang merancang sanxian kecil dengan kotak resonansi yang bulat, panjangnya 95 cm, dengan jangkauan nada 2 ½ oktaf, dengan senar A, d, a, banyak dijumpai di Tiongkok bagian tenggara untuk mengiringi tanci (penceritaan) dan opera kunqu.


Lalu pada pertengahan abad 19, Ma Sanfeng seorang seniman dari Hubei membuat sanxian besar yang panjangnya 122 cm, dengan jangkauan nada 3 oktaf, dengan senar G, d, g – banyak dijumpai di Tiongkok utara, biasanya untuk mengiringi pertunjukan dagu, atau mengiringi tukang cerita keliling sehingga kemudian disebut juga shuxian (narrative string).

Dalam kesenian tradisional dan opera di Tiongkok, sampai sekarang, sanxian masih merupakan alat musik yang penting karena bunyinya yang khas, dan masih sering menjadi alat musik utama dalam opera, namun hanya sedikit orang yang mampu menguasainya.



Photo Credit : Sanxian , www.eason.com.sg

Pada jaman dinasti Ming, alat musik ini lazim dijumpai di berbagai propinsi di daerah Tiongkok selatan, juga diperkenalkan di Jepang, yang mengilhami munculnya alat musik tradisional Jepang, yaitu shamisen, tapi kalau sanxian kotak resonansinya ditutup kulit ular seperti erhu, kalau shamisen memakai kulit anjing atau kulit kucing.

Sebagaimana biasanya, geografik memegang peranan penting dalam evolusi alat-alat musik klasik. Sanxian kemudian berkembang menjadi: Da Sanxian, Xiao Sanxian dan Nanxian.


Da artinya besar, dengan sendirinya da sanxian bentuk fisiknya lebih besar dan banyak dipakai di daerah bagian utara Tiongkok. Suaranya besar, dalam, dan pemindahan oktaf lebih leluasa waktu digunakan sebagai pengiring. Banyak dipakai sebagai pendamping Taiko, danxian dalam musik Quyi.

Kalau xiao sanxian lebih populer dibagain selatan Tiongkok. Alat musik ini banyak dipakai dalam opera kunqu, naratif tanzi, sebagai perlengkapan alat tiup bambu, dll.

Photo Credit : shamisen , chinese numeral & arabic numeral,  KogeJoe , public domain

Sedangkan nanxian, dipakai didaerah selatan Tiongkok termasuk Taiwan krn lebih cocok buat irama opera Hokkian. Kotak resonasinya persegi dan ada juga sudut sikunya dibulatkan. Ukuran senarnya dibagi large, medium and small, suaranya lembut seperti xiao sanxian, senarnya distel (a, d1, a1).

{youtube}kIXPneOnlsw{youtube}

By : Chendra Ling Ling & Joe Petersen

http://web.budaya-tionghoa.net/seni-dan-hobby/seni-musik/2769-sanxian-shamisen

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghua | Facebook Group Budaya Tionghoa


Sumber : Origin of Chinese Music, 2008
http://www.melodyofchina.com/06instruments/sanxian.html


Last modified onSaturday, 27 April 2013 15:49
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/3583-sanxian-%E4%B8%89%E5%BC%A6-shamisen

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto