A+ A A-

Sih Jin Kui ; antara Mitos dan Sejarah (2)

  • Written by  Kwa Tong Hay
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net| Tahun berikutnya dalam pertempuran di Hengshan, Xue Rengui bertemu seorang panglima Korea kenamaan, Wen Shamon. Seorang diri ia memacu kudanya memasuki barisan musuh sambil membidikkan panahnya.  Beberapa perwira musuh tewas disambar anak panahnya. Setelah itu dalam pertempuran di Shicheng, seorang ahli panah musuh juga berhasil menewaskan 10 orang perwira Tang. Xue Rengui marah besar, dilarikannya kudanya dengan kencang menerjang maju ke arah pemanah lawan. Satu persatu anak-panah lawan dihindari atau disampok jatuh. Akhirnya ia berhasil menawan panglima musuh tersebut.

 

Tak lama kenudian di Heishan ia mengalahkan pasukan suku Jidan dan berhasil menawan Apuku, kepala sukunya. Tawanan penting ini kemudian dibawa ke Luoyang (ibukota timur). Kedudukannya naik menjadi Jendral Pengawal militer, dan diberi kekuasaan di wilayah Hedong.

Tahun 661M, Kepala suku Huihe  yang menjadi sahabat Kerajaan Tang, Bo-run meninggal. Pengggantinya Bi-su malahan memusuhi Tang. Kaisar Gaozong kemudian memerintahkan Zheng Rentai  sebagai komandan, dan Xue Rengui sebagai wakilnya pergi ke Tianshan menumpas Persekutuan 9 keluarga Suku Huihe. Dalam perhelatan perpisahan sebelum berangkat, Kaisar berkata, “Jaman dahulu seorang pemanah hebat, bisa menembus baju perang yang memakai lembaran logam 7 lapis. Sekarang anda coba tembus 5 lapis saja.” Xue Rengui dengan santai bisa menembus 5 lapis. Kaisar kaget bercampur girang, lalu memerintahkan baju yang lebih tebal dan diberikan pada Xue Rengui. Pada waktu itu Persekutuan 9 keluarga suku Huihe berkekuatan 100.000 jiwa. Mereka memerintahkan 10 orang panglimanya yang paling jago untuk menantang perang.  Xue Rengui melepaskan anak-panahnya 3 kali, semuanya kena sasaran. Pasukan Huihe gempar, mereka ketakutan lalu menyerah. Sisa-sisa pasukan Huihe lain yang masih bertahan berhasil dikalahkan. Pasukan yang menyerah ini semuanya dibunuh atas perintah Xue Rengui. Pasikan Tang melantunkan pantun, “Jendral Xue menaklukkan Gunung Tianshan dengan 3 batang anak panah. Prajurit menyanyikan lagu kemenangan kembali ke kota Hanguan.” Sejak itu persekutuan Huihe melemah, dan tidak menjadi ancaman yang berarti.

Jendral Zheng Rentai bersama 140.000 pasukannya memburu sisa-sisa kelompok Huihe  sampai jauh ke wilayah padang rumput. Tapi mereka terjebak dan kehabisan ransum. Dalam keadaan kelaparan mereka terpaksa mundur  ditengah serangan balasan pasukan Huihe. Yang tiba dengan selamat di pangkalannya hanya 6000 orang. Xue Rengui dipermasalahkan karena kekalahan ini.  Pangkatnya diturunkan tapi ia terhindar dari hukuman yang lebih berat, karena jasa-jasanya yang besar.

Awal tahun Qianfeng (666 M), Raja Korea (Mo Li-zi) Quan Kai Shu Wen, mangkat. Putranya, Quan Nan Sheng, naik tahta dan ingin berdamai dengan kerajaan Tang. Pihak Tang mengutus Pang Tongshan dan Gao Kan. pergi ke Pyongyang untuk membicarakan uluran damai tersebut. Adik raja, Quan Nan Jian bermaksud menyabot usaha damai kakaknya. Ia menyiapkan pasukan untuk menyergap utusan Tang. Pihak Tang memerintahkan Xue Rengui untuk mengamankan para utusannya. Di kota Xincheng rombongan Tang malam itu diserbu musuh. Tapi berhasil dipukul mundur oleh Xue Rengui, dengan meninggalkan korban tewas ratusan jiwa. Pang Tongshan. memasuki Jinshan, pasukan musuh tidak berani maju hanya menunggu. Xue Rengui membagi pasukan perangnya menjadi 2 sektor lalu menyerbu  pihak musuh  dan mengalahkannya. Pasukan Tang selanjutnya merebut Nansu, Mudi, dan Changyan. Mereka kemudian bergabung dengan sekutu Korea  Quan Nan Sheng.

Sih Jin Kui penampilan dari Teater Koma

Mumpung semangat pasukannya masih tinngi, Xue Rengui membawa 2000 serdadu, menyerang benteng Fuyu. Perwira lain berusaha mencegah karena jumlah pasukan yang dibawanya hanya sedikit. Xue Rengui berkata, “Kemenangan militer ditentukan oleh kecepatan gerak, bukan karena jumlah.” Ia berhasil menduduki Fuyu, kemudian meluaskan daerah pendudukannya sampai garis pantai. Di sana ia bergabung dengan pasukan Jendral Li Ji.

Setelah Fuyu jatuh, kota-kota lain berturut-turut menyerah. Karena memerintahkan Xue Rengui membawa 20.000 prajurit bersama Liu Rengui mengamankan kota Pyongyang. Dan wilayah kekuasaannya diperluas meliputi Xincheng. Ia memberikan hadiah pada para janda  serta anak-anak dan oreang tua para prajurit yang masih hidup, dan menjamin biaya hidup mereka. Ia bertindak keras pada kawanan bandit yang mengacau, memerintah dengan bijak, menghargai cendekiawan dan memanggil mereka untuk menduduki jabatan di pemerintahan. Rakyat dan para pejabat tinggi Korea yang menyerah merasa senang akan perlakuan ini.

Tahun Xuan-heng pertama. Pasukan negeri Tubo (Tibet kuno) yang mulai kuat,  menyerbu dan memusnahkan Tukuhun yang di dirikan suku Jiang. Mreka selanjutnya memasuki wilayah Xiyu. Xue Rengui lalu diangkat menjadi komandan pasukan ekpedisi rute Luosa, dengan membawa beberapa perwira tangguh seperti Ashna Taoshen dan Guo Daifeng.  Untuk menghadapi mereka, sekaligus membantu suku Tukuhun yang selalu dirongrong oleh Tubo. Guo Daifeng menjadi komandan garnisun kota Shancheng, kedudukannya seimbang dengan Xue Rengui. Kali ini ia ditempatkan dibawah perintah Xue, rasanya tidak puas, sebab itu sering tidak menghiraukan perintahnya. Awalnya pasukan membangun perkubuan di Dafeichuan (sebelah selatan Danau Qinghai, sekarang). dan siap bergerak ke arah Wuhai. Xue Rengui berkata, “Lokasi Wuhai curam dan berbahaya, hawanya yang lembab dan panas bisa menyebabkan prajurit jatuh sakit, Kalau kita bergerak cepat kemungkinan masih bisa menang. Sekeliling Dafei merupakan daerah yang rata Kita bisa mendirikan perkemahan di dua daerah yang saling berhubungan. Perlengkapan perang semua ditaruh di tengah dan dijaga 10.000 prajurit. Aku akan melakukan serangan mendadak pada musuh kala mereka tidak siaga. Mereka pasti bisa dikalahkan.” Dengan berpakaian ringkas, prajurit bergerak menuju Hekou. Musuh kocar-kacir karena tidak menduga akan diserang. Banyak sekali ternak yang ditinggal, kemudian dirampas para serdadu Xue Rengui. Pasukan lalu bergerak menuju Wuhai sambil menunggu tambahan tenaga. Guo Daifeng yang sering membangkang perintah, kali ini memimpin pasukan yang membawa perlengkapan perang dan ransum. Ia bergerak di belakang pasukan Xue Rengui. 200.000 pasukan Tubo tiba-tiba menyergap dan mengepung mereka. Pasukan Tang kehabisan pangan  dan kelelahan, Guo Daifeng mencoba bertahan. Pasukan Xue Rengui terpaksa mundur karena tidak mendapat pasokan pangan. Pihak Tubo melipatgandakan pasukannya sampai 400.000 jiwa dan menyerbu secara besar-besaran. Pasukan Tang hancur. Xue Rengui terpaksa berdamai dengan komandan pasukan musuh, baru kemudian bisa mengundurkan diri. dengan sisa pasukannya yang tinggal tidak seberapa. Kaisar Gaozong membaca laporannya marah besar, tapi karena mengingat jasa-jasa  Xue Rengui  di masa lalu, lalu membebaskan mereka dari hukuman mati. Mereka dipecat dan diharuskan kembali menjadi rakyat biasa.

Tak lama kemudian sisa-sisa pasukan Gao-li melakukan pemberontakan. Xue Rengui dipanggil dan kembali ditugaskan menjadi Komandan pasukan rute Jilin. Tapi karena suatu masalah pangkatnya kemudian diturunkan dan dihukum buang ke Xiangshan (kini di Propinsi Guangxi), ia pulang setelah memperoleh amnesti. Kaisar Gaozong yang mengingat jasa-jasanya pada kerajaan dan pada diri-pribadinya, memanggil dia kembali dan berkata, “Ketika istana banjir, kalau tidak ada kamu, aku telah jadi santapan ikan. Dalam peperangan mengalahkan kaum Tule dan Gao-li jasamu banyak sekali. Dewasa ini daerah Guazhou, dan Shazhou tidak aman, jalan disana terputus, anda jangan berpangku tangan, bereskan masalah ini. Xue Rengui diangkat menjadi Komandan Garnisun Guazhou, lalu memimpin pasukan menyerang suku Turks yang menguasai jalan-masuk sekitar wilayah itu.

Orang-orang Turks tidak mengira kalau panglima perang yang datang adalah Xue Rengui. Mereka mengira Xue Rengui telah meninggal dalam pembuangan di Xiangzhou. Mereka lalu mundur. Pasukan Xue Rengui mengejar. Pasukan Turks kehilangan semangat tempur, mereka mundur dalam keadaan kalut. Xue Rengui pulang dengan kemenangan besar. Tahun Yongheng ke-2 Xue Rengui meninggal dalam usia 70 tahun, jenasahnya dikubur di kampung halamannya.

Banyak perbedaan yang kita temukan dalam sejarah dan novel. Dalam novel dilukiskan bahwa Zhang Shigui selalu menghalangi agar Xue Rengui tidak bisa bertemu Kaisar Taizong. Rupanya Zhang dilukiskan sebagai seorang menteri dorna. Peperangan Korea dilakukan beberapa kali. Dalam cerita digambarkan bagaimana Xue Rengui berhasil membunuh Jendral Korea Kai Shu Wen dan Korea menyerah. Tapi dalam sejarah walaupun Xue Rengui sering menang perang, upaya Kaisar Taizong gagal menaklukkan Korea, dan Kai Shu Wen ( Khai Souw Bun ) adalah raja Korea bukan jendral. Penaklukan Korea baru berhasil pada masa pemerintahan Kaisar Gaozong.

Dalam novel Xue Rengui Zheng Xi (Sih Jin Kui Ceng Se) Xue Rengui menyerbu ke Xiliao. Tapi usahanya banyak menemui kegagalan karena pihak Liao punya banyak pahlawan sakti. Xue Rengui gugur ditangan putranya sendiri, akibat kesalahan panah. Dan usaha penaklukan Xiliao diteruskan oleh menantu perempuannya Fan Lihua (Hoan Le Hoa). Dalam sejarah memang Xue Rengui terlibat dengan perang dengan Liao tapi lawan utama yang tangguh adalah Tubo (Tibet kuno). Xue Rengui meninggal karena usia tua, dan tidak disebutkan sama sekali mempunyai menantu perempuan bernama Fan Lihua. Rupanya jendral wanita ini adalah tokoh rekaan pengarang.


Sumber : http://beritagar.com/p/wayang-potehi-yang-tergerus-jaman

Xue Rengui memang seorang militer yang hebat, ia pandai bersiasat dan berani mengambil inisiatif. Dihadapan musuh ia tidak pernah gentar, sebab itu jasanya bagi Kerajaan Tang sangat besar. Tapi dalam memimpin tentara ia sering kali membiarkan pasukannya melakukan penjarahan dan perampokan pada wilayah musuh, ia sengaja membiarkan tidak berdisiplin. Ia juga tidak segan menerima suap. Sayang dia tidak menghargai jiwa manusia sama sekali. Musuh yang menyerah pun dibantai habis, ia terlalu kejam, walaupun dengan alasan menjalankan tugas.  Inilah Xue Rengui dengan segala kelebihan dan kekurangannya, dan ia tetap saja jadi tokoh kegemaran pencinta wayang potehi.

 

Oleh : Kwa Tong Hay

http://web.budaya-tionghoa.net/gallery-photoblog/1337-fotografi-teater-koma-sie-jin-kwi-kena-fitnah

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya TionghuaFacebook Group Budaya Tionghoa

Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/3586-sih-jin-kui--antara-mitos-dan-sejarah-2

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto