Logo
Print this page

Tata Cara Sembahyang Sehari-hari

Budaya-Tionghoa.Net |  Tata cara sembayang  rakyat jelata alias minjian xinyang, secara umum dibagi 3 tata cara. Yang pertama adalah cara Buddha Mahayana, yang kedua cara Khong Hu Cu dan juga Tao. Semuanya menggunakan satu atau tiga batang hio.

Artikel Terkait :

{module [201]}

Susunan meja sembahyang secara umum adalah terdiri dari teh , air putih , arak (ciri Tao dan KHC) , lambang taiji yinyang , air putih lambang taichi , teh lambang yin dan arak lambang yang.


Susunan berikutnya terdiri dari lima macam buah atau lima warna , lambang lima unsur. Dalam agama Buddha ada yang mengaitkan dengan 5 Dhyani Buddha.

Hio yang digunakan sebanyak tiga batang yang merupakan lambang dari Sancai / Sanguan / Taiji Liangyi , Triratna , Sanqing. Satu batang hio melambangkan Taiyi dan Dao.

Cara penghormatan adalah kepalan yang membentuk delapan kebajikan dan orang tua menurut cara KHC. Kepalan yang membentuk bola Taiji atau menggenggam Taiji yang merupakan cara Tao. Cara Buddha dengan Anjali atau merangkapkan kedua telapak tangan.

Tiga arti dari pai. Yang pertama membalas jasa langit dan bumi atau yi bai baodao tiandi en. Pai kedua membalas jasa orang tua er zhai bai baodao fumu en. Pai ketiga membalas jasa para guru , san bai baodao enshi en.

Photo Credit: : http://farm4.static.flickr.com/3341/3314280822_0eb965ce0d.jpg

Secara umum, jumlah hio ganjil adalah untuk dewa atau tokoh yang berjasa untuk masyarakat luas dan mahluk suci lainnya. Ganjil dalam metafisika Tiongkok adalah lambang dari unsur yang atau positif. Yang berjumlah genap adalah untuk leluhur, arwah yang sudah meninggal dan setan gentayangan.

Ketika melangkah masuk ruang sembahyang juga harus kaki kiri terlebih dahulu yang maknanya adalah kita harus mengutamakan sifat-sifat kebajikan kita. Menancapkan hio dengan tangan kiri juga artinya kita akan selalu menancapkan kebajikan di alam langit dan alam bumi.


Tapi dalam masyrakat awam timbul keyakinan bahwa melangkah dengan kaki kiri akan membuat rejeki melimpah dan jika dimulai dengan langkah kaki kanan adalah mengacaukan tatanan alam semesta dan mengundang bencana.Tentunya hal ini adalah salah kaprah kecuali 1 hal yaitu melangkah dengan kaki kanan, yang mana adalah mengutamakan keburukan tentunya mengubah atau mengacaukan tatanan alam semesta.


SECARA UMUM

Jika masalah jumlah, yang saya ketahui sedikit dalam Taoism adalah lima batang hio melambangkan lima arah. Tujuh batang melambangkan tujuh bintang utara. Dan duabelas batang melambangkan duabelas satuan waktu bumi. Ini semua berkaitan dengan ritual mereka yang ditujukan untuk kasus-kasus spesifik. Tapi dimasyarakat beredar pandangan bahwa duabelas batang hio untuk permintaan kepada Tian dan harus dilakukan jam 12 malam karena saat itu suasana hening dan sebagainya.

Jam 12 malam dilakukan sembahyang atau meditasi ini berkaitan dengan pergantian qi alam semesta, dimana saat itulah unsur yang menguat dan unsur yin melemah dan dalam satuan pengertian zi di 12 cabang bumi adalah mulainya sesuatu yang baru. Artinya adalah berkaitan dengan perubahan waktu.

Ritual orang Tionghoa memiliki banyak nilai filsafatnya dan arti tersembunyi, seperti mengapa harus menaruh hio diantara ke dua alis, kenapa harus ditaruh di tengah dada dan sebagainya. Arti menaruh hio ditengah dada adalah menyalakan hio hati dan api hio hati itu harus selalu dijaga, artinya adalah kita harus melakukan kebajikan dan biarlah kebajikan kita itu bagaikan asap hio yang harum
dan memberikan kebahagian kepada sekitar kita.

Untuk posisi diantara dua alis, ini berkaitan dengan titik jalan darah. Tapi bisa juga diartikan penghubung antara langit bumi dan manusia.


Hio warna hijau setahu saya digunakan untuk mereka yang meninggal ketika berusia dibawah 60 tahun dan masih dalam masa berkabung 1 tahun atau xiao xiang. Orang Tionghoa senang menggunakan simbol untuk menyatakan sesuatu, misalnya kain hitam yang dipasang di tangan ketika keluarga ada yang meninggal, posisi kain hitam di kiri artinya yang meninggal adalah ayah.

Guratan cat atau kertas putih di kaca rumah yang meninggal jugamengandung arti, jika guratan itu adalah X artinya ke 2orangtuanya sudah tidak ada, jika guratannya dari kanan kekiri artinya pria atau orang tua laki-laki yang meninggal. Dengan melihat simbol itu, kita langsung tahu siapa yang meninggal dan ketika kita masuk ke dalam ruangan, kita bisa tahu yang mana mantu, cucu dalam, cucu luar dan sebagainya.

Sayangnya simbol-simbol ini dianggap suatu bentuk kemunduran, hal yang memalukan, kuno, ketinggalan jaman atau juga lambang iblis. Sungguh ironis dan yang lebih menggelikan adalah orang Tionghoa sendiri yang memandang rendah tanpa tahu nilai atau artinya.

Ardian & Xuan Tong , 29577 , 29549

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghoa

Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(1 Vote)
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/359-tata-cara-sembahyang-sehari-hari?tmpl=component&print=1
Budaya Tionghoa Copyright © 2003 - 2013 .