A+ A A-

Etika Dalam Filsafat Tiongkok (1)

  • Written by  Ardian Cangianto
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Pendahuluan

Budaya-Tionghoa.Net|Tulisan ini dibuat bukan sebagai alat pembanding antara etika timur dan barat, dalam hal ini adalah etika dalam filsafat Tiongkok. Dalam memahami filsafat Tiongkok, tentunya juga filsafatnya mengenal etika bahkan posisi etika amat tinggi dalam filsafat Ruism, sehingga dapat dikatakan bahwa etika merupakan salah satu unsur utama dalam filsafat Ruism[1].  Frans Magnis Suseno menuliskan :

 “ Secara historis etika sebagai usaha filsafat lahir dari keambrukan tatanan moral di lingkungan kebudayaan Yunani 2500 tahun yang lalu.”[2]

Demikan juga halnya pada masa Kong Zi ( 551-479 BC ) hidup, beliau hidup di jaman yang sudah kacau balau, tata krama dan etika tidak dihargai. Karena itu Kong Zi menekankan li 禮 atau etika sebagai dasar untuk pembentukan masyarakat yang sehat dan saling menghargai.

Disini ada suatu masalah besar, yaitu ketika banyak orang yang mengartikan kata li 禮 seringkali diartikan sebagai sopan santun. Sebagai contoh adalah film “Confucius” yang dalam film tersebut kata li 禮diterjemahkan sebagai sopan santun, dan bagi saya terasa amat mengganggu, karena makna yang ingin disampaikan melalui dialog-dialog itu menjadi kabur. Dalam tulisan ini juga akan menjelaskan berbagai arti li 禮 kemudian pembagian-pembagiannya serta pendapat dari mahzab-mahzab lain, seperti misalnya mahzab Fa 法家[3] dan mahzab Mo 墨家[4].

Etika dalam filsafat Tiongkok akan mempengaruhi budaya Tionghoa, seperti misalnya penghormatan kepada senior, leluhur, tokoh yang berjasa dan sebagainya. Bahkan dalam hubungan antar anggota keluarga menjadi faktor dominan. Selain itu etika berperan dalam ritual dan juga suatu fondasi bagi pembentukan ahlak, sayangnya etika ini dihancurkan pada masa revolusi kebudayaan  ( 1966-1976 ) di Tiongkoknya sendiri, yang sebenarnya berawal dari pertentangan para elit politik tapi berimbas pada penghancuran nilai-nilai moral dan etika orang Tiongkok. Baru sekarang ini etika Ruism sedang dibangkitkan kembali di Tiongkok. Dan harus diakui bahwa etika Ruism ini yang mempengaruhi sikap hidup orang Tionghoa di banyak belahan dunia.

Semoga tulisan singkat ini bisa memperkaya khasanah pengetahuan tentang etika timur.

Arti LI 禮 dan Perkembangannya

Berdasarkan etimologisnya, kata li 禮 berasal dari dua aksara yaitu shi 示 berarti dewata atau leluhur[5] dan li 豊 adalah alat untuk ritual, yang bermakna upacara untuk para dewata dan leluhur.  Pada masa dinasti Xia[6] dan Shang[7], arti kata li adalah ritual dan persembahan, selain itu adalah suatu sistem kelas masyarakat, sejak pada masa dinasti Zhou[8], makna li diperluas menjadi suatu etiket dan tatanan masyarakat. Arti kata li bisa berarti sopan santun, etika, tata krama, ritual. Jadi untuk memahami konteksnya maka harus membaca keseluruhan teksnya, sehingga bisa memahami dalam konteks apa kata li itu dituliskan. Secara umum kata li sering dipadankan dengan kata-kata lain, dan yang berkaitan dengan etika dan norma ada tiga yaitu liyi禮儀[9],limao 禮 貌[10], lizhi 禮 制[11]. Liyi berarti tatakrama menghormati mereka yang pantas dan wajib dihormati, misalnya saat pelajaran, semua siswa wajib berdiri dan membungkuk memberi hormat kepada guru dan guru akan membalas penghormatan itu dengan membungkuk balik, atau juga memberikan penghormatan kepada leluhur dan orangtua yang berjasa membesarkan kita, menghormati mereka yang berjasa dalam masyarakat baik yang masih hidup atau yang sudah meninggal dunia, menghormati pimpinan dan sebagainya. Limao adalah sopan santun dan tatakrama dalam pergaulan, misalnya menyapa orang lain, mengetuk pintu jika ingin masuk ruangan dan sebagainya.

Lizhi adalah suatu sistem hubungan sosial masyarakat, misalnya hubungan suami istri, ayah anak, kakak adik dan sebagainya.  Ketiga hal tersebut adalah suatu hal yang umum dalam sosial masyarakat, dimana beda kebudayaan dan lingkungan tentunya beda pula sistemnya tapi ujungnya adalah norma-norma masyarakat.

Dinasti Zhou meletakkan tatanan etika dan mempengaruhi perkembangan etika Ruism nantinya. Tokoh-tokoh peletak etika pada masa dinasti Zhou antara lain adalah Guan Zhong管仲 ( 716-645 BCE ), Zhou Wen Wang 周文王[12] dan Zhou Gong 周公[13].  Dari dinasti Zhou inilah pengertian kata li berubah menjadi suatu hubungan yang bersifat mengatur komponen masyarakat, terutama antara bawahan dengan atasan, tepatnya mengatur suatu tatanan masyarakat yang bersifat feodalistik dan terkait dalam banyak bidang seperti musik, ekonomi, sistem kekeluargaan.

Jadi kata etika atau li disini bisa berperan dalam menata negara, karena itu sering disebut liyi zhi bang 禮儀之邦 yang bisa diartikan sebagai state of ceremonies, tapi pengertiannya tidak sesederhana itu. Li  禮 adalah adalah idea atau dalam bentuk abstrak dan yi 儀 adalah dalam bentuk nyata, yi disini dalam bentuk upacara, ritual dan sistem yang diterapkan, dimana tujuannya adalah memperkukuh pemerintahan dinasti Zhou dengan suatu sistem kemasyarakatan yang dibentuk berdasarkan hirarki. Sistem seperti ini tidak akan bisa dilenyapkan begitu saja bahkan dalam dunia modern sistem hirarki tetap ada, terutama dalam dunia militer.

Sistem hirarki feodalism diperlukan dan diterapkan pada banyak kebudayaan, terutama disebabkan keterbatasan teknologi komunikasi dan besaran luas wilayahnya.  Dianzhang zhi du 典章制度 atau aturan-aturan yang menata masyarakat. Qian Hang 錢杭[14] menuliskan :

“Pengertian luas Li, bisa dilihat pada kata dianzhang zhidu 典章制度[15] yang memiliki pengertian suatu etika berkaitan pada suatu jaman, seperti misalnya etika Xia 夏禮 dan etika Yin 殷禮yang berarti etika pada masa dinasti Xia dan etika Yin[16]. Etika Zhou adalah etika pada masa dinasti Zhou yang berkaitan pada sistem pemerintahan, ekonomi dan tatanan masyarakat.”[17]

Pada umumnya saat hendak membahas etika Tiongkok, umumnya akan mengkaitkan dengan tiga kitab klasik dan dapat dikatakan tiga kitab klasik itu yang menjadi dasar perkembangan etika Tiongkok. Adapun kitab-kitab itu disebut kitab etika li dian 禮 典 dan sering disebut Tiga Li 三禮, yaitu Zhou Li 周 禮[18], Yi Li 儀 禮[19], dan Li Ji 禮 記[20]. Qian Hang menuliskan  arah isi dan titik fokus utama dari masing-masing kitab, kitab Zhou Li adalah kitab yang menuliskan tentang sistem pemerintahan, Li Yi menitikberatkan pada norma-norma dan Li Ji pada penjelasan tentang Li atau etika dan tatacara etika.

Dalam sejarah perkembangannya kemudian, li ini sering disepadankan dengan daode 道德[21] yang secara harafiah diartikan adalah budi pekerti atau moralitas yang akan membawa manusia menjadi junzi 君子[22] atau manusia seutuhnya yang memiliki makna dan tujuan hidup, memiliki kebajikan yang bersifat mondial.

Penulis akhirnya menyadari pengertian daode tidak sesederhana apa yang dibayangkan. Arti kata dao 道 adalah menapaki jalan dengan mantap, bukan berarti “jalan” seperti yang pada umumnya diartikan[23]. Sedangkan arti kata de 德 adalah kebajikan atau virtue dalam bahasa Inggris. Jadi disini arti kata daode bisa diartikan menjalankan kebajikan secara mantap. Daode sendiri juga sering diartikan adalah etika, dimana etika itu adalah untuk membentuk karakter pribadi dan dalam memilih atau menentukan apa yang baik dan buruk untuk dilakukan atau dijalankan.

Ketika membahas etika Tiongkok seringkali disebut Kong Zi, sebenarnya tokoh-tokoh filsafat lainnya seperti Xun Zi 荀子[24], Guan Zi 管子[25], Zhou Gong 周公, Mo Zi 墨子[26] dan lain-lain juga membahas etika. Etika Ruism meluas karena pada masa dinasti Han漢朝 ( 202 BCE-220 CE), tepatnya pada masa pemerintahan kaisar Han Wudi 漢武帝 ( 156-87 BCE ), atas prakarsa Dong Zhongshu董仲舒 ( 179-104 BCE ) filsafat Ruism digunakan sebagai filsafat negara yang akhirnya filsafat Ruism meluas di masyarakat Tionghoa. Akhirnya li dari Ruism ini akan menjadi salah satu faktor pembentukan dalam pilar-pilar budaya Tionghoa.

(Bersambung)

[1] Ruism adalah sebutan lain untuk Confuciusm

[2] Frans Magnis Suseno, Etika Dasar Masalah-masalah pokok Filsafat Moral, ( Yogyakarta : Penerbit Kanisius,2001 ), hal.15

[3] Fa Jia atau yang dikenal sebagai mahzab Legalism,salah satu tokohnya adalah Xun Zi(313-238 BC )

[4] Mo Jia, dibarat dikenal dengan sebutan Mohism,  tokoh terkenalnya adalah Mo Zi (468-379 BC)

[5] Shi juga bisa diartikan sebagai menunjukkan, memperlihatkan, tergantung konteksnya ditempatkan dimana kata shi itu.

[6] Dinasti pertama di Tiongkok  ( 2070-1600 BCE )

[7] 1600-1046 BCE

[8] Dinasti Zhou terdiri dari 2 periode, yaitu periode Zhou Barat ( 1046-771 BCE ) dan Zhou Timur ( 771-256 BCE )

[9] Yi 儀 bisa berarti ritual atau upacara

[10] Mao 貌 bisa berarti apa yang tampak, muka atau wajah

[11] Zhi 制 adalah sistem atau aturan

[12] Zhou Wenwang ( 1152-1056 BCE ), pendiri dinasti Zhou dan tokoh filsuf purba yang menulis Yi Jing ( kitab Perubahan ) dan membuat diagram Ba Gua ( 8 garis alam semesta atau yang disebut hexagram )

[13] Zhou Gong[1] 周公( 1100an BC ) adalah seorang tokoh yang amat dihormati oleh para filsuf seperti Kong Zi 孔子( Confucius ),  Meng Zi 孟子( Mencius ),  Xun Zi 荀子 ( pendiri aliran Legalism, tapi ia mengaku sebagai penerus ajaran Kong Zi )

[14] Profesor antropology dalam bidang suku-suku atau klan dan sistem-sistem kemasyarakan Tiongkok masa lampau

[15] Saya artikan adalah aturan hukum dan norma-norma kemasyarakatan yang dibakukan dan dicatat dalam buku

[16] Yin 殷 ini adalah juga berarti dinasti Shang, tapi sebutan Yin ini lebih menunjukkan pada masa dimana raja Pan Geng 盤庚 sudah menetapkan ibukota dinasti Shang di kota Yin, sebelumnya ibukota dinasti Shang berpindah-pindah. Karena penetapan kota Yin menjadi ibukota, sejak periode itu disebut Yin Shang 殷商.

[17] Qian Hang et.al , 中國文化史三百題  ( Tiga Ratus Pertanyaan Sejarah Budaya Tiongkok  ), ( Cet: 6; Shanghai, 上海古籍出版社Shanghai Ancient Book Publisher,2004) hal.351 

[18] Zhou Li adalah kitab yang menuliskan sistem pemerintahan, tata krama, musik ritual, sistem perpajakan, tata cara militer dan sebagainya dari dinasti Zhou

[19] Li Yi adalah tata cara upacara ritual, termasuk tata cara pernikahan, perkabungan dan sebagainya yang merupakan tata cara pada masa dinasti Zhou

[20] Li Ji adalah kitab yang menuliskan tata cara dan etika pra dinasti Qin ( 221-206 BCE ) serta banyak aspek lainnya juga mencatat dialog Kong Zi dengan murid-muridnya yang membahas tentang etika.

[21] Kata dao dan de ada dalam kitab Dao De Jing yang dipercaya dikarang oleh Laozi.

[22] Junzi 君子 sering diartikan sebagai gentlement atau ksatria sejati, menurut saya arti itu tidak tepat.

[23] Arti kata Dao 道yang dikutip merupakan penjelasan master Vincenzo di leso ( ketua  Daoist Association of Italy ) dalam “Seminar tentang Taoisme” pada tanggal 27 maret 2011 di gg.Pinggir 105 Semarang.

[24] Xun Zi 荀子 ( 313-238 BCE )dianggap pendiri aliran Legalism, tapi ia mengaku sebagai penerus ajaran Kong Zi.

[25] Guan Zi 管子 ( 725-645 BCE ), salah satu tokoh filsafat pra Kong Zi dan buah pikirnya mempengaruhi aliran Legalism

[26] Mo Zi 墨子(468-376 BCE) pendiri mahzab aliran Mo yang terkenal dengan “Cinta kasih universal tanpa pilih pandang siapapun”


Oleh : Ardian Cangianto

Sumber photo : http://www.nipic.com/show/4/79/7575775k6bb694e1.html

http://www.nipic.com/show/4/141/5527813k13e5e960.html

 

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya TionghuaFacebook Group Budaya Tionghoa

Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/3613-etika-dalam-filsafat-tiongkok-1

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto