A+ A A-

Eforia Capgome dimasa Reformasi (2)

  • Written by  Ardian Cangianto & Stefanus Dominggus
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

 

 

 

Gambar 3: Papan "Beri Jalan" (Huibi)

Budaya-Tionghoa.Net | Sebagai contoh adalah papan peringatan yang bertuliskan sujing huibi 肅靜迴避[17] yang berarti “ Tenang Khidmat Memberi Jalan” ,payung yang berfungsi melindungi dari terik sinar matahari, 36 senjata kehormatan dan para pengawalnya, joli dan atribut-atribut lainnya yang meniru pejabat kerajaan melakukan inspeksi. Hal ini wajar karena asal muasal gotong Toapekong itu adalah inspeksi “dewa kota” di bulan 7 penanggalan Imlek, dimana bertujuan selain menolak bala juga untuk menerima “pengaduan” dari masyarakat terhadap perilaku pejabat kota yang bisa semena-mena, semacam “balancing forces” dan juga berfungsi sebagai “pengawas” terhadap perilaku pejabat kota. Saat prosesi yang mengusung benda-benda tersebut di atas, biasanya dilakukan dengan khidmat dan sacral.

 

Pencabutan diri dari rutinitas, keluar dari kungkungan pikiran keseharian yang melelahkan, karena pada saat gotong Toapekong sering bertepatan dengan miao hui 廟會( temple fair ) yang pada jaman dinasti Song sudah mengandung aspek hiburan, hingga jaman Ming dan Qing aspek ekonomi menjadi lebih besar dan meluas dengan adanya perdagangan. Secara umum, prosesi gotong toapekong itu adalah metafora dari pejabat yang inspeksi, ini terlihat dari berbagai benda-benda yang diarak saat gotong toapekong itu.

 

Gambar 4: Papan "Tenang Khidmat"

Gambar 5: Senjata Pasukan Pengawal  Kehormatan

Dalam sejarahnya dan tata kota di Tiongkok, setiap daerah pasti memiliki kelenteng sebagai pusat komunitas mereka, hal ini juga terjadi di Indonesia, dimana kantong-kantong komunitas Tionghoa memiliki kelenteng sebagai pusat komunitas mereka, sehingga setiap kegiatan festival mereka pasti melibatkan kelenteng. Peranan kelenteng demikian kuatnya dan tidak dapat dipisahkan begitu saja bahkan hingga hari ini termasuk di Tiongkok yang pada masa pra Deng Xiaoping peranan kelenteng dihapuskan dan sekarang marak lagi kegiatan itu.

Untuk itu kita perlu mengetahui aspek-aspek yang ada dalam “temple fair”. Menurut Jin Qinghai 金清海, ada enam aspek dalam “temple fair” :

1. Agama purba ( animism dinamisme )

2. Agama-agama utama ( Taoisme, Buddhisme, Ruism)

3. Agama rakyat ( sinkretisme antara agama-agama utama dan agama purba )

4. Kesenian rakyat

5. Perdagangan

6. Semangat kemanusiaan ( humaniora )[18].

Capgome dan Fungsi Budaya

Seperti yang dituliskan di atas bahwa salah satu pengertian budaya [文化] adalah humanistic education. Dalam penyampaian education itu sering digunakan bahasa symbol, seperti juga dalam prosesi Capgome. Misalnya dalam bentuk joli, seperti pada umumnya tidak lepas dari konsep yin yang, joli juga memiliki 2 jenis yaitu sipil dan militer, sipil lebih indah hiasannya dan besar serta tidak digoyang-goyang tapi militer lebih sederhana dan bisa digoyang-goyang sesuai dengan kedinamisannya. Ini menandakan konsep kosmologis “gerak” dan “diam”.

Pada masa dinasti Qing melemah dan kekuatan barat menguat mencengkram Tiongkok, banyak rakyat Tiongkok yang tertindas menggunakan prosesi gotong Toapekong ini sebagai symbol perlawanan dan penolakan terhadap dominasi barat yang membelah-belah wilayah Tiongkok seperti semangka. Di Indonesia yang memiliki kondisi yang berbeda dengan Tiongkok, dapat dilihat di beberapa kota di Jawa Barat seperti Sukabumi dan Bogor, Eyang Suryakencana tampil sebagai pembuka jalan dan hal ini adalah suatu sikap menghargai leluhur lokal setempat atau bisa dikatakan adalah “adaptasi” religiusitas.

Pada pelaksanaan Capgome selain mengandung unsur religiousitas juga mengusung budaya hiburan seperti misalnya : pertunjukkan wayang potehi, tarian singa, akrobatik bahkan hingga acara music pop. Apa yang pernah disaksikan seperti pada “temple fair” maupun gotong toapekong di Taiwan dan Singapore, ada pertunjukkan music pop bahkan pole dance, tapi itu semua ditaruh di wilayah profane. Artinya selain mengandung unsur religious juga mengandung unsur budaya baik budaya Tionghoa maupun budaya modern.

Tionghoa Pra Reformasi

Seperti yang sudah diketahui oleh masyarakat banyak, pada masa Orde Baru terjadi pelarangan terhadap kepercayaan dan budaya Tionghoa tidak boleh ditampilkan di depan public, mengakibatkan terjadinya amnesia budaya dan “kebingungan” akan identitas diri yang nantinya akan terlihat pada masa Reformasi.

Inferior complex juga bisa menyebabkan surutnya eksistensi mereka dan “melemahkan” pencarian jati diri. Inferior complex itu terjadi sejak saat kekalahan dinasti Qing di perang Candu dan meluas hingga pada pertengahan abad 20, di mana budaya Tiongkok menghadapi satu permasalahan besar ketika berhadapan dengan kekuatan barat[19], kebobrokan dinasti Qing mengakibatkan apa yang disebut sebagai “penghinaan” dari barat membuat terjadinya inferior complex dan untuk menutupi inferior complex, orang Tionghoa melihat ada dua pilihan, yaitu : menyangkali identitas diri atau menjadi fanatic terhadap identitas diri mereka.

Landasan ini menghantui etnis Tionghoa di Indonesia secara sadar maupun tidak sadar kemudian diperparah lagi oleh kondisi politik ORBA yang dengan tegas melarang segala bentuk identitas ke “Tionghoa”an untuk ditampilkan dalam ruang public dan ini adalah bentuk penghancuran sistematis terhadap identitas satu kelompok. Tapi pada dasarnya manusia selalu mencari “identitas” dan “jati diri” sehingga saat reformasi dan kebebasan berekspresi orang Tionghoa melalui budaya dan membentuk organisasi massa yang bersifat ke”Tionghoa”an diijinkan kembali, terasa begitu deras bagaikan “air mengalir dari tanggul yang jebol”. Contohnya adalah berdirinya organisasi masyarakat Tionghoa di mana-mana, apakah mereka itu mencari “jati diri” atau hanya sekedar “eksistensi”nya diakui ?

Fenomena Capgome Saat ini.

Saat melihat prosesi itu maka yang terlihat adalah sekedar kegiatan budaya tanpa melihat unsur religiousitas atau hanya menjadi pendamping belaka. Euforia masyarakat Tionghoa akan gotong toapekong itu menurut penulis lebih disebabkan karena adanya rasa kerinduan dan kembalinya pencarian jati diri untuk eksistensinya mereka yang tercerabut, seperti dikatakan Herakleitos “Aku mencari diriku sendiri”. Karena satu masyarakat atau etnis tanpa budaya adalah masyarakat tanpa jati diri dan di era globalisasi ini memang tidak dipungkiri terjadinya lokalisasi dan pencarian nilai-nilai lokal untuk bertahan dari arus globalisasi, dikarenakan tidak memahami makna yang ada dibalik symbol-simbol itu sering kali terjadi adalah “pseudo spiritualitas” dan “euphoria semu” yang menjadikannya direduksi sebagai festival budaya.

Sebagai upaya dan cara agar kegiatan itu bisa diterima masyarakat luas bahkan agar bisa dikatakan nasionalis dan berbaur, mereka mengusung symbol-simbol kebangsaan, tarian daerah. Tentunya hal tersebut tidak buruk, tapi jika kita menilik teori Abraham Maslow tentang “ kebutuhan dasar basic needs ) “, apakah bisa mencerminkan perasaan “tidak aman” kepribadian kolektif mereka ? Atau bisa jadi rasa “kebutuhan akan cinta dan keberadaan” tidak terpenuhi ? Kebutuhan akan “penghargaan” ? Kebutuhan akan “aktualisasi diri” ? Hal itu bisa dipandang dari sudut psikologi, tapi ini juga bisa kita lihat sebagai gerakan sosial agar “Tionghoa” diterima sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, satu gerakan sosial yang membahana dan bergerak bergulir di antara para penyelenggara dan pelaku Capgome, bisa jadi dilakukan secara spontan sebagai “permohonan” agar eksistensi mereka diterima oleh masyarakat luas.

Kemudian saat dilihat dari sudut tujuan perayaan gotong Toapekong, ini bisa menjadi masalah, adalah sacred dan profane yang menjadi tidak jelas, misalnya pengawal “dewa” yang didahului oleh kelompok marching band. Dalam pengertian “dewa” sebagai pegawas, pengusir kekuatan jahat dan inspeksi serta merayakan kegembiraan direduksi seolah-olah hanya satu bagian peristiwa bukan menjadi peristiwa utama. Kalah oleh marching band, dan sebagainya melupakan esensi utamanya seperti yg ditulis diatas.

Jika menyetir pemikiran Jean Luc Marion dalam fenomena tersaturasi, maka fenomena Capgome yang sejatinya sebagai  “event”, kemudian  direduksi sehingga horizon-horizon dari peristiwa Capgome menjadi  tampak. Namun sayangnya yang  tampak itu adalah “pseudo spiritualitas”.  “Event“ history (pengulangan ) dalam pengertian  sebenarnya yakni inspeksi pejabat tinggi untuk mengontrol perilaku pejabat daerah dan menerima semua keluhan rakyat (“event lepas dari yg instan”) .“The hermeunetic of the event is enough to produce a historical community and, through its very inachievabilty to render communication possible[20].”  Jika Capgome hanya dilihat sebagai festival budaya saja maka cap gome bukan event menurut pandangan Marion.

Event disini juga bisa dibahasakan dengan ikon atau yang dalam pengertian Marion sebagai sebuah reflex dari suatu fenomena. Dalam hal ini, gotong toapekong adalah icon atau invisible dari yang visible. Bukan sebagai festival atau idol yang hanya berfungsi sebagai cermin ataupun  sebagai potret dari sebuah kaca yang kemudian memantulkan gambaran sipenatap .  Melainkan  fenomena capgome dapat menampakan ketersingkapan baru atau invisible dari yang visible.

Realitas yang tidak bergerak dan bergerak dari Fenomena Capgome

Realitas  yang tidak bergerak sebagai Das sein tetap tertuju pada sang ilahi yang memiliki niat luhur untuk “hadir”  dan berkomunikasi secara tidak langsung terhadap umatnya. Inspeksi yang dilakukan oleh yang luhur disini sejatinya tetap memiliki tempat sebagai event atau  suatu peristiwa sakral dan sebagai fakultas (idea) besar dari dirayakannya peristiwa cap gome. Fakultas ini yang kemudian tetap diperjuangkan dan tetap “dijaga” oleh masyarakat Tionghoa untuk menemukan dan mengalami suatu pengalaman yang sublime serta tersaturasi oleh fenomena itu sendiri.

Sebagai suatu realitas yang  bergerak, maka pada tahap ini, cap gomeh sebagai Das solen menempatkan dirinya pada realitas serta atributnya pada kerangka profane. Sebagai idea yang tidak bergerak, sebagaimana yang disebutkan diatas bahwa  fakultas yang ilahi tetap mendapatkan tempatnya di wilayah sacral. Akan tetapi pada realitas yang bergerak atribut-atribut yang lekat dengan sponsor dan teman-temanya itu akan terus menghiasi perjalan spiritual cap gome. Wilayah profane sebagai realitas yang bergerak akan terus menghiasi wajah sacral dari peristiwa cap gome dan sejalan dengan itu  pada akhirnya  dualisme antara wilayah sacral dan profane kini pun menjadi kabur.

Tujuan capgome adalah penyatuan antara aku dan Dia, maka jika direduksi seperti yg ditulis Soren Kierkegaard “Keotentikan hidup manusia sebagai subjek atau aku baru akan tercapai kalau individu dengan mata tertutup lompat dan meleburkan diri dalam realitas Tuhan ( Dia )[21].

Pemaknaan kembali capgome pada sudut pandang ini memang mengandaikan bahwa hidup dalam tuhan adalah hidup dalam peleburan utuh antara realitas transenden dan realitas imanen. Sebagai suatu event, capgome memilki karakteristik kuat untuk meleburkan kedua hal tersebut, sehingga diri yang otentik pada tahap ini mendapatkan eksistensinya melaui penerimaan diri akan realitas yang ilahi serta realitas cap gome itu sendiri sebagai suatu event yang tersaturasi.

Kesadaran akan dirinya berada adalah kesadaran akan sesuatu, dengan kata lain kesadaran itu berada pada wilayah intensionalitas. Untuk itu manusia yang otentik pada peristiwa ini adalah diri yang sadar akan realitas lain. Dan pada peristiwa capgome kesadaran akan realitas “lain” adalah kunci untuk peleburan diri dan kesatuan terhadap sang ilahi. Kehadiran atau inspeksi  pada perayan capgome tidak akan menjadi berarti jika kesadaran akan kehadiran ya ng lain itu tidak muncul pada diri manusia yang “didatangi” oleh sang inspeksi.

Kesimpulan

Terjadinya reduksi nilai-nilai religiusitas dengan mengusung “festival” sehingga masuknya unsur-unsur ‘sponsor’ yang menjadikan perayaan capgome sebagai suatu festival bukan event yang melandaskan pada kerinduan akan yang transenden. Masuknya sponsor menjadikan budaya tontonan dan “promo girl” ( Pilliang:2004,116 )[22]. Paradoks antara kepentingan “spiritual” dengan kepentingan “kapitalis”. Yang ingin ditampilkan kemudian menjadi kabur, alih –alih  menciptakan “stage of religious” ia justru menjadi stage of “sponsor” .  Kloning kebudayaan yang terjadi memang ada dan merupakan hal yang wajar terutama dalam lingkungan komunitas Tionghoa tapi yang menjadi masalah adalah terjadinya pergeseran makna dan euphoria yang berlebihan, menurut Charles Taylor karena adanya kerinduan pencarian jati diri. Pada kondisi sekarang ini akan terasa sulit jika kita menghapuskan unsur komersialisasi dari kegiatan gotong toapekong ini, tapi alangkahnya indahnya jika ‘sponsor’ tidak membangun “stage of sponsor”.

Eksistensi terbentuk saat komunitas dibangun kembali melalui budaya dan dalam hal ini, Capgome adalah fenomena yang memungkinkan masyarakat Tionghoa menemukan ‘eksistensinya’ jika event capgome dirayakan dan dihayati sebagaimana ia hadir sebagai fenomena yang tersaturasi. Dan tentunya dibutuhkan kesadaran akan “kehadiran  lain” atau relasional yang dapat membawa kita pada  ketersingkapan baru dalam intepretasi suatu budaya. Capgome juga merupakan “spiritual quest” yang tiada berakhir, suatu perjalanan penyatuan diri dan juga pemenuhan spiritual yang berjalan melalui ekspresi budaya.

 

Daftar pustaka :

Marion Jean Luc, Being Given toward a fenomenology of givennes,Standford University press.2002

Wu Zude 吳祖德, “ 300 Soal Sejarah Budaya Tiongkok” ( 中國文化史 300 ), hal.404, ed.6 tahun 2004, Shanghai : Shanghai Classic Book Publisher 上海古籍出版

Zaenal, Abidin, Fisalfast Manusia-Memahami Manusia Melalui Filsafat ,PT Remaja Rosdakarya,Bandung 2011

Sandi Suwandi Hasan, “Pengantar Cultural Studies”, Jogjakarta : Ar-Ruzz Media.2011

Jin Qinghai.  2009“從廟會文化中的戲曲臉譜及神明雕像直觀生命之美”[ Intuisi Keindahan Hidup dari opera topeng dan ukiran patung di budaya temple fair ]. Dalam  得渡鼓[Genta Tambur Penbebasan] VII: 273-275. Taiwan

Piliang, Yasraf Amir, “Posrealitas : Realitas Kebudayaan dalam Era Posmetafisika”, 2004, Yogyakarta : Jalasutra

He Huazhang 賀華章, “Ensiklopedia Bergambar ZhouYi 圖解周易大全”, hal.233, 2010, Xi An : Shan Xi Normal University publisher 陝西師範大學出版社.

Gui Fu桂馥Kamus “Kebenaran Interpretasi dari Kamus Shuowen” 說文解字義證, edisi ke 2, 1988, Beijing : China Book Store Publisher 中華書局出版社.

Cassier, Ernst, ” Manusia dan Kebudayaan : Sebuah Esei Tentang Manusia”, 1987, Jakarta : PT Gramedia

 

Catatan Kaki :

[17] Huibi disini saya artikan memberi jalan, bukan menyingkir

[18] Lih : Jin Qinghai.  2009“從廟會文化中的戲曲臉譜及神明雕像直觀生命之美”. Dalam  得渡鼓 VII: 273-275. Taiwan (bisa diunduh dalam bentuk pdf di http://www.yct.com.tw/life/publicatiom-a98.htm )

[19] Dinasti Qing sendiri sebenarnya adalah dinasti yang didirikan oleh orang Manzhu dan sering dianggap sebagai dinasti penjajah tapi seiring dengan jaman, dinasti Qing mengalami sinifikasi. Berbeda pada saat mereka berhadapan dengan barat.

[20] Jean Luc Marion, Being Given, Being Given toward a fenomenology of givennes,Standford University press.2002 Hal.229.

[21] Zainal Abidin,Fisalfast Manusia-Memahami Manusia Melalui Filsafat ,PT Remaja Rosdakarya,Bandung 2011.Hal.150

[22] Yasfraf menuliskan pengertian “promo girl” sebagai pendamping komoditi dan dalam fenomena Capgome ini, para pelaku prosesi gotong Toapekong ini menjadi “promo girl”. Yang mana hal itu tidak terbayangkan sebelum era kapitalisme memasuki ranah religious, menjadikan aktifitas religious sebagai ajang promosi.

 

Oleh : Ardian Cangianto & Stefanus Dominggus

 

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya TionghuaFacebook Group Budaya Tionghoa

 

Rate this item
(1 Vote)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/3618-eforia-capgome-dimasa-reformasi-2

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto