A+ A A-

Review Film : Saving General Yang (2013)

  • Written by  Benny (Bentara)
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

“Saving General Yang” diadaptasi dari legenda berbasis sejarah mengenai kegagahan Keluarga Yang yang mempertaruhkan kehormatan dan nyawa untuk membela negaranya dari serangan bangsa Khitan. Kisah “Keluarga Yang” ini sudah berulangkali diangkat dalam bentuk serial drama , film layar lebar , opera dan berbagai adaptasi lainnya. Kali ini sutradara veteran Ronny Yu kembali mengangkatnya ke layar lebar dengan dukungan demikian banyak artis populer.

 

Bermula ketika Yang Yanzhao (Wu Chun) bersama adiknya , Yang Yansi (Fu Xinbo) , tanpa mengindahkan larangan ayahnya , Jendral Yang Ye (Adam Cheng) , mengikuti kompetisi bela diri demi Putri Chai (Ady An) . Tanpa sengaja anak dari Pan Renmei (Bryan Leung) tewas dalam kompetisi itu.

Walaupun Jendral Yang Ye menghukum keras kedua anaknya . Kasus itu terus berlanjut ke istana kekaisaran karena melibatkan dua klan penting antara klan Yang dan klan Pan. Tiba-tiba bangsa Khitan datang menyerbu dibawah pimpinan Yelv Yuan (Shao Bing). Kaisar akhirnya memerintahkan Pan Renmei sebagai panglima tertinggi dibantu oleh Jendral Yang Ye untuk menghadang serbuan Khitan.

Pada saat pertempuran mulai meletus . Panglima Pan rupanya masih mendendam atas kematian anaknya dan melampiaskannya dengan cara membiarkan Jendral Yang Ye terkepung oleh musuh. Jendal Yang Ye berhasil menyelamatkan diri tetapi terkepung dengan kondisi terluka parah di Bukit Serigala Kembar.

Semua itu sejalan dengan rencana Yelv Yuan untuk membalaskan dendam ayahnya yang dulu pernah dikalahkan oleh Jendral Yang. Tujuan Yelv adalah sengaja membiarkan Jendral Yang dengan harapan ketujuh putra keluarga Yang datang menyelamatkan ayahnya.

Istri Jendral Yang , Saihua (Xu Fan) meminta petunjuk dari seorang guru tua yang misterius tentang peruntungan dalam konflik ini. Muncullah sebuah pesan singkat yang menyatakan bahwa “Tujuh orang akan pergi , hanya enam yang kembali”. Maka berangkatlah ketujuh putra keluarga Yang yang tampan dan gagah berani ini. Saihua berpesan pada anak-anaknya satu persatu , terutama pada Yang Yanzhao (Wu Chun) agar bisa membawa ayah mereka kembali. Anak tertua , Yang Yanping (Ekin Cheng) pun berjanji pada ibunya bahwa dia akan menjaga keselamatan adik-adiknya. Saihua juga berpesan bahwa adik harus mematuhi perintah kakaknya.

Yan Yanping kemudian memimpin adik-adiknya ,  bersama pasukan kecil untuk melacak jejak ayahnya. (Urutan anak tertua sampai termuda. Yang Yanping (Ekin Cheng) , Yang Erlang (Yu Bo) , Yang Sanlang (Vic Chou) , Yang Silang (Li Chen) , Yang Wulang (Raymond Lam) , Yang Liulang / Yang Yanzhao (Wu Chun) , Yang Yansi (Fu Xinbo)

Mereka melalui pemandangan yang mengerikan di medan perang yang penuh darah dan bangkai. Walau demikian pasukan kecil ini dengan mudah melalui hadangan awal Khitan dengan kemampuan berperang yang menakjubkan. Dapatkah keluarga Yang ini menghadapi berbagai kesukaran dan menyelamatkan ayahnya?

Bagi yang paham dengan Sejarah Tiongkok semestinya sudah tahu garis besar ceritanya sehingga ending cerita yang legendaries dan populer ini sudah bisa ditebak.

Sisi menarik dari film ini adalah bertaburannya aktor-aktor besar dan populer dari Wu Chun (14 Blades , My Kingdom) , Raymond Lam (White Snake) , bintang remaja Fu Xinbo yang merupakan personil dari band Bobo , Vic Chou yang merupakan mantan bintang F4 , Ady An yang merupakan bintang cantik asal Taiwan .Beberapa aktor senior seperti aktor legendaries Hong Kong seperti Adam Cheng dan Bryan Leung juga turut memeriahkan suasana. Adam Cheng sendiri menjadi salah satu pemeran kunci dalam film ini.

Sinematografinya cukup baik dengan beberapa panorama yang memikat. Sayangnya film ini berkesan multi-tokoh sehingga pendalaman tiap karakternya jadi berkurang. Pasukan keluarga Yang seperti dibiarkan oleh sutradara Ronny Yu untuk muncul begitu saja seperti “Dream Team” pasukan kecil dengan pemuda-pemuda yang tampan dan gagah. Dan juga hubungan cinta antara Wu Chun dan Ady An dalam film ini yang semestinya bisa jadi bumbu menarik malah dibiarkan hambar.

Bakti Terhadap Keluarga Dan Negara.

Hanya saja moral story dari film ini tetap berkesan , terutama bagi penonton yang akrab dengan budaya dan sejarah Tionghoa. Disini kembali ditonjolkan nilai kesetiaan kepada negara , hubungan atasan dan bawahan , bakti kepada orang tua , adik harus menghormati kakak , kakak harus melindungi adiknya , jiwa pengorbanan  dan ikatan keluarga yang kuat yang ditunjukkan Keluarga Yang sebagai salah satu klan yang berpengaruh dalam masa Dinasti Song.

Adam Cheng masih memiliki kharisma untuk memerankan figure legendaries Jendral Yang Ye. Sebagai ayah terlihat bagaimana Yang Ye berhasil mendidik anak-anaknya sebagai ksatria . Sebagai pimpinan tinggi kemiliteran dia tidak hanya mengurusi masalah kepentingan pribadi saja tetapi juga peduli terhadap bawahan.

Ekin Cheng yang juga aktor senior berperan sebagai kakak tertua Keluarga Yang. Dari karakter yang diperankannya , kita bisa merasakan bagaimana hak dan tanggung jawab seorang kakak tertua laksana pengganti ayah bagi adik-adiknya. Dia punya hak yang besar sebagai seorang kakak tertua , tetapi juga punya tanggung jawab yang berat untuk menjaga adik-adiknya , kalau perlu dengan mempertaruhkan nyawa.

Wu Chun memerankan salah satu adik termuda dalam Keluarga Yang. Dari karakter yang diperankan Wu Chun kita bisa merasakan bagaimana bakti seorang anak terhadap orangtuanya , dalam hal ini kepada ibunya. Peran yang sama namun berbeda juga diperankan Shao Bin sebagai antagonis .

Rating : 6.5

Benny / Bentara

 

 

Rate this item
(16 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/3664-review-film-saving-general-yang-2013

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Tionghoa

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto