A+ A A-

Mementaskan Kwee Tek Hoay: Mengilaukan Berlian Sastra Indonesia yang Sempat Terkubur Featured

  • Written by  Veronica B. Vonny
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

 

Budaya-Tionghoa.Net |Inilah pemenang lomba menulis artikel budaya Tionghoa, dengan predikat juara 2 dan juara favorit kategori non fiksi.

BERKESEMPATAN menggeluti kehebatan karya-karya seorang Kwee Tek Hoay, mentransliterasikan[1]nya, lalu mengadaptasi[2]nya, sampai kemudian menyaksikannya dipentaskan di atas panggung Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), merupakan suatu kepuasan dan kebanggaan tersendiri bagi saya. Ya, sejak tahun 2004, saya telah menulis ulang beberapa naskah drama Melayu-Tionghoa yang selama puluhan tahun sempat terpinggirkan dari sejarah sastra Indonesia, dan berkolaborasi dengan sutradara Daniel H. Jacob, yang lewat Teater Bejana asuhannya mementaskan drama-drama tersebut dengan cukup sukses.

Tiga karya Kwee Tek Hoay, yaitu Nonton Tjapgome, Pentjoeri, dan Zonder Lentera, adalah hasil kolaborasi apik kami yang sudah dipentaskan, setelah sebelumnya teater yang sama memanggungkan karya terkenal Kwee Tek Hoay lainnya, Boenga Roos dari Tjikembang, yang diadaptasi oleh M. Yoesoev[3]

Latar Belakang

Sebagai pencinta dan penggelut sastra Indonesia (terkhusus saya sendiri kebetulan terlahir sebagai keturunan Tionghoa), tentu ada rasa “tak ikhlas” apabila karya hebat para leluhur saya dianaktirikan, bahkan tidak dianggap memiliki pengaruh yang cukup penting pada perkembangan dunia sastra di negeri tercinta saat ini, seperti yang terjadi selama ini. Padahal, sastra tulis karya pengarang Melayu-Tionghoa (Tionghoa Peranakan) di Indonesia sudah tumbuh jauh lebih mula daripada sastra Indonesia asli yang didominasi pengarang pribumi asal Sumatra.

Mayoritas pakar dan kritikus sastra bersetuju bahwa sastra Indonesia baru ada sejak berdirinya Balai Pustaka (1917), penerbit bentukan Pemerintah Hindia Belanda, dengan karya pertama Azab dan Sengsara karya Merari Siregar (1921). Padahal, jauh sebelumnya, telah terbit buku-buku karya pengarang Tionghoa Peranakan yang tak kalah apik. Karya pertama yang dibukukan adalah Sair Kedatangan Sri Maharaja Siam di Betawi (1870) dengan nama pengarang anonim (namun diyakini adalah orang Tionghoa), disusul Kitab Eja A.B.C. (1884) dan Syair Hikayat Siti Akbari (1918) karya Lie Kim Hok, sertabeberapa tulisan karya pengarang lainnya,

Bahkan, secara kuantitatif, menurut perhitungan Claudine Salmon, selama kurun waktu hampir 100 tahun (1870–1960) Kesusastraan Melayu-Tionghoa telah menghasilkan 806 penulis dengan 3.005 buah karya. Bandingkan dengan catatan Prof. Dr. A. Teeuw bahwa selama hampir 50 tahun (1918-1967), dalam kesusastraan modern Indonesia asli hanya ada 175 penulis dengan sekitar 400 buah karya. Kalau dihitung sampai tahun 1979, sebanyak 284 penulis dan 770 buah karya.

Atas dasar itulah, sangat patut kita kedepankan kembali nama Kwee Tek Hoay sebagai salah satu pengarang Tionghoa dengan “jam terbang” sangat tinggi.

Siapakah Kwee Tek Hoay?

Photo: Kwee Tek Hoay - sumber : http://handrianwidjaja.blogspot.com/

Sebelum menelisik keunikan sekelumit karya Kwee Tek Hoay—khususnya yang pernah saya adaptasi—ada baiknya kita kenali lebih dalam siapa beliau dan jejak apa saja yang pernah dibuatnya bagi bangsa ini.

Kwee Tek Hoay lahir di Bogor pada tanggal 31 Juli 1886. Seperti sebagian besar anak Tionghoa zaman itu, ia mendapat pendidikan sekolah Tionghoa dengan pengantar Bahasa Hokkian. Ia juga sangat menguasai bahasa Inggris, Belanda, Sunda, dan Melayu. Bahasa Inggris dipelajarinya secara privat dari seorang India, S. Maharaja, yang juga guru Tiong Hoa Hwee Koan (setingkat SD) di Bogor. Sedangkan bahasa Belanda dipelajarinya dari Lebberton dan Wotman, pengurus Loge Theosophie, juga di Bogor.

Ia mulai senang mengarang sejak masih sekolah, tanpa sepengetahuan orangtuanya, dengan mulai menulis buku dan mengembangkan bakat jurnalistiknya. Tulisannya dimuat di berbagai surat kabar pada masa itu seperti Li Po, Sin Po, Ho Po, dan Bintang Betawi. Sebagai penulis, ia kerap kali menggunakan inisial “KTH”. Selain menjadi jurnalis, penulis, sastrawan, dan kritikus, KTH adalah seorang pedagang (ia membuka toko tekstil bernama ”Toko KTH”), organisator, bahkan juga rohaniwan.

Berturut-turut ia menjadi kepala redaksi Harian Sin Bin (Bandung, 1925), pimpinan redaksi Mingguan Panorama (1930–1932), Majalah Bulanan Moestika Panorama (1930–1934—kemudian berganti nama menjadi Moestika Romans) yang menampilkan cerita-cerita bulanan dalam bentuk buku, Mingguan Moestika Dharma (1932–1934), dan Majalah Sam Kauw Gwat Po (1934–1937) yang khusus membahas masalah agama. Keunggulan KTH dibanding pengarang-pengarang lain pada masa itu: ia mempunyai penerbitan dan percetakan sendiri untuk menerbitkan karya-karya para pengarang Tionghoa, yaitu Penerbit Moestika, yang didirikan pada 1931 di Jakarta dan kemudian dipindahkan ke Cicurug, Bogor, pada 1935.

KTH tercatat sebagai sastrawan Tionghoa paling produktif dan telah memberikan sumbangsih sangat besar bagi dunia kepenulisan dan perkembangan media massa di Indonesia melalui penerbit, percetakan, maupun toko buku yang didirikannya. Menurut Claudine Salmon, KTH menghasilkan sekitar 115 karya, berupa buku, stensilan, komik, koran harian/mingguan, majalah bulanan, serta sejumlah esai. Karya sastranya yang cukup terkenal adalah Boenga Roos dari Tjikembang (1927, drama percintaan), Drama di Boven Digul (1929–1932, drama tentang pemberontakan PKI di tahun 1926), dan Kehidupannya Sri Panggung (1931). Karya-karyanya yang lain berbicara tentang politik, pendidikan, sosial-budaya, masalah kewanitaan, agama, bahasa Melayu yang benar, teknik mengarang, dan lain-lain.

Kwee Tek Hoay tidak hanya menjadi penulis bagi golongan peranakan. Menurut sejarawan Tionghoa, Didi Kwartanada, KTH juga mewariskan catatan tentang pergerakan Indonesia modern, khususnya lewat serial tulisannya yang berjudul Atsal Moelahnja Timboel Pergerakan Tionghoa Modern Pertama di Indonesia. Dalam tulisan tersebut, ia memperkenalkan suatu organisasi modern pertama Tionghoa di Indonesia, berupa sekolah dan gerakan Tiong Hoa Hwee Kwan (THHK) yang pengaruhnya besar sekali, seperti halnya Budi Utomo.

Ia meninggal pada tanggal 4 Juli 1952 dalam usia 66 tahun di Desa Warung Ceuri, Cicurug, Priangan, Jawa Barat. Jenazahnya diperabukan di Muara Karang, Jakarta, pada tanggal 6 Juli 1952, bertepatan dengan peringatan Hari Asadha.

Kwee Tek Hoay adalah sosok besar dalam dunia sastra, agama Buddha, dan ia dihormati sebagai pendiri organisasi Tridharma di Indonesia (1934; semula bernama Sam Kauw Hwee atau “perkumpulan tiga agama”—suatu aliran yang menyatukan agama Buddha, Taoisme, dan Confusianisme). Selama rezim Orde Baru, namanya sempat tenggelam. Dalam sebuah diskusi tentang KTH di Warung Apresiasi Bulungan pada 7 Februari 2005—jelang pentas pertama Nonton Capgome di GKJ—Leo Suryadinata[4] mengatakan bahwa KTH mungkin adalah penulis peranakan yang paling kompeten menulis mengenai masalah Tionghoa-Indonesia sebelum Perang Dunia II. Dalam diskusi tersebut, Dra. Lenny Kosasih, salah satu cucu kandung KTH, bercerita bahwa seorang temannya yang belajar sosial-politik dan sastra Indonesia di Negeri Belanda justru diharuskan membaca habis karya-karya kakeknya sebagai prasyarat kelulusan. Sementara, di Indonesia sendiri, pada saat itu nama besar KTH masih setengah terkubur.



[1] Menyalin sembari mengubah bentuk karya (dalam hal ini dari novel menjadi teks drama).

[2] Sedikit mengubah/menambahkan beberapa variasi untuk keperluan pemanggungan, seperti lagu, tarian, dialog, tokoh, alur, dan seting.

[3] Dosen Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia (juga mantan dosen saya dan Daniel). 

[4] Ahli ilmu politik dari National University of Singapore


Syukurlah belakangan ini semakin banyak orang yang menyadari dan mengangkat nama dan jasa besarnya. Pada tanggal 7 November 2011, sesuai Keppres RI No. 115/TK/TAHUN 2011, Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, memberikan apresiasi tinggi kepada Kwee Tek Hoay dengan memberikan Piagam Penghargaan Bintang Budaya Parama Dharma atau Pahlawan Sastrawan Melayu atas karya-karyanya yang sangat berguna untuk bangsa Indonesia. Penghargaan ini diberikan langsung oleh Presiden SBY kepada salah satu keturunan Kwee Tek Hoay di Istana Negara dalam rangka menyambut Hari Pahlawan (10 November).

Pada 5 Agustus 2012, KTH meraih piagam penghargaan dari Kementerian Agama Republik Indonesia Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha sebagai Pelopor/Pengembang Agama Buddha di Indonesia dan sebagai Bapak Tridharma Indonesia. Selain itu, atas jasanya yang sangat besar di bidang sastra, sosial, dan agama, pada 16 September 2012, Gubernur DKI Jakarta saat itu, Fauzi Bowo, meresmikan penggunaan namanya pada salah satu kawasan terkenal di Jakarta (Pecinan/Glodok dan sekitarnya) sebagai “Kawasan China Town Kwee Tek Hoay”.

Humor dan Sentilan Khas yang Tetap Aktual

Setelah pertama kali mementaskan karya Kwee Tek Hoay berjudul Boenga Roos dari Tjikembang (2004) yang diadaptasi oleh M. Yoesoev, selanjutnya Daniel H. Jacob selalu bekerja sama dengan saya dalam membuat adaptasi naskah-naskah Kwee Tek Hoay lainnya (dan dalam proyek-proyek berikut akan kami garap juga karya-karya sastrawan Melayu-Tionghoa lain yang tak kalah menarik).

Drama panggung Nonton Capgome berasal dari sebuah novel pendek berjudul Nonton Tjapgome(terbit tahun 1930) yang saya alih-bentuk (transliterasi) menjadi naskah drama dan dipentaskan Teater Bejana pada 28 Agustus 2004 di Balai Sarbini dan dipentaskan lagi pada 13–14 Februari 2005 di Gedung Kesenian Jakarta. Setelah vakum beberapa tahun, misi kami berlanjut dengan mementaskan Pentjoeri Hati, pada 7–8 Agustus 2010 di Gedung Kesenian Jakarta, yang saya kembangkan dari drama pendek berjudul Pentjoeri—Tooneelstuk dalem Satoe Bagian, yang terbit pertama kali tahun 1936). Naskah berikutnya kembali saya besut dari novel KTH berjudul Zonder Lentera—atawa Hikajatnya Satoe Wijkmeester Rakoes (terbit 1930), yang dipentaskan pada 9–10 Februari 2011, juga di Gedung Kesenian Jakarta,dengan judul Zonder Lentera. Nonton Capgome dipentaskan ulang pada 9 Februari 2012 di pelataran Wihara Petak Sembilan (Toa Se Bio), Jakarta, dan terakhir pada 2–4 Februari 2012, lagi-lagi di Gedung Kesenian Jakarta. Pentas ulang ini tetap mendapat sambutan hangat penonton, bahkan pada hari ketiga pementasan, lebih dari 80% bangku terisi. “Hampir 300 dari kapasitas 470 penonton,” rinci Hendra Merah Jambu, asisten sutradara di Teater Bejana, sebagaimana dikutip dari situs KBR68H.

Pentas : Nonton Tjapgome - sumber : http://us.images.detik.com/customthumb/2012/02/03/157/Teater-1.jpg?w=600

Secara keseluruhan pementasan drama Melayu-Tionghoa yang pernah dilakukan Teater Bejana tercatat 11 kali (Nonton Capgome sudah empat kali pentas, Boenga Roos dari Tjikembang lima kali, sedangkan Zonder Lentera dan Pentjoeri Hati masing-masing satu kali).

Menelaah karya-karya KTH, saya menangkap gaya humor yang begitu kuat dan khas dalam dialog-dialog ringan yang dibuatnya. Lewat bahasa sehari-hari, KTH dengan mudah membuat pembaca maupun penonton tertawa terpingkal-pingkal atas kelucuan adegan maupun dialog tokoh-tokohnya. Sentilan-sentilan yang spontan dan bernada sinis-ironis namun sangat mengenai sasaran kerap dihadirkannya dengan asyik tanpa terkesan menggurui, tidak seperti karya-karya sastra Melayu Klasik terbitan Balai Pustaka ataupun penerusnya, Pujangga Baru, yang sering kali mengandung pesan moral yang teramat tersirat.

Dalam Nonton Tjapgome, KTH dengan jenaka mengkritik kekolotan kaum peranakan di Indonesia dari golongan tua yang teramat teguh memegang tradisi tanpa mau peduli bahwa zaman terus berubah semakin terbuka dan modern.

“Dalem ini cerita Nonton Capgome kita mau coba lukisken salah satu dari itu bentrokan perguletan antara itu dua golongan kuno dan baru, yang bersifat humoristisch, kerna ini buku diterbitken di waktu taon baru Tionghoa Imlek, hingga kita pikir lebih baek, suguhken pada pembaca satu cerita yang lucu, dari pada yang menyedihken dan tumpahken aer mata. Cicurug, 6 Januari 1930.”

Demikian tulis Kwee Tek Hoay dalam bagian Pendahuluan novel 11 bab yang diterbitkan pertama kali oleh Drukkerij Hoa Siang In Kiek, Batavia, dengan cetakan pertama sebanyak 1.500 eksemplar pada Januari 1930 (nomor perdana Moestika Panorama), dan dicetak kedua kali pada November 1930 karena banyaknya permintaan pelanggan.

Memang tak berlebihan dan sangat cerdas gaya KTH menyuguhkan pesan “menyadarkan generasi tua agar tidak kolot menyikapi zaman” yang secara fakta sangat aktual dan masih sering menjadi persoalan yang dihadapi banyak orang hingga sekarang. Betapa tidak, ia mengambil tokoh seorang pemuda yang menyamar menjadi banci dan seorang gadis yang menyamar menjadi pria untuk menyampaikan pesan tersebut. “Banci-banci yang kita lihat di televisi dan film biasanya cuma untuk lelucon, bodoh, dan lemah. Namun, di Nonton Capgome, justru tokoh yang diwakili Frans dan Diana itulah yang membuka kekolotan atau yang menyampaikan kritik,” ungkap Daniel, sang sutradara.

Secara singkat begini kisahnya:

Sepasang pengantin baru bernama Thomas Sien dan Lies Soen ingin pergi menonton perayaan Capgomeh (perayaan 15 hari setelah Imlek). Mereka bertengkar karena Thomas ingin mengajak Lies menghadiri pesta yang sudah dirancang bersama teman-teman prianya, sedangkan Lies takut pada orangtua dan kakak-kakaknya yang kolot, yang menganggap tabu seorang wanita bergandengan tangan di jalan raya dengan seorang lelaki, meskipun itu suaminya sendiri. Akhirnya Lies memilih pergi bersama keluarganya. Thomas yang kesal kemudian bersepakat dengan Frans, sahabatnya. Ia sengaja memanas-manasi Lies sekeluarga dengan berjalan sambil menggandeng mesra Frans yang memakai pakaian wanita. Simak petikan dialog mereka berikut ini.

 

FRANS

(berpikir sejenak, kemudian tersenyum sambil menjentikkan jari)Bagimana kalu yang kau pimpin dan ajak jalan sama-sama ada satu siocia palsu? … Kau tau, bagimana bagus aku sudah bisa tiru sikepnya satu gadis dalem pertunjukan toneel derma. Dengen pake itu rambut palsu, Shanghai dress yang model paling baru, pupur yang tebel, alis dicet dan bibir serta pipi dipakein rouge tida satu manusia bisa sangka aku bukan prampuan tulen. Istri dan mertuamu tentu bakal jadi sanget mendongkol, tapi nanti kalu marika liat kau pulang di rumah bersama aku, pastilah ia-orang tida punya alesan buat gusar lebih lama, kerna berjalan dengen menyamar begitu rupa sudah umum di waktu Capgome. Dengen begitu, kau pindahken kau punya kajengkelan pada dadanya kau punya hujin-lang dan familienya. Manakah lebih baek, tinggal di rumah dengen hati mendongkol atawa pergi jalan-jalan aken kasih satu plajaran pada itu orang-orang kuno supaya mendusin pada kakliruannya?

 

THOMAS

(tersenyum, girang, menepuk pundak Frans) Itu pikiran betul bagus sekali! Lekaslah kau pulang aken lakuken itu penyamaran. Aku tunggu kau di Mangga Besar samping schouwburg Thalia!

Diana, sepupu Lies, kemudian menyarankan pembalasan dendam. Lies pun ganti berjalan mesra dengan Diana yang memakai pakaian pria di depan keluarga Thomas. Pertengkaran hebat yang seru namun kocak pun terjadi di antara kedua keluarga. Keluarga Lies sempat panik dan mengira Lies sudah bunuh diri karena kamarnya diketuk-ketuk tidak ada sahutan. Di saat panik demikian, keluarga Thomas datang dengan segudang serapah akan menantu mereka. Akhirnya semua panik mencari dan memanggil-manggil Lies, sampai ibunda Lies menangis berguling-guling. Padahal, di halaman, diam-diam Lies, Diana, Thomas, dan Frans, sudah saling membongkar rahasia dan tertawa-tawa.


Pentjoeri Hati, naskah aslinya adalah sebuah drama pendek yang hanya terdiri atas 31 halaman, berjudul PENTJOERI – Tooneelstuk dalem Satoe Bagian (diterbitkan Drukkerij Moestika, Batavia, cetakan I, 1936). Pada halaman judul bagian dalam buku tipis itu, di bawah judul dan subjudul terdapat keterangan:

Satoe lelakon loetjoe dalem penghidoepan golongan Tionghoa hartawan di Djawa Koelon.”

Pentas Pentjoeri Hati, GKJ, 7-8 Agustus 2010

Dalam kata pengantarnya tertanggal “Tjitjoeroeg[1], 7 December 1935”, Kwee Tek Hoay mengatakan, naskah ini dibuat karena banyaknya permintaan dari berbagai perkumpulan Tionghoa kepada dirinya, untuk membuatkan cerita tooneel (tonil/drama) yang bertempo paling lama satu jam. Latar kejadiannya dibuat di Batavia, sehingga dalam lakon ini disisipkan kata-kata bahasa Betawi. Ia berpesan, apabila dipertunjukkan di daerah lain, hendaknya kosakata dan logat disesuaikan dengan masyarakat setempat. Ia juga memberikan saran dalam soal pakaian pemain. Dikatakannya, anggapan bahwa di atas panggung seorang pemain harus memakai kostum sebagus-bagusnya, adalah keliru. Hendaknya pakaian pemain dalam tonil modern disesuaikan dengan kehidupan sehari-hari yang sebenarnya.

Karena aslinya merupakan lakon yang sangat singkat, khusus pada penulisan naskah ini saya mengadakan penambahan adegan dan tokoh sekitar 60%, untuk keperluan pementasan sekitar 2,5 jam. Saya juga banyak mengurangi kalimat-kalimat yang umumnya terlalu panjang, pada dialog-dialog naskah ini. Penambahan tokoh dilakukan untuk menghidupkan cerita, terutama dengan menghadirkan tokoh-tokoh yang dialog maupun lakunya mampu mengundang tawa penonton. Penambahan juga dilakukan pada alur yang aslinya sangatlah sederhana. Namun, semuanya itu sama sekali tidak mengaburkan jalan cerita asli dan pesan yang ingin disampaikan pengarang asli. Dalam Pentjoeri, KTH menyentil orang-orang yang sering memandang orang lain berdasarkan perbedaan derajat.

Yauw Kong Lo, seorang ayah dari keluarga yang terpandang dan berpendidikan tinggi (meskipun belakangan agak mengalami kesulitan keuangan), melarang putranya yang bernama Peter Yauw menikahi kekasihnya, Lientje Tjee, karena berasal dari keluarga miskin dan tak berpendidikan (meskipun saat itu sudah menjadi hartawan). Demi menyadarkan orangtuanya dan memperoleh restu, Peter pura-pura mencuri perhiasan Lientje lalu pura-pura menggadaikannya pada seorang kerabat yang memiliki rumah gadai. Kie Swan Kim, pemilik pegadaian, kemudian mendatangi orangtua Peter dan mengatakan bahwa ada dua polisi Belanda yang menanyainya karena perhiasan yang sama persis dilaporkan telah dicuri dari rumah Lientje dan Peter terancam akan dipenjara. Yauw Kong Lo dan istrinya panik. Kelucuan timbul dari kepanikan ibu Peter yang sampai pingsan dan beberapa kali pula dipanggilkan dukun yang salah oleh pembantu mereka yang lugu. Peter disuruh mengembalikan uang hasil penjualan perhiasan itu. Ibu Peter terpaksa menelepon Lientje dan merayu-rayu agar keluarga gadis itu mencabut laporan di polisi, agar Peter tidak perlu ditangkap. Pada akhirnya barulah terkuak bahwa semua itu hanya akal-akalan Peter untuk mencuri hati orangtuanya agar menyetujui hatinya yang sudah dicuri oleh Lientje. Pernikahan pun digelar dengan meriah pada akhir cerita.

Coba simak bagaimana liciknya kedua orangtua Peter “menjilat” Lientje yang di awal cerita mereka usir-usir dengan teganya. Bukankah yang seperti ini masih (bahkan makin) kental terjadi di mana-mana?

 

Nyonya Kong Lo datang setengah berlari, dengan muka belum terpulas bedak dengan rata. Baju kebayanya pun acak-acakan, belum diberi peniti. Ia lalu menubruk dan memeluk-cium Lientje hingga gadis itu mundur beberapa tindak dengan rupa ketakutan.

 

NYONYA KONG LO

(sambil memeluk cium) Ai, Lientje, si manis, si botoh, yang Encim paling sayang..., baru sekarang dateng di sini, sampe Encim kangen satengah mati! Marih duduk di sini, minum thee!

 

LIENTJE

Trima kasih, Cim.

 

Kong Lo mengangkat satu kursi untuk Lientje duduk. Nyonya Kong Lo tarik tangan Lientje yang agak malu dan sangsi, hingga terpaksa duduk. Lantas, Kong Lo menuangkan sirop ke gelas, istrinya menuangkan teh ke cangkir. Berbarengan keduanya menyodorkan minuman hingga Lientje bingung. Swan Kim dan Peter berdiri mengawasi sambil tersenyum. Akhirnya, Lientje mengambil kedua minuman lalu menaruh di pinggir meja. Kong Lo dan istri lalu berbareng menyodorkan biskuit dan kue-kue sambil mendesak Lientje untuk memakannya.

 

LIENTJE

(dengan bingung)  Banyak trima kasih, Cek, Cim…, biar saja saya ambil sendiri, saya bukan tetamu yang kudu dilayanin.

 

NYONYA KONG LO

Encim memang harep-harep Lientje tida jadi tetamu lagi, dan bakal tetep selamanya temenin Encim di ini rumah, ya, Manis? Ya, Lientje musti jadi kita punya anak, di antero Batavia tida ada gadis yang lebih berharga dari Lientje buat jadi kita punya anak...!

 

Seperti juga naskah Nonton Capgome, naskah Zonder Lentera pun ditransliterasi dan diadaptasi dari sumber buku Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia Jilid 4 (Penyunting: Marcus AS dan Pax Benedanto, Kepustakaan Populer Gramedia, 2001), yang menampilkan novel Zonder Lentera secara utuh. Naskah aslinya dicetak pertama kali oleh Drukkerij Panorama, tahun 1930. Karena pengadeganan di sini sudah lumayan lengkap, penambahan untuk keperluan pemanggungan yang dilakukan kali ini hanya sekitar 20%, sedangkan pada Nonton Capgome sekitar 30%.

Lagi-lagi, dalam novel ini KTH menampilkan ciri khasnya: lakon yang serius tapi kocak, dengan alur tak tertebak dan kejutan di akhir cerita, serta berisi pesan positif yang tetap aktual sampai sekarang, yaitu tentang karier seorang pejabat Tionghoa di zaman Belanda bergelar wijkmeester/bek (= bek, setingkat ketua RW sekarang), yang suka korupsi, main perempuan, berjudi, dan suka menjilat atasan. Bek bernama Tan Tjo Lat ini akhirnya harus mendekam di penjara hanya karena dua anak sekolah yang naik sepeda zonder lentera (tanpa lampu). Kecerdikan, keberanian, dan kejujuran anak-anak muda yang masih sekolah ini digarisbawahi sebagai watak calon pemimpin masa depan.

Yang sangat menarik adalah ulah Willem Tan dan Johan Liem, nama dua anak sekolah tersebut, yang dua kali menyebut alamat dan identitas palsu ketika tertangkap basah petugas naik sepeda tak berlampu malam-malam, yang disalahpahami sang bek sebagai kesempatan untuk menjilat atasannya yang baru, Komisaris De Stijf, yang jujur dan antikorupsi. Alamat pertama yang disebutkan dua pemuda itu adalah rumah obat “GWA PO TONG” milik seorang pedagang Tionghoa totok, dan mereka mengaku bernama “HONG HIANG CIU” dan “CU PEK SAN” (yang sebenarnya adalah nama-nama obat yang dijual di rumah obat tersebut!). Yang kedua adalah Restoran “SUDI MAMPIR”, dan mereka mengaku bernama “HE WAN CA” dan “FU YONG HAY” (yang jelas merupakan nama makanan). Nama-nama palsu yang diajukan dalam nota di mejanya itu, dikira Tan Tjo Lat adalah pesanan terselubung sang komisaris yang berubah pikiran (secara kebetulan, sehari sebelumnya, ketika bertamu di rumah De Stijf, sang bek menawari untuk membelikan obat-obatan dan makanan-makanan tersebut, namun ditolak sang komisaris). Pada akhirnya terbukti segala kebejatan sang bek dan ia dipecat serta dimasukkan penjara.



[1] baca: Cicurug


 

Ternyata, dalam kesehariannya, Kwee Tek Hoay sungguh adalah seorang jenaka dan berpandangan terbuka, seperti diungkapkan cicitnya, Susi Kohar, “Orang yang lucu, pintar berkelakar. Dia sangat demokratis. Tidak seperti orang zaman dulu, yang tradisi minded. Dia sangat terbuka wawasannya. Apa yang baik dari barat dan timur diambil oleh almarhum KTH.”

Penutup

Demikianlah sedikit ulasan tentang Kwee Tek Hoay.

Sedikit tambahan:

-          Budayawan Romo Mudji Sutrisno, SJ, dalam diskusi di Bulungan tahun 2005 juga menyatakan sangat mendukung itikad Teater Bejana mengangkat karya-karya pengarang Indonesia-Tionghoa dan menghidupkan kembali tradisi China di Indonesia berdasarkan kenyataan yang dulu benar-benar pernah ada di negeri ini. Menurutnya, Teater Bejana perlu diacungi jempol untuk usahanya ini, kendati dana yang dimiliki sangat terbatas dan cukup sulit mencari sponsor yang bersedia mendukung pertunjukan ini. Bagi Romo Mudji, Teater Bejana memiliki satu keunggulan dibanding Teater Koma yang pernah pula mengangkat Sam Pek Eng Tay, karena meskipun sama-sama berlatar budaya China tetapi cerita China klasik ini bukan karya pengarang Indonesia dan juga tidak berlatar di Indonesia.

-          Untuk keperluan pementasan, biasanya saya menambahkan lirik-lirik lagu untuk dinyanyikan dan dimainkan para pemusik dari kelompok Mahagenta, yang mengiringi pertunjukan dengan alat musik tradisional Tionghoa-Betawi seperti kecapi dan tanjidor. Saya juga melakukan penyesuaian, penambahan, maupun pengurangan tokoh, adegan, dan dialog sesuai kebutuhan, dengan menyesuaikan bahasa dan lakuan tokoh sedekat mungkin dengan gaya asli pengarang.

-          Bahasa Melayu Tionghoa atau sering juga disebut Melayu Pasar, memiliki kekhasan tersendiri dalam struktur kalimat maupun kosakatanya. Bahasa ini, pada masa itu memang lebih banyak digunakan oleh masyarakat menengah ke bawah dan kaum etnis Tionghoa dan Betawi-Sunda. Namun, hingga saat ini, banyak kosakatanya yang sudah diakui sebagai kosakata baku bahasa Indonesia dan beberapa kosakata yang mungkin terdengar asing oleh etnis non-Betawi atau non-Tionghoa, kini masih digunakan oleh masyarakat Betawi asli dan etnis Tionghoa pinggiran, seperti di Tangerang.

Semoga tulisan ini mampu makin memperkenalkan kekhasan bahasa dan budaya Melayu Tionghoa yang sudah sepantasnya kita lestarikan, kepada para penikmat sastra umumnya dan penggiat teater khususnya. 

 

Sumber tulisan:

  1. Nonton Tjapgomedan Zonder Lentera – Kwee Tek Hoay (dalam Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia Jilid 4 - Penyunting: Marcus AS dan Pax Benedanto, Kepustakaan Populer Gramedia, 2001)
  2. PENTJOERI – Tooneelstuk dalem Satoe Bagian – Kwee Tek Hoay, diterbitkan Drukkerij Moestika, Batavia, cetakan I, 1936.
  3. Press release yang disebar ke media massa, berdasarkan diskusi di Warung Apresiasi Bulungan, 7 Februari 2005 – Veronica B. Vonny
  4. Berbagai sumber tentang riwayat hidup Kwee Tek Hoay
  5. “Pentingnya Memahami Sejarah Sastra Indonesia: Kapan Kesustraan Indonesia Lahir?” - Faizal Muzaqi , Minggu, 20 Mei 2012 (http://faizalmuzaqi.blogspot.com/2012/05/kapan-kesustraan-indonesia-lahir.html)
  6.  “Kwee Tek Hoay : Harta Terpendam Sastra Indonesia” (http://kbr68h.com/saga/77-saga/20596-kwee-tek-hoay-harta-terpendam-sastra-indonesia, Maret 2012, seperti disalin FP Majalah Hikmah Tridharma (https://www.facebook.com/HikmahTridharma/posts/409064869152304, 30 Juli 2012 (tulisan asli di web kbr68h.com sudah tidak ada)
  7.  “Catatan Singkat Kwee Tek Hoay, Oleh Marga Singgih & Yasa Singgih” - Fanspage FB Majalah Hikmah Tridharma; (https://www.facebook.com/HikmahTridharma?ref=stream)

 

Lampiran: Beberapa foto pementasan

Seusai pentas Pentjoeri Hati, GKJ, 7-8 Agustus 2010.

 Sumber : http://proto.areamagz.com/alpha/backend/media/data/entry_images/2010/08/10/bejana-areamagz3_full.jpg

Zonder Lentera

 

Oleh : Veronica B. Vonny

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya TionghuaFacebook Group Budaya Tionghoa

 

 

Last modified onTuesday, 03 December 2013 19:32
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/3698-mementaskan-kwee-tek-hoay-mengilaukan-berlian-sastra-indonesia-yang-sempat-terkubur

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto