A+ A A-

Dari Kemilau Istana hingga Lentera Kehidupan

  • Written by  Liven Riawaty
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net| Inilah pemenang lomba menulis artikel budaya Tionghoa, dengan predikat JUARA I dan juara favorit kategori fiksi.

AKU selalu membayangkan, bagaimana kehidupan monarki di dalam Istana Zi Jin Cheng1 di masa lalu; hingga aku bertemu dengannya di suatu senja, di dalam Beijing Botanical Garden, dalam tugasnya sebagai seorang anggota Pusat Penelitian Ilmiah Botani China.

Sejak jodoh pertemuan, yang kutafsirkan terjadi sebagai akumulasi dari semua karma baikku selama ribuan kehidupan itu terjadi, kami menghabiskan banyak masa untuk minum teh bersama di sore hari, di berbagai waktu senggang; dan membincangkan apa yang menjadi masa penuh warna-warni hingga kelabu yang masih mengendap di sebagian besar ingatannya yang mulai menua.

 Di antara semua spektrum warna dalam ingatannya, warna kuning keemasan adalah dominan warna yang kerap membuatnya menerawang jauh menembus ke langit biru, melewati fase tawa dan gundahnya; hingga kembali ke masa-masa itu…

Photo: Puyi 1909

“Saat aku berusia dua tahun, aku dibawa ke istana dan berpisah dengan keluargaku; ayahku—Pangeran Chun II2, ibuku, dan saudara-saudariku…,” ucap Henry suatu ketika memecah kesunyian di antara kami. “Aku menangis histeris, menendang, dan menjerit ketika dibawa ke hadapan Janda Permaisuri Ci Xi3. Beliau memberi sebuah permen untukku, namun, bukan menerimanya, aku justru melemparkan permen itu dan membuat Ibu Suri marah,” lanjut Henry lagi dengan tawa kecilnya. “Karenanya, ibu susuku, Wang Qiao4 pun diperbolehkan ikut bersamaku memasuki istana dan menemani sepanjang masa kecilku….”

Malam itu, di bawah lengkung cahaya rembulan, Henry mengisahkan dan membawa pikiranku menapaki kembali masa kecilnya di Istana Zi Jin Cheng bersama-sama dengan ingatannya.

Aku membayangkan sosok Henry kecil berada di antara orang-orang dewasa dengan berbagai status, dan dia adalah yang tertinggi di antaranya.

“Sejak itu, warna kuning adalah bagian dari kehidupanku. Pakaian kebesaranku, topi dan sepatuku, langit-langit istana, tandu kuning dengan atap berlapis emas, tali kekang pada kuda, dan semua peralatan makanku… Tak seorang pun berhak atas penggunaan barang-barang dengan warna seperti milikku, kuning keemasan!” Henry meraih cangkir teh di hadapannya dan mereguknya sekali. “Sejak itu juga, orang-orang memanggilku: Yang Mulia Kaisar Dinasti Qing yang Agung….”

Aku menyelami sepasang bola mata kelam di hadapanku. Saat itu adalah akhir musim gugur di tahun 1960, setahun setelah Henry Aisin-Gioro Pu Yi5 mendapatkan grasi khusus dari Pengadilan Rakyat Tinggi RRC dan dinyatakan bebas setelah mendekam di Penjara Pusat Pengendalian Penjahat Perang selama sepuluh tahun lamanya, sebagai terdakwa penjahat perang Manchukuo.

Henry, yang berusia 55 tahun, duduk bersamaku bukan dalam balutan pakaian kebesaran Kaisar Dinasti Qing, tentunya, tapi dalam balutan jaket dengan kaos putih di dalamnya.

Terkadang aku berpikir, jika jodoh pertemuan ini terjadi pada lebih dari lima puluh tahun lalu, akankah aku harus melakukan kou tou6 dan menyerukan kalimat ‘Kaisar! Panjang umur…! Panjang umur…! Panjang umur…!’ kepada sosok yang telah kuanggap sahabat ini? Dan mungkinkah aku dapat duduk bersamanya di atas kursi yang bercorak sama?

Seperti cerita dongeng yang pernah kudengar pada masa kanakku, kaisar adalah putra langit, di mana semua ucapannya adalah kehendak langit yang tak dapat dibantah. Pun melalui semua dongeng yang pernah kudengar itu, aku telah menyelipkan perasaan takut sekaligus kagum kepada seseorang seperti yang kerap diceritakan: memiliki karisma dan kuasa untuk memerintah, bahkan menghukum hingga mencabut nyawa orang-orang yang dianggapnya bersalah. Ya, seorang kaisar pada dinasti China! Akan tetapi, aku tak menemukan aura sedemikian menakutkan itu pada diri Henry saat ini. Meski memiliki perbedaan rentang usia yang cukup jauh, aku mampu merasakan Henry adalah seorang yang, setidaknya apa yang kurasakan, menawarkan kehangatan persahabatan dan sosok manusia penuh kasih.

Henry Pu Yi membalas tatapanku, kemudian tersenyum. “Aku telah melewatkan semua masa kecilku di Istana Zi Jin Cheng dengan kesia-siaan.” Henry melanjutkan kisahnya. “Kaisar,” ucapnya. “meski dianggap sosok yang agung dan selalu mendapatkan apa yang diinginkan, tapi aku baru menyadari hal tersebut adalah penyia-nyiaan terhadap arti kehidupanku yang sesungguhnya, bertahun-tahun kemudian.”

“Mengapa? Apa yang membuatmu berpikir demikian?”

“Sebagai kaisar, dulu aku mendapatkan kuasa melakukan apa saja yang kuinginkan, terlepas dari hal baik dan buruk, bahkan dalam usiaku yang belum mencapai sepuluh tahun, seperti; memerintahkan kasim istana untuk menelan lumpur; menyemprotkan air dingin dari pompa air kepada seorang kasim di suatu musim dingin yang menggigit, hingga kasim tersebut sakit pada malam harinya.

“Tentu saja masalahnya adalah, setiap orang berusaha menyenangkanku dan tak seorang pun berani melawan perintah putra langit. Dan, meski aku bersalah sekali pun, para tutorku akan menghukum teman-teman sekelasku untuk kesalahanku, dan bukan menghukum diriku. Kamu tahu?” lanjutnya lagi, “Beginilah kehidupan seorang kaisar: ketika aku bepergian dari satu istana ke istana lainnya, di luar kompleks Istana Zi Jin Cheng untuk memberi hormat kepada para Janda Permaisuri7 setiap paginya, maka kumpulan orang-orang yang mengikuti di belakangku bagaikan gerombolan lebah yang beriringan.

“Para kasim membawa berbagai perlengkapanku: kursi kecil, baju ganti; yang lain membawakan payung; pengawal di belakang kasim juga membawakan kue, roti, teh, kendi berisi air panas, kotak obat, meja kecil, dan bahkan pispot, serta berbagai peralatan makanku; mereka juga membawakan sebuah tandu dengan gorden yang dipasang sesuai musimnya. Lalu, semuanya mengikutiku berjalan beriringan dalam keheningan....

“Ketika aku berjalan, mereka berjalan; ketika aku berlari, mereka ikut berlari, semua harus mengikuti langkah kaki kecilku kala itu.

“Selain itu, hanya makanan pilihan yang dihidangkan untukku di setiap waktu makanku.” Henry menelan ludahnya. Ketika ingin makan sesuatu, di mana pun aku berada, aku tinggal menyerukan, "Sediakan makanan pilihan!", maka para kasim di dekatku akan segera mengulangi ucapanku, para pengawal akan meneruskan teriakan ini dan seterusnya hingga gema kalimatku sampai ke bagian dapur—yang disebut ruangan makanan pilihan—dan kemudian segera akan diproses oleh lebih dari seratus orang kasim berseragam bersih.”

Aku mencondongkan tubuhku ke depan untuk mendengarkan lebih jelas suara Henry.

“Semua peralatan makanku terbuat dari porselin berwarna kuning yang ditulis dengan kalimat ‘sepuluhribu tahun umur panjang tanpa batas untuk Kaisar’.

“Sebelum aku makan, ada seorang kasim yang bertugas mencicipi dahulu semua makanan itu, untuk memastikan tidak adanya racun dan menilai rasa dari makanan pilihan itu. Dan setiap kali makan, aku memiliki lebih dari duapuluh lima macam menu pilihan….” Henry tersenyum. “Tentu saja, semua itu hanya bagaikan pertunjukan dan formalitas saja, sebab, selalu hanya beberapa macam yang sanggup kuhabiskan untuk setiap kalinya makan.”

Aku tercenung dengan apa yang baru kudengar. Fenomena luar biasa yang tak pernah hadir dalam bayangku, meski aku kerap meyakini kemewahan yang pasti berlaku dan diterapkan dalam kehidupan seorang kaisar. Dan kini, aku mendengar semua pengakuan ini langsung dari kaisar terakhir Dinasti Qing!

“Jika dipikirkan kembali, semua itu sesungguhnya adalah pemborosan besar-besaran,” ujar Henry dengan suara pelan.

Mendadak aku merasakan sejenis keharuan yang menyeruak batin, hingga aku melontarkan pertanyaan, “Pak Henry, kamu pasti mengalami pergolakan batin yang luar biasa ketika kehidupan sebagai seorang Kaisar harus diakhiri....” Di bawah bayang-bayang daun palem yang bergerisik ditiup angin, aku meneliti dengan lebih cermat seraut wajah tua di hadapanku.

Henry menerawang dengan tatapan sendu ke langit gelap. “Jika kehidupan sebagai kaisar memberi makna, tidak akan ada penyesalan! Tapi, itulah mengapa kukatakan aku telah menyia-nyiakan kehidupanku sebagai manusia pada sebagian besar masa kecilku, dan terlebih masa-masa sebagai kaisar….”

Entah mengapa, aku menangkap adanya nada penyesalan dalam getar suara Henry. Akan tetapi, aku tak berani bertanya lebih lanjut.

Di waktu lain dari janji pertemuan kami, Henry mengisahkan, “Aku pernah begitu membenci Istana Zi Jin Cheng dan masa-masa kecilku, setelah aku mengalami begitu banyak peristiwa yang membuka mataku tentang arti kehidupan yang sesungguhnya.”

Seperti setiap pertemuan kami, selalu aku lebih banyak diam dan menyimak.

“Setelah mengalami kudeta pada masa pemerintahanku yang hanya berlangsung tiga tahun, kehidupanku di dalam Istana Zi Jin Cheng pada tahun 1912-1924, hingga aku diusir keluar dari istana oleh Tentara Nasional, hampir tetap merupakan kehidupan sebuah kekaisaran kecil, di mana para anggota keluargaku dan para menteri Dinasti Qing yang setia, tetap memperlakukanku sebagai seorang kaisar dengan segala tata cara kekaisaran sejatinya, meski di luar sana, kehidupan modern telah menggusur ideologi monarki menjadi republik, namun kehidupanku di dalam istana tetap bagaikan sebuah ruang waktu yang membeku di abad ke-19 dan tak tersentuh modernisasi.

“Meski aku merindukan kehidupan di luar istana, tapi kamu tahu, aku tak mungkin mendapatkannya kala itu. Semua pelayanan dan kemudahan hidup yang kuperoleh di dalam istana sepanjang waktu itu, telah membentuk karakter diriku yang selalu membutuhkan orang lain dan takut akan kesendirian, egois, kejam, amat menyayangi nyawa sendiri dan takut akan kematian, namun mengabaikan nyawa orang lain. Dan, semua itu telah membunuh sifat kemanusiaan pada sebagian besar kelakuanku.

“Ketika di penjara8, berada di dalam sel yang terpisah dengan anggota keluargaku; saat itulah aku mulai merasakan kesepian yang menusuk tulang; semua orang telah meninggalkanku dan aku mulai diharuskan mengerjakan segala sesuatunya sendiri.”

Aku tak lagi tercengang dengan pernyataan terakhir Henry. Di sebagian besar buku perkembangan sejarah RRC yang telah kubaca—sebelum aku menginjakkan kaki ke negeri Tirai Bambu ini, aku telah mengenal sebagian besar kisahnya; bagaimana Henry Pu Yi (bersama permaisuri dan para selirnya) diusir dari Istana Zi Jin Cheng di era pemerintahan republik; melarikan diri bersama pasukan Jepang; ditahan selama lima tahun di Uni Soviet; hingga kepada akhir perjalanan hidupnya, di mana dia dikembalikan ke Pemerintah RRC dan dianggap sebagai seorang pengkhianat negara.

“Karena terbiasa dilayani, di penjara itu aku tak dapat beradaptasi dan terjebak dalam kondisi yang membuat batinku amat tertekan; setiap pagi, ketika orang lain telah selesai mencuci wajah, aku baru selesai berpakaian; saat aku mencuci wajah, orang lain telah selesai; ketika hendak menggosok gigi, aku baru menyadari lupa mengoleskan pasta gigi; dan ketika orang lain telah selesai sarapan, aku baru memulainya. Begitulah… meski aku telah melakukan segalanya dengan terburu-buru, aku tetap saja terlambat dari orang lain.” Henry masih terus berkisah tentang lembaran kelabu yang pernah menyelimutinya.

“Orang-orang dalam kelompok yang sama denganku, kerap mencela perbuatan yang tak sengaja kulakukan: aku lupa mematikan keran air setelah mencuci tangan; aku lupa menutup pintu setelah keluar,” Henry memandangku dengan ekspresi yang sulit kutebak. “itu terjadi karena dulu selalu ada yang melakukan semuanya untukku; aku bahkan tak pernah menyentuh gagang pintu mana pun!

“Suatu ketika, saat sedang berjalan-jalan di halaman penjara bersama dengan tahanan lainnya, Kepala Pusat Tahanan muncul dan melihatku. Dia kemudian memanggilku dan menanyakan mengapa pakaianku—yang diberikan pada waktu yang bersamaan dengan tahanan lainnya, terlihat demikian kusut dan kotor, beberapa kancing hilang dan tampak bekas noda?

“Kepala Pusat Tahanan menasihati, bahwa jika aku mau mempelajari bagaimana orang lain bekerja, aku akan mendapatkan kemajuan dalam waktu dekat.” Henry mulai menunduk dan memerhatikan pakaiannya sendiri. “Aku menerima semua itu dengan kerendahan hati. Namun, aku sangat malu dan tak berani mengangkat kepalaku di hadapan para tahanan yang, kukira pasti, sedang menatapku tajam. Kamu tahu? Itu adalah pertama kalinya aku dipermalukan di depan orang lain sebagai seorang yang tak berguna. Aku segera berbalik menghadap ke sebuah tembok di halaman dan memandang batu batanya yang berwarna abu-abu. Seketika aku sangat tertekan menyadari sepanjang hidupku selanjutnya aku tak akan pernah mampu melarikan diri dari dinding abu-abu itu; aku akan menjalani sepanjang hidupku sebagai seorang tahanan....” Mata Henry berkaca-kaca mengenang masa-masa reformasi dirinya pada hampir satu dekade lalu.

Menatap dirinya, aku seolah ikut merasakan kegetiran perasaannya di satu bagian tersulit dalam hidupnya itu.

“Pada suatu masa di penjara, kami, para tahanan, diajari untuk membuat kotak pensil dari kertas. Meski aku telah mempelajarinya dengan giat, tapi tetap saja kotak pensil buatanku tak dapat dibandingkan dengan hasil kerja rekan lainnya.”

Hening sesaat di antara kami.

“Suatu hari, aku sedang menikmati permen yang dibagikan kepada kami sebagai  hasil dari penjualan kotak pensil yang kami buat dengan perasaan bahagia. Bagiku, itu adalah permen terlezat yang pernah kunikmati. Namun, saat itu juga seseorang mulai menertawakan kotak pensil yang kubuat, di antaranya memiliki label yang dipasang terbalik dan sebagiannya tak dapat dibuka. Karena menganggapku tak berguna, tak ada yang mau bekerja berkelompok bersamaku lagi. Aku terpaksa bekerja sendirian sejak itu. Karena sedih memikirkan hal itu, aku jatuh sakit esok harinya….”

“Jika sakit, apakah tetap diharuskan bekerja?” Aku mengutarakan rasa ingin tahuku tentang kebijakan yang berlaku di penjara.

Henry menggeleng. “Selama setengah bulan sakit, aku tidak bekerja dan merenungkan banyak hal: tentang masa kecilku. Saat itulah, aku begitu membenci almarhumah Janda Permaisuri Ci Xi yang telah mengangkatku sebagai kaisar; mengapa dulu dia harus memilihku? Bukankah aku sesungguhnya hanya seorang anak kecil yang suci dan tak bersalah? Karena semua pilihannya itulah, aku dibesarkan menjadi seorang kaisar dalam suasana yang tertutup dan tak ada yang mengajariku berbagai pengetahuan dasar tentang kehidupan ini.

“Akibat semua itulah, aku hari ini menjadi seorang yang harus menerima ejekan, hinaan, dan sinisme dari orang-orang. Aku hanya memiliki kemampuan yang tak dapat dibandingkan bahkan dengan anak kecil sekali pun.... Begitulah pikiranku saat itu.” Henry menarik nafasnya, menatapku sendu, tersenyum kecil, dan kemudian memejamkan matanya. Dia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, mengisyaratkan kelelahannya.

Aku melihat garis-garis pada keningnya yang mengerut, seolah melukiskan lika-liku hidup yang telah dilaluinya.

Kami berpisah malam itu, untuk bertemu kembali pada akhir musim semi di tahun 1961. Saat itu selain sebagai anggota Penelitian Ilmiah Botani China, Henry Pu Yi juga mendapatkan tugas sebagai anggota Komisi Penelitian Material Sejarah Dinasti Qing.

Henry menceritakan kepadaku dengan kegembiraan yang berbinar di matanya: pada 26 November 1960, dia telah menerima sebuah sertifikat pemilihan umum yang tertulis nama: Aisin-Gioro Pu Yi. Saat itu, baginya tak ada yang lebih berharga dibandingkan dengan sehelai sertifikat itu. Sebab, dengan adanya sertifikat itu, Henry telah diakui sebagai bagian dari sebuah negara dengan 650.000.000 penduduk. Bagian dari rakyat RRC!

Aku memberinya selamat.

“Aku bersyukur atas kesempatan mereformasi diri yang diberikan kepadaku di dalam Penjara Pusat Pengendalian Pikiran, sebab dari situlah aku telah dibentuk ulang dan menjadi manusia yang baru; manusia yang bukan hanya dilayani, namun juga mampu melayani.

“Untuk pertama kalinya aku memahami makna kata ‘ren9’, yang sesungguhnya adalah kata pertama yang telah kubaca pada buku San Zi Jing10 di masa kecilku di istana. Namun, di masa lalu aku tak pernah memahaminya.”

Henry melafalkan baris kalimat berikut dengan syahdu:

Ren zhi chu

xing ben shan

xing xiang jin

xixiang yuan

***

Aku meraba dan mengusap pelan sebuah album foto kuno; bergantian antara gambar Kota Terlarang yang megah dan gambar kaisar terakhir Dinasti Qing, yang sedang duduk di sebuah kursi di taman, dengan latar matahari terbenam di belakangnya.

“A Kong11, mengapa sebagai seorang kaisar China, Yang Mulia Kaisar Pu Yi juga memiliki nama barat ‘Henry’?” cucu perempuanku yang manis, Xi Yuan, mendesakku untuk terus bercerita.

“Sebab, pada masa pembelajarannya di istana, Yang Mulia Kaisar Pu Yi juga memiliki seorang guru berkebangsaan Scotlandia yang bernama Reginald Johnston. Darinya, Kaisar Pu Yi meminta diberikan sebuah nama barat, dan dia pun memberikan nama Henry.”

“Lalu, bagaimana kehidupan Yang Mulia Kaisar Pu Yi selanjutnya?”

Aku mengusap pelan kepala Xi Yuan. “Pada tahun 1963, A Kong lulus dari studi fotografi di Beijing dan pulang ke Indonesia di tahun yang sama. Karenanya, A Kong pun harus mengucapkan perpisahan pada sosok istimewa yang telah A Kong anggap sahabat selama di Beijing itu.” Xi Yuan mendengarkan dengan serius. “Sejak itu juga, hubungan kami terputus. A Kong tak lagi memiliki kabar mengenainya. Baru pada tahun 1967, dari pemberitaan di media, A Kong mendengar kabar Aisin-Gioro Pu Yi telah meninggal dunia akibat penyakit kanker….”

Aku terkenang akan pertemuan kami dulu, saat aku berusia 23 tahun. “Dia, terlahir untuk menjadi kaisar, namun meninggal dalam statusnya sebagai seorang tukang kebun….” Rasa sedih mendadak merinai kalbu. “Kehidupan sebagai kaisar, sesungguhnya tidak memberi kebahagiaan kepada Kaisar Pu Yi. Beliau justru baru menemukan arti kehidupan yang sesungguhnya, untuk dirinya dan sesamanya, di saat-saat usia senjanya….”

“A Kong, apa arti ren zhi chu; xing ben shan; xing xiang jin; xixiang yuan?

“Saat seseorang dilahirkan; sifatnya pada dasarnya baik; sifat manusia adalah sama; hanya lingkungan dan kebiasaan yang membuatnya berbeda….”

Xi Yuan tampak merenungkan semua kisah yang baru didengarnya. Tangannya mencatat sesuatu di buku catatan kecilnya, kalimat-kalimat terakhir yang kuucapkan….

***

Catatan Kaki:

1. Zi Jin Cheng = Istana Kota Terlarang, disebut juga Gu Gong. Terletak di Beijing, merupakan bekas istana kekaisaran pada masa Dinasti Ming dan Qing.

2. Pangeran Chun II = ayah kandung Kaisar Pu Yi. Pangeran Chun II adalah adik dari Kaisar Guang Xu (1875-1908)

3.Janda Permaisuri Ci Xi = permaisuri Kaisar Xian Feng (1850-1861); nenek angkat Kaisar Pu Yi.

4. Wang Qiao = ibu susu Kaisar Pu Yi, hanya dia satu-satunya orang terdekat Kaisar Pu Yi yang dapat menasihati segala kenalan Kaisar Pu Yi di masa kecil.

5. Henry Aisin-Gioro Pu Yi = Henry adalah nama yang diberikan oleh seorang tutor Kaisar Pu Yi yang berkebangsaan Scotlandia; Aisin-Gioro disebut juga Ai Xin Jue Luo adalah nama salah satu klan/marga dari bangsa Manchuria; Pu Yi adalah nama kecil sang kaisar terakhir Dinasti Qing.

6. Kou tou = sikap memberi hormat dengan berlutut dan dahi menyentuh lantai.

7. Janda Permaisuri = sebutan untuk para permaisuri dari kaisar terdahulu.

8. Henry Pu Yi dipenjara dengan tuduhan sebagai pengkhianat perang karena melarikan diri bersama pasukan Jepang,

9. Ren = ‘manusia’ dengan segala sifat kemanusiaan sejatinya.

10. San Zi Jing = The Three Word Classic; buku yang berisi tiga kata dalam setiap baris kalimatnya; buku panduan pembelajaran moralitas yang telah digunakan anak-anak di China selama hampir 700 tahun.

11.A Kong = Kakek dalam Bahasa Hokkian.  

Sumber Tulisan:

1. Buku autobiografi Henry Pu Yi; The Last Emperor.

2. Film dokumentasi The Last Emperor.

3. Berbagai media online.

4. Berdasarkan cerita para tetua.

 

Oleh : Liven Riawaty

Catatan Juri dan Admin Budaya Tionghoa:

* Nama Henry adalah nama barat yang diberikan oleh guru Puyi dan akan lebih baik jika tidak menggunakan nama Henry untuk Puyi dalam kisah ini.

* Sebutan "Janda Permaisuri" untuk Ibu Suri Cixi tidak lazim. Lebih umum disebut sebagai Ibu Suri Barat / Xi Taihou / Cixi Taihou, lebih baik disebut Ibu Suri Cixi saja.

* “Semua peralatan makanku terbuat dari porselin berwarna kuning yang ditulis dengan kalimat ‘sepuluhribu tahun umur panjang tanpa batas untuk Kaisar’. <<< tidak ada perangkat makan dari porselen maupun bukan, yang bertuliskan demikian di Zijincheng.


https://www.facebook.com/groups/budaya.tionghoa/10151888360107436/

 

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya TionghuaFacebook Group Budaya Tionghoa

 

Last modified onFriday, 29 November 2013 06:13
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/3701-dari-kemilau-istana-hingga-lentera-kehidupan

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto