A+ A A-

Pandangan Beramal dari Agama Tionghoa

  • Written by  Soni Zhang
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net |Berikut merupakan notulen dari tema talk show yang diselenggarakan di Klenteng Sinar Samudra Semarang beberapa waktu yang lalu, dengan judul "MENGAPA ORANG KLENTENG HARUS BERAMAL? APA MANFAATNYA?" dengan pembicara Sdr. Soni Zhang salah satu moderator group Budaya Tionghoa.

Kita sering mendengar dan mengucapkan kata “amal”, apa sebenarnya yang dimaksud dengan “amal”? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arti dari amal adalah perbuatan baik yang mendatangkan pahala. Beramal sama dengan melakukan perbuatan amal, sering disebut dengan berdana. Kedua kata tersebut sama sama memiliki arti “perbuatan memberi” atau “berbuat kebajikan”. Secara ideal, beramal adalah sebuah tindakan memberikan sesuatu (materi dan non materi) kepada pihak (orang atau instansi) yang membutuhkan, dengan dilandasi rasa kemanusiaan, serta dilakukan dengan benar, tepat, tanpa paksaan, dan diawali dengan hati dan pikiran yang ikhlas.

Ada berbagai jenis amal yang dikenal: yang paling umum adalah materi. Ini disebabkan tuntutan kebutuhan hidup yang semakin beragam, sistem kehidupan masyarakat yang memang didasari oleh kebutuhan materi. Akan tetapi besarnya materi bukan menjadi patokan unggul tidaknya seseorang dalam beramal.  Hal lain yang dapat diamalkan adalah pengetahuan. Pengetahuan merupakan hal yang terutama, karena bisa mengubah atau mengajarkan seseorang untuk menjadi baik, semakin kita bagikan pengetahuan tidak akan ada suatu apapun yang hilang, sebaliknya kita akan semakin kaya karena ada diskusi atau hubungan dua arah yang saling membangun. Tetapi orang bisa pula menjadi tamak karena pengetahuan karena merasa bahwa tidak boleh ada pihak lain yang lebih unggul atau pandai. Jenis amal yang lain adalah rasa aman, perlindungan dari rasa takut/ bahaya, setiap manusia ingin selamat. Hal ini terbukti ketika bersembahyang, orang sering berdoa meminta keselamatan, atau meluputkan dari sesuatu; yang artinya memilih menghindari masalah (manusiawi), contoh lain: apabila kita melihat  ada penodongan,  apa yang kita lakukan?

Dalam beramal/ berdana kita harus melakukannya dengan bijaksana, hal pertama yang harus kita lihat  adalah situasi di sekitar kita: sudahkah istri dan anak atau orangtua kita hidup layak? Menghidupi keluarga adalah termasuk perbuatan amal, sehingga jika orang terdekat anda sudah hidup dengan layak pantaslah kita beramal kepada pihak luar. Ketika kita menolong orang lain harus dengan pertimbangan jangan sampai membuat pihak yang lain lagi sengsara, dan yang lebih penting beramallah sesuai apa yang kita mampu.

Apa alasan kita beramal? Semua alasan adalah relatif baik adanya, alasan ini merupakan cerminan tingkat pemahaman kita akan arti beramal. Setiap orang punya dasar sendiri dalam beramal, apapun alasannya yang jelas alasan ini bisa menumbuhkan sikap beramal.  Alasan yang sering ditemukan adalah: mengharapkan imbalan tertentu (dunia akherat); diminta/ disuruh untuk beramal;  supayakita dikenal/ dipuji orang/  cari nama, dsb; kebanyakan duit, bingung mau dibuang kemana;  sekedar mengisi waktu luang, rekreasi dapat pahala; atau ada juga yang hanya sekedar beramal tanpa tau alasannya.

Sebagai pegangan dapat dilihat dalam Meng zi VIIA.5 “Menjalankan tapi tidak mengerti artinya, berkebiasaan tanpa menelitinya, sepanjang hidup hanya mengikuti tanpa mempelajari jalannya, begitulah kebanyakan orang.” Dao de jing bab 38 menyebutkan, “Orang yang berbudi luhur tidak merasa dirinya berbudi, kerena itu dia dikatakan berbudi; orang yang kurang berbudi akan terus membawa-bawa budinya, karena itu ia dikatakan tidak berbudi; orang yang berbudi selalu bertindak tanpa pamrih (maksud dan tujuan), orang yang rendah budi melakukan sesuatu karena keinginan tertentu”.

Jadi, bagaimana seharusnya orang beramal?  Kita beramal sebaiknya menggunakan filosofi orang buang air, tidakak diingat-ingat, dan  dinikmati dengan bahagia. Karena  kalau tidak dibuang bisa membuat kita keracunan, bahkan bisa sampai mati. Jangan pernah diingat apa yang telah kita perbuat, ketika orang mengungkit jasa maka ia tidak lagi ikhlas.

Seisi semesta ini adalah jaring yang saling berkaitan, bagaimana amal bisa mensinkronkan atau menyusun jaring ini agar bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Bagaikan “butterfly effect”, mungkinkah sebuah perbuatan kecil memiliki dampak yang luar biasa? Banyak orang mengatakan bahwa dengan beramal maka kita bisa memperoleh berbagai pahala, misalnya panjang usia, kesehatan, kekayaan, dan sebagainya. Lalu darimana datangnya pahala? Beramal adalah sebuah sikap yang harus didasari banyak aspek, pikiran adalah aspek utama yang harus kita kendalikan, yang mana tujuan utamanya adalah kebahagiaan (semua pihak).

Menurut Dhammapada 118, “Kebahagiaan sejati adalah buah perbuatan baik.“ ada pepatah yang mengatakan, “Membantu orang adalah dasar untuk kebahagiaan”. Suasana hati yang bahagia akan membuat jiwa kita sehat, beramal melatih diri manusia untuk mengikis kemelekatan, keserakahan. Ini adalah awal dari berbagai gangguan kejiwaan, jika kita bisa mengikisnya, maka pikiran kita akan sehat. Pikiran sehat otomatis badan juga sehat. Jika kita percaya karma, maka kehidupan anda sekarang adalah hasil perbuatan yang anda lakukan sebelumnya. Maka masih ada satu masa lagi yang belum anda lewati, yaitu masa depan. Jika kita melakukan banyak hal baik di masa kini, kelak masa depan kita akan berubah. Maka bina diri  dengan benar, masa sekarang adalah kesempatan memperbaiki diri untuk masa depan.

Kebiasaan beramal dapat dipelajari dan dibiasakan, memunculkan benih sikap bajik, bisa dari luar diri ataupun dalam diri. Sebagai awalnya dapat dimulai dengan punishment dan reward, seperti anak kecil yang memikirkan tujuan sebagai titik berat. Cara lain dengan mengandaikan kita sebagai orang yang membutuhkan, melalui empati kita merasakan penderitaan/ masalah/ kebutuhan yang diperlukan oleh pihak penderita dan menggali sisi manusia kita.           Hal ini dapat diteruskan  sampai kita bisa melakukan amal tanpa kita sadari, tanpa memikirkan kasus, ataupun hadiah atau hukuman.

Jika kita andaikan dalam sebuah komunitas klenteng, amal menjadi sarana pokok bisa berjalannya komunitas klenteng.  Menciptakan jaring, berjalan bersama diantara kekurangan dari individu yang tak satupun sempurna. Klenteng menghasilkan dana dari donasi masyarakat sendiri (umat). Tanpa peran serta umat tidak akan ada kegiatan, pembangunan fasilitas, dan pengelolaan operasional di klenteng. Maka jika anda ingin klenteng kita maju, amal harus diutamakan. Bisa berupa materi ataupun tenaga pikiran. Klenteng adalah sebuah wadah multi fungsi, pusat kegiatan masyarakat, yang menjadi penghubung berbagai golongan masyarakat. Jika ini bisa terwujud orang akan mencintai klenteng.

Harus ditanamkan pemikiran ini kepada semua orang, agar menjadi manusia yang memiliki martabat, bukan menjadi peminta-minta yang menggantungkan hidup pada orang lain. Bagaimana mengaplikasikan Wuchang (Ngosiang) 仁義禮知信, menjadi orang bijaksana dalam beramal, mengerti batas yang mampu kita lakukan.

Berdasarkan paparan diatas dapat diambil beberapa poin penting: Amal merupakan sebuah pendidikan yang jika ditilik dari ajaran manapun, entah aturan agama, sosial, kebudayaan, atau aspek lain adalah baik adanya. Juga bagi semua pihak yang berkaitan, amal adalah sebuah hal yang bisa membahagiakan semua orang.  Amal mendidik manusia menjadi bijaksana. Jika anda kurang beramal, anda menjadi kikir. Tapi jika anda terlalu banyak beramal, siap siap gulung tikar, jadi melakukan amal menjadikan orang bijaksana dan cermat dalam melakukan sesuatu serta mengerti kemampuan diri. Bagi klenteng, amal dibutuhkan sebagai roda penggerak aktivitas klenteng. Tanpa amal semua sistem dalam klenteng tidak akan berjalan, karena ada 3 fungsi dalam klenteng yaitu keagamaan, sosial, budaya.

Manusia hidup di dunia itu bagaikan sekumpulan orang cacat, tidak ada manusia yang sempurna. Alam semesta itu adalah jejaring tersembunyi, yang manusia tidak sadari. Untuk bisa menjadi sempurna manusia harus melatih diri dalam kedisiplinan. Seribu mata dan seribu telinga memperhatikan, dimana telah melampaui batasan fungsi indrawi. Maka manusia harus melatih diri agar keterbatasan dan kekurangan diri bukan lagi menjadi halangan, karena indrawi telah melampaui keterbatasan yang ada. Ini adalah sifat bodhisatva. Tujuan amal adalah membangun jejaring itu, demi kebersamaan manusia itu sendiri.

 

Oleh : Soni Zhang

Notulis : Ratna Setiyaningrum

 

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya TionghuaFacebook Group Budaya Tionghoa

Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/3708-pandangan-beramal-dari-agama-tionghoa

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto