A+ A A-

SNE TIONGHOA DARI ZAMAN KE ZAMAN

  • Written by  Thng Liang Wu 汤亮羽 & Liao King Hian 廖敬贤
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Sne Tionghoa telah melalui zaman yang sangat panjang. Sekitar 3000 tahun sebelum Masehi (5000 tahun yang lampau) sudah diperkirakan adanya sne. Konon, Huang Di [Wni Te] 黄帝 (Kaisar Kuning), yang merupakan kaisar pertama yang dikenal orang Tionghoa, pernah memberikan 12 macam sne yang berbeda kepada anak-anaknya, yaitu: Ji [Ki] 姬,You [Yu] 酉, Qi [Ki] 祁, Ji [Ki] 己, Teng [Teng] 滕, Ren [Jim] 任 , Xun [Sun] 荀, Jian [Kiam] 葴, Xi [Hi] 僖, Ji [Kit] 姞, Xuan [Huan] 儇, Yi [Yi] 依.

 

Kemudian sesuai dengan perkembangan zaman, sne 姓 (Mandarin: xing) terbagi lagi atas beberapa si 氏 atau clan (Mandarin: shi). Contohnya: Khonghucu 孔夫子 ber-sne: Zi [Cu] 子 dan ber-si: Kong [Khong] 孔. Si inilah yang bermunculan cepat di zaman-zaman berikutnya.

Pada zaman dinasti Han [Han] 汉 sne dan si menjadi sama dan sederajat, serta disebut snesi (Mandarin: xingshi 姓氏) sampai zaman sekarang. Zaman dinasti Xia [He] 夏, kemudian Shang [Siang] 商 dan terutama Zhou [Ciu] 周, sne baru terus bermunculan. Zaman Chunqiu [Chun Chiu] 春秋 (Musim Semi dan Musim Gugur), zaman Zhanguo [Cian Kok] 战国 (Negara Berperang), dan zaman dinasti Han [Han] 汉, merupakan zaman yang paling banyak melahirkan sne baru, terutama zaman Chunqiu. Sne baru ini dapat berasal dari nama pribadi, nama negara, nama jabatan, nama tempat, nama sungai, dll.

Pada akhir dinasti Zhou (1122-247 sM), terbit sebuah buku yang berjudul “Shiben” 《世本》, yang mencatat silsilah para raja, mulai dari Huang Di, yang hidup sekitar tahun 2698 sM, sampai akhir dinasti Zhou. Sampai saat ini Huang Di dan Yan Di 炎帝 dianggap sebagai leluhur orang Tionghoa. Orang Tionghoa senang menyebut dirinya sebagai keturunan Yan Huang 炎黄子孙, dua pemimpin tertua dalam sejarah bangsa Tionghoa. Sebuah kelenteng yang dipercayai makam Huang Di 黄帝陵 di Tiongkok, terus dibanjiri penziarah orang-orang Tionghoa dari seluruh dunia. Demikian juga makam Yan Di, dalam skala yang lebih kecil.

Setelah dinasti Han pecah menjadi tiga negara: Wei [Gui] 魏, Shu [Siok] 蜀, dan Wu [Gou] 吴, kemudian Wei yang muncul sebagai pemenang, tapi tak berumur panjang karena dikudeta oleh jenderalnya sendiri, lahir dinasti Jin [Cin] 晋. Dinasti Jin ini bertahan sekitar 150 tahun, kemudian ambruk oleh kekacauan yang disebabkan masuknya lima suku non-Han ke Tiongkok, masuklah Tiongkok ke zaman dinasti Utara dan dinasti Selatan 南北朝. Akibat pengaruh budaya Tionghoa yang lebih kuat, suku-suku non Han yang berkuasa di bagian utara negara kebanyakan terasimilasi dan menjadi orang Han. Mereka mengganti sne dan namanya menjadi nama Han. Zaman inilah zaman terbanyak suku non Han mengambil sne orang Han.

Catatan hasil studi tentang sne, menunjukkan sne Tionghoa semakin banyak dari zaman ke zaman. Pada zaman dinasti Han sudah tercatat ada sebanyak sekitar 500 sne. Pada zaman dinasti Song, telah tercatat sebanyak 2101 sne. Buku tentang sne yang berjudul “Bai Jia Xing” [Pek Ka Sing] 《百家姓》 atau “Ratusan Sne” yang terbit zaman dinasti Song [Song] 宋, sampai saat ini masih dipergunakan sebagai dasar penelitian sne, dalam buku ini tercatat sebanyak 504 buah sne.

Berapa jumlah sne Tionghoa sebenarnya? Tidak dapat diketahui dengan pasti. Banyak sne yang dahulunya besar populasinya, sekarang bahkan menjadi sedikit, kebalikannya banyak sne yang dahulunya sedikit, sekarang justru menjadi sne besar. Sne baru terus bermunculan dari zaman ke zaman. Mengapa? Banyak orang yang menggunakan nama negara tempatnya berkuasa menjadi sne bagi keturunannya. Kaisar yang berkuasa sering juga menganugerahkan sne kepada para menteri yang dianggap berjasa. Sne yang dianugerahkan dapat sne baru, atau sne raja sendiri. Oleh karena itu sne dari para kaizar yang berkuasa, biasanya menjadi sne besar. Sne Liu [Lao] 刘 dari dinasti Han [Han] 汉, sne Li [Li] 李 dari dinasti Tang [Tong] 唐, sne Zhao [Tio] 赵 dari dinasti Song [Song] 宋, dan sne Zhu [Cu] 朱 dari dinasti Ming [Bing] 明, kesemuanya menjadi sne besar masa kini. Banyak juga orang yang karena berbuat “kesalahan” terhadap kaisar dan dikejar untuk dihukum, mengganti snenya untuk menyelamatkan diri, sehingga snenya menjadi sedikit.

Tiongkok negara bersuku bangsa banyak, sekarang tercatat tidak kurang dari 56 suku bangsa. Suku bangsa terbesar adalah orang Han, yang di Indonesia kita sebut sebagai orang Tionghoa, dan dalam bahasa Inggris disebut “the Han Chinese”. Orang Han ini merupakan 94% dari penduduk Tiongkok. Golongan minoritas yang mempunyai bahasa, budaya, sne dan nama berbeda, melalui sejarah yang panjang, banyak yang sudah terasimilasi menjadi orang Tionghoa Han. Mereka mengubah snenya dengan mengadaptasi salah satu sne Tionghoa Han, sne yang mereka pilih biasanya sne yang banyak populasinya, minimal di dekat tempatnya bermukim. Ada juga golongan minoritas yang memotong snenya yang asalnya terdiri dari dua suku bahkan lebih, menjadi satu suku saja, sehingga mirip dengan sne Tionghoa Han, yang lama-lama snenya tersebut memang diterima sebagai sne orang Tionghoa Han.

Orang Tionghoa menurunkan snenya berdasarkan garis keturunan dari ayah. Catatan sejarah menunjukkan bahwa pada awalnya sne diturunkan berdasarkan keturunan ibu. Sne yang dalam bahasa Mandarin disebut xing 姓, jelas menunjukkan adanya huruf 女 nü yang berarti perempuan. Hampir semua sne tertua menggunakan huruf nü, misalnya Ji [Ki] 姬, Jiang [Khiang] 姜, Yao [Yao] 姚 , Kui [Gui] 妫 dll. Sebuah sne dibagi menjadi beberapa si (氏) atau clan seperti telah disinggung di atas. Kemudian sne dan si dianggap sama kuat, dan sama-sama berarti sne si 姓氏, (Mandarin: Xingxhi), dan diturunkan melalui garis keturunan ayah. Hal ini terjadi setelah terbentuknya negara dengan kepala pemerintahan laki-laki. Orang Tionghoa yang mempunyai sne sama, dianggap berketurunan sama, adalah keluarga, karena itu pada waktu yang lalu, orang yang snenya sama tidak diperkenankan menikah. Pada masa lampau, di sebuah kampung biasanya hanya bermukim orang yang snenya sama, kecuali para isteri tentunya. Kepala kampung adalah orang yang tertua atau yang paling dihormati di kampung tersebut, mereka selalu mempunyai tempat sembahyang bersama yang diperuntukkan menghormati para leluhur yang sudah meninggal. Kepala kampung mempunyai wewenang mutlak untuk mengatur semua orang, penduduk kampung harus menaati perintah kepala kampung.

Pada masa kini kita melihat masih banyak tempat sembahyang para leluhur khusus untuk orang yang bersne sama, misalnya Rumah Abu Keluarga Tan, Rumah abu Keluarga Sim dll. Nama kampung ataupun kota di Tiongkok masih banyak yang menunjukkan sisa peninggalan dulu. Misalnya Shijiazhuang [Cioq Ka Cng] 石家庄 adalah ibukota propinsi Hebei [Ho Pak] 河北 di Tiongkok, yang asalnya berupa kampung orang sne Shi 石 (Cioq, dulu ditulis Tjiok). Di Singapura kita masih menemukan tempat dengan lama Lim Chu Kang 林厝港 (pelabuhan keluarga Lim), Yeo Chu Kang 杨厝港 (pelabuhan keluarga Yno) dan Chua Chu Kang 蔡厝港 (pelabuhan keluarga Chua). Rumah abu di Indonesia sebetulnya merupakan paguyuban sne, yang mengkoordinasi semua kegiatan para anggotanya, dan tempat para anggota bertemu berdiskusi dll. Mereka juga melakukan kegiatan sosial, seperti menolong yang kesusahan, yang sakit, memberi bea siswa dsb. Pengelompokan sne tidak berarti memecah belah, bahkan merupakan persatuan dalam perbedaan. Persaingan antar rumah abu dalam melakukan kegiatan sosial justru menjadi pemicu agar semua anggotanya peduli akan lingkungan, melakukan kegiatan sosial dll, mereka mendorong kerja sama antar paguyuban demi kepentingan bersama pula. Pada waktu yang lampau, bila ada orang Tionghoa terlantar, atau kesulitan, ia pasti datang ke rumah abu sne yang sama, di sana para pengurus akan menolongnya sampai ia bisa bangkit dan hidup mandiri lagi. Inilah sebabnya, maka orang Tionghoa waktu itu jarang ada yang terlantar. Juga sering kita lihat, bahwa mereka mempunyai pekerjaan yang sejenis. Misalnya orang Konghu kebanyakan mengerjakan industri kayu. Orang Tionghoa yang snenya sedikit biasanya bergabung dengan sne lain, sehingga menjadi kelompok yang lebih besar. Semangat gotong royong dan saling menolong ini telah menyebabkan orang Tionghoa dapat hidup di tanah asing, meskipun ia datang tanpa membawa modal sedikitpun, tidak modal uang ataupun modal berupa keahlian.

Last modified onTuesday, 08 April 2014 07:19
Rate this item
(1 Vote)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/3739-sne-tionghoa-dari-zaman-ke-zaman

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto