A+ A A-

Menghayati Kelenteng Sebagai Ekspresi Masyarakat ( Tionghoa bagian pertama )

  • Written by  Ardian Cangianto
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Menghayati Kelenteng Sebagai Ekspresi Masyarakat Tionghoa

Oleh : Ardian Cangianto[1]

Pengantar

            Pada saat mendengar kata kelenteng, yang terbersit secara umum adalah tempat ibadah orang Tionghoa, dimana tentunya pandangan itu tidak seratus persen benar, karena dalam perjalan sejarahnya, kelenteng memiliki makna-makna keagamaan yang bersifat universal dan tidak hanya untuk orang Tionghoa saja. Tapi di sisi lain, kelenteng mengandung unsur-unsur budaya Tionghoa yang kental dan semua itu adalah symbol yang memiliki makna-makna moralitas. Penanaman nilai moral itu dilakukan melalui bahasa symbol dan imaji selain bahasa oral dan teks.

 

            Pada umumnya di masyarakat umat kelenteng sendiri tidak menyadari adanya pola-pola pengaturan kosmologi dalam kelenteng. Bahkan mereka mengkotak-kotakkan jenis kelenteng berdasarkan agama, arsitektur kedaerahan yang menjadi pernik yang tampak tapi sebenarnya ada benang merahnya. Melalui tulisan ini, saya mencoba menggali pola-pola pengaturan itu, mulai dari pola bangunan hingga pada pola penataan ruang tempat ibadah. Pada system penamaan penggolongan,  dalam tulisan ini tidak akan mengkaji secara mendalam masing-masing penamaan tempat ibadah itu.

            Untuk pola penataan ruang tempat ibadah, ada yang menarik untuk dikaji polanya, yaitu pola tengah itu bukan berdasarkan hirarki atau kedudukan “dewata”nya tapi berdasarkan asas “tamu” dan “tuan rumah”. Tentunya juga ruang sacral dan profane tetap ada dalam kelenteng, jadi tidak semua wilayah kelenteng itu adalah sacral tapi memiliki wilayah profane untuk kegiatan masyarakat setempat. Tapi wilayah profane disini bukan berarti bisa melakukan hal-hal yang melanggar norma masyarakat.

Selain itu kelenteng memiliki fungsi-fungsi yang amat luas dan tidak sesempit pandangan umum yang berkembang saat ini, yaitu : sebagai tempat ibadah.

Kelenteng mengandung “correlative thinking” yang bisa menjadi dasar untuk memahami filsafat dan budaya Tionghoa. Correlative thinking ini berkaitan dengan correlative cosmology[2], dimana dalam filsafat Tiongkok selanjutnya[3], ide “correlative cosmology” semakin berkembang dan diterima.  “Correlatve thinking” kelenteng saling terkait, mulai dari ekonomi hingga politik. Sayangnya sekarang ini di Indonesia fungsi kelenteng mengalami penurunan.

Fungsi Kelenteng Sebagai Pusat Komunitas

Dahulu kelenteng adalah pusat tempat dimana masyarakat Tionghoa melakukan aktifitas hidup mereka seperti : melakukan perundingan untuk mengatasi masalah-masalah masyarakat; aktifitas religious; mengurus kematian; rumah jompo ; rumah yatim ; pendidikan; kegiatan ekonomi bahkan hingga masalah pertahanan keamanan dan masih banyak lainnya. Kelenteng bisa dikatakan adalah inti dari kehidupan masyarakat Tionghoa baik di pedesaan maupun di perkotaan, ketika mereka beremigrasi ke wilayah luar Tiongkok seperti ke Indonesia, kelenteng tetap menjadi pusat kegiatan mereka walau sekarang ini sudah memudar kegiatannya itu menjadi sekedar aktifitas religious saja.

Jika kelenteng merupakan bagian dari budaya maka kita perlu menyadari bahwa kebudayaan adalah pembadanan wilayah non fisikal yang mencakup bagian rohani atau spiritual quest dan tidak bisa direduksi melulu pada ukuran-ukuran material, diungkapkan dalam tanda, symbol dan juga dinamika wacana dan dihidupkan dalam wujud tokoh-tokoh historis, mitologis dan legenda. Ini semua ada pada kelenteng baik dari segi yang nampak maupun tidak tampak dan memiliki multi fungsi dalam kehidupan masyarakat Tionghoa.

Banyaknya kelenteng di Indonesia menunjukkan adanya masyarakat Tionghoa sejak jaman dahulu dan tidak dipungkiri banyak kelenteng yang berumur ratusan tahun sehingga menjadi cagar budaya warisan masa lampau yang membisu tanpa disadari maknanya oleh banyak masyarakat termasuk masyarakat Tionghoa itu sendiri. Dalam melihat kelenteng sebagai benda warisan budaya yang nampak ( tangible culture ) itu akan melupakan makna-makna kelenteng dan budayanya yang tidak tampak  ( intangible culture ) yang melupakan bahwa dibalik fisik kelenteng mengandung makna-makna yang terkait dengan kosmologi maupun falsafah orang Tionghoa yang mengutamakan keselarasan dengan alam dan pengaturan kosmologi dalam kepercayaan mereka, dengan demikian kelenteng memiliki dua budaya yaitu yang tampak dan tidak tampak yang mengandung makna filosofi dan kepercayaan mereka maupun seni seperti seni ukir, lukis, kaligrafi yang bisa kita lihat di kelenteng-kelenteng, dimana seni itu bisa mengandung unsur religious, ajaran moralitas, pengharapan dan juga kosmologi . Di masyarakat kelenteng itu sendiri banyak yang sudah tidak mengetahui makna-makna dibalik itu semua, ini perlu dimaklumi karena adanya pembatasan dan pelarangan budaya Tionghoa yang melahirkan “generasi hilang” ( lost generations ).

  1. Kegiatan politik dan pertahanan

Kelenteng pada masa-masa tertentu bisa menjadi pusat politik dan pertahanan, misalnya pada saat Tiongkok terpuruk dan melahirkan gerakan perlawanan terhadap dominasi barat pada akhir abad 19 dan awal abad 20[4], misalnya gerakan Yihe Tuan lahir di desa Li Yuan ( 梨園屯 )[5]. Di Taiwan, sudah merupakan pemandangan umum kelenteng menjadi ajang kampanye politik dan ada afiliasi politik dari para pengurus kelenteng.  Selain itu pada masa kerajaan juga banyak tempat ibadah yang dinaikkan statusny atau diberi papan nama  oleh kerajaan untuk mendapat dukungan rakyat. Dalam sejarah Tiongkok juga banyak pemberontakan atau perlawanan yang dipicu oleh kelenteng[6].  Satu hal yang perlu dicatat bahwa banyak kongsi yang memiliki kelenteng dan perkumpulan-perkumpulan di daerah diaspora Tionghoa rata-rata memiliki altar.

Membicarakan pertahanan, kelenteng tidak selalu bicara pertahanan fisik atau semacam pos ronda. Kelenteng ada yang dibangun sebagai pertahanan terhadap energy buruk ( 煞氣) , contoh yang paling sederhana adalah posisi tusuk sate dan terkadang untuk tempat yang angker dibangun kelenteng. Selain pertahanan terhadap energy buruk, banyak kelenteng terutama di pedesaan[7], kelenteng menjadi tempat pusat untuk membicarakan pertahanan atau melawan perampok.

  1. Di kantong-kantong komunitas Tionghoa banyak kegiatan rapat terutama yang berkaitan dengan kepentingan umum dilakukan di kelenteng.
  2. Kelenteng memiliki fungsi control social masyarakat, karena kelenteng mengandung nilai-nilai ajaran moral yang menjaga masyarakat tidak menyimpang dari kaedah norma dan adat masyarakat setempat.
  3. Banyak kelenteng yang menyediakan tempat untuk menginap bagi para musafir. Misalnya kelenteng Tuban, Banten, Pacet Lama. Untuk kelenteng yang benuansa Buddhisme, bisa dilihat dari bentuk ruphang Wei Tuo yang ada di aula pintu masuk kelenteng. Jika gada Weituo posisi vertical, maka tempat itu tidak boleh menginap dan jika Weituo pada posisi anjali dan senjatanya melintang di tangannya, tempat itu boleh untuk menginap.
  4. Kegiatan sosial yang dilakukan kelenteng amat luas, mulai dari memberi makan gratis hinggap sembako untuk kaum miskin. Ada kelenteng di Bangkok yang merupakan bagian dari rumah sakit[8].
  5. Beberapa kelenteng tempat menampung yatim piatu dan jompo, ini memang tidak seperti panti asuhan secara resmi.
  6. Banyak kelenteng-kelenteng yang membangun sarana pendidikan dan kadang umurnya sudah ratusan tahun[9], terutama untuk mereka yang berada di pedesaan. Secara umum kaum pelajar yang tidak berhasil mengikuti ujian negara itu akan menjadi guru.
  7. Kegiatan ekonomi, banyak kelenteng yang berada di tengah pasar atau aktifitas ekonomi. Selain itu jaman dahulu, miao hui 廟會[10] adalah salah satu penggerak kegiatan ekonomi local.
  8. Umumnya kelenteng memiliki panggung pertunjukkan, dimana sering dipentaskan opera, wayang. Selain untuk dipentaskan sebagai “pertunjukkan sacral” yang menghibur dewa, dan pengunjung. Di beberapa tempat seperti di Taiwan dan Asia Tenggara sering ada panggung pertunjukkan yang bersifat profane. Pertunjukkan striptease di Taiwan, panggung untuk para penyanyi pop sering diadakan di Asia Tenggara.
  9. Aktifitas spiritualitas dan religiusitas.

 



 

[2] Lih.Roger T.Ames, David L.Hall, A Philosophical Translation Dao De Jing, hal.13-14, 2003, United States : Ballantine Books

[3] Maksudnya adalah setelah Taoisme menjadi pemerintahan pada masa awal dinasti Han dan kemudian tidak dilenyapkan begitu saja oleh kaisar Han Wudi saat mengusung Ruism sebagai filsafat pemerintahan.

[4] Yang dikenal dengan gerakan Boxer ( 義和團運動 )

[5] Su Weizhi 蘇位智, Liu Tianlu 劉天璐 ed., “Penelitian 100 tahun Yihe Tuan”,hal.79, 2009, ed. III: Jinan, Qinan Publisher . Penyebab lahirnya gerakan boxer beragam, pada umumnya dikaitkan dengan Zhao Sanduo 趙三多, guru besar dari perguruan tinju plum ( 梅花拳 ) dan kejadian di kelenteng Yuhuang. Kejadiannya terkait dengan “kasus agama” ( 教案 ) dan perjanjian-perjanjian dengan negara-negara barat, kemudian mengakibatkan keruntuhan ekonomi dinasti Qing. Akibatnya terjadi perlawanan rakyat yang merebak luas seantero Tiongkok sejak 1840 dan sejak kejadian desa Li Yuan, perlawanan itu menjadi semakin terorganisir dan meluas. Umumnya dilakukan di kelenteng-kelenteng.

[6] Dalam sejarah Tiongkok, pemberontakan atau perlawanan rakyat sering dimulai dari desa. Pada umumnya desa di Tiongkok memiliki kelenteng. Ada beberapa kelenteng yang memiliki kaitan dengan Triad ( serikat perlawanan terhadap dinasti Qing ) dan patung-patung dewatanya memiliki ciri khas, dengan posisi duduk tapi kakinya membentuk segitiga terkadang ada patung dewata Xuantian Shangdi yang merupakan dewata pelindung dinasti Ming , misalnya Zheng Chenggong ( 1624-1662 ) saat menguasai Taiwan, membangun beberapa kelenteng Xuantian Shangdi. Xuantian Shangdi menjadi dewa pelindung karena ada  cerita saat Zhu Yuanzhang ( 1328-1398 ), pendiri dinasti Ming, saat dikejar-kejar lawan,  Xuantian Shangdi menampakkan diri dan melindunginya.  

[7] Umumnya masyarakat pedesaan di daerah Tiongkok selatan memiliki keterkaitan kekerabatan atau satu marga, jadi kelenteng yang dimaksud bisa merupakan rumah abu marga, dewa pelindung marga atau kelenteng untuk dewa bumi ( 福德正神 ).

[8] Kelenteng itu bagian dari Tian Hua hospital, saat penulis menanyakan tentang itu, salah satu orang di kelenteng itu mengatakan bahwa asalnya adalah dari rumah sakit tradisional pengobatan Tiongkok yang sudah puluhan tahun berdiri dan melayani mereka yang tidak mampu.

[9] Disebut yishu 義塾, tidak dipungut biaya dan untuk kalangan yang tidak mampu.  Lih. 鐘大榮 dan 張禹東, “东南亚华侨华人宗教的历史角色与当代价值”, hal.215, journal “宗 教 学 研 究 2011 年第 1 期”. Dikatakan bahwa tahun 1849, kelenteng Tianfu Singapore membangun sekolah untuk masyarakat Tionghoa.Š

[10] Festival kelenteng. Kegiatan ekonomi amat menyolok saat festival kelenteng. 

Last modified onTuesday, 08 April 2014 07:17
Rate this item
(1 Vote)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/3740-menghayati-kelenteng-sebagai-ekspresi-masyarakat-tionghoa-bagian-pertama

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto