A+ A A-

Pernikahan menurut tradisi Tionghoa ( BAG.PERTAMA )

  • Written by  Ardian Cangianto
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Pernikahan menurut tradisi Tionghoa

 

Kelahiran, pernikahan dan kematian itu adalah tiga hal penting dalam kehidupan manusia dan tentunya dalam budaya Tionghoa juga menjadikan ketiga hal itu amat penting bahkan sacral. Umumnya kelahiran dan pernikahan disebut peristiwa merah 紅事 dan kematian disebut peristiwa putih. Merah dan putih ini dalam pengertian kosmologi Tionghoa kurang lebih adalah yang merah itu bermakna dinamis, gerak sedangkan putih itu bermakna kematian, kaku. Dan dalam kosmologi lima unsur dan arah, merah itu adalah selatan, api; sedangkan putih itu adalah barat, logam. Jadi tidak perlu heran jika dalam banyak hal yang terkait dengan kebahagiaan itu orang Tionghoa menggunakan warna merah termasuk upacara pernikahan.

 

Yang perlu diingat bahwa orang Tionghoa pada umumnya hanya mengenal ritual upacara pernikahan sekali dalam seumur hidup. Jadi seandainya terjadi perceraian entah karena berpisah dengan berbagai factor, pernikahan kedua itu tidak pernah dilakukan upacara pernikahan seperti pernikahan pertama. Hal ini terkait dengan mitos penciptaan manusia oleh dewi Nvwa yang menciptakan manusia beribu-ribu pasangan dan mengatur pernikahan. Karena itu Nvwa kadang dijadikan dewi pujaan bagi mereka yang ingin menikah. Menurut mitos lain, Nvwa dan Fuxi adalah kakak adik yang menikah dan mengatur tata cara pernikahan.

Pernikahan bagi orang Tionghoa itu dalam kitab Liji adalah terkait dengan leluhur dan juga keturunan, dimana yang dimaksud keterkaitan leluhur itu juga keterkaitan dengan adat orang Tionghoa yang menghormati leluhur. Dengan menikah artinya melanjutkan keturunan dan keturunan itu merupakan pewaris dari generasi sebelumnya, sehingga pernikahan itu dianggap penting dalam hubungan ke atas, suami istri dengan leluhur dari keluarga suami dan hubungan ke bawah dengan keturunan mereka. Tujuannya adalah kesinambungan keluarga besar atau marga dan dalam hal ini adalah pewarisan pengetahuan, kebijaksanaan agar keturunannya bisa menjadi baik lagi.

Dan pernikahan ini adalah hal yang penting untuk diketahui dan direstui oleh orang tua ke dua belah pihak, karena pernikahan tidak hanya berkaitan dengan dua insan saja tapi juga berkaitan dengan penyatuan yang baik antar dua marga. Dalam kitab Liji dikatakan bahwa pernikahan itu adalah penyatuan dua marga . Mengzi 孟子mengatakan bahwa hendak mengambil istri atau menikah itu harus memberi tahu orang tua, jika tidak maka itu adalah sikap tidak berbakti ( 不孝有三 無後為大 ). Pernyataan Mengzi ini dalam “Anotasi 13 kitab” ( 十三經注 ) karya Zhao Qi 趙岐 diartikan bahwa “tidak memiliki keturunan adalah sikap tidak berbakti yang terbesar).

Dalam kitab Liji dikatakan pernikahan adalah penyatuan dua marga, dan umumnya pernikahan antar semarga tidak diperbolehkan walau tidak memiliki hubungan darah. Hal ini terjadi karena untuk menghindari terjadinya pernikahan yang memiliki hubungan darah tapi jaman sekarang ini banyak pernikahan semarga. Dan ada yang untuk menghindari calon pasutri itu memiliki hubungan darah, mencek dalam buku silsilah keluarga masing-masing atau bertanya pada kerabat untuk menemukan atau tidak hubungan darah dari tiga hingga lima generasi ke atas.

Ritual pernikahan dalam bahasa mandarin disebut hunli 婚禮 dan pada jaman dahulu ditulis 昏禮 atau bermakna ritual senja. Ini terkait dengan kebiasaan orang Tionghoa pada masa lampau melakukan pernikahan pada senja hingga malam hari dan kebiasaan ini masih kita bisa lihat saat mereka melakukan resepsi pernikahan biasanya pada sore menjelang malam hari.

Pernikahan merupakan salah satu dari lima ritual 五禮. Yang dimaksud lima ritual adalah :

  1. Ritual berkah keberuntungan 吉禮. Ritual ini ditujukan pada dewa-dewa anasir langit 天神, dewa-dewa anasir bumi 地祇, para leluhur, tokoh-tokoh yang berjasa pada hidupnya, dewa yang terkait dengan pertanian dan sebagainya.
  2. Ritual maut/kematian 凶禮. Ritual ini dilaksanakan ketika ada kematian, bencana kekeringan, bencana alam dan berbagai bencana yang mencelakai manusia dan merusak harta benda.
  3. Ritual militer. Ritual untuk semua yang terkait dengan kegiatan militer.
  4. Ritual tamu.Ritual menyambut tamu, terutama pada masa kerajaan ritual ini dilakukan untuk menyambut tamu luar negri, kaisar menerima para adipati.
  5. Ritual kebahagiaan. Ritual saat ada hal-hal yang membahagiakan, misalnya kelahiran, pernikahan, upacara kedewasaan bahkan saat jaman kerajaan itu termasuk kaisar naik tahta, pengangkatan putra mahkota.

Proses orang Tionghoa itu dibagi menjadi tiga bagian besar, yaitu : pertama adalah pertunangan, kedua adalah upacara pernikahan dimana upacara pernikahan itu bermakna seorang pria dan  wanita berikrar bersatu dalam ikatan suami istri dan ketiga setelah upacara pernikahan itu artinya sudah sah menjadi suami istri. Dan tiga bagian besar ini tentunya dikenal juga dalam banyak kebudayaan lainnya.

Dalam pelaksanaan proses itu, dibagi menjadi tiga surat dan enam ritual 三書六禮. Tradisi enam ritual itu diperkirakan sudah ada sejak kaisar Zhou Wenwang 周文王 ( 1152-1056 BCE ). Walau tata cara itu ditulis dalam kitab Liji, dalam sejarah kekaisaran Tiongkok, putra mahkota sering tidak upacara penyambutan calon mempelai. Baru pada dinasti Tang, putra mahkota menyambut calon mempelai. Enam ritual itu adalah proses dari sebelum pernikahan hingga pernikahan.

Tiga surat itu adalah :

  1. Pinshu 聘書 ( surat perjanjian ), surat perjanjian itu adalah surat pertunangan. Diserahkan pada saat ritual naji 納吉 ( menerima keberuntungan ).
  2. Lishu 禮書 ( saya artikan surat hadiah ), isinya adalah daftar barang yang dihadiahkan pada keluarga calon mempelai wanita. Diserahkan pada saat ritual nazheng 納征  ( artinya bisa dikatakan sukses menerima hadiah ).
  3. Yingqin shu 迎親書 (maksudnya surat meyambut mempelai wanita ). Diserahkan saat menjemput calon mempelai wanita.

Ke tiga surat itu diberikan oleh keluarga calon mempelai pria untuk keluarga calon mempelai wanita untuk memberikan kepastian dan menjamin pernikahan itu akan dilaksanakan, bukan sekedar main-main. Untuk menjamin kepastian itu selain surat adalah enam ritual/tata cara menuju proses pernikahan. Walau disebut enam tata cara atau ritual, pada kenyataanya lebih dari enam itu.

Enam ritual/tatacara pernikahan :

1. nacai納彩  istilah umumnya adalah "拿彩礼” yaitu keluarga pria melamar melalui meiren. Jika keluarga gadis menyetujui maka proses berlanjut.

2. wen ming 問名, yaitu prosesi dimana keluarga pria meminta meiren 媒人 atau mak comblang untuk menanyakan nama dan tanggal lahir gadis yang dinikahi pada keluarganya. Tujuaanya adalah untuk mencek apakah masih memiliki hubungan darah dan kedua adalah untuk meminta tanggal lahir untuk diramal apakah keduanya cocok atau tidak. (BERSAMBUNG )

Last modified onWednesday, 15 April 2015 15:04
Rate this item
(7 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/3775-pernikahan-menurut-tradisi-tionghoa-bag-pertama

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto