A+ A A-

Pengajaran Etika dalam Realitas Kemasyarakatan Negara

  • Written by  Yu Yongde
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email
Budaya-Tionghoa.Net| Dalam sebuah kesempatan seorang rekan berkata demikian:
“Saya tadi kongkow dengan beberapa teman negara XYZ. Saya kasih lihat video clip Dizigui dari teman dan tanggapannya enteng ‘sudah pernah nonton. Kita juga hafal di luar otak Dizigui dan buku-buku lainnya. kita diajarkan di sekolah. Masalahnya kita tidak bisa cari makan dengan itu. Dunia di sini butuh hidup keras. Kalau kita ikutin itu, tidak bisa hidup. Cuma orang-orang seperti kamu yang banyak waktu, yang sempet urusan dengan itu.’ Saya garuk kepala dibuatnya.”
 

Hal tersebut kemudian dibalas oleh rekan lain seperti, “apakah benar diajari dizigui dan buku-buku lainnya?” Dengan asumsi bahwa pernyataan di atas tidak mengandung kebenaran maka premis yang dilontarkan kawan berikutnya tak lagi relevan dibahas. Mari kita berangkat dengan asumsi bahwa perkataan rekan di atas benar adanya.

Apakah memang kondisi rakyat negara XYZ yang bermasalah dengan moral bisa dijustifikasi hanya dengan ‘hidup keras’ dan kebutuhan materi? Sebab, walaupun benar belajar Dizigui, Sanzijing dan segala macam etika lainnya, belum tentu moralnya otomatis menjadi baik. Karena pada dasarnya mengetahui atau mempelajari (lebih tepatnya diajari) tidak selalu sinonim dengan memahami dan mengamalkan. Ada berbagai kajian teknis bagaimana mempelajari sebuah konsep dan mengamalkan atau mempraktekkan konsep tersebut. Tetapi inni bukan lingkup pembahasan yang mau dikaji kali ini.

Belajar, pada dasarnya mengandung unsur mengikuti contoh teladan. Belajar bukan hanya membaca buku atau lulus ujian dengan nilai tertinggi ataupun peringkat pertama. Belajar juga bukan hanya bisa menghafal dan merangkai kata essay maupun puisi. Sebab, belajar yang benar sesungguhnya adalah mengulangi kebaikan yang telah ada sebelumnya. Dengan demikian, arti belajar sesungguhnya adalah mengikuti suri teladan.

Belajar juga mengandung unsur repetisi atau pengulangan. Baik pengulangan dalam membaca sebuah buku ataupun mengerjakan sebuah latihan atau tugas. Semuanya demi mencapai pemahaman yang sedalam-dalamnya. Namun, pengulangan yang terpenting dalam belajar adalah pengulangan pengamalan. Apa yang telah dibaca, dipraktekkan berulang-ulang sehingga yang dipelajari terhayati dan menjadi bagian integral dari jiwa kita.

Dalam belajar, faktor ‘contoh’ atau ‘suri teladan’ adalah salah satu faktor yang krusial. Dalam kasus rekan di atas, faktor ‘contoh’ inilah yang menjadi masalah dominan. Manusia di negara XYZ seperti rekan di atas sejak kecil tidak mendapatkan pendidikan budi pekerti yang baik juga tidak mendapatkan contoh teladan yang baik dari lingkungan maupun orang tua mereka. Siklus seperti itu sebenarnya siklus yang umum di dunia ini.

Memang benar, untuk bisa bermoral beberapa kebutuhan hidup mendasar harus terjamin terlebih dahulu. Tapi perlu dicatat, terjamin di sini bukan berarti harus selalu tercukupi atau berlimpah. Terjamin di sini adalah rakyat mendapatkan jaminan bahwa kebutuhan hidup mendasar mereka itu ada atau akan ada; bahwa negara betul-betul berupaya menjamin kehidupan mereka. Di sisi ini juga termasuk masalah negara XYZ. Akan tetapi, tidak berarti negara tersebut miskin. Ironisnya mereka kaya raya. Sayangnya dalam berlimpahnya materi serta sumber daya ada yang kurang di moralitas.

Kembali ke contoh. Contoh-mencontoh dalam belajar atau dalam kata lain mengikuti suri teladan, seorang anak akan mengikuti orang tuanya. Orang tua selaku rakyat akan mengikuti lingkungan sekitar, kota, bangsa dan negara. Sebabnya, lingkungan sampai negara seharusnya menjadi bintang utara yang menjadi pedoman hidup mereka, termasuk dalam hal ini adalah pemimpin negaranya. Sayangnya di negara tersebut para pejabat atau elitnya malah menjadi contoh perilaku tidak baik alih-alih bertindak sebagai bintang utara. Padahal, bila pemimpin negara menjunjung kebajikan, rakyat jelata juga tidak akan berani untuk tidak menjunjung kebajikan. Ini adalah sebuah konsep dari Xun Zi. Hal demikian menyebabkan adanya krisis kepercayaan rakyat terhadap pemimpin mereka dan kemudian direpetisi sampai tingkat unit terkecil rakyat, yakni keluarga.

Padahal, kepercayaan rakyat itu penting. Rakyat bisa melepaskan makanan—dalam arti kenyamanan hidup—untuk hidup sengsara asal pemimpin mendapatkan kepercayaan dari mereka. Walau konsep ini beberapa kali dalam sejarah diselewengkan—misal gerakan revolusi merah di negara XYZ—ini adalah contoh betapa rakyat rela sengsara demi mempercayai sebuah tujuan. Kepercayaan rakyat ini dalam wujud suara mereka adalah bentuk suara Tuhan atau tianming. Inilah yang seharusnya dijaga oleh para pemimpin dan pejabat.

Sifat rakyat jelata tersebut di atas telah lama menjadi kajian para leluhur. Disebutkan rakyat jelata bagaikan rumput yang bergoyang mengikuti arah tiupan angin. Para junzi adalah angin yang bertiup. Ini seharusnya diisi oleh para pemimpin dan pejabat, para junzi sejati sehingga keadaan negara ideal bisa terwujudkan. Sayang, realita selalu jauh dari idealisme.

Mereka-mereka yang hendak menentramkan dunia (bukan sekedar berkuasa) sudah seharusnya mewujudkan kemurnian diri mereka sendiri terlebih dahulu. Dalam arti bahwa seorang pemimpin seharusnya berkebajikan, memiliki moral yang baik, dan menjadi suri tauladan bagi rakyatnya.

Bila kita mengkaji sejarah Tionghoa, ada berbagai periode baik singkat dan lama dimana pernah terjadi zaman keemasan; negara makmur, rakyat tentram. Semua ini dimulai dari hulu negara, yaitu seorang pemimpin yang arif bijaksana. Tentu saja bukan berarti pada masa keemasannya semua rakyat bagaikan malaikat suci. Bagaimanapun juga, rakyat jelata juga bersifat pragmatis. Sebab itu, cukup 70% dari mereka merasakan kepuasan dan keyakinan maka ketertiban dan moralitas dengan sendirinya akan dimuliakan.

Jadi, dalam kasus ini, kalau kita perhatikan baik-baik keluhan rekan di atas, ditemukan adanya keluhan terhadap sistem. Bagaimana sistem memaksa mereka untuk tidak mengindahkan moral. Terlepas dari benar atau bohong, perlu dipertanyakan bagaimanakah sistem itu terbentuk dan lagi-lagi kembali ke siapa yang ada di balik sistem itu. Jawabannya adalah negara dan para penyelenggaranya. Di luar itu, tentu saja banyak elemen-elemen non birokrat yang tetap berupaya menjaga moralitas. Merekalah yang lebih sering menjadi junzi-junzi sejati di luar lingkar kekuasaan namun sayangnya seringkali idealisme mereka dianggap sebagai upaya pembangkangan terhadap sistem.

Kembali pada hal kepercayaan rakyat, sebenarnya ada jalur lain bagi rakyat untuk meletakkan harapan mereka. Itu adalah jalur kepercayaan atau agama. Sistem dualisme antara tradisi akademis birokrasi dengan kepercayaan rakyat ini telah dipraktekkan sepanjang sejarah Tionghua. Rakyat memiliki jalur alternatif bagi suara mereka yang sesungguhnya bila dikaji secara sudut pandang rasionalitas, kepercayaan itu lebih bersifat pelarian dan ungkapan kekecewaan. Sisi inilah banyak dimanfaatkan oleh penggiat politik untuk menciptakan berbagai konsep hiburan bagi hati rakyat. Misal, sistem pengaduan terhadap entitas yang dianggap suci dan jadi panutan moral. Entah beliau seorang leluhur berjasa yang diangkat menjadi dewa pun dewi.

Sepanjang sejarah Tionghua, tangan-tangan gelap kekuasan turut bermain untuk mengendalikan pelarian rakyat ini. Secara berkala sistem pelarian ini dikendalikan dan dipangkas agar tetap tertib sesuai jalur. Sebagaimana pengangkatan Lin Moniang sebagai dewa ataupun penyebaran kisah Xuantian Shangdi awalnya seorang tukang jagal yang bertobat. Ini karena pada dasarnya tidak mungkin ada kebijakan yang memuaskan semua pihak. Sayang, sistem seperti ini memiliki celah, yakni celah manipulasi.

Selain itu, pada zaman yang informasi dapat didapat dengan mudah dan cepat, manipulasi dapat dilakukan dengan penggiringan pendapat melalui media massa dan bahkan sekarang melalui sosial media di dunia maya. Penggiringan pendapat yang dilakukan oleh calon pemimpin untuk mendapatkan suara pada hari pemilihan contohnya. Atau juga oleh pemimpin itu sendiri pada masa jabatannya agar tampak hebat di mata para pendukung dan rakyat secara umum.

Tersebut dalam Daode Jing bahwa pemerintahan yang baik berjalan senyap, tanpa hingar-bingar pemberitaan namun kebutuhan rakyat terpenuhi atau terjamin. Pemerintahan yang terlalu banyak memberitakan kebijakan-kebijakannya ada kemungkinan menyimpan kebusukan yang pada akhirnya menimbulkan ketidakpercayaan dari rakyat. Rakyat akan menjadi sibuk mencari dan jika mendapati lubang hitam sekecil apapun akan melupakan etika yang telah dipelajarinya. Dari sini, pada akhirnya kembali pada contoh kasus di atas bagai lingkaran setan yang tak terputus.

Sebab itulah, penggunaan manipulasi-manipulasi yang dapat dikatakan sebagai pilar gelap dalam pendirian dan penguatan kekuasaan ini harus didukung dan diimbangi dengan pilar terang yakni pengajaran etika. Rakyat harus terdidik dengan baik sehingga tidak mudah dimanipulasi pihak lain. Hal ini bukannya tidak mungkin melainkan tidak mudah. Karena tak kalah penting dari pengajaran tersebut adalah contoh pelaksanaan etika dan moral dari penguasa secara benar sehingga tindak-tanduknya dapat menjadi contoh bagi rakyat. Pada akhirnya, dengan pelaksanaan etika secara menyeluruh dari para junzi hingga rakyatnya, manipulasi melalui sistem kepercayaan atau agama maupun penggiringan pendapat melalui media massa tidak akan lagi menjadi faktor krusial bagi negara tersebut.

 

Oleh : Yu Yongde
Edited by : Lia Zhang

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya TionghuaFacebook Group Budaya Tionghoa

Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/3780-pengajaran-etika-dalam-realitas-kemasyarakatan-negara

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto