A+ A A-

Uang dalam perspektif budaya dan filsafat Tionghoa ( bag.3 tamat )

  • Written by 
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Nilai dan guna dari uang

Orang Tionghoa mengenal pepatah “uang bukan serba bisa tapi tanpa uang berlaksa hal tidak bisa ( dikerjakan)” ( 錢不是萬能 沒錢萬萬不能 ). Jaman sekarang, masyarakat sudah terlalu mengagungkan materi. Segala sesuatu yang ada memiliki nilai sehingga seolah-olah tanpa uang tidak bisa hidup. Dalam literature klasik Tiongkok, sejak awal sudah ada pembahasan tentang “dewa uang”[1]. Tapi, yang disebut sebagai “dewa uang”, sebenarnya tidak sama seperti dewa dalam pandangan masyarakat pada umumnya. Sebenarnya , “dewa uang” itu menunjuk pada uang itu sendiri. “Dewa uang” hanya sebagai analogi dan simbol, lebih pada satu ekspresi masyarakat dan system terhadap pengejaran maupun mengidolakan pada kekayaan[2].

 

Di Tiongkok sendiri pandangan itu sudah ada sejak lama dan salah satu penggagasnya adalah Lu Bao 魯褒[3]  dengan menulis “Dalil dewa uang” ( 錢神論 ). Dalil tersebut beranggapan bahwa uang adalah benda yang sakti mandaraguna. Tanpa uang,  status sosial tidak ada. Tiada uang, maka tidak bisa bertindak apa-apa. Kondisi bahaya bisa ditentramkan dengan uang. Uang bisa memerintah setan apalagi manusia dan berbagai pandangan lainnya yang mengagungkan uang[4]. Lu Bao menyebut uang koin adalah kongfang孔方[5]. Ia juga mengatakan manusia itu melihat uang sebagai “saudara yang tercinta”.  Sejak itu kata kongfangxiong 孔方兄[6] menjadi kata pengganti untuk uang[7]. Tentunya banyak yang menentang pandangan tersebut, sekarang ini banyak orang yang beranggapan bahwa uang bukan segalanya.

Kong Lin 孔琳 ( 369-423 ) beranggapan bahwa uang hanya sebagai alat penting dalam pertukaran barang maupun kehidupan sehari-hari. Ia beranggapan bahwa uang adalah benda tidak berguna, pada saat kelaparan tidak bisa dimakan, pada saat kedinginan tidak bisa dipakai. Walapun demikian, Kong Lin juga berpandangan bahwa uang bisa memajukan perputaran pergerakan komoditas, sehingga tidak bisa dihapus begitu saja[8].

Pandangan Kong Lin tentang “uang tidak berguna” mempengaruhi banyak ekonom pada periode selanjutnya, salah satunya adalah Xin Qiji 辛棄疾 ( 1140-1207 ). Pada masa Xin Qiji, uang kertas sudah beredar dan ia beranggapan peredaran uang kertas itu memudahkan rakyat, tapi saat nilai uang kertas menjadi jatuh, ia mengatakan bahwa penyebab utamanya adalah “ pencetakannya terlalu banyak tapi wilayah peredaran tidak luas.” Ini menunjukkan bahwa sebenarnya nilai dari uang kertas juga terkait dengan peredaran uangnya. Xin juga menganjurkan agar pemerintah harus menjaga nilai mata uang sehingga tidak merosot. Walau demikian, bagi Xin uang adalah benda yang pada saat kelaparan tidak dapat dimakan dan pada saat kedinginan tidak dapat dipakai[9].

Menurut pemikiran Zhou Xingji 周行己 ( 1067- ? ), uang tidak berguna karena nilainya ditetapkan oleh komoditi saat pertukaran itu terjadi. Uang dari “tidak berguna” menjadi berguna; komoditas dari ada guna menjadi digunakan. Komoditas yang real sedangkan uang adalah nihil ( tak memiliki nilai )[10].

Uang berguna atau tidak berguna bisa menjadi suatu pemikiran. Apakah uang yang menentukan nilai suatu komoditas; atau komoditas yang menentukan nilai ? Dalam pandangan penulis, uang menjadi ada guna jika ada kekuasaan yang menopang uang itu. Jika kekuasaan itu hancur, maka uang itu sendiri menjadi tidak bernilai.

 

Uang dan keharmonisan

            Realitas dasar filsafat Tiongkok adalah yinyang dan lima unsur[11]. Pengaruh ini amat mendalam dan memasuki sendi-sendi kehidupan masyarakat Tionghoa. Dalam sejarah peradaban Tiongkok, sejak Dinasti Qin (221-207 BCE)menyatukanTiongkok, bentuk mata uang logam  selama dua ribu tahun tidak mengalami perubahan[12].

 

Gbr. Koin uang jaman Qin[13]

 

Dalam filsafat Tiongkok, langit dilambangkan bulat dan bumi dilambangkan empat persegi. Langit adalah unsur yang dan bumi adalah unsur yin. Lu Bao 魯褒 adalah orang yang pertama menuliskan dalam “Dalil dewa uang” bahwa mata uang koin itu adalah lambang dari langit dan bumi[14]. Bagi penulis, ini menunjukkan bahwa koin uang selain alat tukar juga mengandung nilai filosofis bahwa segala sesuatunya harmonis. Sebagai benda yang memiliki nilai intristik tinggi, koin harus mencerminkan konsep keseimbangan keharmonisan yinyang. Keharmonisan ini ditopang oleh “keadilan dan kebajikan”. Tanpa ini semua maka keharmonisan tidak akan terjaga.

Sebuah pemikiran awal menarik terbentuk di tahun 2006, ketika penulis ke Singapore dan mengikuti seminar Taoisme di sana. Penulis sempat bertemu dengan Victor Yue[15] , dan ia mengatakan bahwa koin S$1 Singapore itu mengandung konsep bagua (hexagram) dan lima unsur. Konon saat Singapur membangun MRT (mass rapid train) beserta jaringan pipa maupun kabel bawah tanah, perdana menteri Lee Kwan Yew takut fengshui  Singapura menjadi rusak. Menurut Victor Yue, Master Weng menyarankan agar setiap rakyat Singapura membawa bagua, dan caranya dengan membuat koin berbentuk bagua. Olehkarena itu koin S$1 dibuat berbentuk bagua.

 

Gbr.Koin S$1 sumber : https://ecs3.tokopedia.net/newimg/product-1/2014/5/14/4015164/4015164_81b46c1e-db29-11e3-9b97-eb4b2523fab8.jpg

 

Tentunya hal ini sulit dijelaskan secara ilmiah, tapi dapat dilihat bahwa bentuk koin tersebut memang memiliki segi delapan, atau yang dikenal dalam budaya Tionghoa sebagai bagua.

            Selain koin uang memang memiliki fungsi sebagai alat tukar, masyarakat Tionghoa juga mengenal koin uang yang tidak memiliki fungsi ekonomi. Uang koin itu disebut huaqian 花錢[16]. Uang itu adalah uang “mainan” dan sudah ada sejak dinasti Han[17]. Bentuk Huaqian  itu umumnya tetap berlandaskan pada konsep “langit bulat bumi empat persegi” atau yang disebut fangkong. Masyarakat zaman dahulu mencetak “uang mainan” itu penuh dengan simbol keberuntungan atau kebahagiaan[18].

 

Fungsi uang selain nilai tukar ekonomi

            “Energi uang” ini adalah energi dalam pengertian metafisikaTiongkok, yaitu qi [1]. Penggunaan uang dalam aspek-aspek di luar kegiatan ekonomi antara lain : tolak bala, fengshui maupun exorcisme;semuanya dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa. Pada umumnya uang yang dipakai adalah uang logam terutama koin kuno. Salah satu alasannya adalah uang koin itu beredar di manusia sehingga menyerap energi manusia dan energi manusia itu adalah energy yang (positif) sehingga bisa menolak segala hal yang bersifat buruk atau energi yin (negatif).

            Contoh-contoh penggunaan “uang” dalam kehidupan masyarakat Tionghoa antara lain :

  1. Pada saat tahun baru Imlek, anak-anak diberi  yasuiqian壓歲錢, atau secara umum di masyarakat Tionghoa Indonesia disebut angpao. Sebenarnya yasuiqian ini artinya uang penekan ( penolak ) sui  yang berarti menolak malapetaka dan pengharapan agar bisa selamat. Pada Zaman dahulu, yasuiqian  yang digunakan adalah uang logam yang diikat menjadi satu dan kemudian pada saat malam tahun baru Imlek di taruh di ranjang anak.
  2. Beberapa praktisi fengshui  meletakkan uang koin saat hendak meletakkan pondasi bangunan. Tujuannya menolak shaqi 煞氣 atau energy buruk. Pada zaman dahulu ada yang menguburkan yuanbao 元寶[2] dalam tanah, selain sebagai simpanan jika terjadi sesuatu hal yang memerlukan uang, juga berfungsi agar rumah tinggal itu menjadinyaman.

 

Gbr.Yuanbao sucai.redocn.com/

  1. Koin yang dirangkai menjadi pedang atau disebut pedang uang emas ( jinqianjian金錢劍 ) adalah pedang yang digunakan untuk mengusir setan. Umumnya digunakan oleh para master Taoist dan rakyat jelata. Dasar pemikirannya sama seperti yang disebut di atas bahwa uang yang beredar di tangan manusia itu mengandung unsur yang ( positif ) dan pedang memiliki “hawa” pembunuh shaqi 殺氣 sehingga bisa mengusir setan. Selain itu juga digunakan oleh beberapa praktisi fengshui  untuk membuat rumah menjadi nyaman.

 

Gbr.pedang uang emas  http://baike.haoyun666.com/index.php?doc-view-2669.htm

  1. Pada saat upacara penguburan, sering dilakukan upacara melempar lima biji-bijian dan uang logam. Tujuannya adalah semoga hasil panen melimpah dan keluarga yang ditinggalkan selalu berkecukupan.

 

Kesimpulan

            Perkembangan ekonomi di Tiongkok yang ribuan tahun lamanya melahirkan banyak gagasan maupun teori tentang ekonomi dan fungsi uang. Para filsuf maupun ekonom Tiongkok dari zaman ke zaman menghadapi permasalahan-permasalahan ekonomi yang harus diatasi. Secara garis besarnya, kendali negara atas perekonomian maupun perputaran uang itu adalah demi mensejahterakan rakyat. Tanpa ada rakyat yang sejahtera maka kekuasaan negara bisa terancam bahkan digulingkan. Dalam mengelola maupun melaksanakan kegiatan ekonomi harus memiliki keadilan dan kebajikan. Cara itulah yang bisa menghindari kebencian maupun amarah karena kegiatan yang mencari untung berlebihan.

            Makna dan nilai dari uang menjadi suatu perdebatan di kalangan para filsuf maupun para ekonom Tiongkok kuno, terutama dalam bidang ekonomi maupun fungsi dalam kehidupan sehari-hari. Namun demikian, bentuk uang koin di Tiongkok selama dua ribu tahun tidak mengalami perubahan. Bentuk uang koin itu sendiri mengandung nilai filosofi tentang keharmonisan.

Fungsi dan makna nilai uang akhirnya melampaui fungsi ekonomi, terutama dalam bidang metafisik maupun budaya bangsa Tionghoa. Dalam budaya Tionghoa, uang sudah bukan lagi sekedar alat tukar ekonomi, tapi menjadi alat untuk menolak bala, harmonis dengan alam dan lain-lain.

 

Referensi :

He Huazhang何華章.2007.Zhouyi Daquan 周易大全.  Xi’an : Shaanxi National University publisher.

Liu Wei 劉煒.2001. Zhonghuawenming chuanzhen 中華文明傳真.  Shanghai : Cishu publisher.

Qi Liang 啟良.2000. Zhongguo Wenmingshi中國文明史 . Guangzhou: Hua Cheng publisher

Shi Yinxu, Zhang Jiacheng 釋印旭 張家成.2008. Zhongguo Caishen wenhua 中國財神文化 .Beijing : Zongjiao wenhua publisher.

Wang Yanan 王亞南.2014. Zhongguo Jingji Yuanlun 中國經濟原論  .Beijing : Commercial Press Publisher.

Ye Shi Chang 葉世昌. 2003.Gudai zhongguo jingji sixiang shi 中國古代經濟思

想史. Shanghai : Fudan Daxue chubanshe 復旦大學出版社.

Yin Wei 殷偉. 2014.Zhongguo Chuantong fu wenhua 中國傳統福文化. Fuzhou : Fujian Renmin publisher 福建人民出版社

Daftar situs elektronik :

http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/405-ekonomi-di-masa-dinasti-han-wu-wei-jing-ji diakses pada tanggal 15 mei 2015 jam 18:20.



[1] Qi  ini adalah energy yang ada di seluruh alam semesta maupun isinya, terbagi menjadi dua bagian besar energy pra terbentuknya alam semesta dan energy setelah terbentuknya alam semesta. Pada umumnya aksara qi yang dikenal adalah 氣 sedangkan aksara 炁 ini tidak dikenal secara meluas, aksara 炁 ini lebih mengarah pada energy pra alam semesta dan energy Dao agung. Sedangkan qi 氣 ini dibagi menjadi dua bagian besar yaitu qi langit dan qi bumi. Manusia bisa hidup karena 炁 dan 氣 .

[2] Yuanbao adalah mata uang yang menggunakan perak atau emas sebagai alat tukar yang dilebur dan dicetak menjadi bentuk “perahu”.  Dinasti Tang (618-907) pertama menggunakan, tapi tidak begitu umum. Baru saat dinasti Ming (1368-1644) dan Qing (1636-1912), penggunaan yuanbao meluas.

 

Gbr.huaqian [19]



[1] Shi Yinxu, Zhang Jiacheng 釋印旭 張家成, Zhongguo Caishen wenhua 中國財神文化 ( Budaya Dewa Rejeki Tiongkok-pen ), ( Beijing : Zongjiao wenhua publisher, 2008 ), h.147.

[2]  Shi Yinxu, Zhang Jiacheng 釋印旭 張家成, Zhongguo Caishen wenhua 中國財神文化 ( Budaya Dewa Rejeki Tiongkok-pen ), ( Beijing : Zongjiao wenhua publisher, 2008 ), h.148.

[3] Tahun kelahiran dan meninggal tidak diketahui. Hidup pada masa periode dinasti Jin barat 西晉 ( 266-316 )

[4] Lih. Ye Shichang 葉世昌 , Gudai zhongguo jingji sixiang shi,h.197-199.

[5] Artinya adalah lubang persegi. Lihat gambar koin kuno Tiongkok yang memiliki lubang persegi dan fungsi lubang itu untuk menaruh tali dan mengikat uang koin agar tidak berceceran.

[6] Artinya adalah saudara uang.

[7] Shi Yinxu, Zhang Jiacheng 釋印旭 張家成, Zhongguo Caishen wenhua 中國財神文化 ( Budaya Dewa Rejeki Tiongkok-pen ), ( Beijing : Zongjiao wenhua publisher, 2008 ), h.149.

[8] Lih. Ye Shichang 葉世昌 , Gudai zhongguo jingji sixiang shi,h.200.

[9] Lih. Ye Shichang 葉世昌 , Gudai zhongguo jingji sixiang shi,h.286-289.

[10] Lih. Ye Shichang 葉世昌 , Gudai zhongguo jingji sixiang shi,h.280-281.

[11] Yinyang  adalah dua sifat yang berlawanan tapi juga sekaligus berharmonisasi dan keseimbangan. Lima unsur adalah unsur yang ada di alam semesta ini. Unsur-unsur itu adalah : logam, kayu, air, api dan tanah. Lima unsur itu saling menguatkan dan saling melemahkan. Lima unsur juga harus seimbang dan harmonis. Manusia sebagai mahluk yang memiliki kemampuan akal budi dan merefleksikan apa yang dilihatnya itu harus menjaga keseimbangan yinyang dan lima unsur.

[12] Liu Wei 劉煒, Zhonghuawenming chuanzhen 中華文明傳真, ( Shanghai : Cishu publisher, 2001 ),jil.4, h.80.

[13] Liu Wei 劉煒, Zhonghuawenming chuanzhen 中華文明傳真, ( Shanghai : Cishu publisher, 2001 ),jil.4, h.80.

[14] Lih. Ye Shichang 葉世昌 , Gudai zhongguo jingji sixiang shi,h.198.

[15] Victor You adalah pengamat Taoisme rakyat di Singapore.

[16] Pengertian huaqian ini bukan berarti adalah menghamburkan uang seperti dalam kamus bahasa mandarin modern. Artinya adalah “uang bunga” yang maknanya adalah uang yang indah, penuh ukiran dan mengandung simbol-simbol pengharapan.

[17] Lih.Yin Wei 殷偉, Zhongguo Chuantong fu wenhua 中國傳統福文化, ( Fuzhou : Fujian Renmin publisher, 2014 ), h.165.

[18] Lih.Yin Wei 殷偉, Zhongguo Chuantong fu wenhua 中國傳統福文化, ( Fuzhou : Fujian Renmin publisher, 2014 ), h.166-167.

[19] Yin Wei 殷偉, Zhongguo Chuantong fu wenhua 中國傳統福文化, ( Fuzhou : Fujian Renmin publisher, 2014 ), h.165.

Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/3786-uang-dalam-perspektif-budaya-dan-filsafat-tionghoa-bag-3-tamat

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto