A+ A A-

PANDANGAN FILOSOFIS TIONGHOA MEMANDANG MATI BAGAIKAN HIDUP ( bagian 2 )

  • Written by 
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

11  Pandangan kematian

 

  1. Tidak tahu hidup bagaimana tahu mati ?(未知生焉知死 weizhisheng yuanzhi si ). Pandangan ini berasal dari dialog antara Kongzi dengan Zilu ( 542-480 BCE )[1]. Dialog lengkapnya adalah sebagai berikut :  Zi Lu bertanya mengenai cara mengurus para roh. Kongzi  menjawab,”Belum bisa mengurus  manusia, bagaimana bisa mengurusi para roh”. Zilu  bertanya lagi, “ Kuberanikan bertanya tentang kematian’’. Kongzi menjawab,” Tidak tahu tentang hidup, bagaimana tahu tentang  mati”.( 子曰:“未能事人,焉能事鬼?”曰:“敢问死。”曰:“未知生,焉知死?). Pernyataan Kongzi yang terakhir ini sering dikutip oleh banyak orang yang berpendapat bahwa Kongzi tidak membahas alam kematian. Pandangan ini sebagian ada benarnya tapi perlu diketahui bahwa Kongzi mengikuti jejak kepercayaan dan tata cara ritual orang Tiongkok pra Kongzi. Alam kematian pra Kongzi akan dibahas di bawah tulisan ini. Pernyataan “ Tidak tahu tentang hidup, bagaimana tahu tentang mati’, mempengaruhi pemikiran orang Tionghoa selama ribuan tahun. Ini menyebabkan pemikiran orang Tionghoa lebih menekankan kehidupan bukan terpaku pada alam kematian. Penjelajahan filosofis kaum Ruist akhirnya lebih pada mengutamakan konsep apa itu hidup dan bagaimana menata kehidupan itu sendiri. Dengan kata lain, mereka lebih mengutamakan hal-hal yang lebih berguna bagi masyarakat daripada berkutat pada alam kematian yang bersifat spekulatif dan bersikap realisitis bahwa kematian adalah hal yang tidak terelakkan.
  2. Semua yang hidup pasti mati, mati kembali ke tanah, inilah yang disebut arwah ( gui鬼 ) ( 众生必死,死必归士,此之谓鬼 ). Pernyataan ini ada dalam kitab ritual ( Liji 礼记 )[2] bab Jiyi 祭义. Penulis mengutip pernyataan Kongzi tentang “kembali ke tanah” dan “arwah” ini untuk menunjukkan bahwa Kongzi sendiri membahas alam kematian. Dan alam kematian yang dikutip Kongzi itu adalah suatu sistem kepercayaan yang beredar pada masa beliau hidup. Karena pemikiran inilah maka kematian dianggap sebagai hal yang wajar oleh kaum Ruist.
  3. Hidup mati ada takdirnya( 死生有命富贵在天 ). Pernyataan ini merupakan cuplikan dari dialog antara Sima Niu司马牛dengan Zixia 子夏( 507- ? BCE  )[3]dalam Analect (论语 ). Dialog lengkapnya adalah : Sima Niu dengan hati risau berkata pada Zixia,” Orang lain memiliki saudara, sedangkan aku menyendiri”. Zi Xia menjawab, “Ku pernah dengar bahwa hidup dan mati ada takdirnya, kekayaan dan kejayaan ada di Langit. Junzi ( 君子 )[4] berdedikasi dan berintegritas, dengan orang lain berlaku hormat dan sesuai etika, di empat lautan semua adalah saudara. Junzi mengapa risau tidak memiliki saudara”. Jika kita melihat keseluruhan dialog tersebut, Zixia tidak membahas masalah kematian. Lebih pada upaya Zixia menjawab kerisauan Sima Niu. Tapi kemudian “hidup mati ada takdirnya” menjadi populer terutama di kalangan Ru sendiri. Sehingga menunjukkan bagi sebagianorang beranggapan bahwa kematian adalah suatu takdir. Tapi Kong Zi dan Mengzi sendiri beranggapan bahwa umur manusia bisa diperpanjang.
  4. Nyawa ( takdir ) ada di tanganku, bukan milik Langit Bumi( 我命在我不属天地). Premis ini ada dalam kitab Laozi Xisheng jing 老子西升经 dan kemudian Ge Hong ( 284-363 ) juga menekankan pernyataan ini. Kaum Taoist memegang pernyataan ini sebagai antitesis dari pernyataan kaum Ru. Tapi perlu digaris bawahi bahwa pernyataan itu juga ada pernyataan lanjutan. Taoist berbeda dengan Ruist dalam pandangannya tentang panjang umur dan kematian. Ruist terutama Mengzi menekankan bahwa panjang umur bisa didapatkan melalui sikap moral yaitu : kemanusiaan dan keadilan. Sedangkan Taoist yang berpatokan pada paham Taoisme[5] menekankan bahwa dengan pil, makanan, pola hidup sehat bisa memperpanjang umur bahkan pada level tertentu bisa mendapatkan keabadian.
  5. Tidak “mencintai” kehidupan tidak membenci kematian不悅生不惡死. Zhuang Zi ( 369-286 BCE ) seorang filsuf Taoisme memandang bahwa hidup dan mati itu bagaikan dua sisi mata uang. Kematian tidak perlu ditakutkan dan kehidupan tidak perlu terlalu dipegang teguh, semua berjalan alamiah. Ada hidup pasti ada mati, semua itu siklus yang berkaitan tak terpisahkan.
  6. Hidup dan mati adalah qi[6] yg berkumpul dan buyar生死乃氣之聚散. Zhuang Zi berpendapat bahwa mati dan hidup adalah qi yang memampat dan buyar. Dapat dikatakan bahwa kehidupan dan kematian adalah siklus pergerakan qi.


[1]Zilu 子路 adalah murid Kongzi.

[2]Kitab ritual ini adalah kompilasi tentang ritual, sistem tatanan sosial, etika, sitem politik, penanggalan, dialog antara Kongzi dan muridnya.

[3]Sima Niu dan Zi Xia adalah murid-murid Kongzi.Tahun kelahiran dan meninggalnya Sima Niu tidak diketahui.

[4] Orang budiman ( gentlemen).

[5]Taoisme dalam filsafat Tiongkok dapat dibagi menjadi dua bagian besar.Pertama adalah filsafat Taoisme atau yang disebut daojia 道家 dan Taoisme sebagai sistem kepercayaan atau agama, disebut daojiao 道教.

[6]Qi 气 adalah energi kehidupan.

Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/3803-pandangan-filosofis-tionghoa-memandang-mati-bagaikan-hidup-bagian-2

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto