Strict Standards: Declaration of JParameter::loadSetupFile() should be compatible with JRegistry::loadSetupFile() in /home/budayati/public_html/web2/libraries/joomla/html/parameter.php on line 0
PANDANGAN FILOSOFIS TIONGHOA MEMANDANG MATI BAGAIKAN HIDUP ( bagian 3 )
A+ A A-

Strict Standards: Declaration of JCacheControllerView::get() should be compatible with JCacheController::get($id, $group = NULL) in /home/budayati/public_html/web2/libraries/joomla/cache/controller/view.php on line 0

PANDANGAN FILOSOFIS TIONGHOA MEMANDANG MATI BAGAIKAN HIDUP ( bagian 3 )

  • Written by  Ardian Cangianto
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email
  1. Tidak tahu hidup bagaimana tahu mati ?(未知生焉知死 weizhisheng yuanzhi si ). Pandangan ini berasal dari dialog antara Kongzi dengan Zilu ( 542-480 BCE )[1]. Dialog lengkapnya adalah sebagai berikut :  Zi Lu bertanya mengenai cara mengurus para roh. Kongzi  menjawab,”Belum bisa mengurus  manusia, bagaimana bisa mengurusi para roh”. Zilu  bertanya lagi, “ Kuberanikan bertanya tentang kematian’’. Kongzi menjawab,” Tidak tahu tentang hidup, bagaimana tahu tentang  mati”.( 子曰:“未能事人,焉能事鬼?”曰:“敢问死。”曰:“未知生,焉知死?). Pernyataan Kongzi yang terakhir ini sering dikutip oleh banyak orang yang berpendapat bahwa Kongzi tidak membahas alam kematian. Pandangan ini sebagian ada benarnya tapi perlu diketahui bahwa Kongzi mengikuti jejak kepercayaan dan tata cara ritual orang Tiongkok pra Kongzi. Alam kematian pra Kongzi akan dibahas di bawah tulisan ini. Pernyataan “ Tidak tahu tentang hidup, bagaimana tahu tentang mati’, mempengaruhi pemikiran orang Tionghoa selama ribuan tahun. Ini menyebabkan pemikiran orang Tionghoa lebih menekankan kehidupan bukan terpaku pada alam kematian. Penjelajahan filosofis kaum Ruist akhirnya lebih pada mengutamakan konsep apa itu hidup dan bagaimana menata kehidupan itu sendiri. Dengan kata lain, mereka lebih mengutamakan hal-hal yang lebih berguna bagi masyarakat daripada berkutat pada alam kematian yang bersifat spekulatif dan bersikap realisitis bahwa kematian adalah hal yang tidak terelakkan.
  • Semua yang hidup pasti mati, mati kembali ke tanah, inilah yang disebut arwah ( gui鬼 ) ( 众生必死,死必归士,此之谓鬼 ). Pernyataan ini ada dalam kitab ritual ( Liji 礼记 )[2] bab Jiyi 祭义. Penulis mengutip pernyataan Kongzi tentang “kembali ke tanah” dan “arwah” ini untuk menunjukkan bahwa Kongzi sendiri membahas alam kematian. Dan alam kematian yang dikutip Kongzi itu adalah suatu sistem kepercayaan yang beredar pada masa beliau hidup. Karena pemikiran inilah maka kematian dianggap sebagai hal yang wajar oleh kaum Ruist.
  • Hidup mati ada takdirnya( 死生有命富贵在天 ). Pernyataan ini merupakan cuplikan dari dialog antara Sima Niu司马牛dengan Zixia 子夏( 507- ? BCE  )[3]dalam Analect (论语 ). Dialog lengkapnya adalah : Sima Niu dengan hati risau berkata pada Zixia,” Orang lain memiliki saudara, sedangkan aku menyendiri”. Zi Xia menjawab, “Ku pernah dengar bahwa hidup dan mati ada takdirnya, kekayaan dan kejayaan ada di Langit. Junzi ( 君子 )[4] berdedikasi dan berintegritas, dengan orang lain berlaku hormat dan sesuai etika, di empat lautan semua adalah saudara. Junzi mengapa risau tidak memiliki saudara”. Jika kita melihat keseluruhan dialog tersebut, Zixia tidak membahas masalah kematian. Lebih pada upaya Zixia menjawab kerisauan Sima Niu. Tapi kemudian “hidup mati ada takdirnya” menjadi populer terutama di kalangan Ru sendiri. Sehingga menunjukkan bagi sebagianorang beranggapan bahwa kematian adalah suatu takdir. Tapi Kong Zi dan Mengzi sendiri beranggapan bahwa umur manusia bisa diperpanjang.
  • Nyawa ( takdir ) ada di tanganku, bukan milik Langit Bumi( 我命在我不属天地). Premis ini ada dalam kitab Laozi Xisheng jing 老子西升经 dan kemudian Ge Hong ( 284-363 ) juga menekankan pernyataan ini. Kaum Taoist memegang pernyataan ini sebagai antitesis dari pernyataan kaum Ru. Tapi perlu digaris bawahi bahwa pernyataan itu juga ada pernyataan lanjutan. Taoist berbeda dengan Ruist dalam pandangannya tentang panjang umur dan kematian. Ruist terutama Mengzi menekankan bahwa panjang umur bisa didapatkan melalui sikap moral yaitu : kemanusiaan dan keadilan. Sedangkan Taoist yang berpatokan pada paham Taoisme[5] menekankan bahwa dengan pil, makanan, pola hidup sehat bisa memperpanjang umur bahkan pada level tertentu bisa mendapatkan keabadian.
  • Tidak “mencintai” kehidupan tidak membenci kematian不悅生不惡死. Zhuang Zi ( 369-286 BCE ) seorang filsuf Taoisme memandang bahwa hidup dan mati itu bagaikan dua sisi mata uang. Kematian tidak perlu ditakutkan dan kehidupan tidak perlu terlalu dipegang teguh, semua berjalan alamiah. Ada hidup pasti ada mati, semua itu siklus yang berkaitan tak terpisahkan.
  • Hidup dan mati adalah qi[6] yg berkumpul dan buyar生死乃氣之聚散. Zhuang Zi berpendapat bahwa mati dan hidup adalah qi yang memampat dan buyar. Dapat dikatakan bahwa kehidupan dan kematian adalah siklus pergerakan qi.
  • Kematian dan kehidupan ada dalam satu tubuh死生存亡一體. Zhuangzi menggambarkan hal itu dengan kisah dialog empat orang yang berdiskusi tentang kematian. Zi Si, Zi Yu, Zi Li dan Zi Lai berempat bercakap-cakap ,” Siapa yang bisa menjadikan tiada sebagai kepala, hidup sebagai tulang punggung, mati sebagai tulang ekor, siapa yang bisa tahu kematian dan kehidupan dalam satu tubuh, kujadikan teman”子祀、子輿、子犁、子來四人相與語曰”孰能以無為首,以生為脊,以死為尻,孰知死生存亡之一體者,吾與之友矣”.
  • Tiada waktu kemudian bisa masuk pada kondisi tidak hidup dan tidak mati无古今而后能入于不死不.Zhuang Zi berpendapat bahwa dengan tidak terikat pada ruang dan waktu maka bisa terlepas dari kondisi hidup dan mati.Berdasarkan pernyataan Zhuang Zi, para Taoist percaya bahwa mereka yang memiliki Dao terlepas dari kehidupan dan kematian有道者不死不生.
  • Hidup adalah perjalanan kematian adalah kembali生為行而死為歸. Lie Zi 列子( 450-375 BCE ) dari mahzab Taoisme tidak memberikan pandangan baru tentang hal-hal yang terkait pada kematian. Pemikiran yang mirip dengan Lie Zi adalah Han Feizi 韓非子 ( 280-233 BCE ) dari mahzab Legalis 法家. “Memandang kematian seperti kembali” 視死如歸 adalah pandangan Han Feizi.
  • Hun kembali ke langit dan po kembali ke bumi魂归天魄归地.Hunpo adalah suatu kepercayaan kuno bahwa manusia terdiri dari jiwa dan raga, perpaduan unsur negatif dan positif.Kitab Zuozhuan 左傳, Chuci 楚辭, Daodejing, Zhuangji ,Liji dan kitab lainnya sudah ada pembahasan mengenai hun dan po secara sekilas. Kitab Huangdi Neijing黄帝内经[7]menulis ,“hun dan  po yang lengkap itulah yang menjadi manusia  (魂魄畢具乃成為人 ). Dikembangkan oleh para Taoist dan menjadi dogma dalam agama Tao.Dikaji juga dalam ilmu pengobatan Tiongkok. Memiliki kemiripan dengan konsep atta ( roh ) dalam agama Buddha.
  • “Memandang mati bagaikan hidup 視死如生” dan “yang mati bagaikan hidup, seperti tiada seperti ada,  dari awal sampai akhir ( lahir dan mati ) adalah satu adanya故如死如生,如亡如存,终始一也”. Memandang mati bagaikan hidup adalah pepatah yang sudah ada sejak dinasti Han. Pernyataan ini adalah pernyataan tentang alam kematian itu adalah sama seperti alam kehidupan. Karena itu ritual kematian memerlukan bekal kubur. Sebagai contoh adalah terracotta peninggalan Qin Shihuang 秦始皇 ( 259-210 BCE ). Sedangkan mengurus yang mati bagaikan mengurus yang hidup adalah pernyataan Xunzi 荀子 ( 313-238 BCE ) seorang Legalis 法家. Xunzi berpendapat bahwa segala ritual perkabungan maupun penguburan adalah berdasarkan pandangan manusia yang hidup memandang alam kematian. Semua adalah upaya manusia untuk mengantarkan yang meninggal ke alam lain.
  • Dengan melihat beberapa butir pemikiran filosofis, maka dapat dilihat bahwa kematian itu hal yang lumrah.Yang dipentingkan adalah bagaimana mengisi kehidupan itu sendiri.

    Apa itu kematian ? Bagaimana menyikapi mati ?Ingat akan perkataan Kong Zi (551-479 BCE ) saat ditanya apakah alam kematian, Kong Zi menjawab,”Tidak tahu hidup bagaimana tahu mati” 未知生焉知死.Ini adalah jawaban yang baik karena banyak manusia yang tidak memaknai hidupnya bahkan banyak manusia yang takut hidup tapi tidak takut mati, misalnya saja banyak orang yang bunuh diri bahkan bunuh diri dengan membawa mati anak-anaknya karena kesulitan ekonomi dan menggunakan mati sebagai jalan untuk melarikan diri dari kenyataan.Tentunya ini adalah mereka yang takut hidup berbeda dengan mereka yang bunuh diri dengan tujuan yang berbeda dan bagaimana pelaku bunuh diri itu memaknai bunuh diri itu yang membedakan, misalnya bhiksu Thic Quang Duc yang membakar diri sebagai bentuk protes atas perang Vietnam atau Macan Tamil yang mempelopori aksi bom bunuh diri, jendral Kobayashi yang melakukan seppuku dan banyak contoh lainnya.

    Bagaimana kita menyikapi hidup itu jauh lebih penting daripada menyikapi bagaimana kita nanti jika mati.Seperti dalam koan Zen, “ada orang yang tergantung di tengah tebing, diatasnya ada tikus yang menggerogoti tali orang yang memegang tali itu, dibawahnya ada buaya yang menunggunya, di hadapan orang itu ada buah cherry, nikmatilah buah cherry itu.”Karena kita seringkali melupakan ada buah cherry dihadapan kita, kita selalu terpana melihat “past” dan “after” yang menyelimuti pikiran kita. Jadi sikapilah hidup itu dengan menatap apa yang ada dahulu, bukan mengawang-awang. Jika kita sudah bisa menatap dengan jernih, apa yang mengawang-awang itu bukanlah suatu hal yang menakutkan.

    Apa itu menatap dengan jernih ? Bisa disebut dengan kata lain yaitu aktualisasi diri dan mereka yang mengaktualisasi diri itu selalu ingin berbagi tanpa ada rasa takut kehilangan.Berbagi itu apa ? Dalam “Kitab Kedamaian Agung” Taiping Jing 太平經, dikatakan bahwa alam itu jejaring yang saling mengambil, tiada yang lepas dari konsep mengambil itu, hanya kadang mereka yang memiliki intelektual tinggi itu mengambil tanpa mengenal rasa puas dan rasa “henti” sehingga merusak jejaring itu, mereka yang menyadari akan tahu kata “puas” dan “henti”.

    Jadi apa itu mati ? Hidup adalah perjalanan mengeksplorasi diri dan mati adalah juga eksplorasi diri untuk mencapai apa yang kita sebut “menyadari” hakekat jejaring alam semesta yang mengandung kebajikan yang berkekuatan atau de德 pembangun tiada henti sehingga suatu saat kita akan benar-benar menjadi bagian dari jejaring itu dan bukan ada di luar.Mati tidaklah menakutkan bagi mereka yang menyadari hakekat hidup dan mati adalah proses akhir hidup sekarang yang nantinya juga berkelanjutan. ( bersambung )



    [1]Zilu 子路 adalah murid Kongzi.

    [2]Kitab ritual ini adalah kompilasi tentang ritual, sistem tatanan sosial, etika, sitem politik, penanggalan, dialog antara Kongzi dan muridnya.

    [3]Sima Niu dan Zi Xia adalah murid-murid Kongzi.Tahun kelahiran dan meninggalnya Sima Niu tidak diketahui.

    [4] Orang budiman ( gentlemen).

    [5]Taoisme dalam filsafat Tiongkok dapat dibagi menjadi dua bagian besar.Pertama adalah filsafat Taoisme atau yang disebut daojia 道家 dan Taoisme sebagai sistem kepercayaan atau agama, disebut daojiao 道教.

    [6]Qi 气 adalah energi kehidupan.

    [7]Kitab Huangdi Neijing adalah kitab utama dalam pengobatan Tiongkok. Isinya adalah dialog antara Huangdi ( kaisar Kuning ) dengan Qibo 岐伯.

    Rate this item
    (2 votes)
    back to top
    http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/3808-pandangan-filosofis-tionghoa-memandang-mati-bagaikan-hidup-bagian-3

    Strict Standards: Non-static method oFBLikeBox::getData() should not be called statically in /home/budayati/public_html/web2/modules/mod_ofblikebox/mod_ofblikebox.php on line 24

    Latest Articles


    Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/budayati/public_html/web2/modules/mod_news_pro_gk4/helper.php on line 548
    1. Trending
    2. Feature
    3. News
    4. Random

    Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/budayati/public_html/web2/modules/mod_news_pro_gk4/helper.php on line 548

    Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/budayati/public_html/web2/modules/mod_news_pro_gk4/helper.php on line 548

    Sejarah


    Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/budayati/public_html/web2/modules/mod_news_pro_gk4/helper.php on line 548

    Budaya


    Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/budayati/public_html/web2/modules/mod_news_pro_gk4/helper.php on line 548

    Tionghoa


    Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/budayati/public_html/web2/modules/mod_news_pro_gk4/helper.php on line 548

    Seni


    Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/budayati/public_html/web2/modules/mod_news_pro_gk4/helper.php on line 548

    Filsafat


    Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/budayati/public_html/web2/modules/mod_news_pro_gk4/helper.php on line 548

    Sains


    Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/budayati/public_html/web2/modules/mod_news_pro_gk4/helper.php on line 548

    Esai & Opini


    Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/budayati/public_html/web2/modules/mod_news_pro_gk4/helper.php on line 548

    Resensi Buku


    Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/budayati/public_html/web2/modules/mod_news_pro_gk4/helper.php on line 548

    Album Foto


    Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/budayati/public_html/web2/modules/mod_news_pro_gk4/helper.php on line 548