Strict Standards: Declaration of JParameter::loadSetupFile() should be compatible with JRegistry::loadSetupFile() in /home/budayati/public_html/web2/libraries/joomla/html/parameter.php on line 0
PANDANGAN FILOSOFIS TIONGHOA MEMANDANG MATI BAGAIKAN HIDUP ( bagian 4 )
A+ A A-

Strict Standards: Declaration of JCacheControllerView::get() should be compatible with JCacheController::get($id, $group = NULL) in /home/budayati/public_html/web2/libraries/joomla/cache/controller/view.php on line 0

PANDANGAN FILOSOFIS TIONGHOA MEMANDANG MATI BAGAIKAN HIDUP ( bagian 4 )

  • Written by  Ardian Cangianto
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Apa itu kematian ? Bagaimana menyikapi mati ?Ingat akan perkataan Kong Zi (551-479 BCE ) saat ditanya apakah alam kematian, Kong Zi menjawab,”Tidak tahu hidup bagaimana tahu mati” 未知生焉知死.Ini adalah jawaban yang baik karena banyak manusia yang tidak memaknai hidupnya bahkan banyak manusia yang takut hidup tapi tidak takut mati, misalnya saja banyak orang yang bunuh diri bahkan bunuh diri dengan membawa mati anak-anaknya karena kesulitan ekonomi dan menggunakan mati sebagai jalan untuk melarikan diri dari kenyataan.Tentunya ini adalah mereka yang takut hidup berbeda dengan mereka yang bunuh diri dengan tujuan yang berbeda dan bagaimana pelaku bunuh diri itu memaknai bunuh diri itu yang membedakan, misalnya bhiksu Thic Quang Duc yang membakar diri sebagai bentuk protes atas perang Vietnam atau Macan Tamil yang mempelopori aksi bom bunuh diri, jendral Kobayashi yang melakukan seppuku dan banyak contoh lainnya.

 

Bagaimana kita menyikapi hidup itu jauh lebih penting daripada menyikapi bagaimana kita nanti jika mati.Seperti dalam koan Zen, “ada orang yang tergantung di tengah tebing, diatasnya ada tikus yang menggerogoti tali orang yang memegang tali itu, dibawahnya ada buaya yang menunggunya, di hadapan orang itu ada buah cherry, nikmatilah buah cherry itu.”Karena kita seringkali melupakan ada buah cherry dihadapan kita, kita selalu terpana melihat “past” dan “after” yang menyelimuti pikiran kita. Jadi sikapilah hidup itu dengan menatap apa yang ada dahulu, bukan mengawang-awang. Jika kita sudah bisa menatap dengan jernih, apa yang mengawang-awang itu bukanlah suatu hal yang menakutkan.

Apa itu menatap dengan jernih ? Bisa disebut dengan kata lain yaitu aktualisasi diri dan mereka yang mengaktualisasi diri itu selalu ingin berbagi tanpa ada rasa takut kehilangan.Berbagi itu apa ? Dalam “Kitab Kedamaian Agung” Taiping Jing 太平經, dikatakan bahwa alam itu jejaring yang saling mengambil, tiada yang lepas dari konsep mengambil itu, hanya kadang mereka yang memiliki intelektual tinggi itu mengambil tanpa mengenal rasa puas dan rasa “henti” sehingga merusak jejaring itu, mereka yang menyadari akan tahu kata “puas” dan “henti”.

Jadi apa itu mati ? Hidup adalah perjalanan mengeksplorasi diri dan mati adalah juga eksplorasi diri untuk mencapai apa yang kita sebut “menyadari” hakekat jejaring alam semesta yang mengandung kebajikan yang berkekuatan atau de德 pembangun tiada henti sehingga suatu saat kita akan benar-benar menjadi bagian dari jejaring itu dan bukan ada di luar.Mati tidaklah menakutkan bagi mereka yang menyadari hakekat hidup dan mati adalah proses akhir hidup sekarang yang nantinya juga berkelanjutan.

 MENCAPAI KEABADIAN

            Manusia selalu ingin panjang umur, mencapai keabadian. Jika fisik tidak memungkinkan maka harapan keabadian itu diletakkan pada alam lain. Keyakinan akan reinkarnasi ( tumimbal lahir ) juga akan menuju pada satu titik. Yaitu keabadian, terlepas dari lingkaran kehidupan dan kematian. Dengan kata lain, harapan kehidupan berlangsung di alam lain karena ketidak berdayaan melangsungkan kehidupan di alam nyata.

Pada umumnya agama-agama berkutat pada persoalan “manusia setelah mati bagaimana” sedangkan agama Tao lebih berkutat pada “bagaimana manusia tidak mati”. Agar tidak mati maka keaabadian itu harus diraih. Ge Hong mengatakan bahwa, “ jalan untuk panjang umur, bukan pada menyembah para dewata dan roh, juga bukan dari menggerakkan tubuh. Terbang menjadi xian[1]hanya perlu pil ( obat ) sakti”.  (长生之道,不在祭祀鬼神也,不在道行屈伸也,升仙只要,在神丹也(抱朴子内篇)). Walau selama ini manusia gagal dalam usaha mencapai keabadian tapi mimpi itu tetap tidak sirna. Upaya yang dilakukan oleh manusia sementara ini adalah upaya memperpanjang umur dan melawan penyakit. Mimpi itu selalu ada karena dengan adanya mimpi itu maka manusia mengembangkan berbagai metode untuk memperpanjang umur. Hasil upaya Taoisme mencapai keabadian itu akhirnya sekarang ini ada pada upaya memanjangkan umur dan menjaga kesehatan.Upaya Taoisme mencapai keabadian itu dengan membalikkan kondisi. Pembalikan kondisi ini terkait dengan konsep pemikiran Laozi yang tertuang dalam Daode jing, “Kembali menjadi bayi”复归于婴儿; “kembali pada kondisi tiada kutub” ( 复归于无极 ).  itu konsep utama Taoisme itu adalah “membalikkan penuaan kembali ( pada ) perjaka ( masa muda ) ( 返老还童 ).Tapi di masyarakat awam, keinginan mencapai keabadian atau menjadi xian tetap melekat. Sehingga jika kita melihat kuplet yang dipasang pada saat upacara berkabung ada yangmenggunakan kata xian. Contoh : terbang dengan bangau mencapai xian 跨鹤登仙.

Ruisme di sisi lain melihat upaya keabadian itu dengan tiga hal yang tidak lapuk ( san bu xiu 三不朽 ).Keabadian yang tidak lapuk ini terkait dengan penegakan tiga jasa besar. Tiga jasa besar itu adalah : menegakkan kata-kata; menegakkan jasa; menegakkan kebajikan (立言立功立德 ). Mereka bisa mencapai keabadian melalui tiga hal yang tidak lapuk.Tiga hal yang tidak lapuk juga terkait dengan keabadian karena namanya selalu dikenang oleh manusia.Karena itu orang Tionghoa “mengabadikan” leluhurnya melalui pencatatan, baik melalui catatan di buku marga, kuburan maupun di rumah abu 祠堂. Ruisme pada awal mulanya tidak terlalu menekankan pada penghormatan leluhur dari klan atau marga lain. Tapi seiring dengan perkembangan keperluan pendidikan moralitas masyarakat dan juga menguatnya konsep Mohisme tentang penyembahan leluhur dan agama Tao dengan konsep pengajaran tanpa kata. Maka pada dinasti Han bisa dikatakan pembangunan rumah abu dan kelenteng ( biomiao 庙 ) untuk mengenang tokoh-tokoh berjasa berjalan amat pesat. Karena tujuan pembangunan rumah abu dan kelenteng adalah “mengabadikan” para tokoh yang berjasa juga sebagai sarana pengajaran tanpa kata bahwa seseorang akan abadi jika namanya selalu dikenang dan diingat oleh manusia.

ALAM KEMATIAN

Pandangan Tionghoa terhadap guishen鬼神 ( arwah ) :

  1. Guishen 鬼神adalah leluhur.
  2. Walau meninggal tapi masih memiliki keterkaitan dengan yang masih hidup.
  3. Jaman dahulu rakyat jelata hanya menyembah leluhur sendiri. 
  4. Bukan leluhur tapi disembah adalah menjilat非其鬼而祭諂也

Penulis membahas pandangan tentang mati menurut pandangan beberapa filsuf  Tiongkok. Tapi selain itu ada pandangan yang terkait dengan budaya dan sistem kepercayaan masyarakat Tionghoa. Jaman dahulu ada beberapa pandangan tentang alam kematian.Umumnya pada masa dinasti Shang hingga pertengahan dinasti Zhou semua arwah ke gunung Kunlun 昆侖, yang merupakan surga maupun neraka untuk para roh. Hal ini dapat dibaca dalam karya Quyuan yang berjudul “Meninggalkan Kerisauan”( 離騷). Kemudian gunung Kunlun diganti dengan gunung Taishan 泰山 pada periode “peperangan antar negara”战国. Pada umumnya mereka beranggapan bahwa arwah atau roh ( guishen鬼神 ) yang meninggal itu tinggal di gunung Taishan[2].Dalam Shanhai Jing disebut幽都atau kota arwah, bisa mengacu kepada gunung ( contoh Taishan dan Kunlun, bisa mengacu pada daratan, misalnya dalam Shanhai jing disebut gunung Du Suo度朔山,tempat para roh bersemayam dan di jaga oleh Shenlu Yulu 神荼郁垒.

Selain itu adalah masuk ke alam bawah tanah. Alam bawah tanah ( alam baka nether world ) ini disebut huangquan 黄泉( sumber mata air kuning yang terletak di bawah tanah ). Konsep ini terkait dengan konsep “langit gelap bumi kuning”( 天玄地黄 ) dalam kitab Yijing 易经. Ada kisah menarik tentang huangquan ini. Dikisahkan Zheng Zhuanggong 鄭莊公 ( 757-710 BCE ) marah terhadap ibunya yang merampas haknya sebagai adipati dan mengobarkan pemberontakan terhadap dirinya. Zheng bersumpah tidak akan bertemu dengan ibunya jika belum sampai alam baka (  bujihuangquaqn wuxiangjian不及黄泉無相见 ). Tapi kemudian Zheng menyesal dan hendak menarik sumpahnya.Seorang penasehatnya mengusulkan agar membangun ruang bawah yang memiliki mata air .Di ruang itulah akhirnya Zheng bisa bertemu dengan ibunya.Kisah tersebut menunjukkan bahwa alam kematian bisa “dibuat” saat masih hidup. Huangquan ini kemudian diserap oleh Taoisme ( daojia 道家 dan daojiao 道教 ) sebagai konsep alam kematian mereka. Jalan menuju alam baka itu disebut jalan huangquan 黃泉路 yang dipenuhi oleh bunga bi an 彼岸花.  Kepercayaan akan gunung Taishan sebagai alam kematian sudah menjadi mapan dan kepercayaan bahwa mereka yang berpindah alam itu adalah seperti berpindah dimensi, penguasanya disebut Taishan Wang 泰山王 atau Dixia Fujun 地下府君. Penguasa naik pangkat menjadi Dongyue Shangdi 東嶽上帝[3] dan diserap oleh Daoisme sebagai penguasa alam kematian, konsepnya mirip kerajaan dengan departemen-departemen ( 72 departemen ) dan juga militer yang memiliki pasukan ( wudao 五道).

Penguasa alam kematian dari jaman ke jaman mengalami perubahan walau konsep kuno tetap melekat.Misalnya pada masa Shang dan Zhou, penguasa alam kematian adalah Houtu 后土 dengan Tubo 土伯 sebagai pembantunya[4].Kemudian Houtu diserap oleh agama Tao menjadi salah satu dari empat pembantu utama Sanqing Tianzun 三清天尊[5].

 

Gbr 1 altar untuk Hou Tu di kuburan.

Selain itu juga adalah tradisi budaya di wilayah Chu 楚国 yang mengenal konsep tiga penguasa alam ( Sanguan dadi 三官大帝 ). Zhang Daoling sebagai pendiri agama Tao juga menyerap konsep tiga penguasa alam ini sebagai salah satu sistem pertobatan.Berkat agama Tao itulah maka Sanguan Dadi menjadi meluas di kalangan orang Tionghoa. Konsep tiga penguasa alam adalah sebagai berikut :

¨  Tian guan ( penguasa langit ) memberi rejeki 天官賜福

¨  Di guan penghapus dosa ( penguasa bumi )地官赦罪

¨  Sui guan penghapus bencana ( penguasa air )水官解厄

¨  Bumi mengandung air, penggunaan air di bumi, karena itu urutan setelah bumi adalah air.

¨  Menurut Taoisme, Sanguan adalah kaisar Yao, Sun dan Yu 堯舜禹, yang merupakan anak dari Yuanshi Tianzun 元始天尊.

¨  Di Guan melakukan patroli di bulan 7 tanggal 15 penanggalan Tionghoa. Menerima laporan dari semua dewa, menolong para setan gentayangan, menghapuskan dosa orang dengan syarat : penyesalan, mengubah diri, beramal.

 

Gbr 2 Bendera pemanggil roh dari kuburan Mawang dui.

 

Bendera pemanggil roh dari kuburan Mawang dui[6] :

¨  Bendera pemanggil roh yang isinya tentang konsep surga dan alam kematian menurut 楚辭.

¨  Nvwa di surga ( pencipta manusia ), burung emas ( matahari ) di langit

¨  Gambaran bulan dan orang yang sedang terbang ke bulan ( bisa Chang E 嫦娥 atau roh yang meninggal )

¨  Menggambarkan alam surga yang damai , alam manusia yang riuh pikuk dan kekuatan dari alam bawah (地府 / 水府 ) yang isinya adalah binatang air.

¨  Menggambarkan konsep San Cai 三才 ( tiga anasir, yaitu : langit, bumi dan manusia )

¨  Orang yang meninggal wajib disembahyangi agar bisa mendapat ketentraman, jika tidak disembahyangi maka upacara pemanggilan roh dilakukan.

            Kepercayaan alam kematian orang Tionghoa itu dapat saya katakan adalah “berpindah alam atau dimensi”. Dengan konsep bahwa alam kematian itu bagaikan alam kehidupan, maka diperlukan bekal kubur. Bekal kubur sendiri tentunya dikenal dalam banyak kebudayaan tapi seiring dengan  cara pembuatan kertas secara mudah dan murah oleh Cai Lun.Maka bekal kubur dikalangan rakyat jelata menggunakan kertas dan berkembang luas. Arwah yang tidak mendapat perlakuan layak, meninggal sebelum waktunya, meninggal dengan kondisi tragis, meninggal jauh dari keluarga itu perlu dilakukan ritual pengembalian harkat, disebut  fuli 復禮. Upacara ini adalah cikal bakal ritual yang dilakukan pada bulan 7 kalender Tionghoa[7].

 

Gbr3.ritual untuk arwah terlantar

 

            Dinasti Han ( 202 BCE - 220 CE ) membuat suatu perubahan yang cukup besar dalam pandangan orang Tionghoa tentang kematian. Karena pada masa dinasti Han itu, agama Tao sudah menjadi suatu bentuk yang terorganisir dengan Zhang Daoling 張道陵 ( 34-178 ) sebagai pendiri agama Tao; Ruisme juga menjadi idelogi kerajaan pada masa pemerintahan kaisar Han Wudi 漢武帝( 156-87 BCE ); agama Buddha mulai masuk dan berkembang perlahan-lahan; meleburnya mahzab-mahzab filsafat Tiongkok ke dalam dua arus utama Taoisme dan Ruisme.

Baru mulai pada dinasti Tang ( 618-907 ), istilah neraka ( na luo jia 那洛架 ) atau dalam bahasa mandarin disebut diyu 地獄 sebagai tempat penghukuman arwah manusia yang bersalah pada masa hidupnya menjadi meluas. Konsep tumimbal lahir ( reinkarnasi ) menjadi konsep umum dan diterima oleh Taoisme. Konsep reinkarnasi bisa diterima oleh Taoisme karena kitab-kitab Daode jing maupun Nanhua Zhenjing 南華真經[8] membahas masalah siklus lahir mati, qi memadat dan buyar. Raja neraka Buddhisme berasal dari Brahmanisme tapi hanya satu  yaitu raja Yama atau yang dikenal dengan sebutan Yanluo wang 閻羅王 ( 閻摩 王 ).  Masyasrakat Tionghoa mengenal ada sepuluh raja neraka. Konsep ini muncul pada masa Tang akhir dan merupakan produk Taoisme yang mengadopsi raja Yama[9]. Raja-raja neraka itu adalah : Qinguang wang 秦广王, Chujiang wang楚江王, Songdi wang宋帝王, Wuguanwang五官王, Yuanluo wang阎罗王, Biancheng wang,卞城王, Taishan wang泰山王, Dushi wang,都市王, Pingdeng wang平等王,  Zhuanlun wang转轮王.  Konsep raja neraka ini meluas dan diterima rakyat secara luas juga digunakan oleh para pejabat sebagai alat kontrol sosial.  Pejabat yang baik dan jujur pada masa hidupnya juga bisa  menjadi hakim neraka dalam kepercayaan masyarakat umum. Contoh : Bao Zheng 包拯 (999-1062 ), Han qinhu 韓擒虎 ( 538-592 ), Fan Zhongyan 范仲淹 ( 989-1052 ) , Kou Zhun寇準 ( 961-1023 ). Kesemuanya adalah pejabat jujur masa dinasti Song kecuali Han Qinhu. Ini adalah perlambang pengharapan rakyat terhadap keadilan, baik pada masa hidup maupun alam nanti. Bisa lolos dari hukuman dunia, jangan berharap bisa lolos dari hukuman alam lain, karena para hakim neraka itu adalah pejabat-pejabat yang reputasinya baik di dunia. Kepercayaan akan neraka dan para hakim neraka ini meluas terutama pada masa dinasti Song utara ( 960 -1127 ). Dalam buku berjudul夷堅甲志yang dicetak pada masa dinasti Song utara ada tulisan tentang Yu Yilang 俞一郎 ( atau Yu Yigong ) yang mengisahkan perjalanan ke neraka dan berrtemu dengan para hakim neraka. Kemudian kisah itu dikutip oleh Wu Chengen 吳承恩 dalam kisah yang terkenal yaitu “Perjalanan ke Barat”[10]. Kitab Yuli baochao 玉曆寶鈔[11] yang sering dijumpai di kelenteng-kelenteng adalah hasil karya pada masa pemerintahan kaisar Qing Shizhong 清世宗 ( 1678-1735 ) di  tahun pemerintahan Yongzheng 雍正( 1723-1735). Buddhisme Mahayana Tiongkok juga ada kitab “Foshuo Dizhang pusa Faxin Yingyuan Shiwang jing” 佛說地藏菩薩發心因緣十王經 yang juga menuliskan tentang para hakim neraka itu. Tapi kitab itu disebut kitab palsu ( aprokrif ) oleh sebagian Buddhist karena tidak ada dalam Tripitaka[12]. (Bersambung )



[1]Xian 仙 adalah konsep keabadian melalui fisik dalam Taoisme.

[2]Pada masa dinasti Shang dan Zhou, arwah-arwah itu dbagi menjadi dua golongan yang agak rancu.Shen 神 adalah roh para bangsawan dan gui鬼 adalah roh rakyat jelata. Selain itu shen bisa disebut sebagai roh yang baik dan gui  adalah roh yang jahat. Gunung Taishan menjadi gunung suci dalam kepercayaan masyarakat Tiongkok terutama oleh kaum Ruist.Bahkan seorang kaisar dianjurkan oleh Kong Zi untuk melakukan upacara fengshan 封禅 sebagai bentuk legitimasi kekuasaan kaisar di alam manusia maupun alam para roh.

[3] Dalam bahasa mandarin, arti kata wang 王 adalah raja sedangkan shangdi 上帝 adalah kaisar yang berkedudukan tinggi dan amat kuno.

[4]Hingga kini banyak kuburan orang Tionghoa banyak yang memiliki altar untuk Houtu maupun Tubo.

[5]Sanqing Tianzun adalah Tri Suci dewa utama dalam agama Tao. Manifestasi dari Tao itu sendiri yang memecah  menjadi tiga : Yuanshi Tianzun 元始天尊, Lingbao Tianzun 灵宝天尊, Daode Tianzun 道德天尊.

[6] Komplek kuburan Xing Zui 幸追 istri dari Li Cang 利蒼, seorang pejabat pada masa dinasti Han awal. Kuburan tersebut amat luas dan menyimpan banyak artefak-artefak penting. Salah satunya adalah kitab Daode Jing 道德經 dengan versi yang lebih tua dari versi yang umum beredar.

[7] Secara umum disebut upacara ulambana oleh kaum Buddhist. Sedangkan bagi kaum Taoist dan Ruist, bulan tersebut adalah bulan arwah dan juga hari peringatan penguasa bumi untuk menebus dosa.

[8] Kitab Nanhua zhenjing dikenal juga dengan kitab Zhuangzi.

[9] Dalam kanon kitab Tao, ada beberapa kitab yang membahas sepuluh raja neraka. Antara lain adalah Sanqing Lingbao Dafa 三清靈寶大法 dan Yuanshi Tianzun shuo Fengdu Miezui jing 元始天尊說豐都滅罪經.

[10] Xiyou ji atau perjalanan ke barat mengisahkan pendeta Tang Sanzang dengan kera sakti mengambil kitab agama Buddha ke India.

[11] Kitab Yuli Baochao lebih mendetail menceritakan proses perjalanan manusia mati. Selain para hakim neraka juga hukuman yang diterima oleh mereka yang bersalah.

[12] Tripitaka adalah kanon kitab-kitab agama Buddha Mahayana.

Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/3813-pandangan-filosofis-tionghoa-memandang-mati-bagaikan-hidup-bagian-4

Strict Standards: Non-static method oFBLikeBox::getData() should not be called statically in /home/budayati/public_html/web2/modules/mod_ofblikebox/mod_ofblikebox.php on line 24

Latest Articles


Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/budayati/public_html/web2/modules/mod_news_pro_gk4/helper.php on line 548
  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/budayati/public_html/web2/modules/mod_news_pro_gk4/helper.php on line 548

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/budayati/public_html/web2/modules/mod_news_pro_gk4/helper.php on line 548

Sejarah


Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/budayati/public_html/web2/modules/mod_news_pro_gk4/helper.php on line 548

Budaya


Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/budayati/public_html/web2/modules/mod_news_pro_gk4/helper.php on line 548

Tionghoa


Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/budayati/public_html/web2/modules/mod_news_pro_gk4/helper.php on line 548

Seni


Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/budayati/public_html/web2/modules/mod_news_pro_gk4/helper.php on line 548

Filsafat


Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/budayati/public_html/web2/modules/mod_news_pro_gk4/helper.php on line 548

Sains


Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/budayati/public_html/web2/modules/mod_news_pro_gk4/helper.php on line 548

Esai & Opini


Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/budayati/public_html/web2/modules/mod_news_pro_gk4/helper.php on line 548

Resensi Buku


Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/budayati/public_html/web2/modules/mod_news_pro_gk4/helper.php on line 548

Album Foto


Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/budayati/public_html/web2/modules/mod_news_pro_gk4/helper.php on line 548