A+ A A-

PANDANGAN FILOSOFIS TIONGHOA MEMANDANG MATI BAGAIKAN HIDUP Bag.5 ( tamat )

  • Written by  Ardian Cangianto
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Apa yang terjadi saat kita meninggal ?

            Roh yang meninggal dijemput oleh Hei wuchang 黑無常dan Bai wuchang 白無常. Wuchang adalah istilah dalam Ruism, Taoism dan Buddhisme Mahayana Tiongkok. Dalam Buddhisme disebut  anicca,artinya tiada yang bersifat abadi  ( segala sesuatu adalah perubahan ).

 

¨  Heibai wuchang membawa arwah menghadap Tudi Gong 土地公 ( penguasa bumi setempat ) untuk urusan administrasi alam arwah.

¨  Menghadap Chenghuang Ye 城隍爺 ( dewa kota ) untuk proses surat jalan 路引. Surat jalan ini ada dalam agama Tao dan Buddhisme.

¨  Setelah melalui proses 9 aula raja neraka, masuk ke aula 10 yaitu Raja Roda Tumimbal Lahir 轉輪王.

¨  Melewati Meng Po dan menyebrang melalui salah satu dari 4 jembatan yaitu jembatan emas, perak kumala, kayu dan naihe.

¨  Umumnya dalam kepercayaan Tao dan kepercayaan Tionghoa setelah 3 tahun baru tumimbal lahir. Ini terkait dengan berkabung selama 3 tahun ( tepatnya 27 bulan ).

Prosesnya kurang lebih sebagai berikut : Manusia  meninggal à rohnya ditangkapà Tudi Gong à Cheng Huang à kembali ke kampung halaman ( rumah ) terakhir kalinya sebelum memasuki 地府 ( alam bawah ) à Guimen guan 鬼門關( Gerbang Arwah ) à melewati jembatan Naihe à Panggung Melongok Kampung Halaman 望鄉臺 à Huangquan lu ( jalan Huang Quan ) yang dipenuhi dengan bunga Bi An 彼岸花 à 10 Aula Raja Neraka à Pendopo nenek Meng à Lahir kembali .

Juru Selamat di Alam Baka

            Baik dalam Buddhisme Mahayana Tiongkok maupun agama Tao mengenal adanya juru selamat di alam neraka. Ksitigarbha bodhisattva 地藏王菩薩 dalam Buddhisme dan Taiyi Jiuku Tianzun 太乙救苦天尊 dalam agama Tao adalah juru selamat bagi para arwah yang terjebak dalam neraka[1]. Pada umumnya ritual untuk menolong mereka yang terjebak dalam neraka itu dilakukan pada bulan tujuh penanggalan Tionghoa. Selain itu kepercayaan masyarakatTionghoa mengenal adanya juru selamat bagi mereka yang terjerumus di alam neraka. Mereka biasanya menggunakan medium 乩童[2], caima 齋嫲[3] untuk memasuki kolam darah, menerobos neraka untuk menyelamatkan arwah yang terjebak dalam neraka. Umumnya mereka yang melakukan ritual pada saat bulan tujuh, karena pada bulan tujuh itu adalah bulan penghapusan dosa atau kesalahan oleh Penguasa Air 水官大帝 . Karena itulah pada bulan tujuh ada tradisi ritual untuk  berdana untuk kaum fakir miskin juga mereka mendoakan para arwah yang tersiksa di neraka agar bisa diselamatkan oleh juru selamat alam baka.

Hubungan Tali Asih Tak Terputus

 

Gbr.4 Persiapan upacara pemanggilan arwah

 

      Salah satu pilar budaya Tionghoa adalah penghormatan leluhur. Walau sudah ditinggalkan oleh mereka yang meninggal, tapi bukan berarti hubungan itu terputus begitu saja. Yang umum bisa dilihat adalah adanya meja sembahyang atau meja abu. Ini terkait dengan sistem moralitas dan kontrol masyarakat. Salah satu kontrol adalah menggunakan meja abu. Karena leluhur senantiasa hadir maka jangan lakukan hal-hal yang memalukan leluhur, melakukan hal-hal yang positif bagi masyarakat agar nama leluhur menjadi harum.

      Membangun hubungan itu tidak hanya dengan meja abu, tapi juga dengan berbagai ritual. Antara lain : pemanggilan arwah; mengunjungi alam baka. Pemanggilan arwah umumnya disebut zhaohun, sedangkan mengunjungi alam baka memiliki beberapa istilah. Yang populer adalah guanluoyin 觀落陰, yang artinya adalah melongok turun ke alam baka. Tujuannya adalah untuk mengetahui bagaimana kondisi yang meninggal. Jika terjebak dalam alam neraka maka upaya “penyelamatan” dilakukan.

Hubungan itu juga dilaksanakan dengan memberikan “kebutuhan hidup” bagi para arwah. Rumah kertas, mobil kertas bahkan uang untuk alam lain juga ada. Semua itu memiliki makna sebagai bahasa simbolis penghubung antara yang hidup dengan yang sudah meninggal, merupakan sikap laku bakti memperlakukan mereka seolah-olah masih hidup diantara kita.Hakekatnya kehidupan dengan kematian adalah satu tubuh, tak terpisahkan satu dengan yang lain. Ada alam kehidupan maka ada alam kematian dan dua alam itu dihubungkan dengan tali asih yang tidak terputus.

 

Lepas dari Siklus

¨  Pagi mendengar tao ( “jalan”) senja hari meninggal tidak menyesal朝聞道 夕死可矣 . Ini adalah ujar Kongzi dalam analect.

¨  Meletakkan golok pembunuh, seketika menjadi Buddha放下屠刀立地成佛 adalah pepatah yang terkenal dalam agama Buddha.

¨  Mengenal hati melihat hakekat diri 識心見性 merupakan konsep agama Tao.

Jalan untuk keluar dari lingkaran kematian dan kehidupan adalah dengan pencerahan. Zen Buddhisme maupun Taoisme dan Ruisme mengenal konsep pencerahan. “Langit selalu bergerak membangun, seorang junzi ( manusia sejati ) tiada henti memperbaik diri” ada dalam kitab Yijing, jadi sebagai manusia yang hidup harus selalu memperbaiki diri demi kebaikan alam semesta ini. Tidak perlu berpikir jauh apa yang terjadi setelah mati, jalani saja hidup ini. Agana mengajarkan kebaikan dan kebaikan itu harus dilaksanakan setiap hari. Ini yang menyamakan semua agama. Tapi asal  muasal, tujuan hidup dan kemana pergi setelah mati itu yang berbeda-beda. Inilah yang membedakan konsep-konsep agama. Demikian juga berbagai budaya dan mitos yang bernarasi tentang manusia selalu berbeda-beda.



[1] Ritual penyelamatan arwah dalam Taoisme antara lain disebut : Huanglu keyi黃籙科儀, Lideng keyi 禮燈科儀 ( terdari dua yaitu guandeng keyi dan shanhua keyi關燈科儀 + 散花科儀 ), tieguan shishi keyi 鐵罐施食 科儀 .

[2] Medium ini umumnya dari sekte Lvshan, Maoshan Taoisme rakyat ( folk Taoism ). Mereka mengundang dewa-dewa tertentu untuk memasuki alam neraka.

[3] Pendoa perempuan dari etnis Hakka.

Rate this item
(1 Vote)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/3817-pandangan-filosofis-tionghoa-memandang-mati-bagaikan-hidup-bag-5-tamat

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto