A+ A A-

Eksotisme Tatung dan Komodifikasi Kebudayaan

  • Written by  Samsul Hidayat
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

PERAYAAN Cap Go Meh sebagai bagian dari ritual tahun baru Imlek, merupakan tradisi religius sekaligus budaya masyarakat China, termasuk di Singkawang, Kalbar yang mayoritas penduduknya beretnis Tionghoa. Pada perayaan tersebut, masyarakat Tionghoa penganut Tri Dharma (Khonghucu, Tao dan Buddha) menyelenggarakan sebuah acara religius tolak bala (tacia) yang disebut sebagai Ritual Tatung. Ritual tatung merupakan sarana pengusiran roh jahat sebagai penyebab malapetaka bagi sebuah wilayah melalui seorang dukun yang biasa disebut tatung atau lauya. Selain memiliki kemampuan luar biasa, prestise dan pertahanan seorang dukun di dapatkan dari pelayanan melalui penyembuhan (Geertz, 1960), numerologi dan ramalan keberuntungan (Harrel, 1987).

Tidak ubahnya dengan perayaan religius pada umumnya yang lazim diperingati secara komunal, perayaan Cap Go Meh juga dilangsungkan dalam sebuah festival besar. Dengan melibatkan beberapa perkumpulan seni budaya multietnik, masyarakat Singkawang maupun wisatawan disuguhkan dengan berbagai bentuk kesenian menarik seperti atraksi barongsai, liong dan naga, tidak terkecuali para tatung yang melakukan ritual pengusiran roh jahat sekaligus menampilkan kekuatan mereka dengan menusuk pipi, lidah, leher dan tangan mereka dengan besi atau pisau.

Artikel Terkait :

{module [201]}

Perayaan Cap Go Meh di Singkawang merupakan sebuah kolaborasi menarik antara tradisi/religi China dan budaya lokal, bahkan festival ini menjadi unik karena diikuti oleh berbagai etnis seperti Tionghoa, Melayu dan Dayak. Tanpa memandang asal usul perayaan ini, masyarakat Singkawang dari berbagai suku dan religi ikut membaur dalam perayaan ini, dengan memegang peran dan fungsi masing-masing. Sebut saja misalnya seorang tatung penganut Khonghucu, Akiong yang menjadi mediator bagi roh Dayak yang bernama Datuk Sunggung. Sementara etnik Melayu mengambil peran sebagai pengangkat tandu (Toa Khio), pengiring musik atau pemain barongsai, liong dan naga.

Melalui sebuah proses akulturasi antara masyarakat Tionghoa dengan suku lain di Kalimantan Barat, ritual tatung mengalami deteritorialisasi akibat batas-batas ritus dan budaya yang mengalami rekonstruksi secara terus menerus. Walaupun tradisi tolak bala atau pengusiran roh jahat ini telah dirayakan masyarakat Cina sejak ribuan tahun yang lalu, namun ketika berada di lingkungan dan sebuah wilayah kebudayaan yang berbeda seperti Singkawang, akhirnya memunculkan sebuah identitas baru termasuk bagi kebudayaan tersebut.


Dari Sakral Menjadi Komersial


Dalam perkembangannya ritual Cap Go Meh dan tatung masuk ke dalam lingkaran komoditas atau pasar sehingga wajah ritual tatung mengalami pergeseran nilai yang semula sakral menjadi komersial.

Namun yang menarik, proses kompromi antara tradisi China dan budaya lokal yang disebabkan oleh budaya pasar terutama dalam hal parawisata justru membalik wajah pasar yang selama ini dianggap "jahat" dan merugikan masyarakat menjadi wilayah positif bagi lahirnya modernisasi. Alih-alih mengalami 'kehilangan budaya' sebagai akibat cepatnya 'modernisasi', sebuah identitas baru China- yaitu sebuah identitas yang selaras dengan konteks modernisasi itu sendiri -tampaknya justru sedang muncul. Melalui komodifikasi kebudayaan, masyarakat mengalami proses modernisasi yang sangat dinamis.

Masyarakat Singkawang selanjutnya masuk ke dalam sebuah komunitas industri modern, yaitu masyarakat yang digambarkan Bellah (1957) sebagai suatu masyarakat yang ditandai oleh perasaan pentingnya ekonomi dalam sistem sosialnya dan pentingnya nilai-nilai ekonomi dalam sistem nilainya.


Nilai-nilai ekonomi di sini bukan berarti sekedar dorongan untuk mengejar keuntungan atau naluri untuk memiliki, namun nilai-nilai yang memberikan


Ciri kepada proses rasionalisasi sarana (Weber, 1930) Dalam proses rasionalisasi ini, ritual tatung masuk ke dalam lingkaran komoditas melalui ajang festival tahunan dengan melibatkan beberapa pihak seperti pemerintah, pengusaha, komunitas budaya dan masyarakat luas. Akibatnya ritual tatung tidak lagi menjadi milik satu komunitas, tapi menjadi milik bersama dengan kepentingan yang beragam. Ritual yang semula ditujukan untuk skala terbatas, akhirnya menjadi sarana pemersatu masyarakat baik melalui kerjasama sosial, sharing kebudayaan, maupun pada peningkatan sumber kehidupan ekonomi masyarakat.


Tuntutan-tuntutan industri parawisata yang marak terjadi di Indonesia telah menyebabkan komodifikasi atas kebudayaan, di mana objek kebudayaan dikemas dan dijual sedemikian rupa, seperti pertunjukan-pertunjukan budaya dan religi, sehingga aspek-aspek kehidupan suatu masyarakat yang sebelumnya memiliki nilai sendiri, menjadi bernilai moneter dan sangat komersiil. Komodifikasi yang terjadi terhadap ritual tatung dapat dilihat dari orientasi perayaan yang semula hanya merupakan sebuah pergelaran ritual dan budaya untuk masyarakat China, namun karena pelaksanaannya terjadi pada acara tahun baru Imlek dan Cap Go Meh, di mana masyarakat China Singkawang merayakannya dalam bentuk pesta besar, akhirnya elemen- elemennya pun menjadi terkomodofikasi. Pemerintah dan masyarakat Singkawang yang ber etnik selain China seperti Melayu dan Dayak akhirnya ikut membaur dalam sebuah pesta budaya multietnik, dan menjadikannya sebagai tontonan publik yang sangat menguntungkan khususnya bagi dunia parawisata.


Sementara dampak komodifikasi bagi modernisasi, biasanya selalu dihubungkan dengan rasionalisasi (Weber:1930). Dalam hal rasionalisasi doktrin (terhadap ritual tatung), dapat dilihat dari
memudarnya sakralitas pada perayaan yang diselenggarakan setiap tahunnya karena dikemas dalam nuansa komersial. Apa yang disebut Weber sebagai demagifikasi atau demistifikasi dunia, nampak dengan berkurangnya unsur kesucian dan kekhusyukan dari ritual religius tersebut. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari hubungan antara karakter budaya China dengan budaya pasar. Tidak bisa dipungkiri jika sejumlah budaya dan sistem-sistem nilai yang berasal dari China dianggap cenderung lebih kuat dari budaya lain dalam hal penerimaan terhadap pasar.

Komodifikasi kebudayaan khususnya terhadap ritual tatung telah memberikan kontribusi yang besar bagi perkembangan modernisasi masyarakat Singkawang.


Bagi para tatung, ritual ini memberikan manfaat yang sangat besar bagi peningkatan kualitas hidup dan prestise mereka. Selain dapat membaktikan diri pada masyarakat selaku pawang yang dapat mengusir roh jahat sebagai pembawa sial, para tatung juga memperoleh keuntungan dengan banyaknya permintaan yang diterima oleh para tatung setelah melakukan atraksi yang sangat luar biasa tersebut. Setelah perayaan ritual, para tatung biasanya selalu mendapat order pengobatan dan penerawangan dari masyarakat.


Dampak komodifikasi ini berlanjut dengan diberikannya layanan- layanan publik di bidang wisata oleh pemerintah. Sebagai salah satu agen yang memberi bentuk dan makna terhadap pasar, pemerintah biasanya menetapkan peraturan-peraturan, tanpa perlu terlibat dalam dalam urusan transaksi perdagangan. (Schiel, 2000) Bagi pemerintah Singkawang, upacara Cap Go Meh merupakan moment yang sangat penting sehingga dijadikan asset serta agenda parawisata yang mendatangkan devisa.


Menurut Maunati (2004) sebagai dampak dari pasar, komodifikasi kebudayaan menyisakan beberapa pertanyaan penting. Siapa yang diuntungkan oleh pergeseran nilai dalam kebudayaan yang diakibatkannya, dan siapa yang berwenang dalam membentuk kebudayaan tersebut? Yang Jelas, kodrat dari sebuah kebudayaan adalah proses dinamisasi di dalamnya (Kahn, 1995), baik dipengaruhi atau tidak oleh unsur luar, sebuah budaya dapat bertahan dalam kelestariannya atau justru malah melahirkan kebudayaan yang baru.


Seperti deteritorialisasi sebagai anak dari globalisasi yang memiliki ambivalensi, komodifikasi kebudayaan, karena pengaruh pasar, juga mengandung keuntungan bahkan ancaman bagi kebudayaan. Di satu sisi dapat memberangus khazanah dan otentisitas budaya, tapi di
sisi lain justru bisa mendorong dan merangsang terpeliharanya kebudayaan tersebut bahkan malah dapat melahirkan sebuah wilayah kebudayaan baru.**

*) Penulis adalah Peserta Program S3 UIN Sunan Kalijaga, Peneliti Religi & Budaya China Singkawang

http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?berita=Opini&id=109483 [diakses 16 Januari 2006]

http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/17434

 

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing List Budaya Tionghua 22087

Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/391-eksotisme-tatung-dan-komodifikasi-kebudayaan

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto